Semangat Membasmi Parasit

Bercinta?

Memang masih sudikah Candira Anandini menyatu dengan Agung Fahmi?

Jawabannya, tentu saja tidak sudi!

"Mas tunggu ya." Ucap Dira masuk ke kamar mandi untuk menggagalkan rencana bercinta dengan Agung.

Candira mengambil roti sobek lalu ditetesi obat merah yang sudah dia ambil dari kotak P3K. Lalu memakainya setelah menggunakan lingerie.

Dira keluar kamar mandi dengan tubuh yang wangi dan sexy. Membuat Agung susah payah menelan ludah. Dasar pria modal burung perkutut, sudah punya Istri spek Bidadari masih menggatal dengan pelayan. Definisi otak cangkang adalah Agung.

"Mas, maaf ya... Aku malah dapat, kita tidur saja ya. Aku kangen dikeloni." Ucap Dira.

Kemudian melangkah menuju pintu kamar, lalu menguncinya dan menyembunyikan kuncinya.

"Kok dikunci?" Tanya Agung heran.

"Biar suamiku ini tidak kabur. Takutnya karena aku sedang merah, Mas Agung malah cari pelampiasan. Keponakan Ibu meskipun wajahnya jelek dan tidak se sexy aku, tapi dia punya lubang gratisan. Takutnya SUAMIKU nyasar ke sana."

"Tapi aku percaya, burung perkutut suamiku setia pada satu lubang." Ucap Dira sambil meremas milik Agung sampai si empunya mengaduh.

"Aduhh... Jangan diremas, nanti patah." Ucap Agung merasa sedikit ngilu.

"Ya sudah... Ayo tidur, tadi aku sudah bawa susu juga. Minum mas!" Ucap Dira menyodorkan segelas susu yang sudah diberi...

Obat tidur.

Dira sudah menyiapkan banyak sekali obat-obatan penting. Antara lain, obat tidur, obat perang sang, obat pencahar, obat halusinasi, dan obat hilang ingatan. Semuanya akan Dira jadikan senjata, sebelum mengakhir pernikahan dengan Agung. Dira harus mengambil kembali miliknya, dan mengembalikan semua luka hatinya. Inilah hukum bisnis yang berlaku.

Ada untung ada rugi dan semua harus berjalan seimbang supaya hati yang terlanjur tersakiti bisa sedikit merasa lega atas pembalasannya.

Pergerakan Dira memang sangat halus, sehingga Agung tidak menyadari jika susu itu sudah bercampur obat.

Agung tentu saja tidak curiga, justru merasa di atas awan. Berfikir masih bisa mengelabui Dira.

Setelah Agung terlelap, Dira mendorong tubuh suaminya hingga jatuh tersungkur.

Bruukkk

"Benjol-benjol tuh jidat."

Setelah itu, Dira mengambil laptop dan mengutak-utik melihat CCTV.

Tidak ada yang tahu, jika rumah ini penuh kamera CCTV. Tapi selama ini, Dira terlalu percaya dengan suami dan keluarganya. Makanya gak pernah cek rekaman.

Tapi, sekarang Dira akan mengecek ulang semua kamera sejak 2 tahun yang lalu setelah menikah. Dira ingin tahu sejak kapan Agung dan keluarganya bertingkah curang.

Setelah beberapa jam men scroll mouse, ternyata tidak ada yang mencurigakan kecuali kejadian di dapur. Sebelumnya hanya terlihat Ibu Arumi yang mencurangi uang belanja darinya.

Arimbi dan Ambar juga tidak ada yang terlihat mencurigakan kecuali selalu membawa pulang barang branded. Itu artinya biang keladi dari semuanya memang setelah kehadiran Dara. Bahkan Agung dan Dara tidak sungkan berciuman panas dekat kulkas padahal ada Ibu Arumi di sana sedang memasak makan malam. Artinya mereka sudah saling sekongkol.

"Baiklah, Dara kamu telah merusak rumah tanggaku, maka aku akan merusakmu sepuluh kali lebih kejam. Sehingga kamu akan lebih meminta mati daripada hidup di neraka. Lihat saja, iblis dalam diriku muncul dan itu karena kalian telah lancang membangunkannya." Gumam Dira.

Setelah mengambil rekaman di dapur, Dira mematikan laptopnya lalu tidur.

Sementara di kamar pembantu belakang, Dara sedang gelisah di kasurnya. Berharap Agung datang untuk merayunya, dan tentu saja lanjut bercinta. Tapi hingga tengah malam, dia tetap sendirian menahan gairah yang telah memuncak akibat permainan tangannya.

Andara Kirana, perempuan berusia 25 tahun itu memang seorang pelayan. Tapi punya masa lalu kelam.

Sebelum bekerja sebagai pelayan restoran, Dara dulunya adalah wanita malam. Tidak lulus sekolah karena di DO ketahuan hamil waktu SMA. Dara menjajakan tubuhnya karena kebutuhan.

Dara adalah perantau dari desa, keluarganya mengusirnya karena malu dengan tingkah Dara yang sudah keterlaluan. Ayah dan Ibunya hanya petani yang punya prinsip berbanding terbalik.

Merasa gagal mendidik, mereka mengusir Dara dan mencoret dari KK. Awal mula Dara sampai Jakarta, karena ikut salah seorang teman. Lalu masuk club untuk bekerja, sudah banyak pelanggan tetap Dara. Sampai akhirnya dia merasa capek dan baru satu tahun berhenti dari profesi kupu-kupu malam. Lalu bekerja sebagai seorang pelayan.

Merubah total penampilan, karena ingin membuat image baru dan supaya para pelanggannya tidak ada yang mengenali saat sedang di restoran. Tapi sesekali, Dara masih menerima job jika kepepet menginginkan sesuatu. Hingga pertemuan pertamanya dengan Agung, Dara merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan suami Dira. Begitupun yang dirasakan oleh Agung.

Laki-laki jelmaan buaya buntung itu kagum dan takjub dengan sikap lemah lembut Dara bagaikan perempuan yang harus dia lindungi. Dan yah, akhirnya mereka pun saling menginginkan satu sama lain. Terciptalah perselingkuhan yang begitu indah, apalagi saat Dara dinyatakan hamil. Agung dan seluruh keluarga langsung menyambut kehamilannya dengan suka cita.

Pagi hari jam 05:00 WIB Dira sudah di dapur. Ibu Arumi terlihat begitu bahagia, karena berfikir menantunya sudah kembali ke setelan awal yaitu BODOH.

"Nah begitu baru menantu yang baik." Ucap Ibu Arumi tersenyum.

"Iya, karena semalam Mas Agung sudah memuaskanku di ranjang jadinya sekarang aku akan memasak untuknya."

Ucapan Dira didengar oleh Dara yang mengepalkan tangan dengan wajah kusut karena semalam tidak tidur.

"Dara... kamu sudah bangun juga? Sini bantu aku masak ya. Mata kamu menghitam, tidak tidur semalam? Kenapa apa karena gatal?" Tanya Dira dengan bahasa ambigu.

"Gatal kenapa? Kasur itu bersih meskipun sempit." Sahut Ibu Arumi.

"Gatal karena gak ada yang menggaruk, bentar aku penasaran perutmu itu buncit karena apa?" Tiba-tiba gerakan impulsif Dira membuat Ibu Arumi dan Dara menahan nafas karena Dira membuka kaos longgar yang menutupi perut buncitnya.

"Lah beneran buncit dan keras, isinya cacing atau bayi? Kamu harus segera diperiksa." Ucap Dira.

"Tidak... Aku memang begini, karena keseringan makan mie di desa. Jadinya perutku tidak bisa rata. Tenang saja, aku tidak hamil." Ucap Dara masih belum mengaku.

"Hamil atau tidak, tetap kamu harus diperiksa oleh Dokter ahli. Jangan sampai membawa penyakit menular. Ya sudah... Aku lanjut masak sebelum ke kantor." Ucap Dira.

Tanpa seorang pun tahu, seluruh masakannya sudah Dira beri obat. Tapi khusus untuk Dara, obat khusus yang tidak ada penawarnya. Obat perang sang, yang nanti bereaksi saat Agung pergi bekerja. Dira ingin Ibu Mertuanya melihat sendiri tingkah menjijikkan Dara dengan...

Mungkin tukang kebon,

Atau...

Security

Yang jelas ini adalah kejutan.

Terpopuler

Comments

Erchapram

Erchapram

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Terima kasih kepada semua sahabat Erchapram yang sudah membaca karya saya.

Tetap stay tune menunggu tiap bab, jangan menabung bab, atau lompat bab supaya retensi aman.

Akan ada give away untuk TOP FANS, jika Novel ini tembus menjadi 80 bab terbaik.

Jadi, jangan lewatkan kesempatan ini.

2026-01-15

6

watini

watini

jos banget si dira.apa jangan" dia sebenarnya turunan mafia ya.kejam dan perhitungan

2026-01-18

2

Rosita Tumbelaka

Rosita Tumbelaka

Aq juga akan berbuat hal yg sama spt Dira... krn aq perempuan berdarah dingin

2026-04-29

0

lihat semua
Episodes
1 Baik, Permainan Dimulai
2 Waktunya Menagih Hutang
3 Istana Beracun
4 Madu Ala Pembantu
5 Semangat Membasmi Parasit
6 Mendesah Di Garasi
7 Menjadikan Arimbi Pion
8 Mengajukan Perceraian
9 Agung Masuk Perangkap
10 Rencana Busuk Dara
11 Sang Manipulator
12 Panggung Sandiwara
13 Pikiran Cerdas Arimbi
14 Suasana Mulai Kacau
15 Kembali Masuk Perangkap
16 Sampah Masyarakat
17 Kekhawatiran Ibu Arumi
18 Kata Yang Ditunggu
19 Ambar Kena Batunya
20 Bye Bye Jakarta
21 Membeli Rumah Sederhana
22 Bertemu Teman Lama
23 Permusuhan Yang Tumbuh
24 Ternyata Dia Janda
25 Hanya Perempuan Cacat
26 Erlangga Mulai Beraksi
27 Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28 Diam Diam Membantu
29 Erlangga Mulai Melawan
30 Kehidupan Di Balik Jeruji
31 Arimbi Memulai Kesuksesannya
32 Tembok Besar Cinta
33 Hari Yang Ditunggu
34 Pengadilan Tanpa Hakim
35 Setelah Panggung Dibongkar
36 Harga dari Terang
37 Terang yang Dibayar Mahal
38 Garis Yang Ditarik
39 Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40 Bangunan Yang Tidak Netral
41 Retakan Yang Disengaja
42 Garis Yang Terlalu Dekat
43 Perubahan Dalam Hubungan
44 Di Bawah Bayang-Bayang
45 Ujian Waktu
46 Luka Yang Dikembalikan
47 Pembalasan Dira Sistematis
48 Harga Dari Sebuah Nama
49 Romansa Yang Berbahaya
50 Badai Yang Diselesaikan
51 Pernikahan Dan Pabrik
52 Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53 Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54 Ruang Antara Dua Pilihan
55 Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56 Langkah Yang Terlihat Sah
57 Harga Dari Tetap Berdiri
58 Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59 Api Yang Dipilih Sendiri
60 Lahir di Tengah Retakan
61 Rumah Tanpa Agenda
62 Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63 Setelah Kendali Hilang
64 Retakan Kedua
65 Titik Retak
66 Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67 Bentuk Yang Dipilih
68 Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69 Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70 Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71 Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72 Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73 Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74 Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75 Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76 Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77 Pergi Tanpa Pamit
78 Jarak yang Dikejar
79 Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80 Pulang yang Dipilih
81 EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Baik, Permainan Dimulai
2
Waktunya Menagih Hutang
3
Istana Beracun
4
Madu Ala Pembantu
5
Semangat Membasmi Parasit
6
Mendesah Di Garasi
7
Menjadikan Arimbi Pion
8
Mengajukan Perceraian
9
Agung Masuk Perangkap
10
Rencana Busuk Dara
11
Sang Manipulator
12
Panggung Sandiwara
13
Pikiran Cerdas Arimbi
14
Suasana Mulai Kacau
15
Kembali Masuk Perangkap
16
Sampah Masyarakat
17
Kekhawatiran Ibu Arumi
18
Kata Yang Ditunggu
19
Ambar Kena Batunya
20
Bye Bye Jakarta
21
Membeli Rumah Sederhana
22
Bertemu Teman Lama
23
Permusuhan Yang Tumbuh
24
Ternyata Dia Janda
25
Hanya Perempuan Cacat
26
Erlangga Mulai Beraksi
27
Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28
Diam Diam Membantu
29
Erlangga Mulai Melawan
30
Kehidupan Di Balik Jeruji
31
Arimbi Memulai Kesuksesannya
32
Tembok Besar Cinta
33
Hari Yang Ditunggu
34
Pengadilan Tanpa Hakim
35
Setelah Panggung Dibongkar
36
Harga dari Terang
37
Terang yang Dibayar Mahal
38
Garis Yang Ditarik
39
Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40
Bangunan Yang Tidak Netral
41
Retakan Yang Disengaja
42
Garis Yang Terlalu Dekat
43
Perubahan Dalam Hubungan
44
Di Bawah Bayang-Bayang
45
Ujian Waktu
46
Luka Yang Dikembalikan
47
Pembalasan Dira Sistematis
48
Harga Dari Sebuah Nama
49
Romansa Yang Berbahaya
50
Badai Yang Diselesaikan
51
Pernikahan Dan Pabrik
52
Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53
Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54
Ruang Antara Dua Pilihan
55
Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56
Langkah Yang Terlihat Sah
57
Harga Dari Tetap Berdiri
58
Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59
Api Yang Dipilih Sendiri
60
Lahir di Tengah Retakan
61
Rumah Tanpa Agenda
62
Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63
Setelah Kendali Hilang
64
Retakan Kedua
65
Titik Retak
66
Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67
Bentuk Yang Dipilih
68
Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69
Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70
Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71
Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72
Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73
Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74
Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75
Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76
Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77
Pergi Tanpa Pamit
78
Jarak yang Dikejar
79
Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80
Pulang yang Dipilih
81
EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!