Kanvar Anderson
Ya, memiliki arti nama seorang pangeran muda. Anak tunggal dari seorang pembisnis batu berlian yang sangat besar bernama Tuan Carson Anderson dan Nyonya Elisabeth Anderson. Kanvar adalah seorang lelaki yang hampir dibilang sempurna.
Dan aku…. Azia Helena, seorang wanita biasa yang bekerja di butik Nyonya Elisabeth Anderson dan mempunyai impian menjadi seorang designer terkenal, tetapi jatuh hati dengan putra sang pemilik butik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Dua Lelaki Yang Merepotkan
Azia duduk di sebuah ruangan khusus para pendesain gaun-gaun yang akan dijahit. Azia tidak lagi bekerja sebagai karyawati biasa. Karena prestasinya yang membuat gaun pesta Elisabeth begitu indah pada malam itu.
"Dada yang sedikit terbuka, dengan pola gaun yang berbentuk duyung bawahnya dan sedikit kristal payet disekeliling dada dan pinggul", lirih Azia dalam hati.
" Wah, gaun yang sangat indah Azia", ucap bu Elie yang mendadak datang mengejutkan Azia dari belakangnya.
"Selamat pagi bu Elie", ujarku langsung berdiri tersenyum ramah.
" Kau memang memiliki senyum yang indah Azia, duduklah kau tidak perlu begitu formal denganku", ujar Elie.
"Setidaknya di tempat kerja kita bisa tetap profesional bu, " sahut Azia sambil melanjutkan gambar.
"Kau memang yang terbaik, apa itu gaun pernikahan? Terdapat bahan kristal payet pada gambarmu", ucap Elie sambil memandang terpana dengan gambarannya.
" Ini masih belum bisa dikatakan gaun pernikahan bu, saya berpikir ini lebih mengarah ke gaun bridesmaidnya", sahut Azia.
"Ide yang bagus, butik kita juga masih belum banyak mengeluarkan gaun khusus bridesmaid, baiklah silahkan melanjutkan semoga berhasil", ucap Elie bangga akan karyanya dan pergi keluar ruangan.
Hari sudah larut waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Butik pun tutup hari ini sangat ramai pengunjung. Apalagi banyak diskon besar-besaran yang membuat banyak wanita mengantri didepan pintu masuk.
" Zia, ayok kita pergi makan malam dulu aku lapar", ujar Rina melihatku sendiri yang baru bersiap-siap untuk pulang.
"Boleh, mau makan apa? ", tanya Azia.
" Hmm.... Cuaca sedang dingin seperti ini aku ingin makanan yang berkuah seperti sup daging", sahut Rina.
"Baiklah, tak jauh dari sini, ada sup daging yang enak sekitar satu setengah kilometer dari sini jadi tidak perlu naik bus", ujar Azia.
" Aku selalu percaya dengan seleramu memilih tempat makan, kita jalan kaki saja kalau begitu", balas Rina.
Mereka berjalan kaki sekitar sepuluh menit dan sampai.
"Huh untung saja malam ini tidak terlalu ramai, kita tidak perlu lama mengantri aku juga sudah sangat lapar", sahut Azia memegang perut yang sudah berbunyi.
" Haha aku juga lapar ayok masuk", sahut Rina yang tidak sabaran menarik tangannya.
"Dug.... Dug.... Dug....", bunyi suara musik kencang di sebuah tempat hiburan malam yang tak jauh dari rumah makan sup daging yang dikunjungi Azia dan Rina.
" Ayoklah Vigo, untuk malam ini saja kau tidak mau bertanding minum denganku?", ucap Kanvar yang sudah setengah mabuk.
"Maaf tuan, siapa yang menyetir untuk kita jika saya dan tuan sama-sama tidak sadarkan diri? ", sahut Vigo menghela nafasnya.
" Tuan? Jam kerjamu sudah selesai Vigo, kau adalah sahabatku sekarang, ucap Kanvar kesal.
"Ah jadi lupa karena saking terus menerus bekerja, yasudah hentikan minummu sobat, kau tau aku tidak terlalu suka keramaian", sahut Vigo juga kesal melihat sahabatnya itu.
" Kenapa? Kau takut kalah? Haha cupu sekali", ujar Kanvar menyombongkan diri dan akhirnya membuat Vigo tambah kesal.
"Oke, kalau aku yang menang kau harus menaikkan gajiku dua kali lipat", balas Vigo mengambil botol alkohol dan menuangkannya yang langsung akan diminumnya.
" Siapa takut! ", sahut Kanvar.
Mereka pun minum tanpa henti dan terus menerus memesan botol. Pada akhirnya mereka sama-sama mabuk dan sudah tidak sadarkan diri.
Drrrtttttt....
Ponsel Azia berbunyi, terlihat tuan Kanvar yang menelpon.
" Wah wah.... Sang calon suami menelpon, apa sebegitunya dia sangat merindukan calon istrinya? " ucap Rina mengejek.
"Hentikan gurauanmu Rina", balas Azia.
" Iya halo Kanvar, ada apa jam segini menelpon? ", sahut Azia.
" Ah maaf, ini saya satpam dari WN Club, saya menemukan kontak anda yang bertuliskan calon istri ponselnya tidak terkunci jadi saya mohon maaf ijin membukanya", terdengar suara berat dan ramah dari telepon yang berbeda dari suara Kanvar.
"WN club? Tempat hiburan malam? Apa ada hal buruk yang terjadi? ", tanya Zia yang bertatapan dengan wajah Rina yang sudah penasaran sejak tadi.
"Iya nona, calon suami anda dan temannya sudah mabuk berat dan tidak sadarkan diri, bisakah anda menjemput mereka kesini? ", sahut satpam dari club itu.
" Baiklah, saya akan segera kesana terima kasih atas informasinya. Maaf merepotkan ya pak", balas Azia menutup ponselnya dan langsung menarik Rina untuk pergi menjemput Kanvar dan Vigo.
"Kita mau kemana? ", tanya Rina.
" Sudah jangan banyak tanya, ayok bantu aku", jawab Azia.
Kami berlari dan akhirnya sampai di WN Club.
"Permisi pak, saya Azia calon istri tuan Kanvar yang sudah mabuk tidak sadarkan diri", ucap Azia dengan satpam yang ada didekat pintu masuk.
" Selamat malam nona, silahkan masuk mereka ada didalam", jawab satpam itu.
Mereka berdua Rina pun masuk dan terheran melihat Kanvar dan Vigo yang sudah terbaring di sofa tidak sadarkan diri.
"Baru ini aku melihat sisi buruk mereka", ujar Azia dengan Rina.
" Hahaha.... Vigo sangat menggemaskan saat terbaring lemas seperti itu", jawab Rina memandang Vigo.
"Kau menyukainya? ", ujar Zia sambil tersenyum melihat tingkah laku Rina.
" A.... Apa maksudmu? Bukan begitu.... Aku hanya.... Ah sudahlah lupakan ayok angkat mereka ke mobil", sahut Rina salah tingkah.
"Hehe.... Iya ayok kita pulang", ucap Azia.
Kami pun sampai ke parkiran mobil sport hitam milik Kanvar. Kami mendorong Kanvar dan Vigo masuk ke dalam mobil di belakang.
"Uh.... Mereka berat sekali.... Kau yang menyetir Zia, aku tidak pernah belajar mengemudi", ucap Rina.
" Iya ayok cepat masuk", jawab Azia.
"Ohiya.... Azia apa kau tau kemana kita akan bawa mereka pulang? Alamat mereka dimana?", tanya Rina.
" Iya juga ya, aku tidak mungkin bawa mereka ke mansion, Tuan dan Nyonya pasti marah", jawab Azia.
"Aku punya mansion pribadi yang tak kalah besarnya! Aku punya banyak uang! Tidak perlu ke Mansion Ayah! ", teriak Kanvar yang sedang mabuk itu tiba-tiba teriak mengejutkan Azia dan Rina.
" Baik-baik, dimana alamat mansionmu tuan kaya raya", Rina membalas teriakannya dan membuat Azia tertawa.
"Dijalan Nusantara no. 1 nona manissss.... ", jawab Vigo yang juga tiba-tiba mencubit pipi Rina.
" A... Apa yang kau lakukan tuan Vigo", teriak Rina mendorong Vigo lagi ke belakang dan mereka pun tertidur lagi.
"Pftttt.... Hahaha wajahmu memerah Rina" ucap Zia sambil tertawa.
"Hentikan ejekanmu itu", jawab Rina yang semakin salah tingkah.
Mereka sampai di mansion yang sama besarnya dengan mansion Anderson. Mansionnya serba berwarna hitam gelap dan minimalis.
Mereka langsung masuk ke dalam, tidak ada siapapun disana hanya satpam yang menjaga didepan mansion.
" Silahkan masuk nona muda", ucap satpam itu.
"Apa disini tidak ada pelayan sama sekali", tanya Zia.
" Tidak ada nona, yang tinggal disini hanya tuan Kanvar dan tuan Vigo jika mereka kerja lembur, kamar mereka ada disana bersebelahan" jawab satpam itu.
"Rina kau antar tuan Vigo ke kamarnya, aku akan bawa Kanvar ke kamarnya juga", ucap Zia.
" Oke Zia", sahut Rina.
"Uh.... Kau berat sekali tuan Vigo badanmu sungguh berisi tapi seksi sekali jika berpakaian ketat seperti ini", ucap Rina yang mendorong Vigo ke kasur.
" Benarkah? ", jawab Vigo yang sudah setengah sadar menarik tangan Rina dan menyentuh lehernya lalu " cup.... ", Vigo yang tiba-tiba mencium bibir Rina.
Rina melotot dan terkejut, " plak... ", Rina langsung menampar wajah Vigo dan membuat Vigo langsung pingsan seketika.
Sementara Azia dan Kanvar....
Azia mengusap kepala Kanvar dan mengelus wajahnya, " Bahkan menutup matapun kau sangat tampan Kanvar. Bagaimana aku yang biasa-biasa saja bisa mendapatkanmu dengan mudah seperti ini? Setiap hari kau buat aku berdebar dan sebentar lagi kita akan tunangan. Sial aku mengakuinya, aku telah jatuh hati padamu".
Azia pun hendak pergi dari situ tetapi Kanvar yang juga sudah setengah sadar menarik Azia ke dalam dekapan pelukannya.
"Kau kemana, jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin ada wanita lagi yang pergi meninggalkanku", ucap Kanvar yang masih dengan mata tertutup.
" Kau sudah sadar? ", tanya Azia terkejut tetapi tidak ada lagi sahutan dari Kanvar.
" Ah.... Mungkin kau hanya mengigau" lirih Zia dengan pelan-pelan pergi dari pelukan Kanvar.
"Rina, sejak kapan kau disitu? Mengapa wajahmu merah sekali? Kau demam? ", ucapku melihat Rina yang terdiam mematung di ruang tamu.
" Eh Zia.... Maaf aku sedikit melamun, bagaimana Kanvar sudah aman? Mereka sangat merepotkan malam ini", ujar Rina.
" Iya.... Ayok kita pulang aku akan memesan taksi online", sahut Azia.
Matahari sudah terbit bersinar terang dan membuat mata Kanvar silau.
"Dimana ini? Ini kan mansionku", lirih Kanvar.
" Selamat pagi tuan, sarapan sudah siap", ucap Vigo yang sudah berdiri disebelah kasurnya.
"Ah Vigo.... Apa yang terjadi dengan wajahmu? Bengkak", tanya Kanvar.
" Saya juga tidak tau tuan, saat saya bangun sudah begini, mungkin tidak sengaja menabrak sesuatu saat mabuk", jawab Vigo.
"Yasudah ayok sarapan", sahut Kanvar.
Selesai sarapan mereka pun bersiap untuk bekerja.
" Pak apa yang terjadi semalam? Kenapa kami bisa sampai di mansion? ", tanya Vigo dengan satpam didepan.
" Selamat pagi tuan, Nona Azia dan temannya yang mengantar tuan Kanvar dan tuan Vigo. Mereka langsung pulang setelah itu", jawab satpam.
"Apa? Tadi malam ada Azia? Bagaimana bisa mereka bisa tau mansion ini? ", tanya Kanvar.
" Maaf, saya juga kurang tau tuan. Saya langsung mempersilahkan mereka masuk karena sudah membawa tuan Kanvar dan tuan Vigo", sahut satpam itu.
"Baiklah terima kasih, lanjutkan pekerjaanmu kami pergi dulu", ujar Vigo.
" Baik tuan", jawab satpam itu.
Mereka pun langsung pergi dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Apa yang terjadi semalam? ", lirih Kanvar dan Vigo dalam hati mereka bersamaan.