Sudah Tujuh Tahun Dini menikah dengan Hanif. Namun pernikahan mereka berdua tidak berjalan dengan mulus. Karena sudah selama itu mereka menjalin rumah tangga, sayangnya, mereka berdua belum dikaruniai seorang anak. Masalahnya yaitu Hanif mandul, sehingga tidak bisa memberikan keturunan pada Dini. Sudah berbagai jalan mereka berdua lakukan untuk bisa mendapatkan momongan. Namun, selalu nihil, Hanif yang tidak terima dengan kenyataan, seringkali marah tanpa alasan. Dini yang tidak tau apa-apa, menjadi korban kekerasan Hanif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ochayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak Bantuan Dini
Hanif kemudian dibawa pulang ke rumah temannya, disana teman-teman Hanif menjadi kawatir melihat kondisi Hanif yang kakinya harus dibalut gif seperti itu. Mereka kemudian merebahkan tubuh Hanif di atas tempat tidur, Hanif lalu bercerita tentang peristiwa yang terjadi.
"Lihat teman-teman, kenapa dengan kaki Hanif.." ucap salah satu teman Hanif melihat Hanif, kemudian teman lainnya melihat ke arah Hanif yang sedang dipapah oleh rekan kerjanya.
"Hanif baru saja jatuh dari lantai dua, saat hendak membawa dua buah ember semen dan terperosok di tangga kayu yang patah. Dan saya adalah rekan kerja Hanif." sahut rekan kerja Hanif memberikan Hanif pada teman-temannya.
"Iya, terimakasih atas bantuannya."
"Iya, kalau begitu, saya pamit pulang." ucap rekan kerja Hanif beranjak pergi.
"Iya, hati-hati." sahut salah satu teman Hanif.
"Ayo bantu aku memapah Hanif dan tidurkan Hanif di tempat tidur itu." ucap salah satu teman Hanif meminta bantuan, kemudian teman lainnya membantu dan membaringkan tubuh Hanif di tempat tidur.
"Hanif, kenapa kamu bisa terjatuh seperti itu?" tanya Teman Hanif.
"Iya, entah kenapa saat aku bekerja di hari itu, aku selalu kefikiran Dini, sampai aku tidak sadar, kalau tangga yang aku naiki sudah sedikit patah, lalu aku terjatuh begitu saja, untungnya rekan kerjaku tadi membantuku dan menolongku sampai dia mau menungguku di rumah sakit. Tapi...." Hanif bercerita pada temannya.
"Tapi.. kenapa Hanif?"
"Setelah ini, aku sudah tidak bekerja lagi disana, karena dipecat, namun biaya pengobatan bos yang bertanggung jawab." Hanif sedikit sedih.
"Kalau begitu, setelah kamu sembuh, kerja sama kita saja.. tidak repot kok, tinggal sangarin muka dan keraskan suara, pasti target kita akan takut dan mau memberikan apa yang kita minta." sahut salah satu teman Hanif.
"Iya nanti aku akan pikiran lagi, akan ikut kalian atau tidak." sahut Hanif ragu.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu sana. Kita mau beroperasi lagi." ucap salah satu teman Hanif.
Hanif kemudian tidur sambil menahan sakit di kakinya.
...******...
"Maaf permisi mbak, pasien yang dirawat di ruang sini sudah pergi sekitar jam berapa ya?" tanya Dini pada OB yang sedang membersihkan ruang tersebut.
"Oh.. pasien yang dirawat di ruang ini, baru saja pergi dari sini, aku juga baru berpapasan dengannya, mungkin sudah 3 menitan." sahut OB tersebut.
"Baiklah, terimakasih ya." Dini tersenyum keluar ruangan.
Si OB pun balik tersenyum.
"Kenapa aku tidak melihat Hanif keluar? padahal waktunya pas ketika aku masuk di ruangan ini." batin Dini keluar dari ruangan.
Dini kemudian mendapat keluhan dari Rahmat yang merintih kelaparan, Dini pun akhirnya pulang, dan memberikan makanan untuk Rahmat.
"Besok aku akan mendatangi rumah teman Hanif." batin Dini sambil melihat Rahmat yang makan begitu lahap.
...*******...
Ketika Hanif hendak turun dari tempat tidurnya, Dini yang juga akan mengetuk pintu sambil melihat keadaan dalam dari balik jendela, melihat Hanif yang sudah terjatuh di lantai, Dini kemudian membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci, lalu mendekati Hanif dan membantunya berdiri, sambil menawarkan bantuan lainnya.
"Apa saja yang kamu butuhkan mas? aku akan mengambilkannya." ucap Dini yang berdiri di samping Hanif.
"Tidak perlu Dini, kamu pergi saja, aku bisa sendiri kok." sahut Hanif mulai duduk di tempat tidur.
"Tapi mas, kondisi kakimu tidak mungkin bisa membuatmu berdiri dengan baik." ucap Dini tegas.
"Oh jadi sekarang kamu menyindir kekuranganku, setelah melihatku menjadi seperti ini! iya! pergi kamu! aku tidak butuh bantuanmu!" sahut Hanif dengan suara keras.
" Bukan itu maksudku mas, aku hanya ingin membantumu, kalau kamu mau, pulanglah denganku mas, biar aku bisa lebih leluasa membantumu supaya cepat sembuh." ucap Dini meneteskan air mata.
"Ma... Papa kenapa jadi seperti itu sama Mama? padahal Mama mau membantu Papa. Ayo ma, kita pulang saja, Papa sudah tidak lagi membutuhkan bantuan kita." ucap Rahmat menuntun Dini keluar dari rumah tersebut.
Dini dan Rahmat kemudian pergi, sedangkan Hanif yang membutuhkan minuman di meja mencoba untuk meraihnya, namun minuman tersebut malah jatuh dan tumpah karena tangannya tidak menjangkau, Hanif lalu menahan hausnya sampai teman-temannya kembali. Sekitar jam 6 malam, teman-teman Hanif baru saja pulang, Hanif yang kehausan dari tadi pagi, menjadi lemas dan terdiam, karena dia tidak bisa bersuara, sampai akhirnya, salah satu teman Hanif melihat kondisi Hanif, kemudian memberikan Hanif minum, karena melihat minuman Hanif terjatuh.
"Kenapa minuman Hanif terjatuh seperti itu, pasti Hanif tadi membutuhkan minuman tersebut." batin salah satu teman Hanif.
"Hanif kamu tidak apa-apa? Ini minuman buat kamu." ucap teman tersebut mendekati Hanif yang terdiam lemas.
Hanif meminumnya dan tetap terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, dan tatapannya kosong. Salah satu teman Hanif kemudian mencoba mengajak bicara Hanif, tapi Hanif masih saja terdiam. Lalu tiba-tiba Hanif jatuh pingsan. teman lainnya juga ikut panik melihat kondisi Hanif yang seperti itu, kemudian membawanya ke puskesmas terdekat.