Aslan Rizky Gentala. Baru beberapa jam lalu ia menginjakkan kakinya di negeri tempat ia di lahirkan, setalah 2 tahun Aslan berada di negeri orang. seharusnya, Aslan lebih dulu melepaskan rindu dengan rumah yang sudah lama ia tinggal. Tapi ada tempat yang sangat ingin Aslan kunjungi sekarang.
"mau kemana Aslan?"
"mau keluar sebentar ma ketemu teman".
"yakin ketemu teman?"
"bukan mau ketemu pujaan hati!"timpal Brian.
"diam! jangan banyak bacot."jawab Aslan menghujani wajah Bria dengan bantal sofa"pamit ya ma!"
"iya hati-hati".
"gue tau bang! Loe belum bisa move on kan?"ledek Brian saat melihat Aslan sudah menghilang dari balik pintu.
memang benar! Aslan masih belum bisa melupakan cinta pertamanya. Dan masih terus dibayang-bayangi oleh kenangan nya bersama Senja.
Dan tempat yang akan Aslan datangi, ialah rumah terakhir sang pujaan hati.
"Senja..apa kabar?"
"maaf baru menjenguk mu sekarang!",
"kau tau? Aku masih belum bisa melupakanmu Senja! sudah dua tahun lebih, dan aku masih sangat terluka".
"kamu baik-baik saja di sana kan?",
"kamu memikirkan aku Senja? apa kamu juga mencintaiku seperti aku mencintaimu?" Aslan terdiam. Butiran-butiran bening mulai menjatuhi wajahnya, menggantikan kata-kata kerinduan yang tidak bisa Aslan utarakan.
.
.
.
Di tempat yang berbeda. Arsya terlihat menikmati waktunya sendiri,tanpa memikirkan beban yang akan di tanggung nya saat kembali, beban yang sangat berat hingga Arsya ingin segera mengakhiri.
"mas! Tolong nasi goreng nya satu,minum nya jus mangga, sama air putih ya!".
"mohon di tunggu ya kak, pesenan nya!".
beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan Arsya datang. ia menikmati nya dengan begitu lahap, sampai tepukan di pundak membuat Arsya terkejut, dia takut itu adalah salah satu dari keluarga nya.
"key kan?"
"eum,oh yang kemarin malem ya?"tanya balik Arsya.
"iya Brian! Masih inget?"
"inget kok!" jawab Arsya gugup.
"sendirian aja?" Arsya hanya menjawabnya dengan mengangguk.
"boleh gabung?"
"silahkan, ngak papa" jawab Arsya. meski sebenarnya Arsya terganggu, tapi tidak enak untuk menolak.
"kalau begitu aku yang traktir, tanda terimakasih karena kamu sudah menolong ku!"
"dan karena sudah bikin wajah cantikmu terluka!"lanjut Brian sedikit menggombal.
Setelah ngobrol lama dengan Brian, Arsya mulai terlihat nyaman. Brian orang nya asik dan Arsya di buat bahagia dengan lelucon yang keluar dari mulut Brian. kerena selama ini tidak ada orang yang mengajak Arsya bercanda ataupun sekedar basa-basi.
"oh ya! Loe umurnya berapa kay?" tanya Brian.
"22 tahun."
Brian membulatkan matanya tidak percaya. dia pikir mereka sebaya, "sorry udah ngak sopan, dari tadi aku manggilnya loe! aku ngak tau kalo kamu lebih tua,aku kira kita seumuran."
"ngak papa santai aja! Emang umur loe berapa?".
"baru lulus SMA tahun kemaren,maaf ya kak kay!"canda Brian. Arsya yang di becanda in hanya terkekeh pelan, ia bahagia dengan candaan remeh dari Brian. Sampai suara sapaan menyadarkan Arsya. Bahwa dunia tidak akan sebaik itu bagi nya!
"hai..Bro!"
"heii" Brian menerima sapaan itu dengan raut wajah yang sama senangnya.
"Boleh gabung?"
"eum.. Sebaiknya kita duduk di sana saja deh!" tunjuk Brian ke arah meja kosong yang tidak jauh dari meja Arsya.
"ngak papa kan?" tanya Brian.
"ngak enak. Gue baru kenalan tadi!" bisik Brian. Karena melihat raut wajah bingung temannya.
"Ouh.. Ok!"
"ngak masalah kan, Kay?" Arsya mengangguk. Sekarang Ia sedang takut kalau sampai bertemu tatap dengan mata teman Brian. karena faktanya teman Brian adalah Rian adiknya.
"mampus gue!" monolog Arsya.
☘️ terima kasih buat yang sudah mampir🙏🏻
Jangan lupa like nya ya!
Tetap semangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments