Indonesia
NovelToon NovelToon
Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: reesha swee

Rate 21+

Bukan ranah bocil, memang gak vulgar, cuman banyak adegan ciuman. Bahaya buat jomlo, 😆
Sampai sini, paham?

*****
Seorang gadis TKW yang telah kehilangan pekerjaannya mencoba peruntungan menjadi seorang youtuber terkenal di negara itu. Dia mengulas tempat-tempat wisata sebagai konten chanelnya. Gadis unik dan aneh itu bernama Nindy, wajah biasa, otak yang pas-pasan dan nasib yang selalu tidak beruntung.

***

Berawal menjadi pengunjung ilegal dengan alasan ingin berhemat, Nindy menyelinap masuk ke dalam sebuah tempat wisata tanpa membayar tiket, membuat gadis itu harus berurusan dengan sang pemilik tempat wisata.

Hukuman aneh yang diterimanya, membuat gadis itu mengalami drama kehidupan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dan kisah pun dimulai ...


Cerita banyak mengandung humor, sedih dan juga ngeri. Harap pilih-pilih tempat ketika membaca cerita ini.
Jika kalian tidak sempat ngakak baca bab awal hingga akhir, mungkin tingkat kengakakan kita memang berbeda.

🤗🤗😎😁😁😁

fb Aleena
IG Aleena_Anonymous

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon reesha swee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Sakit Membawa Berkah

Tok-tok-tok.

"Hai, bangun gadis pemalas!" Suara Yang Pou Han nyaring dengan tangan mengetuk kasar pintu kamar Nindy.

Kepala lelaki itu terasa berputar-putar. Pusing yang teramat sangat mendera kepalanya hingga berkali-kali ia gelengkan kepala itu untuk menghalau rasa sakit.

"Nindy, bangun!" Bertepatan dengan suara Yang Pou Han terhenti, pintu yang diketuk itu terbuka dengan sendirinya.

Ternyata gadis itu terlupa untuk mengunci pintu. Sedikit terseok langkah lelaki itu ketika berjalan memasuki kamar Nindy. Kamar itu nampak gelap, hanya temaram lampu tidur yang menyala di sisi kanan dinding tepat di atas ranjang Nindy.

Tatapan Yang nampak berkabut, tetapi ia masih saja berjalan mendekat ke arah ranjang. Dia ingin membangunkan Nindy saat itu juga. Menyuruh gadis itu untuk membuatkan minuman.

Namun, kendati ingin mengguncang bahu Nindy yang sedang tertidur dengan posisi menghimpit ke dinding, Yang Pou Han justru terjatuh tak sadarkan diri tepat di sisi kosong ranjang Nindy.

********

Hihihihi, hihihihi, hihihihi.

Suara alarm nada kuntilanak tertawa terdengar dari ponsel Nindy. Dengan malas ia meraba-raba ranjangnya yang ia yakini telah meletakkan ponsel itu di samping tubuhnya yang tidur.

Namun, ketika tangannya meraba ke arah samping ada sesuatu yang aneh disentuhnya.

Mata Nindy masih belum terbuka, bersamaan dengan suara alarm mengerikan itu berbunyi 'makin nyaring.

Apa ini? Apakah ini guling?

Nindy melingkarkan tangannya di benda itu. Namun, benda itu terasa tidak senyaman guling. Sejenak pikirannya mulai tersadar, ketika merasakan benda yang dipeluknya itu bergerak dan bernapas.

Apa? Guling bisa bergerak dan bernapas?

Berat mata itu terbuka, tetapi segera ia paksakan mengingat waktu subuh telah tiba. Meskipun dia merasa lemas tak bertenaga, shalat harus tetap ditunaikan.

Kelopak mata itu mengerjap beberapa kali, rasa pusing di kepala masih terasa. Nindy teringat jika dia belum sempat makan malam kemarin.

Ah, pantas saja badannya terasa lemas.

Ketika mata itu membuka sempurna, nampaklah sesuatu yang aneh sedang meringkuk di bawah tangannya yang melingkar, memeluk benda itu.

Dan satu teriakan berhasil mengubah semuanya.

"AAAAAHHHH ...."

"Kau, bagaimana ada di kamarku?" Nindy meraih selimut untuk dikenakan menutupi kepala. Mengambil bantal untuk memukuli lelaki yang sedang terlelap di sampingnya.

"Dasar laki-laki mesum, cabul, tidak tahu malu!" Nindy terus-menerus menghujani lelaki itu dengan pukulan-pukulan menggunakan bantal yang ia bawa, hingga tangan lelaki itu dengan kasar merampas bantal tersebut.

"Diam! Telingaku bisa rusak mendengar teriakanmu."

Nindy tidak peduli, dia tetap saja memukuli lelaki itu dengan tangannya.

"Keluar! Pria mesum, tidak tahu malu, cabul. Pergi dari kamarku!"

Lelaki itu berdecih, lalu beranjak dari ranjang Nindy. Nampak sedikit oleng tubuhnya, tetapi ia masih bisa menyeimbangkan hingga tidak sampai terjatuh.

Dia keluar dari kamar Nindy sembari mengusap tubuhnya yang terkena pukulan gadis itu. "Dasar gadis sinting!" ucapnya seraya melangkah masuk ke kamarnya.

*********

Nindy sudah mulai melakukan aktivitas pagi. Menyapu, mengepel dan membersihkan semua yang nampak berdebu. Badannya terasa begitu lemah, hingga ia memilih untuk berhenti sejenak.

Dingin

Dia masih merasa kedinginan. Bibirnya nampak pucat dengan tangan gemetar.

Beruntung hari ini dia mendapatkan jatah libur, sehingga ada kesempatan untuk beristirahat.

Belum sempat Nindy merasakan tubuhnya yang sakit, Yang Pou Han berteriak memanggilnya.

"Nindy! Di mana sepatuku?"

Gadis itu nampak berdecak, menghentakkan kaki kesal dengan tingkah majikannya itu. Bahkan mencari sepatu saja harus memanggil Nindy, sungguh merepotkan.

Langkahnya begitu lemas, tidak bertenaga sama sekali. Hingga pada akhirnya dia berada di depan ruangan kamar Yang Pou Han.

"Kau lelet sekali. Bisa bekerja dengan benar tidak?" bentak lelaki itu tanpa menoleh ke arah Nindy.

Nindy hanya diam, tak sanggup untuk berdebat. Dia harus memiliki banyak energi untuk adu mulut dengan lelaki itu, sedangkan saat ini tubuhnya begitu lemah. Sehingga ia lebih memilih untuk mencarikan sepatu yang diinginkan majikannya itu.

Terdengar desahan dari bibir Nindy. Sepatu itu masih ada di rak sepatu. Namun, Yang tidak berniat mengambilnya sendiri. Tidak banyak bicara, Nindy mengambil sepatu itu lalu meletakkanya di bawah kaki Yang Pou Han.

Tepat pada saat Nindy menegakkan tubuhnya dari posisi menunduk setelah meletakkan sepatu itu, Yang memerintahnya lagi. "Pakaikan!"

Lelaki itu tanpa tahu malu duduk di atas ranjang, menunggu Nindy memakaikan sepatu untuknya. Dia pura-pura sibuk dengan gawainya seolah sedang mengetik pesan.

Nindy nampak menghela napas, malas meladeni sikap majikannya itu. Sepertinya Yang Pou Han sengaja membalas dendam atas perlakuan Nindy tadi pagi.

"Tuan, tangan yang jarang digunakan lama kelamaan akan tidak berguna."

Yang mengalihkan pandangannya ke arah Nindy, "Kau sedang mengatai tanganku tidak berguna?"

"Hahahaha, tidak. Tidak mungkin saya berani mengatakan hal itu." Tersenyum takut, dengan menunjukkan wajah memelas. "Hanya saja saya mengingatkan tentang teori evolusi. Yaitu ketika suatu organ tubuh yang tidak lagi diperlukan atau digunakan maka akan berangsur-angsur berubah atau mungkin menghilang. Emmm, bisa juga akan berkurang fungsinya karena terlalu lama dibiarkan menganggur. Ya ... seperti tangan Tuan ini."

"Kau bilang apa?"

Nindy hanya mampu tersenyum kecut. Sudahlah, berbicara dengan manusia seperti Yang Pou Han justru akan menghabiskan energinya yang tinggal sedikit itu. Nindy belum sempat makan apa pun sejak kemarin, dan saat ini harus melakukan perdebatan melelahkan dengan si tuan pemarah.

"Tidak ada."

Dia mengambil sepatu itu, memasangkannya di kaki Yang Pou Han yang sudah berbalut kaos kaki. Untuk sementara dia harus mengalah.

Hanya sebulan, Nindy. Ayolah, kamu bisa.

Suara hati Nindy terus saja berupaya menyemangati. Kendati dirinya sudah tidak sanggup, tetapi dia harus tetap bertahan.

"Siapkan makanan! Aku ada meeting penting hari ini."

Tanpa bicara, Nindy berangsur pergi. Kepalanya terasa begitu berat, hingga dia menghentikan langkahnya ketika berada di ambang pintu.

Tangan Nindy mencengkram bibir pintu itu kuat. Seolah itu adalah penopang tubuhnya yang masih bisa dipergunakan, sementara kakinya sudah mulai melemas. Dan pada akhirnya dia sudah tidak sanggup lagi.

"Hei, kenapa masih berdiri di situ? Cepat siapkan makanan!"

Bertepatan dengan perkataan Yang terhenti, Nindy terjatuh dan tak sadarkan diri. Dia pingsan di depan kamar Yang Pou Han.

Bergegas lelaki itu beranjak dari duduknya, memeriksa kondisi Nindy. Tangannya mengguncang bahu gadis itu, tetapi tidak berguna, karena sama sekali tidak ada tanggapan dari gadis itu. Nindy masih bergeming dengan mata terkatup.

Menyentuh kening Nindy, Yang Pou Han merasakan panas yang teramat sangat. Dengan cekatan dia memindahkan tubuh gadis itu untuk dibaringkan ke atas ranjang tidurnya.

Dia menghela napas, menatap wajah Nindy yang pucat. Apakah dia sudah keterlaluan?

Tidak, dia adalah majikan. Dan Nindy adalah pembantu. Sudah sepantasnya jika seorang pembantu melakukan itu semua. Namun, ada sedikit rasa iba ketika melihat gadis itu nampak menggigil kedinginan.

Tangannya mencari ponsel yang diselipkan di saku jasnya, menghubungi asisten Lie Am.

"Asisten Lie, gantikan aku menghadiri rapat itu. Dan panggilkan aku dokter!"

*********

"Dia hanya kelelahan, Tuan. Tidak ada yang serius, hanya saja asam lambungnya sedikit tinggi. Anda bisa memberinya bubur sebagai asupan nutrisi, selebihnya cukup banyak istirahat dan mengonsumsi vitamin. Oh ya, bisa dikompres keningnya jika diperlukan."

Yang hanya bersedekap sembari mengangguk menanggapi perkataan sang dokter. Hingga pada akhirnya dokter itu pun undur diri setelah memberikan resep yang harus ditebusnya.

Dan tinggallah Yang Pou Han berdua dengan Nindy. Gadis itu masih belum membuka mata. Badannya memang terasa panas, sehingga Yang Pou Han harus mengompresnya.

"Hei, Gadis bodoh, cepatlah baik. Jangan membuatku susah!"

Sama sekali tidak ada jawaban dari bibir Nindy. Yang segera pergi dari kamarnya, membiarkan gadis itu beristirahat dengan tenang.

**********

Aroma harum itu menggelitik indra penciuman Nindy. Perutnya terasa meronta-ronta karena belum terisi apa pun sejak malam kemarin. Dia meneguk ludah, sekedar untuk membasahi tenggorokannya yang mulai mengering.

Dia mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Melihat ruangan di mana dia sedang berbaring.

Ini bukan kamarnya. Tidak salah lagi. Apa yang sebenarnya terjadi?

Nindy berupaya mengingat-ingat apa yang sebelumnya terjadi kepadanya. Dan ingatannya mulai kembali sedikit demi sedikit ketika dia berakhir tak sadarkan diri di depan kamar Yang Pou Han.

Tanpa terasa tangannya terulur untuk menyentuh sesuatu yang terasa menempel di dahinya.

Handuk basah. Siapa yang meletakkan handuk basah di keningnya?"

Mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat, Nindy bergegas memejamkan matanya lagi. Sembari mencuri dengar, dia merasakan harum masakan itu kian mendekat, membuat rasa kelaparannya menjadi-jadi.

KRUUUUKKK...

Perutnya berbunyi dengan nyaring tanpa meminta izin kepada Nindy.

Perut, mengapa kau sama sekali tidak bisa bekerja sama?

"Tidak perlu pura-pura tidur. Cepat makan!" Suara menyebalkan itu terdengar jahat di telinga Nindy. Membuat gadis itu segera membuka matanya.

Dilihatnya Yang Pou Han sedang meletakkan dengan kasar semangkuk bubur yang uap airnya masih mengebul di atasnya. Dan ada satu hal yang menarik perhatian Nindy. Yang Pou Han datang dengan memakai apron juga lengan kemejanya nampak dijinjing sampai batas siku.

Apakah itu artinya dia yang memasak bubur itu?

Ah, ternyata dia manis juga.

"Cepat makan!" perintah Yang Pou Han kemudian.

Bersamaan dengan itu, suara dering ponsel Yang terdengar nyaring membuat laki-laki itu segera menjawabnya.

"Iya, apa katamu?" Yang pergi meninggalkan Nindy, menjauh untuk menjawab panggilan itu.

Nindy menghela napas, menatap bubur hangat yang nampak menggugah selera. Sepertinya lelaki pemarah itu ternyata pandai memasak. Pantas saja dia selalu meminta makanan yang sempurna kepada Nindy.

Ditiupnya bubur itu, menggulungkan asap panas yang menerpa wajahnya. Harum, Nindy sudah tidak sabar untuk melahapnya.

Baru suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, Nindy merasakan hal yang berbeda. Penampilan serta harum bubur yang menggugah selera itu tak mencerminkan dengan rasa yang ada.

Bubur itu benar-benar tawar, dengan rasa sangit mendominasi . Bahkan ada bagian bergerindil di dalamnya seolah memang belum tercampur dengan sempurna.

Sepertinya Nindy harus menarik kembali ucapannya jika Yang Pou Han adalah lelaki yang pandai memasak. Sama sekali tidak, lelaki itu sengaja meletakkan bagian terbaik bubur itu paling atas dan menyembunyikan bagian yang rusak di bawahnya. Benar-benar lelaki yang licik, bahkan membuat bubur pun dia masih menggunakan kelicikannya.

Bubur itu gosong, tidak salah lagi. Bahkan Yang Pou Han sengaja mengerok bagian gosong yang menyerupai kerak itu dari dasar kuali. Nindy menjadi tidak berselera makan, tetapi perutnya benar-benar lapar. Hingga dengan terpaksa dia menyuapkan kembali bubur gosong itu ke mulutnya.

Lumayan, tidak terlalu buruk. Setidaknya bubur itu masih bisa dimakan.

Tanpa terasa bubur itu tandas dalam waktu cepat. Nindy bahkan tidak menyadarinya. Padahal sebelumnya ia berniat memakan separuh saja sebagai pencitraan, tetapi malah kebablasan. Orang sakit makannya sedikit, bukan?

Namun, Nindy masih merasa lapar.

Bola matanya menatap ke sana kemari, mencari sosok Yang Pou Han yang tadi sedang menjawab panggilan. Ah, sepertinya lelaki itu sudah pergi. Nindy menghela napas lega.

Dia berjalan ke luar dari kamar Yang Pou Han menuju lemari es yang ada di dapur untuk mencari makanan yang lain. Ada beberapa buah di dalam lemari es, dan Nindy mengambil beberapa strawberi juga apel untuk dimakan saat itu juga.

Nindy duduk di bar stool lalu memindahkan buah-buahan itu di atas meja bar. Tanpa dicuci lagi, Nindy segera melahap buah-buahan itu dengan menggigitnya dalam gigitan yang besar.

Ah, sungguh lapar perutnya saat ini.

Hingga terdengar suara langkah masuk, membuat Nindy terkesiap. Dia buru-buru keluar dari area dapur dan kembali ke kamar Yang Pou Han.

Dia memjamkan mata, lalu menyentuh keningnya.

Sial, badannya sudah tidak panas lagi.

Nindy menatap mangkuk bekas bubur itu. Meletakkan tangannya di bawah mangkuk itu, Nindy tersenyum senang.

Alas mangkuk berbahan keramik itu masih terasa panas. Dan dengan ide gilanya, dia meletakkan mangkuk itu di atas keningnya untuk beberapa saat, sampai suara derap langkah sepatu itu hampir mendekati kamar tidur Yang Pou Han.

Cukup cepat pergerakan Nindy ketika memindahkan mangkuk itu kembali ke atas meja.

Yang Pou Han menatap Nindy yang masih terbaring di ranjang tidurnya. Sedikit rasa kasihan melihat gadis itu. Langkahnya mendekat ke arah Nindy, dan berhenti tepat di sisi ranjang yang kosong.

Yang meletakkan telapak tangannya di kening Nindy. Panas, sepertinya demamnya masih belum turun. Dia menghela napas dalam, sepertinya Yang Pou Han harus membiarkan gadis itu untuk beristirahat hari ini.

Namun, matanya menangkap mangkuk bubur yang sudah kosong tak bersisa itu. Sedikit senyum terbit di bibir lelaki itu.

Segera ia raih mangkuk kosong itu untuk ia kembalikan ke tempat cuci piring. Langkahnya kian melebar dengan membawa mangkuk bekas bubur itu.

Ketika dia memasuki area dapur, sepatunya menendang sesuatu yang membuat perhatiannya teralihkan. Yang mengernyitkan dahinya, menatap sesuatu yang sempat menghalangi jalannya.

Bekas gigitan apel yang tinggal biji dan juga serat tangkainya saja.

Dan sudah bisa dipastikan siapa pelakunya. Dia menggelengkan kepala sesaat, lalu berteriak dengan lantang.

"Nindy! Bangun! Berani-beraninya kau menipuku!"

1
Bunda Fariz
Luar biasa
Siti Amanah
♥️full setahun AQ cari ini thor
Siti Amanah
setelah lama ku cari akhirnya ketemu tentang Arthur sean aku suka ceritamu Thor cerita anak ny Arthur ua AQ baca sampai tamat ternoda sebelum akad aq suka banget sampe ku baca berulang2 audio jg AQ cari Kisa emak ny UD Nemu tapi menghilang katany pinda kesebelah judulnya AQ lupa pake bahasa inggris AQ akan baca abis tp
Helen Helena
cerita nya bagus -bagus
Biarkan aku menangis: terima kasih Kak. Jangan lupa baca yg lain jg yaa ☺☺
total 1 replies
supiatun 098
ceritanya bagus, seperti keadaan sebenarnya
siti zulifat
terharu....
siti zulifat
suka alur ceritanya.... cukup untuk orang dewasa... tidak terlalu menunjukkan ke vulgar an.... berbeda dg cerita lain ny... keren
Juan Sastra
kisah yg keren....
Juan Sastra
bilang aja skin to skin yang ggak perlu berbelit belit
Juan Sastra
kau tahu yang bahagia tidak harus mahal dan istimewa cukup dengan sesuatu yg sederhana, contohnya kau bisa tertawa dengan celotehan nindy..
Hilmiya Kasinji
bagus
Biarkan aku menangis: 🤗🤗🤗

makasih sudah mampir
total 1 replies
Bzaa
aku malah baca Alvaro dulu, baru ke melipir ke mari, berarti kebalik ya ☺️😉😘
Bzaa: karena seruu, insya Allah enggak bingung tor😉☺️..
total 2 replies
Bzaa
senangnya.. berakhir dengan happy ending...
terimakasih otor...
sehat dan sukses sll, kopi sudah otewe yak... 😘
Bzaa
semoga tidak terjadi apa-apa
Bzaa
ternyata Eropa tetap terdepan 🤣🤣
Bzaa
Anya kykny bener2 copy an ayahny🤣
Bzaa
senangnya
Bzaa
betul banget...
kejujuran, keterbukaan dan komunikasi penting dlm sebuah hubungan..
Bzaa
biarkan ayahmu menuai karmanya sendiri...
sekarang kamu tinggal bahagia nin...
Bzaa
terharu banget.... semangat yang dan nindi 💪💪😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!