Istana Beracun

Karena berfikir sudah terlambat datang ke Kantor, Agung melanjutkan tidurnya. Tanpa dia tahu, jika adiknya sudah mendapatkan keadilan yang setimpal.

Braakkk...

"Mas Agung... Bisa-bisanya kamu masih tidur jam segini. Nasib kita sudah habis sekarang. Mana... Tabungan Mas Agung, aku mau balikkan ke si tuli. Dia sudah tahu kecurangan kita."

Ucap Arimbi saat tiba di rumah yang ternyata masih sepi. Ibu Arumi kemungkinan sedang arisan, sedangkan Ambar pasti masih kuliah. Tapi, kenapa kakaknya masih molor.

"Apa sih, aku masih ngantuk. Dira sialan itu mengunci kamar, sehingga aku harus tidur di sofa ruang tamu semalam. Mana banyak nyamuk lagi." Kesal Agung.

"Mas serius kamu harus bangun, dengarkan aku ngomong masalah penting. Kita sudah ketahuan, dan Dira minta aku mengembalikan semua yang kita ambil dari Perusahaannya itu. Atau aku harus mendekam di penjara karena telah melakukan korupsi. Sekarang Mas bantu aku, cari semua perhiasan Ibu dan koleksi barang-barang branded milik Ambar."

"Bahkan, aku terpaksa harus memberikan sertifikat rumah yang pernah ku beli beberapa bulan yang lalu. Dan untuk Mas Agung, jangan sampai Mas ketahuan telah berselingkuh, atau nasib kita semua habis. Karena sekarang tinggal Mas satu-satunya yang masih Dira percayai." Ucap Arimbi meskipun banyak kebohongannya. Karena nyatanya Dira sudah membencinya.

Hanya saja, Dira adalah pribadi yang penuh dengan perhitungan matang. Gegabah... Bukan ciri khas Candira.

Agung menghela nafas panjang, pikirannya tiba-tiba buntu mendengar jika semua rahasia Amira telah ketahuan. Sekarang Agung juga ketar-ketir, takut rahasia tentang Dara terbongkar.

"Aku mandi dulu, aku akan telepon Ibu." Ucapnya sedikit ragu.

"Mas... Tapi, kamu harus jadi saksi kalau aku mengambil koleksi perhiasan Ibu dan barang Ambar karena tuntutan dari si tuli. Jangan sampai keluargaku sendiri mencurigaiku." Ucap Amira bergegas ke lantai dua untuk mengambil barang yang pernah dia belikan untuk keluarganya. Beruntung, Arimbi menyimpan kunci cadangan. Yang pernah sengaja dia buat.

Bukan karena ada maksud lain, tapi karena dulu beberapa kunci sempat hilang dari rumah Dira. Termasuk kunci kamar dan lemarinya. Makanya mereka semua membuat kunci baru dan menyimpan sebagian cadangannya. Tapi kalau kunci kamar Dira, dia tidak menggunakan kunci biasa. Melainkan dengan metode ibu jari bahkan pada lemari dan brangkasnya.

Setelah mengemas semua dalam satu kardus besar barang-barang branded Ambar, sekarang giliran perhiasan Ibunya. Tapi ternyata hanya sebagian saja, karena mungkin yang lainnya dipakai. Mengingat Ibu Arumi memang suka sekali pamer dengan geng sosialitanya.

Sementara itu, Agung sudah selesai mandi dan tujuannya sekarang adalah bertemu dengan selingkuhannya di Apartemennya.

Ya, tanpa Dira tahu uang Perusahaan yang diambil Agung untuk membelikan satu unit Apartemen Mewah yang ada di Pusat Kota.

Padahal Agung dan Dara baru kenal saat Agung menghadiri rapat di sebuah Restoran tanpa Dira.

Dara hanya seorang pelayan restoran, tapi kecantikan wajahnya, sikap lemah lembutnya mampu mencuri hati Agung.

Pertemuan singkat itu pun berlanjut, yang awalnya hanya saling tukar nomer ponsel lama-kelamaan bertemu diam-diam di belakang Dira.

Dara pandai memainkan peran gadis dengan wajah teduh yang kalem. Berbeda dengan Dira yang tegas, membuat Agung merasa bersama Dara dia seperti pria yang dibutuhkan, dihargai dan dianggap sebagai pelindung.

Sedangkan Dira mempunyai sikap tegas yang dominan berkuasa karena memang semua yang dinikmati Agung dan keluarganya adalah murni milik pribadinya.

Apartemen mewah itu masih sunyi, padahal jam di dinding terus bergerak naik ke angka sebelas. Agung masuk setelah menekan sandi angka kode kunci di pintu.

"Sayang... Kamu ada di mana?"

Agung menelusuri ruangan untuk mencari wanita selingkuhannya yang tidak bersuara.

Cekleekkk

Pintu kamar mandi dibuka, ternyata Dara sedang mandi busa.

"Sayang... Tumben datang jam segini, tidak berangkat ke kantor ya?" Tanya Dara beranjak dari bathup dengan tubuh polos penuh busa.

"Ayo kita mandi bareng, anak kamu rindu dielus." Ucap Dara.

Dan aksi saling memuaskan terjadi, Agung dan Dara meliuk-liuk di bawah shower tanpa peduli dengan status mereka yang hanya pasangan selingkuh tanpa ikatan SAH.

"Setelah ini, ayo antar aku ke Rumah Sakit untuk memeriksa kandunganku." Pinta Dara dengan manja.

"Tapi, sebelum itu kita berkemas dulu. Karena mulai hari ini, kamu akan aku bawa pulang..."

"Benarkah? Mas kamu sudah jujur dengan Istrimu yang tuli itu tentang hubungan kita?" Cerocos Dara.

"Tidak, kamu akan aku perkenalkan sebagai keponakan Ibu dari Desa. Hubungan kita jangan sampai ketahuan, sampai aku mendapatkan seluruh aset milik Dira. Kamu sabar dulu ya, setidaknya kita bisa sering..."

"Ah... Kamu benar Mas Agung. Kita jadi punya banyak waktu. Dan kamu gak harus datang jauh-jauh untuk bercinta denganku." Ucap Dara tersenyum sangat bahagia.

Impiannya menjadi Nyonya Besar sebentar lagi akan tercapai berkat anaknya.

Perut Dara sudah mulai membuncit, 3 bulan usia kandungannya sekarang. Tapi statusnya hanya wanita simpanan.

"Aku bahagia, akhirnya sebentar lagi ada yang memanggilku seorang Ayah. Selain masih muda dan cantik, kamu perempuan yang sangat sempurna. Tidak butuh waktu lama, kamu langsung bisa hamil." Ucap Agung sambil menciumi perut bulat Dara. Agung memang sangat menginginkan anak, tapi Dira tak kunjung hamil padahal mereka sudah lama menikah.

Dira pernah mengajak Agung konsultasi ke Dokter, bahkan berencana bayi tabung. Tapi, Agung selalu merasa subur makanya menolak ajakan Istrinya. Dan terbukti, hanya melakukan dengan Dara Agung menjadi pria sempurna.

Dara tersenyum lembut sambil mengelus kepala Agung dengan penuh cinta.

"Anak ini memang anakmu Mas, dan sampai kapanmu statusnya sama."

Ucapan Dara terdengar tulus, tapi andai Agung punya otak cerdas. Ada bahasa ambigu yang selalu terselip dari setiap kalimat Dara.

Setelah berkemas Agung langsung membawa Dara pulang ke rumah Dira. Bahkan perlakuan Agung kepada Dara jauh lebih manis dan romantis. Menuntun gundiknya hati-hati bagaikan Dara adalah porselin yang rapuh.

Dara diberikan kamar di belakang, karena hanya dengan begitu hubungan perselingkuhan mereka akan tetap aman.

"Untuk sementara tidur di sini, supaya Dira tidak berfikir mencurigaimu. Kita harus bisa mengelabui Dira, sampai apa yang aku impikan tercapai dan semua itu demi kamu dan anak kita. Percayalah!" Ucap Agung terdengar sangat meyakinkan.

Dengan wajah yang menunduk kesal, Dara masuk ke kamar... PEMBANTU. Pikirnya, dia akan langsung menjadi ratu menyingkirkan pemilik asli istana.

Mereka semua tidak tahu, jika saat ini Istana mewah itu akan disulap menjadi penjara transparan. Yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang dengan pemikiran dan jiwa yang bersih dari racun.

Terpopuler

Comments

Wulan Sari

Wulan Sari

Dasar laki2 yang tak tau diri gedeg rasane ya walau laki2 boleh nikah dr satu tapi laki2 yg gimana dl klu aku ogah 🤭 lebih baik sendiri maaf jd curhat lanjut Thor semangat 💪👍❤️🙏

2026-01-14

3

🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ

🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ

Maaf ya Thor, Amira ini typo apa tokoh baru?
Setahu saya di awal adiknya Agung namanya Arimbi ya, atau Amira itu nama panjangnya Arimbi...🤔

2026-01-15

0

Valen Angelina

Valen Angelina

jgn lemah Dira ... sikat habis ..biarin jadi gembel mereka ....lelaki mokondo wkwkkwi

2026-01-14

1

lihat semua
Episodes
1 Baik, Permainan Dimulai
2 Waktunya Menagih Hutang
3 Istana Beracun
4 Madu Ala Pembantu
5 Semangat Membasmi Parasit
6 Mendesah Di Garasi
7 Menjadikan Arimbi Pion
8 Mengajukan Perceraian
9 Agung Masuk Perangkap
10 Rencana Busuk Dara
11 Sang Manipulator
12 Panggung Sandiwara
13 Pikiran Cerdas Arimbi
14 Suasana Mulai Kacau
15 Kembali Masuk Perangkap
16 Sampah Masyarakat
17 Kekhawatiran Ibu Arumi
18 Kata Yang Ditunggu
19 Ambar Kena Batunya
20 Bye Bye Jakarta
21 Membeli Rumah Sederhana
22 Bertemu Teman Lama
23 Permusuhan Yang Tumbuh
24 Ternyata Dia Janda
25 Hanya Perempuan Cacat
26 Erlangga Mulai Beraksi
27 Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28 Diam Diam Membantu
29 Erlangga Mulai Melawan
30 Kehidupan Di Balik Jeruji
31 Arimbi Memulai Kesuksesannya
32 Tembok Besar Cinta
33 Hari Yang Ditunggu
34 Pengadilan Tanpa Hakim
35 Setelah Panggung Dibongkar
36 Harga dari Terang
37 Terang yang Dibayar Mahal
38 Garis Yang Ditarik
39 Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40 Bangunan Yang Tidak Netral
41 Retakan Yang Disengaja
42 Garis Yang Terlalu Dekat
43 Perubahan Dalam Hubungan
44 Di Bawah Bayang-Bayang
45 Ujian Waktu
46 Luka Yang Dikembalikan
47 Pembalasan Dira Sistematis
48 Harga Dari Sebuah Nama
49 Romansa Yang Berbahaya
50 Badai Yang Diselesaikan
51 Pernikahan Dan Pabrik
52 Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53 Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54 Ruang Antara Dua Pilihan
55 Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56 Langkah Yang Terlihat Sah
57 Harga Dari Tetap Berdiri
58 Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59 Api Yang Dipilih Sendiri
60 Lahir di Tengah Retakan
61 Rumah Tanpa Agenda
62 Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63 Setelah Kendali Hilang
64 Retakan Kedua
65 Titik Retak
66 Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67 Bentuk Yang Dipilih
68 Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69 Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70 Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71 Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72 Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73 Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74 Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75 Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76 Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77 Pergi Tanpa Pamit
78 Jarak yang Dikejar
79 Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80 Pulang yang Dipilih
81 EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Baik, Permainan Dimulai
2
Waktunya Menagih Hutang
3
Istana Beracun
4
Madu Ala Pembantu
5
Semangat Membasmi Parasit
6
Mendesah Di Garasi
7
Menjadikan Arimbi Pion
8
Mengajukan Perceraian
9
Agung Masuk Perangkap
10
Rencana Busuk Dara
11
Sang Manipulator
12
Panggung Sandiwara
13
Pikiran Cerdas Arimbi
14
Suasana Mulai Kacau
15
Kembali Masuk Perangkap
16
Sampah Masyarakat
17
Kekhawatiran Ibu Arumi
18
Kata Yang Ditunggu
19
Ambar Kena Batunya
20
Bye Bye Jakarta
21
Membeli Rumah Sederhana
22
Bertemu Teman Lama
23
Permusuhan Yang Tumbuh
24
Ternyata Dia Janda
25
Hanya Perempuan Cacat
26
Erlangga Mulai Beraksi
27
Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28
Diam Diam Membantu
29
Erlangga Mulai Melawan
30
Kehidupan Di Balik Jeruji
31
Arimbi Memulai Kesuksesannya
32
Tembok Besar Cinta
33
Hari Yang Ditunggu
34
Pengadilan Tanpa Hakim
35
Setelah Panggung Dibongkar
36
Harga dari Terang
37
Terang yang Dibayar Mahal
38
Garis Yang Ditarik
39
Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40
Bangunan Yang Tidak Netral
41
Retakan Yang Disengaja
42
Garis Yang Terlalu Dekat
43
Perubahan Dalam Hubungan
44
Di Bawah Bayang-Bayang
45
Ujian Waktu
46
Luka Yang Dikembalikan
47
Pembalasan Dira Sistematis
48
Harga Dari Sebuah Nama
49
Romansa Yang Berbahaya
50
Badai Yang Diselesaikan
51
Pernikahan Dan Pabrik
52
Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53
Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54
Ruang Antara Dua Pilihan
55
Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56
Langkah Yang Terlihat Sah
57
Harga Dari Tetap Berdiri
58
Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59
Api Yang Dipilih Sendiri
60
Lahir di Tengah Retakan
61
Rumah Tanpa Agenda
62
Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63
Setelah Kendali Hilang
64
Retakan Kedua
65
Titik Retak
66
Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67
Bentuk Yang Dipilih
68
Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69
Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70
Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71
Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72
Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73
Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74
Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75
Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76
Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77
Pergi Tanpa Pamit
78
Jarak yang Dikejar
79
Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80
Pulang yang Dipilih
81
EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!