#3 3.Tugas Dari Kakek

Setelah mandi kilat dan mengenakan pakaian rapi, Shin menyambar mantelnya lalu bergegas keluar dari apartemen. Langkah kakinya yang lebar membawanya dengan cepat menuju mobil yang sudah menunggu di depan gedung. Sopir pribadi suruhan kakeknya membukakan pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hanya memberikan gestur sopan yang makin membuat Shin mendengus kesal.

Sepanjang perjalanan, Shin menatap keluar jendela kota yang mulai dipadati aktivitas pagi. Pikiran dan benaknya melayang kembali pada bayangan pasien kanker otak stadium akhir yang dilihatnya kemarin di lorong rumah sakit bersama Danny. Entah mengapa, wajah pucat pasien itu seolah tertanam kuat di memorinya, membangkitkan perasaan hampa yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata.

Tak butuh waktu lama, mobil hitam mewah itu berhenti meluncur di depan sebuah restoran tradisional bergaya klasik yang elegan. Tempat biasa sang kakek mengadakan pertemuan keluarga atau urusan bisnis penting. Shin menghela napas panjang untuk menetralkan rasa kesalnya sebelum melangkah masuk menyusuri koridor berlantai kayu.

Saat pintu geser ruangan privat dibuka, tampak sang kakek duduk tenang sembari menikmati teh hangat. Di samping beliau, Yoo sudah duduk tegap lengkap dengan pakaian rapinya, menyambut kedatangan Shin dengan senyuman jahil yang amat familier.

"Langkahmu lambat sekali, Shin," tegur sang kakek dengan suara berat namun penuh wibawa. "Duduklah."

"Kakek memanggilku pagi-pagi begini hanya untuk minum teh?" tanya Shin seraya mengambil tempat di sebelah Yoo.

Sang kakek meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu menatap Shin dengan pandangan tajam yang dipenuhi kehangatan. "Laporan pertukaran doktermu sudah disetujui. Tapi selain tugas di rumah sakit, ada hal lain yang perlu kau tangani. Ini menyangkut proyek penelitian antardokter spesialis saraf yang dipegang oleh tim Danny Jo."

Shin mengerutkan keningnya, menoleh ke arah Yoo yang hanya membalasnya dengan kibatan bahu jahil.

"Kenapa harus aku, Kakek? Aku ini baru saja sampai," protes Shin dengan nada merajuk.

"Karena kau satu-satunya dokter muda yang paling menguasai teknik intervensi terbaru yang mereka butuhkan," potong sang kakek tegas, namun senyum tipis terukir di bibirnya. "Lagipula, bukankah kau bilang ingin menimba pengalaman sebanyak-banyaknya di sini?"

Shin mendesah pasrah, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Baiklah, baiklah. Tapi setelah ini Kakek harus membelikanku makanan enak selama seminggu penuh."

Gelak tawa terdengar meredam suasana kaku di ruangan tersebut. Di balik tingkahnya yang seperti anak kecil dan godaan-godaan konyolnya, Shin menyadari bahwa tugas baru ini akan membawanya kembali berhadapan langsung dengan Danny Jo—dan mungkin, jawaban atas rasa penasaran misterius pada pasien di lorong rumah sakit itu.

Matahari mulai bergeser lebih tinggi saat mobil yang membawa Shin dan Yoo akhirnya meluncur meninggalkan restoran klasik tersebut. Di dalam mobil, suasana yang tadinya hening mendadak pecah oleh dentingan pesan di ponsel Shin.

Nama **Danny Jo** tertera di layar.

*“Dokter Shin, Presdir dan kakekmu sudah mengonfirmasi tim penelitan. Bisakah kau langsung ke ruanganku begitu sampai di rumah sakit? Ada berkas medis pasien kemarin yang perlu kau tinjau.”*

Shin menatap pesan itu lama, lalu mengarahkan pandangannya ke jendela luar. Perasaan asing yang kemarin menyergapnya saat menatap ruang perawatan pasien kanker otak itu kembali hadir, merambat pelan di balik dada.

"Kenapa? Danny menghubungi?" tanya Yoo yang menyadari perubahan raut wajah adiknya.

"Ya. Dia memintaku langsung ke ruangannya," jawab Shin pelan, menghilangkan sejenak nada bercandanya. "Hyung... pasien kanker otak di lorong kemarin, apa kau tahu siapa dia?"

Yoo menaikkan alisnya, tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan Shin yang mendadak serius. Ia terdiam sejenak sebelum mendesah pelan. "Pasien itu ditangani langsung oleh Danny. Setahuku dia pasien rujukan khusus, tanpa identitas resmi karena ditemukan pingsan di area stasiun dua bulan lalu. Kasusnya sangat rumit, makanya Danny yang mengambil alih."

Penjelasan Yoo bukannya memuaskan rasa penasaran Shin, melainkan makin menumpuk tanda tanya besar di kepalanya.

Begitu melangkah melewati pintu utama rumah sakit, Shin langsung memisahkan diri dari Yoo dan berjalan menuju lantai tiga—area departemen bedah saraf. Kehadirannya kembali menarik perhatian beberapa perawat dan pasien yang lalu lalang, namun Shin terlalu fokus pada tujuannya untuk sekadar menyunggingkan senyum ramahnya.

*Tuk, tuk.*

Shin menggetuk pintu ruangan Danny pelan sebelum membukanya. Danny yang sedang memeriksa tumpukan dokumen di mejanya langsung mendongak. Begitu melihat Shin, ia tampak tersentak kecil—wajahnya mendadak agak merona teringat kejadian kemarin saat ia tanpa sadar bergumam "cantik".

"Ah, Shin... masuklah," ujar Danny sedikit canggung, menggeser kursi di hadapannya.

Shin berpura-pura tidak melihat kecanggungan Danny dan langsung duduk manis. "Kakek bilang kita akan bekerja sama dalam proyek penelitian saraf. Jadi, berkas mana yang harus kukaji?"

Danny berdeham pelan untuk menguasai hatinya, lalu menyodorkan sebuah map tebal berwarna biru ke hadapan Shin.

"Ini rekam medis dan hasil pemindaian otak dari pasien yang kau lihat kemarin," terang Danny, suaranya berubah profesional secara instan. "Jaringan tumornya berada di area yang sangat riskan, menekan saraf memori dan persepsi. Sejauh ini, pengobatan konvensional tidak menunjukkan respons positif."

Shin membuka map tersebut. Jemarinya yang lentik dan bersih menelusuri lembar demi lembar hasil rontgen serta grafik medis. Namun, saat matanya tertuju pada lampiran foto barang bukti yang ditemukan bersama pasien—sebuah liontin perak berbentuk ukiran daun yang agak usang—jantung Shin serasa berhenti berdetak sesaat.

Napasnya tertahan. Matanya membelalak menatap gambar liontin itu.

"Ada apa, Shin? Kau menemukan sesuatu yang aneh dari hasil studinya?" tanya Danny heran melihat perubahan drastis pada ekspresi Shin.

Shin dengan cepat menguasai diri, mengedipkan matanya berkali-kali untuk menyembunyikan getaran di matanya. Ia menyunggingkan senyum tipis—jenis senyuman yang biasanya ia gunakan untuk mengalihkan perhatian.

"Tidak ada... hanya saja, metode operasi intervensi mikrosirkulasi yang pernah kupelajari di Indonesia sepertinya bisa dicoba di sini," alih Shin cepat.

Danny mengamati wajah Shin dari dekat. Senyuman manis itu kembali hadir, namun kali ini ada pendar kecemasan yang tersembunyi halus di sana. Danny terpaku sejenak, mengagumi betapa menawan sekaligus misteriusnya dokter muda di hadapannya ini.

"Kau... yakin bisa memimpin prosedurnya bersamaku?" tanya Danny pelan, suaranya melembut.

Shin menatap balik mata Danny, mengangguk pelan namun tegas. "Tentu saja. Lagipula, aku tidak bisa membiarkan pasien itu terus berbaring sendirian di sana."

Di dalam hatinya, Shin menjerit pelan. Liontin ukiran daun yang ada di berkas medis itu... adalah barang yang persis sama dengan milik ibunya yang hilang belasan tahun lalu.

Tangan Shin gemetar halus saat menutup map biru tersebut. Rencana pertukaran dokter yang awalnya ia anggap sekadar rutinitas membosankan, kini mendadak berubah menjadi pusaran misteri yang mengikat masa lalunya.

"Shin? Wajahmu pucat sekali," ujar Danny prihatin. Pria itu berdiri dari kursinya dan melangkah mendekat, meraih segelas air hangat dari meja dispenser lalu menyodorkannya pada Shin.

"Terima kasih, Danny. Aku hanya... agak sedikit lelah karena penerbangan kemarin," kilih Shin cepat seraya menerima gelas itu. Jemari mereka sempat bersentuhan memicu getaran kecil yang membuat Danny berdeham canggung dan berpaling wajah, sementara Shin terlalu kalut untuk menyadarinya.

"Jika kau butuh istirahat, kita bisa menunda diskusi teknisnya besok pagi," tawar Danny halus.

"Tidak usah. Aku ingin melihat pasien itu secara langsung sekarang. Apakah diperbolehkan?" tatar Shin mantap, tatapannya memancarkan keseriusan yang jarang ia perlihatkan.

Danny mengangguk pelan. "Tentu, ikuti aku."

Langkah kaki mereka berdua menggema di koridor ruang perawatan intensif yang tenang. Di depan pintu kaca kamar pasien tersebut, Danny menekan tombol sensor untuk membuka akses. Suara desis alat penyokong hidup (*life support*) langsung menyambut pendengaran mereka begitu pintu menggeser terbuka.

Shin melangkah pelan mendekati sisi ranjang. Di atas kasur busa medis itu, terbaring sesosok pria paruh baya dengan tubuh yang kian mengurus dan selang-selang transparan terpasang di tubuhnya.

Shin menunduk, menatap lekat fitur wajah pria tersebut. Dahinya yang lebar, garis rahangnya, hingga bentuk telinganya... semuanya terasa sangat tidak asing. Rantai kenangan kecil dari masa kecilnya di Indonesia mendadak berputar cepat seperti klise film tua.

*“Kalau kau merindukan Ibu, lihatlah liontin ini...”*

Suara bisikan lembut dari masa lalu bergema di kepalanya. Shin meraba dada kirinya sendiri, di mana di balik kemeja dan jas dokternya, tersembunyi liontin yang persis sama dengan yang ada di dalam foto berkas medis tadi.

"Kami belum menemukan pihak keluarga yang mengenalinya," bisik Danny yang berdiri tepat di samping Shin, mengamati perubahan raut wajah dokter muda itu. "Setiap kali sadar sejenak, dia hanya bergumam menyebut satu nama yang tidak jelas."

"Nama apa?" tanya Shin cepat, suaranya sedikit bergetar.

Danny mengerutkan dahi, mencoba mengingat-ingat catatan perawat jaga. "Kalau tidak salah... 'Tae'... atau 'Tae Woo'."

Mata Shin membelalak sempurna. *Shin Tae Woo.* Itu adalah nama lengkapnya sendiri.

Melihat respons Shin yang begitu emosional, Danny merasa ada ikatan batin yang sangat kuat antara Shin dan pasien tanpa identitas ini. Tanpa sadar, tangan Danny terulur, mendarat pelan di bahu Shin untuk memberikan kekuatan.

"Kita akan mengoperasinya bersama, Shin. Aku akan membantumu menyelamatkannya," janji Danny tulus, menatap dalam mata sipit Shin yang kini berkaca-kaca.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!