Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Estu yang jenuh menunggu Candra pun memilih untuk menyusul pemuda itu. Indera pendengaran nya menangkap perdebatan panas antara Candra dengan suara seorang perempuan. Lelaki itu pun penasaran!
Estu berdiri di depan pintu menonton perdebatan antara Candra dan seorang gadis berseragam.
"Kamu pikir kamu siapa meminta kami untuk mengubah apa yang sudah menjadi rencana kami?'' tanya Candra cukup menohok bagi Auri.
"Kalian memang tidak memikirkan akibat untuk anak-anak didik kami? Iya?''
Candra mengedikkan bahunya.
"Anak-anak didik kami spesial, tidak seperti anak pada umumnya. Mereka---''
"Gue ga peduli!'' sahut Candra.
Auri menahan diri untuk tidak lagi memberi stempel merah di wajah Candra lagi.
"Lagi pula, ngapain kaya mereka di sekolahin? Memangnya apa yang di harapkan dari mereka? Cuma nyusahin!'' celetuk Candra yang memancing emosi Auri, bahkan yang lainnya.
Kali ini, emosi Auri sudah tak bisa di bendung. Ia tak lagi menampar karena Candra dengan cepat menahan kedua tangan Auri. Senyum tengil Candra sungguh sangat menjengkelkan.
Auri tak mau kalah, tingginya yang mungkin tak seberapa di banding Candra memilih untuk menyundul dagu Candra dari bawah.
Dug!
"Awwwhhh!'' Candra sampai terhuyung ke belakang. Beruntung ada Estu yang menangkapnya.
Estu menatap gadis ayu yang sedang terlihat emosi menatap Candra. Memang, ucapan Candra sangat keterlaluan.
Auri menyadari sesuatu. Sosok yang menopang Candra seperti orang yang pernah ia kenal. Tatapan mata itu...
Begitu juga dengan Estu. Melihat wajah gadis yang bertengkar dengan Candra itu, mengingatkan Estu pada putrinya.
"Auri, sudah ya! Besok kita bicarakan lagi dengan kepala dingin. Kita sampaikan ke kepala sekolah dulu. Biar beliau yang menyampaikan secara baik-baik...'' kata Awan.
"Auri Estheria Maretha?'' antara bertanya atau bergumam. Auri diam membeku menatap sosok itu.
Sosok lelaki yang entah sudah berapa tahun tak pernah ia temui. Namun uangnya sampai padanya hingga ia lulus kuliah.
Dan di saat yang tak pernah ia duga, justru pertemuan itu terjadi.
Rasa benci, trauma dan sesuatu yang sangat mengganjal hatinya kini membuncah dan menyerangnya dalam waktu bersamaan.
Candra menoleh ke Estu dengan gerakan slowmo.
Perlahan, Estu berjalan mendekat ke arah Auri. Namun kesadaran Auri telah kembali, ia memundurkan langkahnya. Hingga antara ia dan Estu kembali berjarak.
Teman-teman Auri saling melempar pandangan seolah memberi kode satu sama lain. Apa yang harus mereka lakukan???
"Esther...??" Estu kembali mencoba untuk mendekati lagi.
"Stop!"
Auri menelan salivanya dan menahan sesuatu yang mengganggu hatinya.
"Apa anda juga penanggung jawab proyek ini?" tanya Auri.
"Esther...papa...."
"Jawab! Anda penanggung jawab semua ini?"
Semua mata menyaksikan drama tersebut tanpa suara.
"Oke...iya Esther! Papa investor..."
"Beritahu karyawan-karyawan anda, terutama cowok itu! Pindahkan pintu masuk di tempat lain! Jangan membuat kemacetan di depan sekolah kami!"
Nada bicara Auri begitu tegas, tanpa rasa takut sekali pun sosok yang di hadapannya adalah seorang yang berkuasa.
Tapi...tidak berkuasa atas dirinya! Ya, Auri tak pernah merasa ada di bawah kuasa papanya. Baginya, uang dari papanya hanyalah bentuk tanggung jawab nya sebagai seorang ayah! Tidak lebih dari itu!
Estu mengangkat tangannya.
"Oke...papa akan melakukannya. Papa akan perintahkan mereka untuk membuka jalan baru. Papa...."
"Terima kasih!" kata Auri berbalik arah. Estu akan kembali mengajak nya bicara ,di saat yang sama Auri berbalik arah lagi. Namun yang ia tuju bukan Estu, melainkan Candra.
"Urusan kita belum selesai!" kata Auri galak.
Candra sampai tercengang tak percaya. Otaknya masih mencerna. Auri-- gadis galak itu putri dari seorang pengusaha ternama Pangestu Aji Wibowo!
Plot twist banget! Batin Candra.
Auri cs pun meninggalkan lokasi proyek tersebut. Setidaknya ada jaminan ketenangan saat mereka mendengar jawaban dari Estu.
Walaupun mungkin di hati Awan dan kawan-kawannya, rasa penasaran itu masih ada.
Yang mereka tahu, Auri anak dari umi dan Abahnya yang tinggal di kampung. Lalu sosok yang memanggil dirinya 'papa' kepada Auri siapa?
❤️❤️❤️❤️❤️
Salamah akan belanja ke warung sembako. Ada beberapa kebutuhan rumah yang habis. Ia memakai sepeda listriknya untuk menuju ke sana.
Ternyata sesampainya di sana, ada ibunya Ikhsan yang juga sedang berbelanja.
Perempuan yang memakai perhiasan bak toko berjalan itu menatap remeh Salamah yang datang dengan sepeda listriknya.
Padahal dia sendiri pun tak berbeda jauh, mengendarai motor jadul milik suaminya.
"Assalamualaikum?" sapa Salamah.
"Walaikumsalam, mangga Mi...meser naon?" tanya pemilik warung.
Ibunya Ikhsan melirik sinis dengan senyuman yang tampak meremehkan Salamah.
"Bahan-bahan kue teh, isukan rek nyieun kue untuk pengajian rutin di majlis ta'lim. Kan jadwal saya..."
"Oh....siap Mi, sekedap!" kata pemilik warung yang sudah hafal betul apa saja yang biasa di beli Salamah.
"Sama itu ya teh, persabunan kaya biasa."
Salamah memang bisa memesannya pada tetangganya itu sampai susah hafal di luar kepala.
"Siap umi...." sahutnya dari dalam.
Salamah tersenyum tipis saat menoleh ke arah ibunya Ikhsan.
"Belanja Bu Hajah...." sapa Salamah.
"Nya atuh, masa ngutang! Pantang buat saya buat ngutang apalagi di warung kecil begini!" kayanya sombong. Si pemilik warung menolehkan kepalanya dan menatap ibunya Ikhsan itu.
Ya ampun... sombongnya! Batin pemilik warung.
Padahal Bu Hajah itu sudah selesai di layani, bahkan sudah membayar. Tapi entah kenapa ia seolah masih betah berada di warung kecil itu.
Memang benar-benar betah atau ada sesuatu yang membuat dia ingin di situ!
Salamah tak menggubris, ia pura-pura sibuk memilih cemilan yang di pajang di atas rak. Meladeni mantan calon mertua Auri itu akan sangat menguras energi. Jadi lebih bijak rasanya kalau dia bersikap masa bodo.
Pemilik warung itu mengangkat barang pesanan Salamah di atas meja.
"Bu Hajah masih ada lagi yang mau di beli di warung kecil ini?"tanya pemilik warung itu.
"Ngga! Saya cuma mau lihat, uminya Auri ini habis berapa belanjaannya."
Salamah dan pemilik warung itu saling melempar pandangan.
"Bu Hajah mau bayarin?"tanya Salamah. Ibunya Ikhsan tampak menahan malu.
Tujuannya tadi hanya ingin tahu, habis berapa belanjaan Salamah. Tapi dia tidak ada niat untuk membayarkan belanjaan itu. Dia hanya ingin mencari celah untuk menghina Salamah yang mungkin saja kekurangan uang untuk membayar belanjaan itu. Dan....ya...dia bisa membullynya. Sayang, reaksi Salamah tak seperti yang ia harapkan.
Pemilik warung itu pun melipat bibirnya agar tidak tertawa.
Karena merasa malu, perempuan yang seperti mas berjalan itu pun meninggalkan warung dengan perasaan dongkol.
Sedangkan Salamah dan pemilik warung itu hanya menatap heran kepada sosok perempuan yang cukup terpandang di kampung ini.
"Untung ngga jadi besanan ya Mi hihihih" ujar pemilik warung.
Salamah pun menanggapi nya dengan kekehan kecil.
❤️❤️❤️❤️
Terimakasih 🫰