Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Bab 1: Peran ganda

Setahun yang lalu, Anindia dan Keanu telah melangsungkan acara tasyakuran aqiqah anak pertama mereka, Shaka Zayn Pratama. Acara itu dihadiri oleh banyak orang, tak terkecuali sanak saudara dan teman-teman dekat mereka. Rasa bahagia masih begitu nyata di raut wajah keduanya ketika mengingat momen itu.

Kini, di dalam kamarnya, Anindia tengah memandikan bocah laki-laki itu. Shaka, yang baru berumur 1 tahun terlihat begitu aktif dengan gerakannya, membuat Anindia tertawa melihat tingkah lucunya. Seperti saat ini misalnya, baby Shaka menggenggam sabun dan hampir saja memasukkannya ke dalam mulut.

"Ta-ta-ta," oceh bayi laki-laki itu sembari menendang-nendang kakinya di dalam tempat mandinya.

"Ndak boleh sayang. Ini sabun, jangan di makan ya," ujar Anindia lembut sembari menarik tangan Shaka yang sedang menggenggam sabun.

Tidak menghiraukan, tiba-tiba saja Shaka memukul-mukul air di hadapannya, membuat percikan air muncrat kemana-mana. Bahkan, wajah Anindia basah oleh air mandi karena ulah anaknya sendiri.

"Hahaha, nak! Liat, bunda udah basah," ujar Anindia yang merasa gemas dengan putranya sendiri.

Anindia mengusap wajahnya dengan tangan, berusaha menghapus air yang membasahi wajahnya. Ia kemudian mengangkat Shaka dari tempat mandinya.

"Sudah mandinya sayang. Gantengnya anak bunda," ujar Anindia sembari mencium gemas pipi Shaka.

Anindia menggendong Shaka yang masih terus mengoceh. Lalu ia membalut tubuh putranya itu dengan handuk lembut.

"Wah-wah, anak ayah udah mandi."

Saat itu, terdengar suara Keanu yang baru saja selesai mandi dari kamar sebelah. Rambutnya basah dan terlihat acak-acakan, dengan handuk yang ia letakkan di atas pundaknya.

"Iya dong ayah, Shaka udah mandi, udah wangi," ujar Anindia yang menirukan suara anak kecil.

Keanu terkekeh, lalu berjalan mendekati Anindia yang masih mengurus baby Shaka. Ia duduk di tepi tempat tidur, tepat di sebelah anaknya.

Anindia mengusapkan minyak angin dan bedak pada tubuh Shaka, membuat aroma khas bayi terasa begitu kentara di indra penciuman mereka.

Tangan mungil Shaka yang masih basah, tiba-tiba saja memukul tangan Anindia yang sedang memegang bedak, membuat bedak itu terlempar dan tumpah ke wajah Keanu. Anindia langsung menertawai suaminya yang penuh dengan taburan bedak di wajahnya.

"Mas, muka kamu putih banget. Skincare aja kalah nih," gurau Anindia.

"Hahaha, nak! Kamu ini nakal banget ya? Anak siapa sih, hmm?" Ujar Keanu yang merasa gemas sembari menciumi pipi Shaka berkali-kali.

Anindia terkekeh melihat suami dan anaknya, terlebih Shaka yang tertawa khas ala bayi, sungguh menggemaskan sekali. Baginya, menikah muda itu begitu menyenangkan. Ia tidak pernah berpacaran, sekalinya bertemu dengan laki-laki langsung di jalur pernikahan. Puji syukur Anindia panjatkan karena Allah ingin menghindarinya dari zina.

"Shaka ganti baju dulu, ayah," ujar Anindia yang kembali menirukan suara anak kecil, sembari memakaikan baju untuk Shaka.

Keanu tersenyum tipis, lalu mengacak pucuk kepala Anindia. Suatu kebiasaannya yang tidak pernah berubah pada Anindia, meskipun statusnya sekarang sudah menjadi seorang ayah. "Iya, sayang. Shaka ganteng banget, nih," ujarnya.

"Mas, ingat! Udah jadi ayah, lho," ujar Anindia yang tersipu malu.

Anindia yang masih mengurus Shaka langsung menundukkan kepalanya, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Ia merasa bahagia melihat Keanu masih memiliki kebiasaan lama yang membuatnya jatuh cinta setiap hari.

Keanu tertawa melihat reaksi Anindia. Ia menggelengkan kepalanya lalu menoleh ke arah Shaka yang berbaring di tempat tidur, dengan Anindia yang masih memakaikan pakaian untuknya.

"Shaka, sini cium dulu, emmuach!"

Bukannya mencium pipi Shaka, Keanu justru mencium pipi istrinya. Hal itu jelas saja membuat Anindia merasa panas di wajahnya. Ia memukul lengan Keanu pelan, terlihat jelas bahwa ia sedang salting.

"Mas, kebiasaannya gak pernah berubah!" Ujar Anindia.

Keanu hanya tertawa menanggapinya, tanpa kata ia langsung beranjak dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Anindia hanya bisa memandangi Keanu dengan gelengan kepala, senyum tipis terukir di wajahnya.

Keanu sendiri langsung menyisir rambutnya setelah ia menjemur handuknya. Ia mengenakan kemeja yang yang rapi, siap untuk memulai aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa. Setelah selesai, ia menghampiri Anindia untuk menggendong Shaka.

"Anak bunda udah ganteng. Shaka sama ayah dulu ya, nak? Bunda mau ganti baju dulu," ujar Anindia pada Shaka yang tangan mungilnya menyentuh wajah Anindia.

"Iya, nak. Ayo, Shaka sama ayah dulu," ujar Keanu sembari mengulurkan tangannya untuk menggendong Shaka.

Shaka langsung mengulurkan kedua tangannya, seolah mengerti bahwa sang ayah sedang mengajaknya. Keanu langsung menggendong Shaka, aroma khas bayi dari tubuh anaknya membuat Keanu merasa tenang.

"Sayang, aku tunggu di bawah ya," ujar Keanu lembut.

"Iya, Mas. Aku juga mau ganti baju dulu," ujar Anindia dengan seutas senyum.

Keanu mengangguk, lalu ia membawa Shaka turun ke bawah. Sementara Anindia langsung membereskan perlengkapan mandi Shaka, sebelum akhirnya ia beranjak ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti.

Setelah selesai dengan segala sesuatunya, Anindia juga menyusul ke ke arah ruang makan keluarga Bramantyo. Mahasiswi cantik itu tidak ingin melewatkan momen indah bersama keluarga kecilnya.

Anindia menuruni anak tangga. Saat menginjak anak tangga terakhir, ia bisa mendengar jelas suara kedua mertuanya yang sedang mengajak ngobrol Shaka, dengan Shaka yang tertawa menggemaskan. Ia menghentikan sejenak langkahnya, menatap ke kejauhan dengan penuh rasa bahagia.

"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih, engkau telah mentakdirkan aku menjadi bagian dari keluarga yang bahagia ini," ucap syukur Anindia, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju ke arah ruang makan.

"Cucu Oma udah mulai lasak, ya?" Ujar ibu Keanu pada cucu pertamanya.

"Cucu Opa pintar," ujar ayah Keanu yang tersenyum bangga ketika melihat cucunya itu yang lahap menikmati MPASI, dengan Keanu yang menyuapinya.

Keanu hanya tersenyum ketika memandang Shaka yang sedang makan bubur bayi. Ia memangku Shaka dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya menyuapi bayi laki-laki itu dengan sabar.

"Lahap banget makannya, nak. Enak ya?" Ujar Keanu lembut, sembari menyeka pipi Shaka yang kotor oleh bubur.

"Mas, kamu makan aja. Biar aku yang suapi Shaka," ujar Anindia yang langsung berjalan mendekat ke arah suami dan anaknya.

Keanu menoleh dengan seutas senyum tipis yang terukir di wajahnya. Ia menggelengkan kepalanya, menatap Anindia dengan tatapan lembut. "Gapapa sayang, gantian. Kamu setiap hari menyuapi Shaka sebelum pergi ke kampus. Kamu makan aja, ya?" Ujarnya.

Ayah dan ibu Keanu tersenyum melihat putranya yang benar-benar sudah dewasa, bahkan begitu menghargai istrinya. Keduanya saling bertukar pandang, merasa bahagia melihat kebahagiaan anak dan menantunya.

Anindia tersenyum, merasa terharu dengan perhatian Keanu. "Iya, Mas. Terima kasih," ujarnya dengan anggukan singkat.

Anindia duduk di sebelah Keanu, lalu mengambil piring dan menyuapi Keanu sebelum akhirnya ia menyuap nasi ke mulutnya sendiri.

Keanu tersenyum, menatap Anindia dalam. Perhatian Anindia untuknya selalu saja membuatnya merasa dicintai oleh istrinya sendiri. "Makasih, sayang," ujarnya.

"Sama-sama, Mas," ujar Anindia dengan seutas senyum manis, lalu menoleh ke arah Shaka yang wajahnya belepotan bubur. "Enak mamam nya ya, nak?" Lanjutnya sembari membersihkan wajah Shaka dengan tisu.

"Hmm... Udah punya anak romantisnya masih sama, ya?" Goda ibu Keanu, sementara ayah Keanu berpura-pura tidak melihat momen itu, dengan mengalihkan pandangannya pada secangkir kopi miliknya.

Anindia tersipu malu, wajahnya merona karena perkataan ibu mertuanya. "Ma, bisa aja deh," ujarnya.

"Iya dong, Ma. Mama sama Papa yang udah punya cucu aja makin romantis, kan?" Ujar Keanu santai, kembali menggoda ibunya.

Kedua orang tua Keanu tertawa, tidak menyangka dengan penuturan putranya. Sementara Anindia hanya tersenyum, menatap Keanu dengan gelengan singkat.

"Itu kunci langgengnya rumah tangga, nak," ujar ayah Keanu menimpali.

Mereka tertawa, merasa hangat dengan perbincangan dan canda pagi itu. Mereka kembali menikmati sarapannya, dengan Anindia yang makan sepiring berdua dengan Keanu.

"Ba-ba-ba!" Shaka yang berada di pangkuan Keanu pun langsung menarik perhatian dengan tingkahnya yang lucu, memukul-mukul tangan Keanu.

"Aktif banget ya cucu Oma ini," ujar ibu Keanu yang tersenyum melihat keaktifan cucu pertamanya.

Shaka, yang sedang berada di dalam pangkuan Keanu, tiba-tiba memukul piring yang di pegang Keanu. Mereka semua tertawa gemas melihat tingkah Shaka yang lagi aktif-aktifnya.

"Ya ampun nak, mau makan lagi?" Ujar Anindia dengan kekehan kecil.

Anindia mengambil alih Shaka dari pangkuan Keanu, membersihkan wajah anaknya dengan tisu basah. Bi Yeyen, membawa sebotol susu bayi untuk Shaka. Bayi laki-laki itu langsung memintanya dengan gerakan tangan dan ocehan yang tidak jelas.

"Non, ini susunya buat den muda Shaka," ujar Bi Yeyen sembari menyerahkan botol susu itu pada Anindia.

"Terima kasih ya, Bi," ujar Anindia sembari menerima botol susu itu.

Bi Yeyen mengangguk, lalu berpamitan kepada keluarga Bramantyo untuk kembali ke dapur. Shaka yang melihat botol susu di tangan Anindia langsung menggenggam botol susu itu dengan tangan mungilnya.

Anindia langsung membantu Shaka memegangi botol susu itu, dan Shaka langsung memasukkannya ke mulut dan meminumnya dengan lahap.

"Enak ya, nak? Pintarnya anak bunda, minum susu," ujar Anindia sembari mengusap kepala Shaka penuh kasih sayang.

"Perasaan baru kemarin kamu lahir, nak. Tau-tau udah gede aja," ujar Keanu dengan seutas senyum.

"Iya dong, ayah. Masa Shaka di suruh kecil terus, ya?" Ujar Anindia yang tatapannya fokus pada Shaka di pangkuannya.

Di rumah keluarga Bramantyo, semuanya terasa begitu berbeda semenjak kehadiran Shaka. Bayi kecil yang menggemaskan itu menambah suasana di antara mereka.

Sarapan pagi yang biasanya hanya terdengar perbincangan santai di antara mereka, kini terlihat lebih bahagia dengan kehadiran baby Shaka. Suara tawa dari Shaka membuat keempat orang dewasa itu merasa rileks setelah melewati aktivitasnya masing-masing.

Setelah selesai sarapan, Shaka langsung di ambil alih oleh ibu Keanu. Semenjak mereka memasuki dunia perkuliahan, Shaka di titipkan kepada sang ibu. Sebenarnya ayah Keanu menyarankan untuk diasuh oleh babysitter saja, tapi sang ibu menolak karena ia merasa mampu untuk mengasuh cucunya itu ketika Anindia dan Keanu sedang berada di kampus.

"Anak ganteng, bunda sama ayah pergi dulu ya? Shaka sama Oma dulu ya, nak," ujar Anindia sembari mengecup pipi gembul Shaka.

"Jangan nakal ya, nak. Jangan rewel, kasihan Oma," ujar Keanu yang juga mengecup pipi Shaka.

Ibu dan ayah Keanu sedang mengajak ngobrol Shaka, membuat Shaka tertawa. Anindia dan Keanu tersenyum ketika melihat Shaka yang begitu anteng bersama Oma dan Opa nya.

"Maaf ya, Ma. Nindi jadi ngerepotin Mama karena harus ngurus Shaka," ujar Anindia merasa tidak enak pada mertuanya itu.

Ibu Keanu menoleh, senyum manis terukir di wajahnya. "Tidak apa, sayang. Mama senang bisa mengurus Shaka. Kalian fokus kuliah aja, ya?" Ujarnya lembut.

"Mama sama sekali tidak merasa direpotkan, bagaimanapun Shaka kan cucu Mama," lanjut ibu Keanu.

"Benar nak, kalian fokus saja pada kuliah. Biar Mama yang mengurus Shaka," ujar ayah Keanu menimpali.

"Terima kasih, Ma, Pa," ujar Anindia dengan seutas senyum, merasa haru dengan perhatian kedua mertuanya.

"Kalau begitu kami berangkat dulu ya, Ma, Pa," ujar Keanu sembari mencium takzim tangan kedua orang tuanya, diikuti dengan Anindia yang melakukan hal yang sama.

"Iya, nak. Hati-hati di jalan," ujar ibu Keanu mengingatkan.

Anindia dan Keanu mengangguk serempak, setelah mengucapkan salam keduanya melangkahkan kakinya ke arah pintu.

Seperti masa-masa SMA, Keanu lebih memilih untuk menaiki motor sportnya dan menghabiskan waktu berdua bersama Anindia. Motor itu melaju membelah jalanan, angin yang berhembus menerpa wajah keduanya.

Keduanya sudah menikah dan sudah memiliki seorang anak. Tapi, ketika pergi ke kampus dengan motor seperti ini, mereka terkesan seperti sedang berpacaran. Wajar saja, karena keduanya masih berusia muda.

Tiba di parkiran kampus, keduanya langsung turun dari motornya. Mereka sama-sama kuliah di Universitas Trisakti Jakarta, dengan jurusan yang berbeda. Seperti yang telah mereka bahas sebelumnya, Anindia mengambil jurusan seni desain dan grafis, sementara Keanu mengambil jurusan manajemen bisnis.

"Semangat kuliahnya ya, my wife," ujar Keanu sembari mengacak pucuk kepala Anindia, ketika mereka hendak berpisah di koridor.

Anindia tersenyum, perhatian yang selalu diberikan oleh Keanu membuatnya merasa bahagia. "Semangat juga ya, my husband," ujarnya.

Keanu terkekeh, lalu keduanya berpisah menuju ke ruang kelas masing-masing. Mereka berdua menjalankan peran ganda, dimana ketika di rumah menjadi orang tua untuk Shaka, dan ketika di kampus mereka menjadi mahasiswa dan mahasiswi yang sedang memperjuangkan ilmu.

"Morning, Anindia," ujar suara seseorang, ketika Anindia hendak melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelas.

^^^Bersambung...^^^

Terpopuler

Comments

Tio Buki

Tio Buki

Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏🙏

2026-07-27

1

Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine

iya enak, ma

2026-07-29

0

Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine

MasyaAllah

2026-07-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Peran ganda
2 Bab 2: Posesif Keanu yang tak pernah berubah
3 Bab 3: Bahas proyek, bahas rasa
4 Bab 4: Rasa yang akhirnya bicara
5 Bab 5: Kabar di ujung subuh
6 Bab 6: Di antara cemas dan harapan
7 Bab 7: Antara tugas dan perasaan
8 Bab 8: Malam yang berganti peran
9 Bab 9: Lelah yang tak terucap
10 Bab 10: Sehangat doa subuh
11 Bab 11: Quality time bersama keluarga
12 Bab 12: Saat realita dan bahagia berjalan bersama
13 Bab 13: Menjenguk Yudhi
14 Bab 14: Yang jauh tapi tetap dekat
15 Bab 15: Tak perlu tes DNA
16 Bab 16: Ketika Anindia cemburu
17 Bab 17: Anindia ngambek, Keanu gemas
18 Bab 18: Menemani hingga terlelap
19 Bab 19: Sama-sama salting
20 Bab 20: Karena seseorang, untuk seseorang
21 Bab 21: Di bawah atap kantin
22 Bab 22: Hanya satu pilihan
23 Bab 23: Langit malam dan orang tersayang
24 Bab 24: Langit malam dan orang tersayang (part 2)
25 Bab 25: Minggu pagi keluarga kecil
26 Bab 26: Ketika masa lalu datang lagi
27 Bab 27: Di balik ketenangan
28 Bab 28: Jejak luka lama
29 Bab 29: Jejak luka lama (Part 2)
30 Bab 30: Kembali ke rutinitas
31 Bab 31: Sore, tugas, dan kamu
32 Bab 32: Jangan sakit, jagoan kecil
33 Bab 33: Satu kamar, satu kekhawatiran
34 Bab 34: Sisa kantuk semalam
35 Bab 35: Ketika Keanu gagal fokus
36 Bab 36: Satu frekuensi
37 Bab 37: Rindu masa SMA
38 Bab 38: Langkah kecil itu
39 Bab 39: Oleh-oleh dan cerita
40 Bab 40: Malam dan sebuah video call
41 Bab 41: Pengumuman di mading kampus
42 Bab 42: Langkah baru
43 Bab 43: Sehangat jaket itu
44 Bab 44: Secepat waktu berlalu
45 Bab 45: Saling mengerti
46 Bab 46: Awal sebuah tanggung jawab
47 Bab 47: Di sela waktu yang menunggu
48 Bab 48: Sebuah kebaikan sederhana
49 Bab 49: Hari yang dinanti
50 Bab 50: Setelah hari yang panjang
51 Bab 51: Masalah yang belum usai
52 Bab 52: Di balik rasa khawatir
53 Bab 53: Mencari jalan keluar
54 Bab 54: Si kecil yang posesif
55 Bab 55: Langkah pertama sang pewaris
56 Bab 56: Ruang laboratorium desain
57 Bab 57: Cerita di ujung hari
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1: Peran ganda
2
Bab 2: Posesif Keanu yang tak pernah berubah
3
Bab 3: Bahas proyek, bahas rasa
4
Bab 4: Rasa yang akhirnya bicara
5
Bab 5: Kabar di ujung subuh
6
Bab 6: Di antara cemas dan harapan
7
Bab 7: Antara tugas dan perasaan
8
Bab 8: Malam yang berganti peran
9
Bab 9: Lelah yang tak terucap
10
Bab 10: Sehangat doa subuh
11
Bab 11: Quality time bersama keluarga
12
Bab 12: Saat realita dan bahagia berjalan bersama
13
Bab 13: Menjenguk Yudhi
14
Bab 14: Yang jauh tapi tetap dekat
15
Bab 15: Tak perlu tes DNA
16
Bab 16: Ketika Anindia cemburu
17
Bab 17: Anindia ngambek, Keanu gemas
18
Bab 18: Menemani hingga terlelap
19
Bab 19: Sama-sama salting
20
Bab 20: Karena seseorang, untuk seseorang
21
Bab 21: Di bawah atap kantin
22
Bab 22: Hanya satu pilihan
23
Bab 23: Langit malam dan orang tersayang
24
Bab 24: Langit malam dan orang tersayang (part 2)
25
Bab 25: Minggu pagi keluarga kecil
26
Bab 26: Ketika masa lalu datang lagi
27
Bab 27: Di balik ketenangan
28
Bab 28: Jejak luka lama
29
Bab 29: Jejak luka lama (Part 2)
30
Bab 30: Kembali ke rutinitas
31
Bab 31: Sore, tugas, dan kamu
32
Bab 32: Jangan sakit, jagoan kecil
33
Bab 33: Satu kamar, satu kekhawatiran
34
Bab 34: Sisa kantuk semalam
35
Bab 35: Ketika Keanu gagal fokus
36
Bab 36: Satu frekuensi
37
Bab 37: Rindu masa SMA
38
Bab 38: Langkah kecil itu
39
Bab 39: Oleh-oleh dan cerita
40
Bab 40: Malam dan sebuah video call
41
Bab 41: Pengumuman di mading kampus
42
Bab 42: Langkah baru
43
Bab 43: Sehangat jaket itu
44
Bab 44: Secepat waktu berlalu
45
Bab 45: Saling mengerti
46
Bab 46: Awal sebuah tanggung jawab
47
Bab 47: Di sela waktu yang menunggu
48
Bab 48: Sebuah kebaikan sederhana
49
Bab 49: Hari yang dinanti
50
Bab 50: Setelah hari yang panjang
51
Bab 51: Masalah yang belum usai
52
Bab 52: Di balik rasa khawatir
53
Bab 53: Mencari jalan keluar
54
Bab 54: Si kecil yang posesif
55
Bab 55: Langkah pertama sang pewaris
56
Bab 56: Ruang laboratorium desain
57
Bab 57: Cerita di ujung hari

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!