Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Calon Kakak Ipar

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.

Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.

Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.

Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.

Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Jadi kamu tidak berniat bercerai dengan Jason? Kamu mau selamanya jadi istrinya?"

Selena hanya diam. Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang ia inginkan, pernikahannya dengan Jason murni sebuah kesepakatan, tanpa didasari rasa cinta sedikit pun. Namun ia tidak bisa membohongi hatinya sendiri... di hadapannya kini berdiri pria yang dulu begitu ia cintai, dan sebagian dari dirinya masih tidak sepenuhnya bisa melepaskan itu.

Hanya saja, keegoisan Ethan, cara ia bersikap seolah masih punya hak penuh atas hidupnya, seolah tak pernah ada hari pernikahan yang ia tinggalkan begitu saja, membuat rasa muak itu jauh lebih kuat daripada sisa-sisa cinta yang masih tertinggal.

"Ya," jawabnya akhirnya, tegas meski suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak akan bercerai dari Jason."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, dan begitu terucap, Selena tahu tidak ada jalan untuk menariknya kembali.

"Jadi mulai sekarang, lupakan aku," lanjutnya, lebih pelan namun tak kalah tegas. "Jangan lagi bersikap seolah aku masih milikmu."

Rahang Ethan mengeras. Ada sesuatu yang retak sekilas di matanya, cukup untuk membuat dada Selena berdenyut aneh.

"Baik. Jika itu maumu." Suaranya dingin, nyaris tanpa emosi. "Aku akan menuruti semua maumu. Mulai besok, kita orang asing." Ia berhenti sejenak, menatap Selena lekat-lekat, seolah ingin memastikan kata-kata berikutnya benar-benar sampai. "Tapi ingat satu hal... jangan pernah menyesali keputusanmu."

"Tidak akan." Selena menegakkan dagunya, menolak memberi Ethan kepuasan melihatnya goyah. "Aku tidak akan menyesal. Kamu tenang saja."

Ethan menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seperti mencari sesuatu di wajah Selena yang tidak lagi bisa ia temukan. Lalu ia mengangguk-angguk pelan, seolah baru benar-benar memahami bahwa kali ini Selena sungguh-sungguh. Tanpa kata lagi, tanpa menoleh, ia berbalik ke pintu dan pergi.

Selena berdiri mematung di sana, menatap punggung Ethan yang menjauh hingga menghilang di ujung koridor. Baru setelah itu ia membiarkan dadanya yang sejak tadi tertahan akhirnya turun, satu embusan napas panjang, campuran antara lega dan sesuatu yang lebih menyakitkan.

Keesokan harinya.

Saat semuanya berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi, Selena sudah duduk lebih dulu sebelum yang lain datang. Ia tidak ingin terlambat lagi dan mendapat teguran dari mertuanya.

Satu per satu mulai berdatangan ke meja makan. Richard datang lebih dulu, mengangguk singkat ke arah Selena tanpa banyak kata, caranya menyapa yang selalu terasa seperti penilaian daripada keramahan. Victoria menyusul tak lama kemudian, tersenyum hangat sambil menyentuh pundak Selena sekilas saat lewat, seolah tahu persis betapa berat hari-hari belakangan ini bagi menantunya.

Lalu Jason datang. Ia mengucapkan selamat pagi pada Selena, singkat, seperti biasa, namun ada sesuatu di nada suaranya yang terasa lebih personal dibanding sapaannya pada orang tuanya sendiri. Selena membalas dengan anggukan kecil, berusaha tidak memikirkan kenapa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari seharusnya.

Dan tibalah giliran Ethan.

Ia masuk dengan langkah santai, seolah semalam tidak pernah terjadi. Duduk di kursinya seperti biasa, lalu menoleh ke arah Selena dengan senyum tipis yang terlalu dipaksakan untuk terlihat tulus.

"Selamat pagi, kakak ipar," sapanya.

Dua kata terakhir itu meluncur begitu ringan dari mulutnya, tapi cukup untuk membuat seluruh meja hening sejenak. Richard mengangkat alis, menatap putra bungsunya dengan tatapan memperingatkan. Victoria berhenti menuang teh, matanya berpindah cepat dari Ethan ke Selena, mencoba membaca situasi.

Selena menatap Ethan tanpa berkedip, mempertahankan wajahnya setenang mungkin meski di dalam dadanya ada sesuatu yang mengencang. Semalam ia sudah mengatakan semuanya dengan jelas, mulai hari ini, mereka orang asing. Namun sapaan "kakak ipar" ini, dengan nada seringan itu, terasa seperti Ethan sengaja menekankan status barunya, mengingatkan semua orang di meja itu tentang posisi Selena yang sesungguhnya.

Sebelum Selena sempat menjawab, suara Jason memotong dari sampingnya.

"Ethan." panggilnya, tapi nadanya cukup dingin untuk membuat suhu di meja itu turun beberapa derajat. "Jaga caramu bicara pada istriku."

Ethan mengangkat kedua tangannya, pura-pura tak bersalah. "Aku hanya menyapa dengan sopan, Kak. Bukankah begitu seharusnya seorang adik memanggil kakak iparnya?"

Ada sindiran tipis di balik kalimat itu, cukup halus untuk bisa disangkal, namun cukup tajam untuk dirasakan semua orang di meja, terutama Selena.

Jason tidak menjawab lagi. Ia hanya menatap adiknya beberapa detik lebih lama, lalu mengalihkan perhatian kembali ke Selena, seolah Ethan tidak lagi layak mendapat perhatiannya.

Sarapan berlanjut dalam diam. Selena menundukkan pandangan ke piringnya, memilih untuk tidak menanggapi tatapan Ethan yang masih terasa menusuk dari seberang meja. Suara dentingan sendok dan garpu menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan, terlalu keras di tengah keheningan yang canggung itu.

"Omong-omong," Selena akhirnya bersuara, memecah keheningan sambil menatap Victoria dan Richard bergantian, "aku akan kembali kuliah hari ini. Izin cutiku untuk menikah sudah habis."

Victoria tersenyum kecil. "Secepat itu? Kamu tidak ingin istirahat dulu beberapa hari lagi?"

"Tidak apa-apa," jawab Selena. "Lagipula, sudah cukup banyak yang tertinggal selama seminggu ini. Aku harus mengejar."

Richard hanya mengangguk singkat tanpa banyak komentar, kembali fokus pada sarapannya, bagi Richard, kuliah Selena bukan sesuatu yang perlu ia risaukan selama tidak mengganggu citra keluarga.

Dari seberang meja, Ethan menatap Selena lekat-lekat, senyumnya sedikit mengembang mendengar pengumuman itu. Ia tahu betul apa artinya... bukan cuma Selena kembali ke rutinitas lama, tapi mereka berdua akan kembali satu ruang kelas, satu gedung, satu lingkaran pertemanan yang dulu menyebut mereka "couple goals" di depan semua orang. Namun ia tidak berkata apa-apa, hanya kembali menyantap sarapannya.

Jason, di sisi lain, meletakkan cangkir kopinya perlahan, menatap Selena dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Kalau masih lelah, aku bisa bicara pada pihak kampus untuk tambahan waktu," katanya pelan.

Selena mendongak, sedikit terkejut mendengar tawaran itu. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja."

"Baiklah, kalau begitu," kata Jason akhirnya. "Kamu ke kampus jam berapa? Nanti biar aku yang antar."

"Tidak perlu. Kamu kan harus ke kantor," tolak Selena.

"Selena bisa bareng Ethan ke kampus," Richard menyela. "Tenang saja, adikmu tidak akan macam-macam dengan istrimu," kata sang Ayah, saat menyadari tatapan Jason yang tajam.

Ruangan seketika hening. Ethan berhenti mengunyah, matanya melirik ke arah ayahnya seolah tidak percaya usulan itu benar-benar keluar dari mulut Richard. Selena pun kaku di kursinya, tidak berani menatap siapa pun secara langsung.

"Tidak perlu repot-repot," Selena akhirnya angkat bicara, mencoba melunakkan suasana. "Aku bisa naik taksi saja."

"Tidak," potong Jason, cepat dan tegas terlalu cepat hingga membuat Victoria melirik ke arahnya dengan alis terangkat sedikit. Jason menyadari nada suaranya sendiri, lalu menarik napas pelan sebelum melanjutkan, kali ini lebih terkendali. "Maksudku, tidak perlu naik taksi. Aku akan atur supir untuk mengantarmu."

"Tapi Ayah baru saja bilang..." Ethan mencoba menyela, nada suaranya setengah menantang.

"Aku dengar apa yang Ayah bilang," Jason memotong, menatap adiknya lurus-lurus. Tidak ada amarah yang meledak di wajahnya, hanya ketenangan dingin yang entah kenapa terasa jauh lebih mengintimidasi. "Tapi aku juga berhak memutuskan bagaimana istriku pergi ke kampus."

Kata "istriku" itu kembali keluar, ringan namun penuh penekanan seolah pengingat halus bahwa apa pun histori Ethan dan Selena, status yang berlaku sekarang adalah yang ia tetapkan.

Richard mendengus pelan, kembali ke cangkir kopinya seolah sudah lelah berdebat soal hal sepele. Namun matanya sempat melirik ke arah Jason sekilas penuh selidik, seolah baru saja menangkap sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.

1
Allea
selena bodoh🤭
Dessy C: iya kak 🤭 pemeran utama versi oon kak 🙈
total 1 replies
Allea
selena kurang tangguhlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!