Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Zuraida duduk melamun di sofa usai bicara dengan suaminya mengenai si kembar yang tak mau pergi sekolah. Zuraida tak membujuk, merayu apalagi memaksa. Ia hanya bicara menyampaikan apa yang diminta anak-anak. Sudah bisa ditebak jika Arfan tak mau merubah keputusan meski Zuraida yang meminta bahkan memohon sekali pun.
Harus ada efek jera supaya tak mengulangi lagi kesalahan demi kesalahan yang bisa menyebabkan nyawa seseorang bisa melayang begitu saja.
Sampai-sampai Arfan bicara cukup melukai hatinya dengan mengatakan siapa Zuraida yang baru kemarin menjadi istrinya. Baru mengenal si kembar. Sebagai daddynya Arfan lebih paham anak-anak dan sekolah itu menjadi keputusan yang paling tepat.
Rasanya enggan tidur di ranjang dalam suasana hati yang tak enak. Zuraida merebahkan tubuhnya di sofa, tidur masih mengenakan hijabnya.
Pintu kamar terbuka, baru saja Arfan masuk. Sebelumnya pria itu ke kamar anak-anak. Memerintahkan anak-anak cepat tidur, bangun pagi lalu sekolah.
Pria itu berjongkok tepat di hadapan wajah Zuraida. Mengelus kulit wajah istrinya yang selembut sutra.
"Maaf, kata-kataku sudah melukaimu."
Tak terganggu sedikitpun, Zuraida tetap tidur sampai tubuh mungil itu terasa melayang di udara sebab Arfan menggendongnya. Menidurkannya di ranjang mereka. Pria itu memeluknya sangat erat.
Keesokan paginya.
Kekecewaan harus ditelan Sean. Pasalnya sudah ada pembagian kelas dan si kembar tak ada dalam kelas yang sama. Sena kelas A dan Sean kelas C. Mereka tak protes lewat kata, namun wajah mereka sudah memperlihatkan semuanya.
Sebagai ibu tiri Zuraida tak mampu melakukan apa pun selain menerima keputusan. Sambil menunggu di depan gerbang sekolah ia mencoba menghubungi Wilona. Siapa tahu perempuan itu bisa membantu si kembar supaya berada dalam kelas yang sama.
Namun hasilnya tak ada. Perempuan itu tak bisa dihubunginya. Selama 45 lima menit Zuraida menunggu di depan sekolah. Tak tahu apa yang terjadi pada anak-anaknya di dalam kelas sebab orang tua tak boleh lagi menunggui anak-anaknya.
Lima belas menit kemudian Zuraida mendapati anak-anaknya keluar dari sekolah berjalan ke arahnya. Zuraida menatap wajah Sean yang jauh lebih kusut ketimbang Sena.
"Bagaimana kalau kita tak langsung pulang? Apa kalian mau makan sesuatu?." Tanyanya menoleh ke belakang di mana terlihat wajah-wajah tak bersahabat.
"Aku tidak mau," respon Sena ketus sambil memalingkan wajahnya dari Zuraida. Berbeda dengan Sean, anak itu memberi respon yang cukup baik.
"Kamu bisa bawa kami ke pusat permainan?."
"Di mana itu? Kamu bisa jadi petunjuk jalan?."
"Tentu saja." Wajah itu berubah menjadi lebih terang dan ceria.
"Bagaimana Sena, mau ikut atau saya antar kamu pulang dulu?."
"Aku ikut sama Sean." Masih tak mau memandang Zuraida.
"Oke, kita ke sana sekarang."
Zuraida mengemudi sesuai arahan dari Sean. Perjalanan kali ini lebih hidup sebab ada suara Sean yang terus memandunya.
Sean dan Sena sudah memadai satu area permainan di mana Zuraida tak bisa ikut bermain karena batasan usia. Zuraida hanya menonton saja. Tak wajah kusut, ketus atau yang lainnya. Wajah-wajah polos anak-anak pada umumnya yang saat ini dijumpai Zuraida pada anak-anaknya.
Kedua sudut bibir Zuraida ikut terangkat, ikut tersenyum dengan mereka.
Waktu sudah hampir sore saat ia menatap jam tangan. Ia harus segera pulang sebelum suaminya.
"Sean...Sena...kita harus pulang." Nada bicara Zuraida cukup kencang karena jarak mereka yang cukup jauh.
"Aku masih mau main, Zuraida." Teriak Sean sambil terus duduk di atas motor besar yang dikendarainya.
"Besok lagi kita ke sini," bujuk Zuraida.
"Tidak! Aku maunya sekarang!" Sean menolak.
Zuraida menatap Sena yang turun lebih dulu dari motornya. Di layar masih terlihat laju motor Sena yang menabrak sana sini. Sena menghampiri Zuraida.
"Kalau udah di sini Sean susah diajak pulang."
"Daddy kalian tak marah?." Jujur saja Zuraida sangat takut jika Arfan marah.
"Pastinya, daddy pasti marah."
Zuraida memasang wajah cemas namun tak bisa apa-apa sebab Sean memang susah dibujuk dengan cara apa pun.
Saat tutup pusat permainan baru Sean mau pulang. Dan itu sudah pukul setengah sebelas malam. Berulang kali Zuraida mengecek ponselnya. Tak ada pesan balasan dari suaminya. Sudah banyak Zuraida mengirim pesan mengabarkan keberadaan mereka namun tak ada dibalas suaminya.
Ia harus bersiap dimarahi suaminya. Ini murni kesalahannya.
Tepat pukul sebelah Zuraida dan anak-anak tiba di rumah. Disambut tatapan dingin Arfan. Pria itu langsung memerintahkan si kembar untuk ke kamar dan segera tidur sebab besok harus sekolah. Kalau sampai telat ada hukuman yang menanti mereka.
Zuraida mengekori suaminya sampai kamar sambil terus meminta maaf namun tak ada respon dari suaminya. Zuraida benar-benar menyesali ajakannya. Ia tak tahu jika Sean begitu sangat suka berada di pusat permainan.
"Duduk," pinta Arfan sesaat sebelum ia duduk di kursi kerjanya. Zuraida duduk di hadapan Arfan.
"Kamu tak perlu meminta maaf, Zuraida. Aku yang salah tak memberitahumu ada satu tempat yang tak boleh didatangi. Baik Sean atau Sena tak pernah bisa berhenti bermain tapi Sena masih bisa diajak bicara. Tetapi Sean sangat susah. Aku dan Wilona selalu bertengkar karena yang satu itu. Wilona selalu mengikuti kemauan anak-anak. Sampai-sampai Sean menginap di arena bermain itu."
" Saya tak akan mengulanginya, Mas."
"Itu yang memang harus kamu lakukan."
"Iya."
Karena sekarang kamu sudah tahu. Ke depannya jika kamu mengajak mereka ke sana lagi, sudah bisa dipastikan aku akan memerahimu."
" Iya, Mas. Tapi bisa saya pastikan saya dan anak-anak tidak akan ke sana lagi."
"Aku harap aku bisa mempercayaimu."
"Iya, Mas."
*
Hanya sampai gerbang saja Zuraida mengantar Sean dan Sena. Ia tak langsung pulang, memastikan anak-anak tetap berada di sekolah sampai dua jam lamanya. Setelahnya Zuraida pulang karena mulai sekarang dan seterusnya anak-anak akan pulang pukul dua siang.
Zuraida sudah kembali ke rumah. Susan sudah menunggunya.
"Kamu akan semakin dibenci anak-anak karena sudah menyekolahkan mereka."
"Bukan saya, tapi daddy mereka."
"Wilona pasti akan memarahimu kalau tahu hal ini."
"Tapi sayangnya mommy si kembar tak bisa dihubunginya jadi ini semua harus terjadi."
"Kamu dan Arfan sama saja, Sean pasti akan sangat membencimu dan Arfan."
"Kenapa kamu bicara seperti itu?."
Bukannya menjawab, Susan justru malah pergi. Membuat Zuraida bertanya-tanya. Usai kepergian perempuan itu, Zuraida memasuki kamar anak-anak. Menatap rapinya kamar itu, deretan buku-buku yang tersusun pada rak buku.
Zuraida mengambil acak salah satu buku tulis di sana. Ia mengambil punya Sena. Membuka lembar demi lembar, tulisan tangannya sangat rapi. Kemudian Zuraida mengambil milik Sean, membukanya lembar per lembar juga. Namun di sana ia menemukan tulisan yang sama persis dengan yang dibuku Sena.
Zuraida membandingkannya, tak ada pembeda.
Bersambung