Luka Hatiku, Aku Kembalikan Padamu

Luka Hatiku, Aku Kembalikan Padamu

Baik, Permainan Dimulai

Jarum jam dinding menunjukkan pukul 23:00 WIB, tapi mata Candira Anandini masih enggan terpejam. Entah mengapa feelingnya tidak enak. Sebenarnya sudah biasa jika suaminya lebih suka tidur larut malam. Tapi, bukankah sekarang sudah hampir tengah malam untuk menyusulnya tidur.

Dengan langkah pelan, Dira keluar kamar setelah menggunakan Hearing Aid.

Dira bukan penderita disabilitas sejak lahir, tapi trauma berat pasca ledakan bom di tanah kelahirannya membuat dia harus kehilangan pendengarannya.

Bukan hanya pendengaran yang hilang, tapi seluruh keluarganya meninggal dunia. Menyisakan dirinya di antara puing-puing reruntuhan bangunan dan mayat. Kejadian 25 tahun yang lalu, merubah hidup seorang Candira Anandini.

Mengalami kritis di usia 3 tahun akibat ledakan dahsyat tersebut, Pemerintah membawa Dira ke Jakarta. Sejak hari itu, dia tinggal sebatang kara di Panti Asuhan. Tapi karena kecerdasannya, Dira berhasil tumbuh dan sukses dengan usahanya.

Dira menikah dengan Agung Fahmi baru 2 tahun yang lalu dan mereka belum dikarunia momongan.

Sebagai seorang yang menyadari kekurangannya, Dira memang terkesan tidak peduli dengan usianya yang telah matang. Kalau kata orang kampung Dira sudah disebut sebagai Perawan Tua. Lantaran usia 28 tahun Dira baru mengakhiri masa lajangnya atas pinangan dari teman masa kuliahnya. Pernikahan yang awalnya terasa harmonis, menjadi semakin hari semakin hambar.

Tuntutan dari Ibu Mertuanya yang menginginkan momongan menjadi pemicu utamanya. Dira dianggap sebagai perempuan mandul, karena tak kunjung bisa hamil.

Di rumah mewah ini Dira tinggal bersama Suami, Ibu Mertua dan dua Adik Ipar Perempuan. Semua kebutuhan Dira yang memenuhi, tapi mereka tak bisa bersikap baik dengan Dira secara tulus.

"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.

"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.

"Baiklah, kalian jaga pintu depan."

Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.

Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.

Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur. Firasatnya ternyata tidak pernah salah. Keinginannya untuk pergi ke dapur, awalnya hanya ingin mengambil minum dan mengecek keberadaan suaminya harus menelan kekecewaan setelah mendengar bagaimana keluarga yang dikasihinya ingin menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan kekurangannya.

"Tunggu... Aku gak bisa melakukannya malam ini, karena besok ada rapat pemegang saham di Perusahaan. Dan Dira masih dibutuhkan otaknya, tahu sendiri aku tidak terlalu paham urusan bisnis." Ucap Agung.

"Ya... Harus nunggu lagi dong. Malas banget tahu gak sih, tiap hari harus bersikap sok manis di depan perempuan cacat."

Adik Agung yang kedua bernama Ambar baru kuliah semester tiga. Sedangkan adiknya yang pertama bernama Arimbi sudah lulus dan ikut bekerja di Perusahaan milik Dira.

"Arimbi sejak pulang dari Kantor sampai sekarang belum sampai rumah?" Tanya Ibu mereka yang bernama Arumi, yang meskipun malam hari tetap berdandan ala badut hajatan.

"Entah, katanya ada party dengan teman-temannya." Jawab santai Agung.

"Ya sudah, kita lanjutkan rencananya besok pagi saja saat si tuli itu pergi ke Kantor. Tugas kamu Agung, malam ini cari kunci untuk membuka brangkasnya. Kamu suaminya, kamu berhak atas semua harta yang dia punya. Setelah itu, menikahlah dengan kekasihmu."

"Iya, aku kasihan dengan Dara yang harus hamil tanpa aku. Besok aku bawa Dara ke sini, dan Ibu bilang saja dia adalah keponakan dari Desa." Ucap Agung dengan rencana barunya.

Andara Kirana, adalah kekasih gelap Agung yang baru menjalin hubungan 3 bulan yang lalu, dan saat ini Dara sedang hamil.

"Bagus, karena hanya Dara yang pantas menjadi Istrimu. Sudah cantik, masih muda dan tentunya subur. Tidak seperti si tuli yang mandul mana sudah tua lagi." Ucap Ibu Arumi dengan pedasnya.

Kalimat demi kalimat terdengar menyakitkan, membuat Dira tak kuasa menahan air matanya di balik tembok.

"Jadi, aku memelihara banyak ular?"

Dengan langkah pelan, Dira kembali ke kamarnya untuk menunggu... Agung.

Dira bukan seorang disabilitas biasa, sejak kecil dalam pengawasan Dinas Sosial Dira sudah dididik menjadi seorang perempuan tanggung yang tidak mudah tumbang meskipun badai menghantam.

"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."

Setelah masuk kamar, Dira langsung mengunci pintu, mematikan ponsel dan melepas alat bantu dengar miliknya.

Karena...

Malam ini, terakhir untuknya menjadi Dira yang dianggap bodoh.

Karena mulai besok pagi, Dira akan mulai memainkan peran barunya. Bukankah membalas ular licik, kita harus lebih cerdik daripada ular? Jadi, Dira butuh tidur nyenyak.

Pagi hari, tidak seperti biasanya.

"Hah... Sudah jam berapa ini? Aku telat bangun, mana ada kuliah pagi." Teriak Ambar saat melihat jam dinding di kamarnya sudah jam 08:00 WIB.

Tanpa mandi hanya mencuci muka dan gosok gigi, Ambar menyambar tas lalu turun untuk sarapan. Serta... Ingin memaki Kakak Iparnya.

"Ibu... Ibu... sarapannya mana? Kenapa meja makan kosong." Teriaknya lagi.

"Apa sih kamu pagi-pagi sudah ribut, biasa juga jam segini kamu sudah tidak ada di rumah." Ucap Ibu Arumi.

"Kenapa si tuli? Kenapa tidak membangunkanku? Dan kenapa dia tidak masak untuk kita semua makan?" Tanya Ambar menunjuk meja makan.

"Iya... ya... Kemana si tuli, coba tanya Mas mu gak mungkin kan jika Mas mu minta jatah pagi buta dengannya?" Ibu Arumi justru mengkhawatirkan perihal yang tidak seharusnya menjadi urusannya.

"Makanya, bawa Kak Dara ke sini secepatnya supaya Mas Agung gak harus menggauli Istri tulinya." Suara Arimbi yang dicari terdengar.

"Kamu pulang jam berapa semalam? Kok sekarang sudah rapi lagi?" Aku pulang hampir subuh, dan yah aku harus ke Kantor. Sudah pasti si tuli itu menunggu laporan keuangan untuk rapat. Aku berangkat dulu, Mas Agung kasihan tidur di ruang tamu." Ucap Arimbi lalu melenggang santai, tidak tahu jika boom menunggunya.

"Astaga... Jadi Dira sudah berangkat, lalu meninggalkan suaminya di rumah? Keterlaluan, semalam pakai acara kunci pintu segala jadinya Agung tidak tidur dengan nyenyak di kamarnya."

"Sudahlah Bu, aku berangkat dulu. Setelah ini, kita balas perbuatannya. Lihat saja, bagaimana si tuli itu akan merangkak mengemis cinta dari Mas Agung." Ucap Ambar.

Terpopuler

Comments

Bunda tambun

Bunda tambun

𝒎𝒂𝒏𝒕𝒂𝒑 𝒕𝒉𝒐𝒓 𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓 𝒅𝒈𝒏 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒃𝒂𝒓𝒖𝒎𝒖 𝒍𝒈 👍

2026-01-14

1

❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰

❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰

wah keluarga yang tau untung nih kayaknya perlu di hempaskan ke laut nggak sih

2026-01-23

0

Yati Syahira

Yati Syahira

dzolim arogan srakah dininbangkit lawan buang para benalu itu

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 Baik, Permainan Dimulai
2 Waktunya Menagih Hutang
3 Istana Beracun
4 Madu Ala Pembantu
5 Semangat Membasmi Parasit
6 Mendesah Di Garasi
7 Menjadikan Arimbi Pion
8 Mengajukan Perceraian
9 Agung Masuk Perangkap
10 Rencana Busuk Dara
11 Sang Manipulator
12 Panggung Sandiwara
13 Pikiran Cerdas Arimbi
14 Suasana Mulai Kacau
15 Kembali Masuk Perangkap
16 Sampah Masyarakat
17 Kekhawatiran Ibu Arumi
18 Kata Yang Ditunggu
19 Ambar Kena Batunya
20 Bye Bye Jakarta
21 Membeli Rumah Sederhana
22 Bertemu Teman Lama
23 Permusuhan Yang Tumbuh
24 Ternyata Dia Janda
25 Hanya Perempuan Cacat
26 Erlangga Mulai Beraksi
27 Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28 Diam Diam Membantu
29 Erlangga Mulai Melawan
30 Kehidupan Di Balik Jeruji
31 Arimbi Memulai Kesuksesannya
32 Tembok Besar Cinta
33 Hari Yang Ditunggu
34 Pengadilan Tanpa Hakim
35 Setelah Panggung Dibongkar
36 Harga dari Terang
37 Terang yang Dibayar Mahal
38 Garis Yang Ditarik
39 Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40 Bangunan Yang Tidak Netral
41 Retakan Yang Disengaja
42 Garis Yang Terlalu Dekat
43 Perubahan Dalam Hubungan
44 Di Bawah Bayang-Bayang
45 Ujian Waktu
46 Luka Yang Dikembalikan
47 Pembalasan Dira Sistematis
48 Harga Dari Sebuah Nama
49 Romansa Yang Berbahaya
50 Badai Yang Diselesaikan
51 Pernikahan Dan Pabrik
52 Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53 Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54 Ruang Antara Dua Pilihan
55 Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56 Langkah Yang Terlihat Sah
57 Harga Dari Tetap Berdiri
58 Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59 Api Yang Dipilih Sendiri
60 Lahir di Tengah Retakan
61 Rumah Tanpa Agenda
62 Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63 Setelah Kendali Hilang
64 Retakan Kedua
65 Titik Retak
66 Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67 Bentuk Yang Dipilih
68 Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69 Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70 Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71 Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72 Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73 Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74 Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75 Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76 Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77 Pergi Tanpa Pamit
78 Jarak yang Dikejar
79 Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80 Pulang yang Dipilih
81 EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Baik, Permainan Dimulai
2
Waktunya Menagih Hutang
3
Istana Beracun
4
Madu Ala Pembantu
5
Semangat Membasmi Parasit
6
Mendesah Di Garasi
7
Menjadikan Arimbi Pion
8
Mengajukan Perceraian
9
Agung Masuk Perangkap
10
Rencana Busuk Dara
11
Sang Manipulator
12
Panggung Sandiwara
13
Pikiran Cerdas Arimbi
14
Suasana Mulai Kacau
15
Kembali Masuk Perangkap
16
Sampah Masyarakat
17
Kekhawatiran Ibu Arumi
18
Kata Yang Ditunggu
19
Ambar Kena Batunya
20
Bye Bye Jakarta
21
Membeli Rumah Sederhana
22
Bertemu Teman Lama
23
Permusuhan Yang Tumbuh
24
Ternyata Dia Janda
25
Hanya Perempuan Cacat
26
Erlangga Mulai Beraksi
27
Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28
Diam Diam Membantu
29
Erlangga Mulai Melawan
30
Kehidupan Di Balik Jeruji
31
Arimbi Memulai Kesuksesannya
32
Tembok Besar Cinta
33
Hari Yang Ditunggu
34
Pengadilan Tanpa Hakim
35
Setelah Panggung Dibongkar
36
Harga dari Terang
37
Terang yang Dibayar Mahal
38
Garis Yang Ditarik
39
Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40
Bangunan Yang Tidak Netral
41
Retakan Yang Disengaja
42
Garis Yang Terlalu Dekat
43
Perubahan Dalam Hubungan
44
Di Bawah Bayang-Bayang
45
Ujian Waktu
46
Luka Yang Dikembalikan
47
Pembalasan Dira Sistematis
48
Harga Dari Sebuah Nama
49
Romansa Yang Berbahaya
50
Badai Yang Diselesaikan
51
Pernikahan Dan Pabrik
52
Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53
Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54
Ruang Antara Dua Pilihan
55
Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56
Langkah Yang Terlihat Sah
57
Harga Dari Tetap Berdiri
58
Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59
Api Yang Dipilih Sendiri
60
Lahir di Tengah Retakan
61
Rumah Tanpa Agenda
62
Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63
Setelah Kendali Hilang
64
Retakan Kedua
65
Titik Retak
66
Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67
Bentuk Yang Dipilih
68
Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69
Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70
Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71
Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72
Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73
Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74
Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75
Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76
Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77
Pergi Tanpa Pamit
78
Jarak yang Dikejar
79
Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80
Pulang yang Dipilih
81
EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!