Judul sebelumnya “Bekas Istri Yang Kaya” !
Sebuah cerita perjuangan hidup Ayu, seorang gadis yang rela mempertaruhkan mimpinya demi membiayai pengobatan Ayahnya.
Ayu harus rela dinikahi oleh Raka yang saat itu tengah membutuhkan seorang istri. Pernikahan mereka terjadi karena saling membutuhkan, Ayu membutuhkan uang untuk biaya operasi Ayahnya, sedangkan Raka membutuhkan Istri yang penurut.
Apakah Ayu akan menemukan kebahagiaannya di atas pernikahan tanpa cinta?Dan bagaimana Raka yang mulai menunjukan rasa cintanya pada Ayu.
Instagram : nurmalitasugiartii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N Lita S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 Ditinggal lagi
Hari-hari berikutnya Raka kembali menginap dirumah. Sudah beberapa hari Raka pulang kerumah, ia akan kerja di pagi hari dan pulang saat sore hari. Entah apa yang sedang merasuki jiwa Raka.
‘Benar-benar remuk tubuhku jika setiap malam Raka selalu meminta jatahnya.’
Ayu tengah duduk di ayunan taman belakang, ia mengingat bagaimana Raka selalu meminta dirinya untuk melayaninya setiap malam.
‘Aku sudah seperti wanita malam saja. Di cari hanya jika malam.’
Drttt... tiba-tiba ponsel Ayu berdering, ada panggilan masuk dari Leo.
📞 iya Leo, ada apa?
📞 Nyonya sore ini Tuan ada acara, dan Tuan meminta anda untuk menemaninya. (Ucap Leo dari seberang)
📞 Baiklah.
***
Ternyata Raka mengajak Ayu untuk meninjau salah satu hotel miliknya yang baru saja di resmikan.
“Mas, tolong foto kan aku!” Bisik Ayu pada Raka.
Mereka tengah berada di restoran yang bernuansa Garden, bagian dari hotel itu. Ayu mengeluh lelah karena Raka mengajaknya mengelilingi hotel, akhirnya Raka menghentikan langkahnya di restoran itu.
“Kau ini sungguh membuat malu saja.”
Raka menoleh ke direktur hotel dan beberapa orang yang tadi mengekorinya. “Sampai disini saja!” Ucap Raka pada orang-orang itu.
Lalu segerombolan orang yang tadi mengikutinya pun pamit undur diri.
“Ayo mas!” Ayu menarik lengan Raka untuk mengikutinya. “Nih!” Ayu menyodorkan ponselnya pada Raka.
“Yang bagus ya, nanti malam aku kasih hadiah.” Ucap Ayu sembari mengedipkan satu matanya.
Ayu lalu duduk di salah satu bangku restoran dan berpose.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Setelah beberapa kali memotret akhirnya mendapatkan hasil yang bagus. Sesuai dengan yang diinginkan Ayu.
“Ternyata aku cantik juga.” Ayu memandangi hasil fotonya sendiri.
“Sudah! bisa buram matamu kalau terus-terusan memandangi wajahmu sendiri!” Ketus Raka.
“Iya..Iyaa,”
“Pesankan aku kopi!” Titah Raka.
“Enggih ndoro.” Balas Ayu.
“Apa katamu?”
“Iya, iya aku jalan ini pesankan kamu kopi.” Ayu langsung berlari meninggalkan Raka. Ayu juga lupa meletakan ponselnya di meja.
Saat Ayu sudah menjauh dari pandangan Raka, dengan cepat Raka mengirim hasil jepretannya ke ponselnya sendiri. Kemudian dengan cepat pula Raka menghapus bukti pengiriman foto.
‘Kamu memang sangat cantik, sayang.’ Raka memandangi foto Ayu di layar ponselnya. Ia menjadikan foto Ayu sebagai walpaper ponselnya.
“Mana kopinya?” Tanya Raka begitu Ayu datang dengan tangan kosong.
“Ya masih on proses, nanti dikirim sama mbak-mbaknya.” Jawab Ayu duduk di sebelah Raka.
“Kenapa tidak kamu bawa sendiri?”
“Aku juga maunya gitu mas, biar cepet kan. Tapi kata mbak-mbaknya aku terlalu cantik untuk membawa kopi, jadi mbak-mbaknya nggak tega.”
Raka berusaha keras menahan tawanya saat Ayu dengan pedenya memuji dirinya cantik. Raka sangat yakin itu hanya akal-akalan Ayu, bukan murni kata si pelayan.
“Kamu percaya sama mbak-mbaknya?”
“Sebenarnya enggak mas. Percaya sama manusia kan musrik, tapi ya mau gimana lagi omongan mbak-mbaknya bener juga udah sesuai kenyataan. Aku bisa apa?”
Raka menghela nafasnya. “Jadi saya harus ngomong apa, Yu?Apa saya juga harus memuji kamu cantik?”
“Nggak usah mas, ayu dah paham kok. Tanpa kamu puji pun ayu memang sudah cantik. Ayu paham kok.” Kata Ayu dengan ekspresi yang menyebalkan menurut Raka tapi sekaligus sangat menggemaskan juga.
“Permisi, Nyonya. Ini kopinya pesanan nyonya.”
“Makasih, mbak. Saya mau es klamut dong mbak.” Pinta Ayu pada sang pelayan.
“Baik, nyonya. Ada tambahan?”
“Gudeg ada mbak?”
Pelayan itu pun mengangguk.
“Oke, sama itu juga ya mbak. Gudegnya 2 porsi.”
Sang pelayan restoran pun pergi dengan membawa catatan pesanan Ayu.
“Klamut apaan, Yu?” Tanya Raka.
“Mas Raka nggak tau?Ya ampun kampungan, ups.” Ayu langsung menutup mulutnya begitu menyadari dirinya baru aja menghina Raka.
“Maaf.” Lirih Ayu dengan wajah memelas pada Raka yang sudah menatapnya tajam, siap membunuh Ayu.
“Kamu yang kampungan!” Ketus Raka.
“Iyaa...Iyaa Ayu yang kampungan. Iya Ayu sadar kok, disini memang Ayu yang kampungan.” Ucap Ayu seraya manggut-manggut.
Entah mengapa Raka merasa bersalah setelah mengucapkan kata-kata itu. “Maksud ku-.” Baru saja Raka akan berbicara, Ayu sudah memotongnya dengan menutup mulut Raka dengan jari tertunjuk Ayu.
“Stop tidak usah diteruskan. Ayu paham kok, Ayu ngerti apa yang mas Raka mau katakan.”
“Memangnya apa yang mau saya katakan?” Tanya Raka menyingkirkan jari Ayu dari depan mulutnya.
“Udah pokoknya Ayu paham kok, tidak perlu di teruskan.”
‘Memangnya apa yang kamu pahami Yu, Ayu. Apa kamu paham hatiku mulai nyaman saat bersamamu.’ Batin Raka.
“Ini yang namanya klamut??” Tanya Raka melihat kelapa muda segar di depannya.
“Hu’um. Selamat makan.” Ayu mulai makan gudeg dengan lahap begitu juga Raka.
***
Ayu tertidur dengan bantalan paha Raka di sepanjang perjalanan pulang. Dengan lembut Raka mengelus-elus rambut Ayu, Raka melakukan itu agar perempuan yang sedang tidur itu merasa nyenyak.
“Bos, nyonya hari ini jadi bahan perbincangan karyawan hotel.” Ucap Leo tiba-tiba.
“Apa yang mereka bicarakan?”
“Mereka memuji kecantikan dan sopan santun, Nyonya.”
“Apa kau mendengarnya langsung?”
“Iya, bos.”
Raka pun tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. ‘Tetaplah seperti ini Ayu. Aku mau kita bersama terus.’
***
Saat membuka matanya di pagi hari Ayu tidak lagi menemukan Raka di sebelahnya. Terlintas sedikit rasa kecewa saat Ayu tidak mendapati Raka disebelahnya.
‘Dia sudah pergi, sudah mulai pergi tanpa pamit lagi.’ Dengan langkah malas Ayu beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya.
Ayu menghabiskan sarapannya dengan malas. Selama beberapa hari Ayu selalu sarapan bersama Raka. Kini ia harus kembali menikmati sarapan sendirian.
‘Semalam aku ketiduran dan tidak terbangun sampai pagi. Apa Raka marah karena tidak mendapat jatahnya, makanya dia pergi tanpa pamit?’
‘Lagi-lagi kamu memang hanya pemuas ranjang tidak lebih Ayu.’ Gumam Ayu, dia sangat yakin Raka marah karena Ayu tidak melayaninya semalaman.
***
Didalam pesawat Raka sedari tadi tampak uring-uringan, Raka marah karena Leo menjemputnya secara mendadak. Sampai Raka lupa untuk berpamitan pada Ayu. Padahal perjalanan bisnis kali ini butuh waktu satu minggu.
“Maaf, Bos. Lagian bos kenapa tidak berpamitan semalam?”
“Kau tau dia tidur seperti mayat, mana tega aku membangunkannya semalam.”
“Sudahlah, Bos. Tidak usah terlalu difikirkan, bukankah nyonya sudah biasa di tinggal. Nyonya pasti akan mengerti kali ini, sama seperti sebelumnya.”
“Apa kau yakin dia akan berfikiran seperti itu?”
Leo mengangguk, dan Raka pun lega. Dia mulai tenang.
***
Karena merasa bosan, Ayu menghabiskan waktu sorenya dengan berjalan-jalan di taman.
Ayu sangat cantik sore itu dengan rambut di kuncir kuda, baju Sabrina dan bawahan rok di bawah lutut, lalu sepatu putih sebagai pelengkap.
Bersambung..
kmn thor??
saya syuka... saya syuka...
tp kok msh blum tuntas 😔😔😔😔😔