Beberapa hari pasca-puncak Summit, Ria mengatur sebuah pertemuan tertutup di ruang rapat lantai atas Wijaya Tower Seoul. Berdalih membahas hak guna paten teknologi mikrosirkulasi otak yang memicu persaingan antara Wijaya Corp dan Jo Group, Ria mengundang Danny datang sendirian tanpa Han-na atau pengawal.
Ketika pintu ruang rapat beraksen kayu mahoni itu tertutup rapat, suasana mendadak berubah hening dan mencekam. Hanya ada Ria yang berdiri di dekat jendela besar yang menatap lanskap Kota Seoul, dan Danny yang berdiri kaku di tengah ruangan dengan setelan jas serba hitam.
Ria berbalik pelan. Wibawa dingin sebagai pimpinan bisnis yang ia kenakan di hadapan publik perlahan luntur, menyisakan tatapan mata penuh kepedihan dan kerinduan yang mendalam.
"Semua dokumen dan pembatalan tuntutan akuisisi sudah kusiapkan, Danny," ujar Ria pelan, suaranya kini terdengar seperti Shin Tae Woo yang dulu.
Ia melangkah mendekati Danny, mengikis jarak hingga ia bisa melihat dengan jelas garis-garis kelelahan yang tersembunyi di balik ketampanan dingin pria itu.
"Tanggalkan topeng ini, Danny..." bisik Ria, matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya terulur ragu, mencoba menyentuh lengan jas Danny. "Aku tidak peduli pada Jo Group, Han-Jin Group, atau kekuasaan apa pun. Jika kau terjebak dalam masalah besar atau ancaman tertentu... katakan padaku. Kembalilah padaku. Kita bisa menyelesaikannya bersama seperti dulu."
Itu adalah penawaran terbesarnya—sebuah pengampunan penuh dan kesempatan untuk kembali ke masa lalu mereka yang hangat.
Namun, sebelum jemari Ria sempat menyentuh kain jasnya, Danny menarik tubuhnya mundur satu langkah. Gerakan penolakan yang begitu kaku dan telak.
Raut wajah Danny tidak menyisakan getaran atau kehangatan sedikit pun. Manik matanya bagaikan es abadi—begitu dingin, datar, dan tak tersentuh.
"Kau sangat naif, Direktur Wijaya," potong Danny dengan suara berat yang begitu asing dan menusuk.
Danny merapikan kancing jasnya dengan jemari yang tenang tanpa cela.
"Tidak ada…
Docter In Seoul
26. Rindu
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 51 Episodes
Comments