Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Malam harinya, Kota Jakarta diselimuti hujan deras, di sebuah restoran mewah kawasan Senopati.
Di dalam restoran tersebut, Andi dan Ranti sedang merayakan keberhasilan awal proyek investasi baru mereka bersama seorang investor berkantong tebal bernama Pak Dharma.
Di samping mereka, Raya sibuk bermain tablet mahal sambil menikmati es krim.
"Terima kasih banyak, Pak Dharma," ujar Andi dengan senyum lebar sambil mengangkat gelas kristalnya. "Saya jamin, investasi Bapak senilai dua puluh miliar di perusahaan istri saya akan menghasilkan keuntungan berlipat ganda dalam waktu enam bulan."
Ranti ikut tersenyum manja sambil mengelus lengan Andi. "Iya, Pak Dharma. Mas Andi ini sangat visioner. Proyek perumahan ini dijamin sukses besar!"
Pak Dharma tersenyum tipis, hendak menyesap minumannya. "Tentu, Pak Andi. Saya melihat potensi besar dari..."
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel Pak Dharma di atas meja bergetar keras. Pria paruh baya itu mengangkat tangannya, memberi isyarat minta izin. "Maaf sebentar, Pak Andi. Ini dari direktur utama holding pusat."
"Oh, silakan, Pak Dharma, silakan," kata Andi ramah, membusungkan dadanya merasa bangga.
Namun, hanya dalam waktu tiga puluh detik menyimak telepon tersebut, ekspresi Pak Dharma berubah drastis.
Wajah ramahnya meluruh, berganti menjadi pucat pasi dan penuh kepanikan.
"A-apa?! Pembekuan aset? Semua saham ditarik?!" seru Pak Dharma dengan suara tertahan. "Baik... baik, saya mengerti!"
Pak Dharma menurunkan ponselnya. Tangannya gemetaran saat menatap Andi.
"Pak Dharma? Ada apa? Ada masalah?" tanya Andi bingung, masih mencoba tersenyum.
Brak!
Pak Dharma mendadak berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang. "Pak Andi! Kerja sama kita BATAL!"
Andi dan Ranti terperanjat kaget. "L-Lho?! Batal bagaimana, Pak?! Kita kan sudah tanda tangan draf kesepakatan..."
"Gara-gara kamu, seluruh anak perusahaan saya diancam di-black list oleh jaringan bisnis terbesar di Asia Tenggara!" bentak Pak Dharma penuh amarah. "Saya tidak tahu kamu punya musuh siapa, tapi siapapun orang besar di balik ini, dia baru saja menghancurkan seluruh saluran dana investasi saya jika saya nekad bekerja sama denganmu!"
"Tapi Pak...!"
"Jangan pernah hubungi saya lagi!" potong Pak Dharma tajam.
Ia menyambar jasnya dan bergegas pergi meninggalkan restoran begitu saja.
Andi mematung di tempatnya. Badannya kaku seketika. "Gak mungkin... gak mungkin..."
Bzzzt... Bzzzt...
Kini gantian ponsel milik Ranti yang berdering tanpa henti. Satu per satu panggilan masuk mendesak dari sekretarisnya, manajer keuangan, hingga pihak bank.
Ranti menjawab teleponnya dengan tangan gemetar. "H-halo?"
"(Buk Ranti! Gawat, Buk!)" suara sekretarisnya menjerit histeris dari seberang telepon.
"(Barusannya rekening operasional perusahaan kita dibekukan oleh otoritas keuangan! Investor asing menarik seluruh modal sepuluh miliar mereka malam ini juga! Pihak bank mendesak kita melunasi utang proyek dalam waktu dua puluh empat jam atau seluruh aset Bapak disita!)"
"APA?!" jerit Ranti histeris hingga pengunjung restoran lain menoleh ke arahnya. "Gimana bisa?! Siapa yang bikin rugi perusahaan saya?!"
"(S-saya tidak tahu, Buk! Tapi pihak bank bilang... perintah ini datang langsung dari pimpinan komando pusat Holding Gelap!)"
Telepon terputus. Ponsel Ranti terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam lantai, layarnya retak seribu.
Andi yang melihat hal itu mulai panik, mengguncang-guncang lengan Ranti "Sayang! Ranti! Kamu kenapa?! Pak Dharma pergi?! Terus uang investasi kita gimana?!"
"Bangkrut..." gumam Ranti dengan mata melotot hampa. "Kita... kita hancur, Mas... Semua harta dan perusahaanku habis..."
"Apa?!" Andi menjerit kaget, mendadak melepaskan pegangan tangannya dari lengan Ranti. "Bangkrut?! Terus gimana sama rumah mewah dan mobil kita Sayang?!"
"Aku gak tahu! Aku gak tahu siapa yang tega ngelakuin ini!" teriak Ranti frustrasi, mencengkeram rambutnya sendiri.