Sebatas skenario percintaan. Demi sang Nenek, Megan akan menggunakan segala cara untuk mencari uang, sekalipun menjadi kekasih pura-pura seseorang.
Megan yang menjadi target perundungan, bisa bertahan sampai kapan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peristiwa di Perpustakaan
Senin, 2 Agustus 202x
Pagi ini, Megan tidak berhenti tersenyum. Suasana hatinya sedang baik.
"Sarapan dulu." kata Nenek, ketika melihat Megan dengan seragam sekolah. Nenek sendiri sudah sembuh dari sakitnya.
"Iya Nek." kata Megan menarik kursi dan duduk di samping Nenek. Dia memulai acara makannya dengan tenang bersama sang Nenek.
Setelah makan bersama, Megan kemudian pergi menuju sekolah.
***
"Cuaca cerah dengan hari yang tidak buruk." tukas Megan kemudian mengambil langkah menuju perpustakaan. Koridor juga sepi.
Untuk dua hari ini, sekolah mengadakan beberapa lomba, maka dari itu para murid berkumpul di lapangan basket yang luas sekali. Sebenarnya yang mereka lihat, bukan para peserta lomba melainkan perwakilan tanding basket dari sekolah yang menyorot banyak perhatian. Juza serta Xiel dan beberapa anggota lain.
Megan melangkah memasuki perpustakaan. Dia tersenyum ke arah Ibu penjaga perpustakaan yang juga tersenyum kepadanya. Catat, Megan langganan perpustakaan.
Duduk di bangku yang berada di pojok. Megan malah dikagetkan dengan seseorang yang tidak asing baginya. "Theo?" panggilnya dan pria itu mendongak kemudian kembali fokus untuk buku yang dia pegang.
Megan tersenyum canggung. Dia hendak pergi, namun Theo sudah terlebih dahulu berbicara. "Kamu bisa duduk di sini." katanya.
"Terimakasih." kata Megan kemudian duduk, dia kemudian meraih salah satu buku novel yang tersusun di meja.
"Bukankah kamu OSIS, kenapa malah memilih untuk ke sini? Aku dengar anggota OSIS berperan penting untuk lomba-lomba yang diadakan." Megan memulai percakapan.
Theo menjawab, "Tidak semua anggota OSIS berperan untuk kegiatan ini. Lagipula itu tidak selamanya berguna bagiku," perkataan yang terdengar egois. "akan lebih baik duduk tenang di sini dan menghabiskan hari."
Megan jadi kepikiran dengan perkataan Theo. Memang benar selama ini, kegiatan OSIS itu tidak terlalu berguna untuknya. Bukan untuk menjelekkan, tetapi itu adalah fakta. "Besok sepertinya tidak perlu datang kalau begitu. Membuang waktu hanya untuk melihat hal yang tidak membuatku cepat kaya." gumam Megan, tetapi masih dapat didengar oleh Theo.
"Konyol sekali, kamu ingin dicap siswi tidak taat aturan? Lagipula, setiap hari absen selalu berjalan."
"Benar juga. Aku hampir lupa." Megan menghela nafas kemudian kembali fokus melihat buku.
"Kamu sendiri kenapa tidak melihat ke bawah? Bukankah kekasihmu sedang bermain basket bersama timnya, aku merasa ragu jika kamu benar adalah kekasihnya." tukas Theo tiba-tiba.
"Aku hanya tidak suka keramaian. Berdiri di panas terik matahari hanya untuk seseorang bukankah itu sia-sia. Toh, itu hanya latihan biasa. Untuk hari H pasti aku akan datang." ujar Megan mantap membuat Theo mendengus malas. Pria itu memalingkan wajah.
"Aneh."
Megan menolak dengan keras perkataan itu. Dia bangkit dari kursi dan menatap tajam Theo. "Kamu yang aneh! Mendadak sangat aneh, seolah-olah kamu memiliki beberapa kepribadian yang berbeda. Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana."
Theo merespon dengan muka datarnya tidak seperti Theo yang akhir-akhir ini Megan lihat di kafe. "Kukira friendly ternyata kulkas berjalan." kata Megan lirih nyaris tak terdengar.
Untuk sesaat Theo diam dan ikut berdiri, berjalan menghampiri Megan yang tidak tahu sejak kapan sudah mengambil jarak antara mereka. Menunduk kebawah untuk melihat Megan yang nyatanya memiliki tinggi sebahunya.
"Aku baru sadar kamu sangat pendek."
"Jangan berbicara denganku! Memangnya jika kamu tinggi, apa kelebihannya? Perbedaannya tidak sejauh itu." sangkal Megan.
"Aku akan memberitahumu sebuah fakta."
"Hah..." Megan mengernyit heran dan kemudian merasakan tangan yang menghampiri dahinya. Pria itu menyibak poni yang menutupi jidat Megan dan merapikan rambut Megan yang tampak berantakan.
Hanya polesan sekilas, mampu mengubah penampilan Megan seolah bukan Megan itu sendiri. "Apa yang kaulakukan?" cicit Megan akan menunduk, namun bahunya digenggam oleh Theo.
"Fakta menarik itu, sebenarnya kamu cantik dan tampak bersinar. Aku menjadi bersemangat ketika melihat ini, tidak seperti kamu yang biasanya penuh dengan kesedihan."
Pipi Megan terasa panas dan kepalanya memproses banyak sekali informasi. Pusing sendiri harus menjawab apa.
Theo tersenyum jahil. Melihat Megan yang bersemu merah menimbulkan niat tersendiri. Dia kembali duduk dan menggerakkan tangan sebagai kode kepada Megan untuk duduk juga.
"Coba putar kursimu."
"Untuk apa?" kata Megan yang sibuk membaca, antara memang fokus atau mengalihkan pikiran.
"Putar saja."
Akhirnya, Megan memutar kursinya menghadap ke arah Theo, namun pria itu menggeleng. "Membelakangi." Setelahnya Megan membelakangi Theo.
"Baiklah." Theo berdiri dan menyentuh rambut halus milik Megan membuat gadis itu memekik kaget, "Apa yang kaulakukan!?"
"Diamlah. Ini perpustakaan." Tidak menjawab dan memberikan pernyataan. "kebetulan, salah satu adik kelas menitipkan ikat rambut padaku dan tidak kunjung diambil kembali. Aku akan menggunakannya kepada rambutmu." tutur Theo yang membuat Megan terbelalak. Menggeleng dengan cepat.
"Tidak perlu."
Theo tidak menjawab lagi, tangannya bergerak dengan cepat tanpa memberi celah. Dia tersenyum puas, ketika melihat rambut Megan sudah diikat ikal.
Theo berdiri, berjalan ke depan Megan yang kini menutup mata. Berjongkok untuk melihat wajah tersipu milik Megan, pria itu lagi-lagi tersenyum melihat hasil perbuatannya.
"Jika kamu ingin banyak berkata, maka kamu juga harus seperti ini. Aku menyukainya."
Theo tidak lagi peduli dampak dari ucapannya. Dia sibuk untuk mengagumi paras yang tersembunyi. "Jika saja, aku lebih dulu bertemu denganmu daripada Juza."
"Bukan, bukan ini yang kumaksud! Ada apa dengannya? Kenapa, menjadi begitu mengerikan." batin Megan.
Keadaan menjadi hening untuk mereka berdua. Megan yang sibuk memilin ujung rok dan Theo yang berjongkok tanpa berhenti tersenyum.
"Mm..., apakah ini bisa kulepaskan, aku kurang nyaman dengan ini." kata Megan dengan pelan, tetapi masih dapat didengar.
"Lakukan saja, hanya saat kaukeluar dari perpustakaan." balas Theo acuh yang kini berdiri seraya memutar kursi Megan untuk kembali menghadap meja.
"Bagaimana kalau kamu minta putus saja dari Juza?" ungkap Theo tiba-tiba yang tentunya mendapat respon dari Megan.
"Itu..."
"Kamu mencintainya?" kata Theo yang kini menyipitkan mata. Megan menjawab dengan dengusan, mulai kesal dengan perilaku Theo.
Theo akan kembali berbicara, saat bel istirahat tiba-tiba terdengar. Megan yang mendengar dengan sigap berdiri. "Aku harus ke kantin! Rasanya perutku lapar sekali." katanya.
"Ya."
Megan melangkah saat rambutnya tiba-tiba ditarik, tidak lebih tepatnya ikat rambut itu. Megan berhenti sejenak, dan merapikan poninya yang panjang untuk menutupi jidat. Dan kemudian, merapikan tatanan rambutnya seperti biasa.
Megan kembali seperti biasa, dengan tampilan murid cupu dan pendiam yang selalu menunduk. Tatanan rambut dapat mengubah nilai kecantikan seseorang. Apalagi Megan tiba-tiba mengeluarkan kaca mata.
"Mulai sekarang aku harus menggunakan ini!" katanya dan kemudian berjalan kembali saat Juza tiba-tiba menarik tangannya. Megan yang melihat itu tertegun untuk waktu lama.