bab 4 first kiss

Sore itu, kamar Vanya yang bernuansa soft pink terasa sangat pengap, seolah dinding-dindingnya menghimpit udara di sekitarnya. Vanya baru saja mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, memastikan tidak ada seorang pun, termasuk asisten rumah tangganya, yang masuk tiba-tiba.

Ia meringis, tangannya memegang dadanya yang terasa sangat sesak dan tidak nyaman. Efek bakso super pedas tadi siang benar-benar memicu kondisi medis langkanya hingga ke titik maksimal.

​Dengan napas yang sedikit terengah karena menahan rasa nyeri, ia duduk di pinggir ranjang dan meraih sebuah tas kecil kedap suara dari laci paling bawah meja riasnya. Di dalamnya terdapat alat medis khusus yang selalu ia sembunyikan dengan sangat rapi.

​Zzzztt... Zzzztt...

​Suara mesin pompa elektrik yang sangat halus itu memenuhi keheningan kamar. Vanya menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata saat merasakan rasa sesak itu perlahan berkurang, digantikan oleh perasaan lega yang luar biasa.

Cairan nutrisi itu kini mengalir memenuhi botol steril di tangannya.

​"Duh, kenapa sih takdir aku harus ribet begini? Mana nanti malam harus ketemu cowok es batu yang sok tahu itu lagi," gerutunya manja sambil sesekali mengusap ujung matanya yang basah.

​Rasa sesak itu memang sangat menyiksa, tapi ia tidak punya pilihan. Jika ia tidak mengosongkan dadanya sekarang, bisa-bisa saat acara makan malam penting nanti, rahasianya akan terbongkar karena rembesan yang tidak bisa dikontrol.

​Selesai dengan urusan medisnya, Vanya segera membersihkan diri. Di atas tempat tidur, sudah ada gaun pilihan Mama Olivia. Sebuah dress selutut berwarna putih tulang dengan potongan yang sangat elegan.

Namun bagi Vanya, gaun itu adalah ancaman bahannya yang pas di badan akan sangat menonjolkan bentuk tubuhnya, terutama di area yang sedang sangat sensitif.

​"Vanya! Sayang! Buruan, Papa sama Mama sudah siap di mobil!" teriak Papa Airlangga dari lantai bawah.

​"Iya, Pa! Bentar lagi, Vanya lagi pakai sepatu!" sahut Vanya sambil terburu-buru memoles lipgloss merah muda di bibirnya yang mungil, memberikan kesan segar pada wajahnya yang masih nampak sedikit pucat.

​Keluarga Airlangga tiba di sebuah restoran privat di kawasan Jakarta Selatan yang sangat eksklusif. Di depan pintu masuk ruang VIP, keluarga Mahesa ternyata sudah menunggu.

Aiden berdiri di sana, terlihat sangat tampan sekaligus mengintimidasi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan urat tangan yang menonjol.

Di sampingnya, ada seorang bocah kecil berumur 5 tahun bernama Vino yang sedang asyik bermain robot-robotan.

​"Itu Vino, adiknya Aiden," bisik Mama Olivia singkat.

​Saat kedua keluarga sibuk bersalaman dan bertukar sapa formal, Aiden tiba-tiba menarik pergelangan tangan Vanya dengan gerakan tegas namun terukur, menjauhkannya sedikit dari kerumunan para orang tua.

​"Eh, Kak! Apa-apaan sih?! Sakit tahu!" protes Vanya dengan sifat barbarnya yang langsung keluar.

​Aiden menatap Vanya dengan tatapan yang sulit diartikan, mengamati gaun putih yang dikenakan gadis itu sebelum berbisik tajam tepat di telinganya.

"Dengar ya, bocah manja. Nanti di dalam, jangan panggil orang tua gue Om atau Tante. Panggil Papi dan Mami. Paham?"

​Vanya melongo, matanya mengerjap tidak percaya.

"Hah? Kok gitu? Emang aku siapanya mereka?! Aku kan cuma adik kelas Kakak!"

​"Jangan banyak tanya. Ikuti saja instruksi gue kalau lo nggak mau rahasia besar lo itu gue buka di depan semua kolega Papa lo sekarang juga," ancam Aiden dengan suara rendah yang sangat posesif.

​Di meja makan, suasana terasa sangat hangat bagi para orang tua, namun terasa seperti medan perang bagi Vanya.

Aiden duduk tepat di hadapannya, sesekali tatapan intens cowok itu membuat Vanya nyaris tersedak jus jeruknya sendiri.

​"Jadi begini, Airlangga," buka Papa Andi Mahesa dengan nada bicara yang sangat serius namun tenang.

"Kita semua sudah membicarakan kondisi Vanya. Dan kebetulan, Aiden juga memiliki kondisi kesehatan yang sering tidak stabil. Dokter bilang, ia membutuhkan asupan alami yang sangat spesifik yang ternyata dihasilkan oleh tubuh Vanya."

​Mami Bella tersenyum manis, menggenggam tangan Mama Olivia.

"Kami sepakat untuk menyatukan mereka. Pernikahan privat, minggu depan. Mereka akan tetap sekolah seperti biasa, tapi tinggal di unit apartemen yang sudah kami siapkan agar Aiden bisa tetap stabil."

​Vanya tersedak hebat sampai wajahnya memerah.

"Nikah?! Secara privat?! Pa, Ma! Vanya baru 18 tahun! Vanya masih mau main, masih mau bebas! Lagian kenapa harus sama cowok galak ini?" teriak Vanya tak terima, emosinya meledak.

​"Vanya, jaga bicara kamu! Ini adalah keputusan terbaik untuk kesehatan kalian berdua!" tegur Papa Airlangga dengan suara tegas yang tidak bisa dibantah.

​"Enggak mau! Pokoknya Vanya nggak mau!" Vanya langsung berdiri dan berlari keluar dari ruangan VIP itu menuju area taman belakang restoran yang sepi dan remang-remang.

​"Aiden, samperin calon istri kamu. Tenangkan dia," perintah Mami Bella dengan sangat tenang.

​Aiden bangkit dan berjalan dengan langkah lebar. Ia menemukan Vanya sedang menangis sesenggukan di bawah pohon kamboja, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Begitu menyadari kehadiran Aiden, Vanya hendak melarikan diri, namun Aiden bergerak jauh lebih cepat. Dengan satu gerakan kilat, Aiden mengunci pergerakan Vanya di dinding taman, menatapnya dengan tajam.

​"Lepasin! Gue benci lo, Kak! Lo cuma mau manfaatin aku kan?!" teriak Vanya manja sambil meronta sekuat tenaga.

​Aiden tidak membalas dengan kata-kata. Ia justru menatap intens bibir Vanya yang terus mengomel itu.

Tanpa peringatan, Aiden menunduk dan menyambar bibir Vanya dengan sebuah ciuman yang tegas sebuah ciuman yang menumpahkan segala rasa posesif yang ia tahan sejak pagi tadi.

Ini adalah ciuman pertama bagi Vanya, dan dunianya seolah berhenti berputar saat itu juga.

​Vanya membelalak, tubuhnya mendadak lemas dan kehilangan tenaga untuk melawan.

Aiden baru melepaskan pagutan itu setelah merasakan napas Vanya mulai tidak beraturan.

​"Lo... lo jahat! Itu ciuman pertama gue tahu!" tangis Vanya pecah lagi, wajahnya merah padam karena malu sekaligus kaget.

​"Gue nggak peduli. Lo mau debat lagi?" Aiden mendekatkan wajahnya kembali, hingga hidung mereka bersentuhan.

"Gue butuh lo, Vanya. Dan gue nggak akan membiarkan lo lari ke mana pun mulai malam ini."

​Vanya baru saja hendak membalas dengan kata-kata pedas, namun Aiden langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Vanya, memberikan isyarat untuk diam.

​"Ssshttt... Masih mau menolak? Atau mau gue cium lagi sampai lo benar-benar nggak bisa bicara?" ancam Aiden dengan suara berat yang penuh dominasi.

​Vanya langsung bungkam, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena merasa sangat terintimidasi sekaligus merasakan debaran jantung yang aneh.

​"Pintar," gumam Aiden lembut, jempolnya mengusap sisa air mata di pipi Vanya.

"Ayo masuk sekarang. Tunjukkan ke orang tua kita kalau lo setuju. Kalau nggak..."

Aiden menatap intens ke arah Vanya dengan sorot mata yang seolah mengunci seluruh keberadaan gadis itu.

"gue nggak akan menjamin lo bisa pulang dengan tenang malam ini."

​Vanya hanya bisa menurut dengan pasrah, menyadari bahwa mulai malam ini, hidupnya telah terikat sepenuhnya pada sosok Aiden Raditya.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ku pikir Aiden itu tulus, ternyata ada udang di balik bakwan,Makanya aku sempat heran,Baru aja ketemu tapi sikapnya udah kayak orang udah pacaran lama aja kan..😄

2026-07-17

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Lah ternyata lingkaran mutualisme dong..saling membutuhkan,😅😅

2026-07-17

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Diihh sok ngancam,ngebet banget mau di panggil mami papi..🤭🤭😂😂

2026-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 bab. 1 hari pertama
2 bab 2
3 bab 3 takdir terikat
4 bab 4 first kiss
5 bab 5 terpaksa setuju
6 bab 6 kena hukum
7 bab 7 keributan
8 bab 8 dapat Surat cinta
9 bab 9 minta as*
10 bab 10 menguping
11 bab 11
12 bab 12
13 bab. 13
14 bab. 14
15 bab. 15
16 bab. 16
17 bab. 17
18 bab. 18
19 bab.19 1 kamar
20 bab. 20
21 bab. 21 A&V
22 bab. 22 malam
23 bab. 23
24 bab. 24
25 bab. 25
26 bab. 26
27 bab. 27
28 bab. 28
29 bab. 29
30 bab. 30
31 bab.31
32 bab. 32
33 bab.34 penentuan to USA
34 bab.35
35 bab. 36
36 bab. 37
37 bab. 38
38 bab.39
39 bab.40
40 bab. 41
41 bab. 42
42 bab. 43
43 bab. 44
44 bab.45
45 bab. 46
46 bab.47
47 bab.48
48 bab. 49
49 bab. 50
50 bab. 51
51 bab. 52
52 bab. 53
53 bab. 54
54 bab. 55
55 bab. 56
56 bab. 57
57 bab. 58
58 bab. 59
59 bab. 60
60 bab. 61
61 bab. 62
62 bab. 63
63 bab. 64
64 bab. 65
65 bab. 66
66 bab. 67
67 bab. 68
68 bab. 69
69 bab. 70
70 bab. 71
71 bab. 72
72 bab. 73
73 bab. 74
74 bab. 75
75 bab. 76
76 bab. 77
77 bab. 78
78 bab. 79
79 bab. 80
80 bab. 81
81 bab. 82
82 bab. 83
83 bab. 84
84 bab. 85
85 bab. 86
86 bab. 87
87 bab. 88
88 bab. 89
89 bab. 90
90 bab. 91
91 bab. 92
92 bab. 93
93 bab. 94
94 bab. 95
95 bab. 96
96 bab. 97
97 bab. 98
98 bab. 99
99 bab. 100
100 bab.101
101 bab. 102
102 bab. 103
103 bab. 104
104 bab. 105
105 bab. 106
106 bab. 107
107 bab. 107.(2)
108 bab. 108
109 bab. 109
110 bab. 110
111 bab.111
112 bab. 112.
113 bab. 113
114 bab. 114 yg sabar den );
115 bab. 115
116 bab. 116
117 bab. 117. kecelakaan
118 bab. 118
119 bab. 119
120 bab. 120
121 bab. 121
122 bab.122
123 bab. 123
124 bab. 124
125 bab. 125
126 bab. 126 (;
127 bab. 127
128 bab. 128
129 bab. 129
130 bab. 130
131 bab.131
132 bab.132
133 bab. 133
134 bab. 134 perpisahan.
135 bab. 135
136 bab. 136
137 bab. 137
138 bab.138
139 bab.139
140 bab.140 udah boleh tamat??
141 bab.141
142 bab.142
143 bab. 143 lanjutan
144 bab. 144
145 bab. 145
146 bab. 146
147 bab. 147
148 bab. 148
149 bab. 149
150 bab. 150
151 bab. 151
152 bab. 152
153 bab. 153
154 bab. 154
155 bab. 155
156 bab. 156
157 bab. 157
158 bab. 158
159 bab. 159
160 bab. 160
161 bab. 161
162 bab. 162
163 bab. 163
164 bab. 164
165 bab. 165
166 bab. 166
167 bab. 167
168 bab. 168
169 bab. 169
170 bab. 170
171 bab. 171
172 bab. 172 keluarga idaman sih ini!!
173 bab. 173
174 bab. 174
175 bab. 175
176 bab.176
177 bab. 177
178 bab. 178
179 bab. 179
180 bab 180
181 bab. 181
182 Bab 182
Episodes

Updated 182 Episodes

1
bab. 1 hari pertama
2
bab 2
3
bab 3 takdir terikat
4
bab 4 first kiss
5
bab 5 terpaksa setuju
6
bab 6 kena hukum
7
bab 7 keributan
8
bab 8 dapat Surat cinta
9
bab 9 minta as*
10
bab 10 menguping
11
bab 11
12
bab 12
13
bab. 13
14
bab. 14
15
bab. 15
16
bab. 16
17
bab. 17
18
bab. 18
19
bab.19 1 kamar
20
bab. 20
21
bab. 21 A&V
22
bab. 22 malam
23
bab. 23
24
bab. 24
25
bab. 25
26
bab. 26
27
bab. 27
28
bab. 28
29
bab. 29
30
bab. 30
31
bab.31
32
bab. 32
33
bab.34 penentuan to USA
34
bab.35
35
bab. 36
36
bab. 37
37
bab. 38
38
bab.39
39
bab.40
40
bab. 41
41
bab. 42
42
bab. 43
43
bab. 44
44
bab.45
45
bab. 46
46
bab.47
47
bab.48
48
bab. 49
49
bab. 50
50
bab. 51
51
bab. 52
52
bab. 53
53
bab. 54
54
bab. 55
55
bab. 56
56
bab. 57
57
bab. 58
58
bab. 59
59
bab. 60
60
bab. 61
61
bab. 62
62
bab. 63
63
bab. 64
64
bab. 65
65
bab. 66
66
bab. 67
67
bab. 68
68
bab. 69
69
bab. 70
70
bab. 71
71
bab. 72
72
bab. 73
73
bab. 74
74
bab. 75
75
bab. 76
76
bab. 77
77
bab. 78
78
bab. 79
79
bab. 80
80
bab. 81
81
bab. 82
82
bab. 83
83
bab. 84
84
bab. 85
85
bab. 86
86
bab. 87
87
bab. 88
88
bab. 89
89
bab. 90
90
bab. 91
91
bab. 92
92
bab. 93
93
bab. 94
94
bab. 95
95
bab. 96
96
bab. 97
97
bab. 98
98
bab. 99
99
bab. 100
100
bab.101
101
bab. 102
102
bab. 103
103
bab. 104
104
bab. 105
105
bab. 106
106
bab. 107
107
bab. 107.(2)
108
bab. 108
109
bab. 109
110
bab. 110
111
bab.111
112
bab. 112.
113
bab. 113
114
bab. 114 yg sabar den );
115
bab. 115
116
bab. 116
117
bab. 117. kecelakaan
118
bab. 118
119
bab. 119
120
bab. 120
121
bab. 121
122
bab.122
123
bab. 123
124
bab. 124
125
bab. 125
126
bab. 126 (;
127
bab. 127
128
bab. 128
129
bab. 129
130
bab. 130
131
bab.131
132
bab.132
133
bab. 133
134
bab. 134 perpisahan.
135
bab. 135
136
bab. 136
137
bab. 137
138
bab.138
139
bab.139
140
bab.140 udah boleh tamat??
141
bab.141
142
bab.142
143
bab. 143 lanjutan
144
bab. 144
145
bab. 145
146
bab. 146
147
bab. 147
148
bab. 148
149
bab. 149
150
bab. 150
151
bab. 151
152
bab. 152
153
bab. 153
154
bab. 154
155
bab. 155
156
bab. 156
157
bab. 157
158
bab. 158
159
bab. 159
160
bab. 160
161
bab. 161
162
bab. 162
163
bab. 163
164
bab. 164
165
bab. 165
166
bab. 166
167
bab. 167
168
bab. 168
169
bab. 169
170
bab. 170
171
bab. 171
172
bab. 172 keluarga idaman sih ini!!
173
bab. 173
174
bab. 174
175
bab. 175
176
bab.176
177
bab. 177
178
bab. 178
179
bab. 179
180
bab 180
181
bab. 181
182
Bab 182

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!