Madu Ala Pembantu

Setelah Arimbi menyerahkan barang-barang yang dibeli dengan uang Perusahaan. Dia tetap harus menandatangani perjanjian, karena jumlah barang masih kurang dari 100 Miliar belum ditambah bunga selama 1 tahun menunggak.

Kejam, bak lintah darat begitulah cara kerja Candira di dunia bisnis yang berani mempermainkan kepercayaannya. Dira menganggap Arimbi berhutang kepadanya.

Lalu menghitung dengan sangat jeli, sebagaimana perhitungan untung rugi perdagangan.

"Semuanya kalau dihitung baru 85 Miliar, masih kurang 15 Miliar. Itu hanya pokoknya saja Arimbi. Jadi total yang masih harus kamu bayar adalah 65 Miliar. Dan angka itu akan terus bertambah setiap bulannya sampai kamu mampu melunasinya." Ucap tegas Dira.

"Bangsat... Ternyata kamu keji Dira. Kamu lebih predator daripada PINJOL." Ucap Arimbi menatap sengit Iparnya.

"Terserah apa pun yang ingin kamu katakan, karena tidak akan mempengaruhi hutangmu." Jawab Dira santai.

Dira benar-benar melakukan pembersihan, setelah dia mengaudit keuangannya sendiri. Tak tanggung-tanggung, Dira juga menggandeng Audit Independent untuk membantunya.

Tujuannya hanya satu EFEK JERA. Karena banyak sekali tikus pengganggu, Agung dan Arimbi berhasil menjadikan dia pemilik perusahaan bodoh yang mudah percaya dengan orang lain.

Setelah berjibaku dengan banyaknya masalah, Dira pulang dengan wajah lelah. Meskipun sudah siap dengan kejutannya, tapi rasa lelah membuat Dira sedikit emosi ingin makan orang.

"Loh... siapa ini?" Tanya Dira melihat Dara sedang duduk di ruang tengah nonton TV dengan satu toples camilan di pangkuannya.

"Aku..." Belum menjawab Ibu Arumi datang lalu menjelaskan siapa dia.

"Namanya Andara Kirana, keponakan Ibu. Dan mulai hari ini, Dara akan tinggal di rumah ini." Ucap Ibu Arumi dengan entengnya.

"Kalau begitu tugas masak mulai sekarang biar Dara yang lakukan. Mumpung aku belum makan, buatkan masakan spesial untukku." Ucap Dira.

"Loh... Aku ke sini bukan mau kerja, tapi aku sebenarnya..."

"Baik, biar Ibu temani Dara. Ayo Dara cepetan." Ucap Ibu Arumi yang lagi-lagi memotong Dara yang ingin mengakui statusnya.

"Ibu... Masak yang enak ya. Dan gak pake lama." Ucap Dira kemudian masuk ke kamarnya.

Baru saja Dira mau menutup pintu, Agung sudah lebih dulu masuk dan merebahkan diri di ranjang tanpa ada rasa bersalah.

"Loh... Mas kamu ngapain sih? Aku tuh baru pulang kerja, capek banget." Ucap Dira kesal.

"Ya sudah, capek ya istirahat. Lagian kamu kok aneh Dira. Kita ini masih suami istri, tapi kamar ini kamu kunci sejak semalam dan membiarkan aku tidur di sofa." Sahut Agung.

Dira menahan kesal, tapi belum saatnya dia mengungkap sakit hatinya. Dia masih harus bermain cantik, karena luka hatinya butuh disembuhkan.

Dan yang terpenting, Dira ingin orang-orang pemberi luka harus ikut merasakan luka itu sendiri.

"Terserah, aku mau mandi dulu. Setelah ini kita makan bersama, karena keponakan Ibu sedang memasak. Dan selama tinggal di sini, biar dia tidak makan gratis. Aku mau dia menjadi koki dan membantu beres-beres rumah."

Setelah mengatakan itu, Dira masuk kamar mandi sedangkan Agung terperanjat. Tidak percaya jika gundiknya akan diperlakukan oleh Istrinya sebagai pembantu.

"Sial... Bisa ngamuk Dara kalau disuruh-suruh, dia kan hamil. Kasihan kalau harus merasakan capek." Ucap Agung tak jadi tidur, justru dia melesat ke dapur. Ingin memberikan semangat wanita simpanannya.

Benar saja, di dapur Dara menggerutu karena kesal dianggap pembantu.

"Aku sudah lelah jadi pelayan, rela menjadi selingkuhan karena janji manis Mas Agung." Ucap Dara.

"Kamu yang sabar, pelan-pelan sambil nunggu Agung menyelesaikan misinya." Ucap Ibu Arimbi memberi pengertian.

"Benar, sabar ya Sayang." Ucap Agung memeluk Dara dari belakang.

CUP

Dengan tidak tahu malunya, Agung mencium Dara di depan Ibu Arumi yang nampak tersenyum.

Agung mendorong Dara sampai mepet ke kulkas lalu memperdalam ciumannya sambil meraba isi dalam bajunya. Lenguhan terdengar bersamaan dengan suara langkah kaki keluar dari kamar.

"Sial..." Lagi-lagi Agung mengumpat karena hasratnya harus ditunda dulu.

Serampangan Agung berlari masuk kamar mandi dapur, lalu menuntaskan kegiatannya. Burungnya sudah membengkak sempurna, tapi tidak ada sarang yang menampung.

Sedangkan Dara hanya menatap iba, dirinya pun tak kalah berhasrat. Tapi sekarang mereka ada di dapur, tidak mungkin bisa melakukannya. Sebenarnya bisa jika hanya ada Ibu Arumi, tapi masalahnya adalah...

"Apa sudah selesai memasaknya? Loh Dara kenapa bibir kamu bengkak? Apa di dapur ada lebah, sehingga kamu tersengat?" Tanya Dira.

"Ah... Tidak, tadi aku digigit semut." Jawab Dara menahan kesal.

"Wah... Semut segede apa sampai bikin bibirmu jontor begitu... Hahaha... Ya sudah, mending sekarang kita makan." Ucap Dira tertawa geli.

Sementara Agung meracau di kamar mandi karena harus bermain solo. Entah apa yang membuatnya candu, milik Dara rasanya berbeda dengan milik Dira meskipun Agung tahu jika Dara sudah tidak perawan saat pertama kali dia melakukannya.

"Aku gak bisa terus sembunyi, brengsek Dira! Secepatnya harus aku ambil sertifikat rumahnya." Gumam Agung.

Krieettt...

Agung keluar dari kamar mandi dapur dengan rambut basah. Membuat Dira tersenyum miris melihatnya. Sudah jelas, mereka baru akan melakukannya di dapur padahal ada Ibu Arumi. Bukankah menjadi sinyal jika semua orang menganggapnya bodoh.

"Loh Mas... Kok kamu keramas jam segini? Kita baru mau makan bukan sudah berhubungan intim..."

"Tahan Mas... Nanti malam aku service deh, yang paling enak supaya kamu selalu merasa ketagihan. Eh... Ups... Maaf, lupa ada Dara dan Ibu di sini. Dara ini statusnya masih gadis, janda, atau simpanan orang ya?" Ucap Dira tanpa merasa bersalah.

"Sembarang kalau ngomong, keponakan Ibu ini gadis baik-baik Dira."

"Oh... tapi kok aku melihat dia kayak buncit banget perutnya. Hamil atau cacingan?" Ejek Dira.

"Besok aku beri uang, kamu harus ke Dokter buat periksa. Aku gak mau ada penghuni rumahku yang penyakitan apalagi sampai mengalami busung lapar." Lanjut Dira.

"Iya, biar besok Ibu yang antar. Sekarang kita makan saja."

Suasana makan malam terasa mencengkam, Agung yang tidak bisa berkutik, Dara yang kesal diejek cacingan, sedangkan Ibu Arumi ingin sekali menyobek mulut Menantunya kalau tidak ingat jika Dira adalah penguasa.

Makan malam selesai, Dira sengaja ingin membuat panas gundik suaminya.

"Ayo Mas, kita masuk kamar. Dara tugasmu cuci semua piringnya. Aku dan suamiku mau bercinta, jangan ngiri apalagi memimpikan SUAMIKU. Kalau kamu memang hamil di luar nikah, jangan minta suamiku yang harus bertanggung jawab ya. Aku saja 2 tahun gak berhasil dihamili, mana mungkin kan Mas Agung menghamilimu." Ucap Dira.

Deg

Tiga jantung seperti melompat, ada kebenaran dari kalimat Candira.

Terpopuler

Comments

Linda pransiska manalu

Linda pransiska manalu

kenapa ya, bayangan mak tertuju ke kasus yg lagi viral itu, wkwkkw

2026-01-15

1

🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ

🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ

Mungkin saja seseorang bisa berbohong atau menyembunyikan fakta untuk sementara waktu.
Namun, pada akhirnya kebohongan akan terbongkar.
Kebenaran selalu dianggap sebagai nilai yang paling penting dalam hidup. Namun, ada kalanya kebenaran terkadang sulit untuk diungkapkan.
Meski begitu, pada akhirnya kebenaran selalu terungkap, cepat atau lambat dan karma secara perlahan akan menghampiri kalian karena karma tidak pernah salah sasaran...🤨🤗

2026-01-15

0

Putrii Marfuah

Putrii Marfuah

hais dira, tadi abis makan bon cabe level 50 ya..pedes amat wkwkwkwkwkw
tapi sepertinya percuma, karena benalu² itu tipikal muka tembok

2026-01-14

2

lihat semua
Episodes
1 Baik, Permainan Dimulai
2 Waktunya Menagih Hutang
3 Istana Beracun
4 Madu Ala Pembantu
5 Semangat Membasmi Parasit
6 Mendesah Di Garasi
7 Menjadikan Arimbi Pion
8 Mengajukan Perceraian
9 Agung Masuk Perangkap
10 Rencana Busuk Dara
11 Sang Manipulator
12 Panggung Sandiwara
13 Pikiran Cerdas Arimbi
14 Suasana Mulai Kacau
15 Kembali Masuk Perangkap
16 Sampah Masyarakat
17 Kekhawatiran Ibu Arumi
18 Kata Yang Ditunggu
19 Ambar Kena Batunya
20 Bye Bye Jakarta
21 Membeli Rumah Sederhana
22 Bertemu Teman Lama
23 Permusuhan Yang Tumbuh
24 Ternyata Dia Janda
25 Hanya Perempuan Cacat
26 Erlangga Mulai Beraksi
27 Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28 Diam Diam Membantu
29 Erlangga Mulai Melawan
30 Kehidupan Di Balik Jeruji
31 Arimbi Memulai Kesuksesannya
32 Tembok Besar Cinta
33 Hari Yang Ditunggu
34 Pengadilan Tanpa Hakim
35 Setelah Panggung Dibongkar
36 Harga dari Terang
37 Terang yang Dibayar Mahal
38 Garis Yang Ditarik
39 Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40 Bangunan Yang Tidak Netral
41 Retakan Yang Disengaja
42 Garis Yang Terlalu Dekat
43 Perubahan Dalam Hubungan
44 Di Bawah Bayang-Bayang
45 Ujian Waktu
46 Luka Yang Dikembalikan
47 Pembalasan Dira Sistematis
48 Harga Dari Sebuah Nama
49 Romansa Yang Berbahaya
50 Badai Yang Diselesaikan
51 Pernikahan Dan Pabrik
52 Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53 Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54 Ruang Antara Dua Pilihan
55 Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56 Langkah Yang Terlihat Sah
57 Harga Dari Tetap Berdiri
58 Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59 Api Yang Dipilih Sendiri
60 Lahir di Tengah Retakan
61 Rumah Tanpa Agenda
62 Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63 Setelah Kendali Hilang
64 Retakan Kedua
65 Titik Retak
66 Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67 Bentuk Yang Dipilih
68 Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69 Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70 Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71 Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72 Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73 Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74 Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75 Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76 Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77 Pergi Tanpa Pamit
78 Jarak yang Dikejar
79 Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80 Pulang yang Dipilih
81 EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Baik, Permainan Dimulai
2
Waktunya Menagih Hutang
3
Istana Beracun
4
Madu Ala Pembantu
5
Semangat Membasmi Parasit
6
Mendesah Di Garasi
7
Menjadikan Arimbi Pion
8
Mengajukan Perceraian
9
Agung Masuk Perangkap
10
Rencana Busuk Dara
11
Sang Manipulator
12
Panggung Sandiwara
13
Pikiran Cerdas Arimbi
14
Suasana Mulai Kacau
15
Kembali Masuk Perangkap
16
Sampah Masyarakat
17
Kekhawatiran Ibu Arumi
18
Kata Yang Ditunggu
19
Ambar Kena Batunya
20
Bye Bye Jakarta
21
Membeli Rumah Sederhana
22
Bertemu Teman Lama
23
Permusuhan Yang Tumbuh
24
Ternyata Dia Janda
25
Hanya Perempuan Cacat
26
Erlangga Mulai Beraksi
27
Tidak Ingin Menjadi Pelakor
28
Diam Diam Membantu
29
Erlangga Mulai Melawan
30
Kehidupan Di Balik Jeruji
31
Arimbi Memulai Kesuksesannya
32
Tembok Besar Cinta
33
Hari Yang Ditunggu
34
Pengadilan Tanpa Hakim
35
Setelah Panggung Dibongkar
36
Harga dari Terang
37
Terang yang Dibayar Mahal
38
Garis Yang Ditarik
39
Garis Yang Tak Bisa Dihapus
40
Bangunan Yang Tidak Netral
41
Retakan Yang Disengaja
42
Garis Yang Terlalu Dekat
43
Perubahan Dalam Hubungan
44
Di Bawah Bayang-Bayang
45
Ujian Waktu
46
Luka Yang Dikembalikan
47
Pembalasan Dira Sistematis
48
Harga Dari Sebuah Nama
49
Romansa Yang Berbahaya
50
Badai Yang Diselesaikan
51
Pernikahan Dan Pabrik
52
Hari-Hari Yang Tidak Dirayakan
53
Garis Tipis Yang Tidak Terlihat
54
Ruang Antara Dua Pilihan
55
Yang Tidak Terucap, Tapi Terasa
56
Langkah Yang Terlihat Sah
57
Harga Dari Tetap Berdiri
58
Ketika Topeng Tidak Lagi Diperlukan
59
Api Yang Dipilih Sendiri
60
Lahir di Tengah Retakan
61
Rumah Tanpa Agenda
62
Yang Tidak Bisa Dibeli Kembali
63
Setelah Kendali Hilang
64
Retakan Kedua
65
Titik Retak
66
Garis Yang Tidak Ingin Ditarik
67
Bentuk Yang Dipilih
68
Tanpa Pusat, Tanpa Pelindung
69
Dekonstruksi Identitas Tanpa Struktur
70
Hal-Hal Yang Tidak Perlu Diselamatkan
71
Rumah Tanpa Nama dan Pesanan Pertama
72
Jarak yang Dijaga, Perhatian yang Diam
73
Ketika Masa Lalu Menyentuh Pintu
74
Ketika Jarak Mulai Terasa Dekat
75
Ketika Perasaan Tak Lagi Bisa Diabaikan
76
Luka yang Hampir Membuatnya Pergi
77
Pergi Tanpa Pamit
78
Jarak yang Dikejar
79
Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda
80
Pulang yang Dipilih
81
EPILOG - Tiga Jalan, Satu Keutuhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!