Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Mata Alea berkedip lambat, bergantian menatap bayangan pekat di atas paving block yang memanas dan wajah kaku Arka.
Otaknya yang tadinya mengalami korsleting total kini berusaha melakukan reboot paksa di tengah terik matahari pagi. Di saat-saat krisis memalukan seperti ini, pahlawan wanita di sinetron atau novel picisan biasanya akan memutar bola matanya, menghela napas lemah, lalu jatuh pingsan secara dramatis ke pelukan sang tokoh utama yang tampan.
Namun, Alea adalah rasionalis kelas pekerja sejati. Otaknya dengan cepat mengkalkulasi kemungkinan terburuk dari skenario romantis tersebut.
Pura-pura pingsan sama dengan digotong ke UKS. Di UKS, di sana Bu Rani pasti akan memaksanya minum teh manis hangat, lalu menagih uang kas lima ribu rupiah padahal tehnya lebih banyak air daripada gula. Kalau guru-guru panik melihatnya tak kunjung sadar, dia bisa dibawa ke klinik terdekat. Biaya ambulans? Biaya periksa dokter? Biaya tebus resep obat? Itu semua bermuara pada satu hal yaitu Kebangkrutan mutlak!
Tidak. Pingsan jelas bukan opsi yang ekonomis untuk dompetnya yang nyaris sekarat.
Dengan gerakan patah-patah layaknya robot usang yang kehabisan baterai, Alea perlahan menurunkan jari telunjuknya yang tadi menuding wajah Arka.
Ia mendehem keras untuk membersihkan tenggorokannya yang mendadak kering, meluruskan postur tubuhnya, dan menatap Pak Heri dengan ekspresi orang suci yang baru saja menjadi korban fitnah kejam.
"Bapak ini gimana, sih?!" sembur Alea tiba-tiba, suaranya melengking mbalikin keadaan dengan kecepatan yang bikin Arka diam-diam ngangkat sebelah alisnya.
"Kalau emang ada murid baru, apalagi yang katanya donatur penting tingkat dewa, mbok ya diumumin pakai TOA sekolah kek dari tadi! Kan saya jadi salah paham ngira sekolah kita didatengin hantu korban tenggelam! Coba Bapak ngasih tahu dari awal, saya kan bisa nyiapin karpet merah, atau seenggaknya nyapu koridor dulu biar debunya nggak nempel di sepatu mahal dia!"
Rahang Pak Heri nyaris jatuh ke tanah. Kumis tebalnya bergetar hebat me emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Alea! Kamu yang teriak-teriak kesurupan ngatain orang setan, kenapa sekarang malah Bapak yang disalahkan?!"
"Ya karena Bapak yang pegang kendali pusat informasi di sini!" balas Alea nggak mau kalah, urat lehernya menegang nantang sang guru BK.
"Informasi itu kunci, Pak! Di era digital ini, miskom dikit aja bisa memicu Perang Dunia Ketiga. Bapak mau saya jantungan terus masuk ICU gara-gara kaget ngelihat orang yang saya kira udah mati?! BPJS saya nunggak tiga bulan lho, Pak! Siapa yang mau bayarin kalau saya kolaps beneran?!"
Kepala Sekolah yang mulai pusing buru-buru mijat pelipisnya dengan jari gemetar. Dia menoleh cemas ke arah Arka, takut setengah mati kalau pewaris pertama konglomerat kota ini, yang kabarnya bisa ngeratain gedung sekolah cuma dengan satu jentikan jari, merasa terhina dan batalin dana pembangunan lab komputer.
"Nak Arka, mohon dimaklumi yang sebesar-besarnya. Alea ini memang... anak yang imajinasinya melampaui batas wajar manusia normal," ucap Kepala Sekolah dengan tawa gugup, ngusap keringat dingin yang ngucur deras di dahi pakai sapu tangan.
Tatapannya beralih pada Alea dengan sorot mata penuh peringatan.
"Bapak pastikan dia bakal dapet hukuman tambahan berupa skorsing atas kelancangannya hari ini."
Tapi, alih-alih murka kayak yang ditakutin semua orang, Arka sama sekali nggak ngalihin pandangannya dari wajah Alea.
Gadis yang belum genap 24 jam dia kenal itu masih berdiri tegak, napasnya memburu naik-turun, tapi matanya mancarkan kegigihan konyol buat nggak kelihatan kalah meski jelas-jelas baru aja mpermalukan diri sendiri.
Arka, yang terbiasa nyambut nyawa orang tanpa penyesalan dan disegani di mana pun dia berada, ngelihat keberanian absurd dari Alea adalah tontonan paling menghibur selama bertahun-tahun hidup di dunia penuh intrik dan darah.
Arka ngeluarin tangan kirinya dari saku celana, pelan-pelan ngerapihin seragamnya dengan gerakan elegan yang terukur. Gerakan sederhana itu entah kenapa sukses bikin bulu kuduk Alea kembali meremang, seolah ada insting mematikan yang tertahan di balik keanggunan tersebut.
"Nggak perlu repot, Pak," suara bariton Arka motong kepanikan Kepala Sekolah. Nadanya sangat tenang, nyaris berbisik, tapi punya gema otoritas yang bikin semua orang di koridor itu seketika tutup mulut.
Matanya yang sekelam malam ngunci pergerakan Alea.
"Saya sama sekali nggak tersinggung. Kebetulan kami sudah saling kenal. Jadi buat hukumannya, cukup suruh dia nemenin saya keliling ngenalin seluk-beluk sekolah ini."
Alea yang mendengar permintaan itu menelan ludahnya dengan susah payah. Alarm bahaya di kepalanya balik teriak nyaring. Insting bertahannya bilang kalau berurusan sama cowok ini jauh lebih bahaya daripada dihukum bersihin toilet cowok di belakang sekolah.
Arka ngelangkah maju, mpersempit jarak di antara mereka sampai ujung sepatunya nyaris nyentuh sepatu kanvas Alea yang jebol. Dia miringin kepalanya sedikit, natap lurus ke dalam bola mata Alea.
"Gimana, Alea? Lo keberatan jadi tour guide gue?"
"Hah?!" Alea terbelalak horor, ngelupain sopan santun sepenuhnya.
"Mana bisa gitu?! Gue sibuk, njir! Waktu istirahat gue kepakai buat ngerjain PR matematika anak kelas sebelah demi uang saku tambahan! Belum lagi gue harus lari ke kantin jualan gorengan! Waktu gue mahal, tau! Sorry ya, gue bukan tour guide gratisan!"
Bibir Arka berkedut, membentuk seringai tipis yang menawan sekaligus mengancam.
"Gue akan membelinya," sahut Arka sedatar tembok, tanpa keraguan sedikit pun.
Pemuda itu mengabaikan tatapan melotot Alea. Sebelah yangannya masuk ke dalam saku celananya, mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna hitam pekat yang potongannya terlihat sangat eksklusif.
"Berapa harga waktu lo per jam?"
Pak Heri nyaris limbung dan harus bersandar pada tiang bendera. Kepala Sekolah hanya bisa menahan napas. Sementara Alea terdiam kaku, mulutnya terbuka kecil.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang penuh dengan protes dan omelan panjang lebar, kini rentetan kata-katanya terbungkam sempurna.
Bukan karena ia ketakutan diintimidasi oleh aura gelap Arka, melainkan karena syok berat dihadapkan pada manusia asing yang secara harfiah menawarkan uang tunai untuk membeli waktu luangnya.
Mata Alea terpaku pada lembaran uang ratus ribuan berwarna merah cerah yang kini ditarik Arka dari dalam dompetnya.
Harga dirinya sebagai siswi mandiri yang pantang ditindas sedang berperang hebat melawan kondisi perutnya yang lapar dan dompetnya yang kosong. Dan bagian terburuknya adalah, Alea menyadari dengan penuh keputusasaan bahwa ia sangat, sangat membutuhkan uang tersebut untuk bertahan hidup sebelum gajian bulan depan.
"Tiga ratus ribu cukup," ucap Arka tenang, menyodorkan lembaran uang itu tepat di depan wajah Alea.
"Untuk waktu istirahat dan jam kosong lo hari ini. Deal?"
Pertahanan diri Alea runtuh seketika. Dengan gerakan secepat ninja, tangannya menyambar tiga lembar uang merah itu dan langsung memasukkannya ke saku roknya.
Alea membusungkan dada, ekspresi wajahnya seketika berubah seratus delapan puluh derajat yang tadinya galak jadi senyum service excellent paling cerah yang pernah dia pelajarin waktu training jadi karyawan kafe.
"Deal diterima, Bos Arka yang dermawan!" seru Alea riang, yang membuat Pak Heri mijat pelipis ngelihat siswinya yang bar-bar langsung putar haluan demi cuan.
"Selamat datang di SMA Harapan Warga! Silakan ikuti saya, kita mulai tur dari kantin belakang, tempat gorengan paling murah meriah berada. Dan inget, argometer waktu udah jalan mulai detik ini juga!"
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂