Bagaimana rasanya menyandang status janda 3x di usia masih muda? Cibiran, hinaan sudah menjadi hal biasa bagiku. Tak ada yang menginginkan hidup penuh dengan perasaan di curigai, di rendahkan. Namun, terlepas dari semua itu, aku juga ingin seperti wanita yang lain di luar sana. Bisa di cintai dan membangun rumah tangga dengan utuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiwit Setiyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 10
Waktu telah menunjukan pukul dua belas malam. Ibu terlihat sibuk membereskan pakaian untuk dibawa. Aku pun demikian, dari tadi sore sudah sibuk mempacking pakaian ku dan bumi.
Kami hanya membawa pakaian dan sedikit uang untuk di perjalanan. Rumah beserta isinya kami titipkan pada pak RT yang kebetulan berada di samping rumah.
Tak ada yang tau jika kami berniat pergi dan tak akan kembali, kami juga sengaja memilih travel pagi, lalu berpindah ke bus, agar tak terlihat dan di ketahui oleh tetangga yang lain.
Terserah jika orang lain menganggap ku kejam karena memisahkan bumi dengan kakek neneknya. Mungkin seandainya rahim Desi tidak di angkat dan berpeluang hamil, tak mungkin mereka kekeh ingin mengasuh bumi.
Mengingat dahulu betapa mereka tak pernah perduli pada anakku. Sekarang, saat musibah menimpa mereka, dengan enaknya mereka ingin memisahkan aku dengan bumi? Oh... tidak bisa, mati pun aku rela demi anakku.
"Nduk, semua sudah beres?"
"Sudah Bu, semoga pilihan kita ini yang terbaik."
Ibu memelukku, sebenarnya, ada perasaan berat untuk pergi. Bukan karena aku sudah lahir dan besar di sini, tetapi karena makan ayah dan mas Hanan ada di sini. Jika biasanya aku bisa kapan saja pergi berkunjung, sekarang entah kapan aku bisa ke makam mereka, karena untuk bisa kesini lagi perlu biaya dan mental yang kuat.
Setelah memastikan semua sudah beres dan tak ada yang tertinggal, aku segera menghampiri bumi yang tengah tertidur. Mengistirahatkan diri sejenak, sebelum besok pagi-pagi sekali kami harus sudah siap.
***
"Nis, travel nya sudah datang. Ayo cepat kita ke depan." ibu yang sudah siap dengan dua tas di tangannya segera menuju travel yang sudah menunggu di depan rumah.
Suasana masih sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang baru pulang dari surau.
"Lho mau kemana yu, pagi-pagi gini?" sapa ibu rokhayah yang rumahnya tak jauh dari rumahku.
"Kami mau pulkam ke Semarang dulu, anaknya adek mau nikahan akhir bulan nanti."
"Lama ya di sana?"
"Ya paling satu bulan, kalau lama-lama rumah disini kasian kosong."
"Owalahhh, Yo wess hati-hati di jalan ya."
"Nggeh yu, matur suwun."
Aku hanya tersenyum mendengar kebohongan ibu, selama ini Dimata ku ibu orang yang jujur, namun sepertinya ia punya ketakutan tersendiri ketika keluarga mas Hanan mengatakan akan merebut hak asuh bumi. Ya, terkadang orang yang baik pun bisa berubah jahat jika di sakiti. Dan mungkin saat ini kami memang jahat, di mata mereka yang tak mengerti.
Ada perasaan yang sulit dibjabarkan ketika mobil perlahan membawa kami pergi, pergi menjauh untuk kebaikan bersama. Kami tak punya tujuan pasti, tujuan kami hanya ingin jauh agar tak terusik.
Entah, akan seperti apa kami di jakarta, akupun tak bisa meraba. Yang pasti, aku akan bekerja lebih keras untuk ibu dan bumi, anakku.
****
Setelah dua belas jam perjalanan kami akhirnya sampai di terminal jakarta. Kami sudah bingung ingin kemana, karena memang tak punya kerabat atau kenalan di sini. Aku bersyukur, sepanjang perjalanan bumi tidak rewel dan tampak menikmati perjalanan jauh pertamanya.
"Nis, coba kita tanya-tanya sama ibu yang jualan makanan di sana, siapa tau dia tau tempat yang di sewakan dekat sini."
Aku mengangguk dan lantas menghampiri seorang ibu-ibu penjual makanan, untuk mencari informasi.
****
"Lumayan lah, nduk tempat ini. Setidaknya kita dapat tempat tinggal." Ibu membersihkan sebuah rumah kontrakan yang akan kami tinggali.
Sebuah rumah kontrakan sederhana di dalam gang sempit yang tak bisa di lalui motor. Bangunan berbentuk panjang yang memiliki tiga pintu untuk setiap penghuni. Dan kamar kontrakan kami berada di tengah-tengah. Lingkungannya pun tampak padat, namun terdapat banyak anak-anak kecil, setidaknya bumi akan memiliki kawan bermain di sini.
Setiap kontrakan hanya. Memiliki satu kamar yang menyatu dengan ruang tamu. Dan dapur yang hanya di sekat oleh triplek yang yg tampak lapuk dan penuh dengan coretan. Mungkin penghuni terdahulu memiliki anak, sehingga ruang ini banyak terdapat coretan pensil warna dimana-mana.
Tak ada alat masak, mandi, bahkan perlengkapan tidur. kami hanya membawa pakaian.Sehingga aku harus keluar untuk berbelanja kebutuhan untuk bertahan hidup di sini.
Bumi dan ibu menunggu di kontrakan, sementara aku keluar untuk berbelanja. Menurut orang-orang di sini yang aku tanyai tadi, di dekat sini ada pasar kecil yang berjarak kurang lebih tiga puluh menit jika di tempuh dengan kendaraan. Namun aku tak punya kendaraan, jadi aku memilih berjalan kaki saja, lumayan untuk menghemat ongkos.
****
"Bu, besok gamis mulai cari kerja, ya."
"Mau cari kerja dimana?"
"Gak tau Bu, besok ibu di rumah saja sama bumi. Tolong jagakan bumi, ibu gak usah mikir mau ikut cari kerjaan, itu biar urusan ganis."
"Nis,"
Aku menoleh, menatap wanita yang terlihat mulai tampak menua itu. Matanya berkaca-kaca. Aku lantas segera memalingkan wajah, membuang jauh pandangan, takut jika pertahanan yang sudah payah aku bangun ini, runtuh.
"Maafkan ibu, seandainya dulu ibu tidak ikut mendukung ayah mu untuk menjodohkan mu. Mungkin saat ini kamu punya masa depan yang bagus, kamu bisa sekolah yang tinggi dan..,"
"Sudah, bu. Semua sudah terjadi. Sekarang kita pikirkan masa depan saja."
Ibu terisak, sementara aku berusaha keras agar tidak ikut hanyut dalam perasaan ini. Akupun terkadang demikian, menyalahkan takdir yang terjadi dalam hidupku. Namun, semakin aku sesali, rasanya hanya membuat luka ini sulit mengering. Sekarang hal terbaik bagiku adalah berdamai dengan semua keadaan.
***