Docter In Seoul
Seoul, Korea Selatan
“Akhirnya, kau jawab juga telpon dariku. Kau dari mana saja? Aku sudah berkali-kali mencoba menghubungimu selama tiga jam.”
Kata-kata itu menerjang gendang telinga Dokter Yoo Shi Jin, bahkan sebelum ia sempat berkata “Halo”. Ia bahkan belum sempat benar-benar menempelkan ponselnya ke telinga. Mengenali suara di ujung sana, Yoo tertawa dan berkata, “Aku tau kau merindukan kakak mu ini, tapi tak bisakah kau mengecilkan suara nyaringmu itu, Dokter Shin?”
Shin tertawa hambar. “Haha, lucu sekali,” katanya datar.
“Tunggulah, kakak akan menjemputmu!” Pintah Yoo, lantas mematikan telpon dan mulai berlari kecil menuju parkir.
----
Bandara.
Yoo berjalan santai dengan tangan yang berada dijubah putihnya menuju ruang tunggu, ia menghela nafas panjang ketika mendapati adiknya duduk seraya memainkan phonsel.
“Waahh, kau benar-benar setia menungguku, adik kecilku” Yoo memegang pundak seseorang, tampak senyum mengejek dari sudut bibirnya.
“Ya kakak, kau tau aku hampir mati bosan di sini, dan kau tau? Banyak pria yang menggodaku hingga aku merasa muak, dan sekarang kau malah mengejekku, isshhh” Protes Shin.
Yoo menarik alisnya keatas, lalu memandang menilai Shin dihadapannya.
Matanya menyipit, “Aku meragukan itu, Penampilanmu sungguh tidak berubah” ujarnya lalu menggeleng.
Shin terkekeh mendengar penuturan Yoo, “Apa maksudmu aku lebih keren?” goda Shin, wajah tirus, hidung mancung, bibir ranum berwarna pink, putih mulus dengan tinggi 170. Memakai kaos abu-abu dibaluti jaket coklat dengan celana jeans hitam ditubuhnya. Bisa dikatakan ia keren, malah mendekati cantik.
“ Ya, kau keren tapi aneh. Ayo ke mobil.” ujar Yoo, Shin hanya memajukan bibir beberapa senti.
“Hyung!” Yoo berhenti lalu menoleh kearah Shin. “Kau bilang apa?” tanyanya kemudian.
“Hyung. ” jawab Shin santai lalu mulai melangkah meninggalkan Yoo yang masih berdiri kaget. Yoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Aku lebih suka kau memanggilku oppa, daripada hyung. Wah,, kau membuatku merasa sedikit gila.” gumam Yoo seraya melangkah kakinya.
-
Yoo mendesah ketika melihat Shin duduk memainkan handphone disampingnya, namun mulutnya tersenyum. “Shin Tae Woo, aku ini orang sibuk, baik disini maupun dimana-mana. Jadi katakan padaku, kenapa aku harus meluangkan waktuku yang berharga untuk menjemputmu dibandara? Padahal, biasanya ketika kau datang dari Indonesia mengunjungiku, kau tak pernah memintaku menjemputmu?”
Mengabaikan pertanyaan Yoo, Shin Tae Woo malah balas Tanya, “Sibuk? Maksudmu sibuk pacaran?” lalu ia terkekeh. “Kapan kau akan memperkenalkan gadismu padaku?”
Yoo menyipitkan matanya, “Ya benar-benar.. isshh” ujarnya seraya mengangkat tangan hendak memukul Shin, dengan gerakan lincah Shin mengelak.
“Hei, aku hanya bertanya hyung, aku takkan merebutnya darimu.” Goda Shin lalu tergelak.
“Yah, terserah kau saja.” jawab Yoo tanpa menatap adiknya, matanya hanya fokus menatap jalanan.
---
Pintu rumah sakit terbuka ketika didorong oleh Yoo memasuki area rumah sakit didampingi oleh Shin. Shin berjalan dengan tangan dijejalkan kesaku celana jeansnya.
“Waw cool” bisik seorang wanita kepada seseorang temannya, pelan namun masih dapat terdengar oleh Shin. Shin tersenyum menunduk.
“Oppa, kau dari mana saja?” Tanya seseorang dari dalam ruangan Yoo. Shin mengangkat wajahnya ketika berada didepan pintu ruangan tersebut. DOKTER YOO SHI JIN, tulisan yang terdapat diatas pintu luar dengan huruf capital.
Shin masuk kedalam ruangan, ia tersenyum ketika berhadapan dengan gadis di depannya, gadis itu menatap Shin dengan takjub. Ehem. Yoo berdehem menyadarkan wanita itu seraya meletakkan koper milik Shin di samping meja kerja miliknya. Shin hanya terkekeh geli.
Gadis itu tersadar, lalu menoleh kearah Yoo yang duduk cemberut. “Oppa, siapa dia?” Tanya gadis itu.
Yoo hendak menjawab. “Namaku Shin Tae Woo. Panggil saja dokter Shin” jawab Shin. Gadis itu tersenyum lalu mengibaskan rambutnya kebelakang. “Aku dokter Kang.” jawab gadis itu cepat, Shin hanya tersenyum manis, sedangkan Yoo hanya terbengong melihat kelakuan Dokter Kang.
“Kau tidak ada jadwal operasi?” Tanya Yoo pada Dokter Kang.
“Tidak, jadwalku kosong.” jawab gadis itu yang masih menatap takjub Shin.
“Kau pulanglah! Pergilah ke apartemenku, barang-barangmu nanti kubawa.” Shin menoleh cepat kearah Yoo, “Kau mengusirku?” tanyanya seperti protes.
Yoo mengangkat bahu, menggeleng sebentar lalu menjawab, “Tidak, hanya saja besok kau harus menemui ketua untuk konfirmasi pertukaran dokter, dan aku tau kau sangat lelah. Jadi pulanglah!” ujar Yoo matanya berada di computer di depannya.
Shin mengangguk, “Baik lah, aku pulang.” pamitnya. Ia tersenyum sekilas pada gadis itu, menunduk memberi hormat lalu pergi.
---
“Aku sudah sampai beberapa jam yang lalu... Mmm, sekitar empat jam yang lalu... Aku sedang berjalan mencari toko makanan... Ya, kau tak usah khawatir aku baik-baik saja”
Shin melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi di jejalkan kedalam saku celana jeansnya. Ia menghembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Saat ini orang terakhir yang diajaknya bicara adalah Sean, tapi laki-laki itu malah menelponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif.
“Sean, sudah dulu ya? Aku lelah,” Shin menyela ucapan Sean dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia menghembus napas panjang, lalu menatap ponselnya dengan kesal.
Shin memandang sekelilingnya. Kota Seoul telah menenggelamkan matahari di ufuk barat. Bangunan-bangunan disepanjang jalan seakan berlomba-lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana malam musim panas di ibukota Korea Selatan yang menakjubkan itu. Meskipun sudah berkali-kali ke Seoul, Shin masih terkagum dengan suasana di kota ini.
Jam menunjukkan pukul setengah delapan, jalan yang ramai membuat alunan musik tersendiri. Aroma makanan tercium dari sebuah restoran, lagu disko terdengar samar-samar dari club. Disampingnya, suara orang-orang berteriak, berbicara dan tertawa terdengar masuk ke dalam gendang telinga.
Shin merasa segar mencium aroma tersebut. pandangannya berhenti pada toko makanan kecil dari seberang sana. Ia melangkah menyebrangi jalan dengan cepat dan masuk ke toko itu.
Ia melihat daftar menu, melirik hati-hati dari atas hingga kebawah. Lalu matanya tertuju kepada... “Bibi, Nasi gorengnya satu, dibungkus!” pintanya pada bibi pemilik toko tersebut. Bibi itu menoleh lalu tersenyum mengangguk.
Shin berdiri ditempat ia memesan tadi, ia menatap bibi itu membuat nasi goreng dengan takjub. Tanpa ia sadari, banyak sepasang mata menatapnya kagum. Bibi itu telah selesai dan memberikan bungkusan tersebut pada Shin.
“Permisi, apa kau seorang aktor?” Tanya bibi itu, sepertinya sedari tadi ia menahan rasa penasarannya.
Shin terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh bibi pemilik toko. “Bukan, saya bukan seorang aktor” jawabnya lembut.
Bibi itu tersenyum “Silahkan berkunjung lagi lain waktu, kau pembawa keberuntungan” ujar sang bibi.
Shin menatap bibi itu dengan kening berkerut, seolah meminta penjelasan. Seakan mengerti dengan tatapan Shin, bibi itu memajukan dagunya kearah belakang Shin, dengan mengikuti arah pandangan bibi itu, ia kemudian terkekeh geli melihat sebagian isi toko dipenuhi oleh wanita-wanita yang menatapnya seakan hendak melahap habis dirinya.
Shin membalikkan badannya, “Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu.” pamitnya.
Shin melangkahkan kaki keluar dari toko, matanya disibukkan oleh ponsel yang berada digenggaman tangan kanannya, sedangkan tangan kiri sedang mengayunkan bungkusan nasi yang barusan dibelinya. Baru berapa langkah ia meninggalkan toko, tubuhnya ditabrak oleh sesuatu yang mengharuskan ia terduduk dilantai.
“Ayssh..” gumamnya kecil, untung saja bungkusan tersebut baik-baik saja.
“Maafkan aku, kau baik-baik saja?” Shin melihat sebuah tangan terulur untuk membantunya, ia meraih dan berdiri namun belum melihat kearah suara tersebut, karna sedang sibuk membersihkan kotoran di pakaiannya.
“Jika pakaianmu kotor, aku bisa menggantinya.”
Shin menoleh ke arah suara bernada rendah, namun tegas itu. Suara itu milik pria bersetelan putih yang berdiri didepannya. Rupanya pria itu sedang menelpon tanpa menyadari Shin yang berada didepannya. Sekarang Shin meihat orang tersebut menutup ponsel dan memasukkannya ke saku celana panjang. Sebelah tangannya memegang keranjang kecil berisi beberapa air mineral. Pria itu masih muda, mungkin sekitar dua puluh tiga tahunan, wajahnya tampan berpenampilan rapi, seperti seseorang yang menjabat penting disebuah perusahaan besar.
Shin memandang pria itu, lalu senyuman manis mengembang dari sudut bibirnya. Garis kecantikan terpancar dari wajah anggun miliknya. Pria itu membulatkan matanya, seperti terpesona. Senyuman yang membuat rasa lelah akan lenyap bagi yang memandang.
“Aku baik-baik saja, terima kasih.” jawab Shin, lalu membungkuk dan pergi meninggalkan pria itu.
Pria itu memandang Shin yang berjalan meninggalkannya, lalu menggelengkang kepala untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian pada jalan sekelilingnya.
----- -
Shin tersenyum meminta maaf pada Yoo, “Maaf, aku hanya membeli makanan sebentar, aku sangat lapar” ujarnya seraya membuat lingkaran di perut datarnya. “Lagian kulkasmu kosong, apa kau terlalu miskin hingga tak bisa membeli makanan?” sambungnya.
“Yah Shin, aku ini orang sibuk dan kau? apa kau tak punya ponsel untuk memberitahuku? Orangtua mu menelponku berkali-kali, kenapa kau tidak memberitahu mereka?” Tanya Yoo.
“Aku terlalu sibuk, aku lapar. Apa kau mau?” tawarnya untuk meredam emosi Yoo. Seperti biasa, Yoo selalu tersenyum jika Shin menawarkan makanan padanya. Dokter satu ini, selalu disibukkan dengan ruang operasi hingga ruang perutnya suka kosong tak berisi. Dan ini kesempatan Shin untuk meredam emosi Yoo jika sedang kesal, triknya satu ini selalu berhasil.
“Setelah makan, kau tidur lah. Biar kakak yang akan membersihkannya, besok kau akan bertemu dengan ketua. Ingat itu!” ujar Yoo yang mendapat anggukan Shin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Said Usman
ppo
2023-11-25
0
Said Usman
pp
2023-11-25
0
Sintia Lia
fff
2023-11-15
0