Waktunya Menagih Hutang

Di ruang rapat Perusahaan miliknya, Candira Anandini dengan anggun memimpin. Sebagai CEO sekaligus pemilik Perusahaan, tentu saja Dira mempunyai kecerdasan untuk memajukan dan mengembangkan Perusahaannya.

Dira memegang saham 75% sedangkan sisanya adalah milik para investor. Perusahaan Dira bekerja di bidang infrastruktur yang sering bekerja sama dengan proyek-proyek milik Pemerintah.

"Selamat Pagi, terima kasih sudah hadir tepat waktu." Ucap Dira.

"Agenda hari ini, saya selalu CEO ingin merombak dewan direksi. Seperti yang Anda semua tahu, jika saya memperkerjakan suami dan Adik Ipar di Perusahaan ini. Tapi jika dalam pekerjaannya mereka melakukan kesalahan, apa boleh jika saya menurunkan jabatan mereka berdua?"

Bisik-bisik terdengar begitu sumbang, ada yang merespon dengan wajah lega ada juga yang mencibir. Dan Dira tahu, jika semua ini tidak akan berjalan mudah. Karena salahnya sendiri sudah memelihara ular berbisa, yang kini racunnya sudah membuat sebagian karyawannya melawan. Tapi, Dira bukan perempuan biasa yang mudah diremehkan oleh mereka.

Meskipun sudah Dira akui, jika selama dua tahun ini buta. Hanya karena tawaran kata cinta dan iming-iming kehangatan keluarga. Dira melonggarkan sistem pertahanan hidupnya, tapi sekarang Tuhan telah membuka mata dan telinganya lebar-lebar. Siapa yang dia pelihara selama ini dengan seluruh harta kekayaannya. Maka sekarang waktunya menagih hutang.

Dira tidak bicara omong kosong, karena setelah mengetahui kenyataan sebenarnya. Subuh tadi, Dira langsung terbangun dan seketika mencari borok Suaminya. Selama ini karena cinta, Dira percaya seratus persen dengan Agung. Tapi kepercayaan itu telah tergadai, dan tidak sulit bagi Dira untuk menelusuri jejak kecurangan yang sudah dilakukan Agung dan Arimbi.

Layar proyektor menyala, di sana Dira membeberkan kebocoran dana perusahaan. Yang ternyata sudah terjadi sebulan setelah dia menikah dengan Agung. Awalnya nilai yang diambil hanya jutaan hingga puluhan juta saja. Tapi sejak 3 bulan yang lalu, uang yang dicuri nilainya berkali-kali lipat tanpa ada kejelasan ke mana dana mengalir.

"Jadi, kerugian Perusahaan sudah mencapai hampir 100 Miliar selama setahun. Sedangkan di akhir bulan lalu, Agung atau Suami saya sudah mengambil uang 500 juta lagi. Yang hingga kini tidak ada laporan keuangan yang transparan dari Arimbi selaku Manager Keuangan Perusahaan. Jadi menurut Anda sekalian bagaimana? Dibiarkan supaya semakin hancur, atau..."

Braakkk

Pintu dibuka kasar dari luar, Arimbi datang dengan nafas yang setengah hidup setengah mati.

Wajahnya berkeringat dan karena dempulnya terlalu tebal maka... yang terlihat kini bagaikan badut pasar malam.

"Maaf... Saya datang terlambat, itu karena..." Ucapan Arimbi dipotong sepihak oleh Dira yang melambaikan tangan, pertanda Arimbi harus stop berbicara.

"Tidak perlu basa basi Arimbi, silahkan duduk dan sampaikan pembelaanmu tentang dana perusahaan yang hilang. Bukti-bukti sudah saya sertakan, semua dewan direksi sudah melihatnya. Saya beri waktu 30 menit untuk membuat pembelaan, sebelum Polisi datang membawa kamu ke Kantornya." Ucap Dira tegas menatap datar.

"Apa maksudnya, uang apa sih..."

"Nona Arimbi, tolong kerja samanya. Anda sudah terbukti menggelapkan dana, bekerja sama dengan Tuan Agung." Ucap seorang pria bernama Tuan Bramantyo, seorang yang dituakan di Perusahaan karena dedikasinya yang tinggi.

"Ini fitnah, saya tahu ada yang sengaja ingin menjatuhkan saya dan Kakak saya supaya diusir dari Perusahaan ini." Kekeh Arimbi.

"Siapa yang ingin menjatuhkanmu, Arimbi? Tidak ada! Justru kamu yang telah membuat dirimu jatuh di lubang paling hina, yakni MENCURI! Sekarang akui saja semua perbuatanmu, maka saya akan pikirkan ulang untuk melaporkan kejahatanmu ke Polisi." Ucap Dira tersenyum penuh misteri.

"Benarkah? Jadi aku tidak akan masuk penjara?" Tanya ulang Arimbi.

"Tentu saja setelah kamu memberi kesaksian di depan para dewan direksi dan pemegang saham Perusahaan." Ucap Dira tanpa riak emosi.

"Baiklah, aku akan katakan kebenarannya." Ucap Arimbi tidak sadar telah masuk jebakan yang dibuat Dira.

Dengan penuh percaya diri, Arimbi berdiri di depan dan menjelaskan detail semua aliran dana Perusahaan.

"Jadi uang 100 Miliar dalam kurun waktu setahun sudah dapat apa saja? Bisa kamu sebutkan aset apa yang sudah kamu beli bersama keluargamu?" Tanya Dira.

"Mama minta satu set perhiasan berlian, lalu Ambar minta beli tas limited edition, dan aku tentu saja aku beli rumah yang mewah melebihi rumah kamu..."

"Sedangkan Mas Agung, dia... Ah biar dia jelaskan sendiri saja. Yang penting urusanku denganmu selesai." Ucap Arimbi dengan senyum sombongnya.

"Baiklah, semua sudah jelas ya Bapak... Bapak... Ibu... Ibu... sekalian, jika Arimbi mempergunakan uang Perusahaan untuk kepentingan pribadinya dan keluarganya. Jadi, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya karena Arimbi tidak mau dihukum masuk ke dalam sel tahanan. Maka, saya dengan resmi menarik kembali wewenang dia di Perusahaan dan semua aset akan disita..."

"TIDAK! Kamu sudah berjanji untuk membebaskanku dari hukuman, kenapa masih mau menyita barang yang sudah aku beli untuk keluargamu juga. Ibuku adalah Ibumu, aku dan Ambar adalah adikmu." Ucap Arimbi.

"Memang benar, kamu adalah keluargaku. Tapi urusan bisnis, tidak ada hubungan dengan keluarga atau bukan. Sudah waktunya kamu mengembalikan semua yang telah kamu ambil dariku. Perusahaan punya aturan yang wajib dipatuhi oleh siapa pun yang masih butuh bekerja di sini. Jadi, serahkan semua aset yang kamu beli dengan uang Perusahaan..."

"Kamu punya waktu sampai besok pagi, dan yah... semua pernyataanmu, kesaksianmu telah saya rekam dan sebagai jaminan supaya kamu segera mengembalikan HUTANG KAMU DI PERUSAHAANKU. Atau, bisa jadi rekaman ini akan meluncur ke Kantor Polisi." Ucap Dira masih dengan wajah datar, sama sekali tidak menunjukkan emosi saat berbicara dengan Arimbi.

"Ka... Kamu... Kenapa jahat sekali. Jangan mentang-mentang kamu Kakak iparku, seenaknya kamu ingin menjatuhkanku. Aku tidak terima perlakuanmu ini. Akan aku laporkan pada Ibu, dan Mas Agung pasti menceraikanmu..."

"Mau menceraikanku? Yakin dia mau? Bukankah kamu dan keluargamu hidup bergantung dengan uang yang aku berikan? Tapi urusan hutang, berbeda."

"Sekarang, mau tunggu apa lagi? Kamu kembalikan yang kamu ambil, kamu juga tidak aku pecat. Tapi..." Ucapan Dira dipotong Arimbi.

"Baik, aku ambil semuanya sekarang. Asal kamu janji tidak memecatku." Ucap Arimbi kemudia berbalik keluar.

"Aku memang tidak memecatmu, tapi aku tidak akan memberimu gaji dari setiap pekerjaanmu." Gumam Dira.

Rapat berakhir, kini tinggal Dira seorang diri berdiri menatap hamparan luas dari atas gedung Perusahaannya.

Baginya, pengkhianatan adalah penghinaan atas harga dirinya yang akan dia tagih sebagai HUTANG DIBAWA MATI. Bukan dengan mengusir, tapi dengan mengembalikan semua secara perlahan-lahan. Supaya mereka tahu bahwa Candira Anandini bukan perempuan disabilitas biasa.

Terpopuler

Comments

PEACHESEEU

PEACHESEEU

halo kak, kalau mau boleh feedback novel ku ya kak

2026-01-13

0

Wulan Sari

Wulan Sari

ceritanya bagus banget suka 🤗 deh semoga seorang istri kuat menghadapi nya semangat 💪 Thor salam

2026-01-14

2

Sunaryati

Sunaryati

Ini cerita yang kusuka tokoh dikhianati menunjukan taring, tidak terpuruk dan menangis

2026-01-18

0

lihat semua
Episodes
1 Baik, Permainan Dimulai
2 Waktunya Menagih Hutang
3 Istana Beracun
4 Madu Ala Pembantu
5 Semangat Membasmi Parasit
6 Mendesah Di Garasi
7 Menjadikan Arimbi Pion
8 Mengajukan Perceraian
9 Agung Masuk Perangkap
10 Rencana Busuk Dara
11 Sang Manipulator
12 Panggung Sandiwara
13 Pikiran Cerdas Arimbi
14 Suasana Mulai Kacau
15 Kembali Masuk Perangkap
16 Sampah Masyarakat
17 Kekhawatiran Ibu Arumi
18 Kata Yang Ditunggu
19 Ambar Kena Batunya
20 Bye Bye Jakarta
21 Membeli Rumah Sederhana
22 Bertemu Teman Lama
23 Permusuhan Yang Tumbuh
24 Ternyata Dia Janda
25 Hanya Perempuan Cacat
26 Erlangga Mulai Beraksi
27 Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28 Diam Diam Membantu
29 Erlangga Mulai Melawan
30 Kehidupan Di Balik Jeruji
31 Arimbi Memulai Kesuksesannya
32 Tembok Besar Cinta
33 Hari Yang Ditunggu
34 Pengadilan Tanpa Hakim
35 Setelah Panggung Dibongkar
36 Harga dari Terang
37 Terang yang Dibayar Mahal
38 Garis Yang Ditarik
39 Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40 Bangunan Yang Tidak Netral
41 Retakan Yang Disengaja
42 Garis Yang Terlalu Dekat
43 Perubahan Dalam Hubungan
44 Di Bawah Bayang-Bayang
45 Ujian Waktu
46 Luka Yang Dikembalikan
47 Pembalasan Dira Sistematis
48 Harga Dari Sebuah Nama
49 Romansa Yang Berbahaya
50 Badai Yang Diselesaikan
51 Pernikahan Dan Pabrik
52 Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53 Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54 Ruang Antara Dua Pilihan
55 Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56 Langkah Yang Terlihat Sah
57 Harga Dari Tetap Berdiri
58 Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59 Api Yang Dipilih Sendiri
60 Lahir di Tengah Retakan
61 Rumah Tanpa Agenda
62 Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63 Setelah Kendali Hilang
64 Retakan Kedua
65 Titik Retak
66 Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67 Bentuk Yang Dipilih
68 Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69 Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70 Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71 Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72 Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73 Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74 Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75 Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76 Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77 Pergi Tanpa Pamit
78 Jarak yang Dikejar
79 Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80 Pulang yang Dipilih
81 EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Baik, Permainan Dimulai
2
Waktunya Menagih Hutang
3
Istana Beracun
4
Madu Ala Pembantu
5
Semangat Membasmi Parasit
6
Mendesah Di Garasi
7
Menjadikan Arimbi Pion
8
Mengajukan Perceraian
9
Agung Masuk Perangkap
10
Rencana Busuk Dara
11
Sang Manipulator
12
Panggung Sandiwara
13
Pikiran Cerdas Arimbi
14
Suasana Mulai Kacau
15
Kembali Masuk Perangkap
16
Sampah Masyarakat
17
Kekhawatiran Ibu Arumi
18
Kata Yang Ditunggu
19
Ambar Kena Batunya
20
Bye Bye Jakarta
21
Membeli Rumah Sederhana
22
Bertemu Teman Lama
23
Permusuhan Yang Tumbuh
24
Ternyata Dia Janda
25
Hanya Perempuan Cacat
26
Erlangga Mulai Beraksi
27
Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28
Diam Diam Membantu
29
Erlangga Mulai Melawan
30
Kehidupan Di Balik Jeruji
31
Arimbi Memulai Kesuksesannya
32
Tembok Besar Cinta
33
Hari Yang Ditunggu
34
Pengadilan Tanpa Hakim
35
Setelah Panggung Dibongkar
36
Harga dari Terang
37
Terang yang Dibayar Mahal
38
Garis Yang Ditarik
39
Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40
Bangunan Yang Tidak Netral
41
Retakan Yang Disengaja
42
Garis Yang Terlalu Dekat
43
Perubahan Dalam Hubungan
44
Di Bawah Bayang-Bayang
45
Ujian Waktu
46
Luka Yang Dikembalikan
47
Pembalasan Dira Sistematis
48
Harga Dari Sebuah Nama
49
Romansa Yang Berbahaya
50
Badai Yang Diselesaikan
51
Pernikahan Dan Pabrik
52
Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53
Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54
Ruang Antara Dua Pilihan
55
Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56
Langkah Yang Terlihat Sah
57
Harga Dari Tetap Berdiri
58
Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59
Api Yang Dipilih Sendiri
60
Lahir di Tengah Retakan
61
Rumah Tanpa Agenda
62
Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63
Setelah Kendali Hilang
64
Retakan Kedua
65
Titik Retak
66
Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67
Bentuk Yang Dipilih
68
Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69
Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70
Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71
Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72
Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73
Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74
Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75
Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76
Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77
Pergi Tanpa Pamit
78
Jarak yang Dikejar
79
Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80
Pulang yang Dipilih
81
EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!