Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi

​Udara di Lembah Kematian seberat timah dan berbau seperti belerang busuk. Kabut hijau tipis—miasma beracun alami—terus-menerus merayap di atas tanah yang gersang.

​Kereta tahanan berhenti dengan sentakan keras. Lin Tian ditendang keluar oleh penjaga, tubuhnya menghantam tanah berbatu yang dingin. Luka di perutnya, yang baru saja mengering karena udara malam, kembali sobek dan mengeluarkan darah.

​"Bangun, babi malang!"

​Sebuah cambuk kulit berduri mencambuk punggung Lin Tian, merobek jubah abu-abunya dan meninggalkan bilur berdarah. Di hadapannya berdiri Mandor Tie, seorang pria bertubuh gempal dengan wajah penuh bekas luka, seorang kultivator tahap Pengumpulan Qi Tingkat 5 yang dibuang ke sini karena pelanggaran ringan bertahun-tahun lalu. Di tangannya, sepotong batu hitam pekat memancarkan aura suram.

​"Selamat datang di Tambang Batu Hitam. Di sini, status kalian sebagai murid sekte sudah mati. Kalian adalah budak penggali," geram Mandor Tie, matanya menyapu Lin Tian dan beberapa tahanan lain yang gemetar. "Kalian harus menyerahkan sepuluh bongkahan Batu Hitam setiap matahari terbenam. Kurang satu batu, jatah makan kalian dipotong. Kurang tiga batu, kalian tidur di luar barak untuk dihisap kabut beracun. Mengerti?!"

​Lin Tian tidak menjawab. Ia hanya menunduk, mengertakkan gigi, dan perlahan bangkit berdiri. Tangannya yang gemetar menerima sebuah beliung tambang berkarat yang dilemparkan penjaga.

​Setiap tarikan napas di tempat ini terasa seperti menghirup pecahan kaca. Miasma itu perlahan meracuni paru-paru dan menyumbat sisa-sisa meridian di tubuh Lin Tian. Tanpa Dantian untuk menyaring dan memurnikan racun tersebut, kematian hanyalah masalah waktu. Sebulan? Mungkin dua minggu.

​Tanpa membuang tenaga untuk berbicara, Lin Tian menyeret kakinya memasuki terowongan tambang yang gelap gulita. Di dalam, suara dentingan beliung beradu dengan batu terdengar bersahut-sahutan seperti rintihan iblis di neraka. Para budak tambang yang tubuhnya kurus kering bagai tengkorak hidup menatapnya dengan mata kosong.

​Lin Tian tahu ia tidak bisa bersaing dengan budak lain di terowongan utama. Tubuhnya terlalu lemah. Jika ia mencoba menambang di sana, batu hasil jerih payahnya pasti akan dirampas oleh penambang yang lebih kuat. Ia harus masuk lebih dalam, ke area terowongan tua yang ditelantarkan karena rawan runtuh.

​Semakin dalam ia melangkah, udara semakin tipis dan dingin. Namun anehnya, kabut beracun di sini mulai menipis.

​Trak! Trak!

​Lin Tian mulai mengayunkan beliungnya ke dinding batu. Setiap ayunan mengirimkan gelombang rasa sakit yang menyengat ke perutnya. Keringat dingin bercucuran di dahinya. Pandangannya berkunang-kunang.

​Satu ayunan untuk Lin Xue...

Dua ayunan untuk Zhao Feng...

Tiga ayunan untuk Sekte Awan Hijau yang munafik...

​Kebencian menjadi satu-satunya bahan bakar yang menggerakkan otot-ototnya yang mati rasa.

​Hingga pada ayunan ke seratus, beliung karatan itu menghantam sesuatu yang keras dengan suara Deng! yang nyaring. Bukan suara batu yang pecah, melainkan logam beradu logam.

​Tiba-tiba, retakan panjang menjalar di dinding gua. Sebelum Lin Tian sempat bereaksi, tanah di bawah kakinya runtuh. Ia terperosok ke dalam kegelapan, berguling menuruni lereng batu tajam, sebelum akhirnya terhempas keras di lantai berbatu yang rata.

​"Uhuk!" Lin Tian memuntahkan seteguk darah hitam. Seluruh tulangnya serasa remuk.

​Ia mencoba mengatur napasnya di tengah kegelapan pekat. Namun, ada yang aneh. Miasma beracun benar-benar lenyap di ruang bawah tanah ini. Sebagai gantinya, udara dipenuhi oleh tekanan energi yang sangat dingin, tajam, dan memotong, seolah-olah ribuan pedang tak kasat mata ditodongkan ke tenggorokannya. Ini adalah Niat Pedang (Sword Intent) yang murni!

​Lin Tian merogoh saku jubahnya, mengeluarkan batu pendar kecil—perlengkapan standar para penambang—lalu mengangkatnya.

​Cahaya kebiruan dari batu pendar menerangi ruangan rahasia tersebut, mengungkap pemandangan yang membuat napas Lin Tian terhenti.

​Di tengah ruangan, duduk bersila sebuah kerangka manusia. Namun, tulang-tulang itu tidak berwarna putih, melainkan abu-abu gelap dengan kilau metalik, menyerupai baja yang ditempa ribuan kali. Di pangkuan kerangka itu, bertumpu sebilah pedang hitam legam yang ujungnya tertancap ke lantai batu. Tidak ada aura dewa atau makhluk mistis; yang ada hanyalah sisa-sisa dari seorang manusia purba yang kehendak bertarungnya menolak untuk memudar meski dagingnya telah membusuk ditelan zaman.

​Pandangan Lin Tian beralih ke dinding batu di belakang kerangka tersebut. Di sana, tertulis rentetan aksara kuno yang diukir dalam-dalam. Bukan menggunakan pahat, melainkan diukir langsung menggunakan jari-jari yang diselimuti Niat Pedang!

​"Dantian adalah kelemahan fana. Lautan Qi adalah sangkar yang membatasi."

​"Aku, Pedang Gila Gu Chen, menghabiskan tiga ratus tahun memutus meridianku dan menghancurkan Dantianku untuk membuktikan satu hal: Tubuh manusia adalah sarung pedang terbaik di bawah kolong langit!"

​"Kepada siapa pun yang menemukan makamku. Jika Dantianmu utuh, enyahlah, karena seni ini akan meledakkan tubuhmu berkeping-keping. Namun jika kau adalah manusia cacat yang telah kehilangan segalanya dan menyimpan dendam setinggi langit, maka pelajari Seni Pedang Sembilan Kematian ini."

​Mata Lin Tian membelalak. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena kegembiraan yang meledak-ledak. Jantungnya bergemuruh liar.

​"Dantian adalah sangkar... Tubuh adalah sarung pedang..." gumam Lin Tian, membaca baris-baris selanjutnya dengan rakus.

​Seni Pedang Sembilan Kematian bukanlah teknik untuk menyerap energi spiritual lembut (Qi) alam. Seni ini menuntut praktisinya untuk menyerap energi destruktif, racun, Niat Pedang yang mematikan, atau aura pembunuhan langsung ke dalam daging dan tulang. Memaksa tubuh hancur dan menyusun dirinya kembali menjadi senjata dewa.

​Sembilan Kematian. Sembilan siksaan yang melampaui batas kewarasan.

​Langkah pertama: Besi Penempa Daging. Menarik Niat Pedang dari lingkungan sekitar untuk menyayat otot dan urat saraf dari dalam, mengubah kelemahan menjadi ketahanan absolut. Jika kemauannya goyah walau sedetik, Niat Pedang itu akan mengiris jantungnya dari dalam.

​Bagi orang waras, ini adalah bunuh diri.

​Lin Tian menatap perutnya yang berbalut kain bernoda darah, lalu menatap kerangka Gu Chen. Ia membungkuk perlahan, bersujud tiga kali di hadapan sisa-sisa pendekar pedang kuno itu.

​"Senior Gu Chen," bisik Lin Tian, suaranya dingin dan stabil. "Junior Lin Tian hari ini mengambil warisanmu. Jika aku gagal dan mati, biarlah tulangku menemani tulangmu di gua tanpa cahaya ini."

​Lin Tian duduk bersila dalam posisi teratai. Ia menutup matanya dan mengikuti mantra pernapasan dari ukiran di dinding.

​Tidak butuh waktu lama bagi Niat Pedang purba yang memenuhi ruangan itu untuk merespons. Energi tak kasat mata yang setajam silet mulai mengalir perlahan melalui pori-porinya, langsung menuju otot dan meridiannya yang terluka.

​ZRAASH!

​Lin Tian membuka mulutnya, memekik tanpa suara. Rasanya seolah jutaan semut yang membawa belati kecil merayap di bawah kulitnya, mencincang dagingnya perlahan-lahan. Pembuluh darah di leher dan dahinya menonjol, nyaris pecah. Darah mulai menetes dari hidung, mata, dan telinganya.

​Sakit! Sakit yang membuat kematian terasa seperti hadiah yang indah!

​Namun di tengah siksaan mengerikan itu, di bawah wajahnya yang berlumuran darah, bibir Lin Tian melengkung membentuk seringai buas.

​Biarkan sakit ini menempaku. Biarkan siksaan ini menjadi taringku.

Terpopuler

Comments

dewa pedang

dewa pedang

sampe GK di ratakan tuh sekte keterlaluan

2026-08-13

0

king Rud

king Rud

anak Soleh emang🔪💪

2026-08-12

0

Durian Anget

Durian Anget

gu chensa😹

2026-07-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Hujan Darah di Awan Hijau
2 Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi
3 Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah
4 Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah
5 Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara
6 Bab 6: Teror Tangan Kosong dan Rahasia Batu Darah
7 Bab 7: Kedalaman Barat dan Tahap Baja Pembelah Urat
8 Bab 8: Lonceng Kematian di Gerbang Awan
9 Bab 9: Lautan Darah di Tangga Awan
10 Bab 10: Pengorbanan di Puncak Awan Hukuman
11 Bab 11: Runtuhnya Kesombongan
12 Bab 12: Suaka di Balik Belantara dan Taring Besi
13 Bab 13: Bayangan Pembantai
14 Bab 14: Evolusi Lengan Kanan
15 Bab 15: Pintu Berdarah
16 Bab 16: Mekarnya Teratai Darah dan Roh Pedang Kuno
17 Bab 17: Inti Kekosongan dan Penyerapan Biji Teratai
18 Bab 18: Hukum Ketiadaan dan Gerbang Istana Perunggu
19 Bab 19: Takhta Pedang Patah
20 Bab 20: Langit Hitam di Atas Musim Gugur
21 Bab 21: Harga Mutlak Sebuah Kekuatan
22 Bab 22: Kota Perbatasan Batu Darah
23 Bab 23: Penginapan Tong Hitam
24 Bab 24: Gelar Iblis Arena dan Mata Sang Penilai
25 Bab 25: Pasar Gelap
26 Bab 26: Arena Puncak Darah
27 Bab 27: Pembantaian Tanpa Suara
28 Bab 28: Kristal Tulang Naga
29 Bab 29: Menara Ilusi dan Kabut Pembusuk Jiwa
30 Bab 30: Tekanan Inti Emas
31 Bab 31: Batas Kerapuhan dan Segel Kristal Tulang Naga
32 Bab 32: Geladak Bawah dan Hukum Batu Bara
33 Bab 33: Lorong Api dan Pencuri Bayangan
34 Bab 34: Penawar Matahari
35 Bab 35: Kesepakatan dalam Debu
36 Bab 36: Jantung Tungku Api
37 Bab 37: Menembus Kanopi dan Akar Hutan Kabut
38 Bab 38: Gema dari Reruntuhan
39 Bab 39: Tarian Hantu di Balik Kabut
40 Bab 40: Zona Kematian dan Beban Tulang Naga
41 Bab 41: Batas Rimba dan Pembantaian Tanpa Suara
42 Bab 42: Transaksi Logis
43 Bab 43: Distrik Lumpur
44 Bab 44: Keganasan Presisi
45 Bab 45: Penempaan Organ Fana
46 Bab 46: Darah di Bawah Hujan
47 Bab 47: Tuan Muda Mo
48 Bab 48: Ranting Dedalu
49 Bab 49: Tekanan Tak Kasat Mata
50 Bab 50: Gemerlap Seratus Harta
51 Bab 51: Pelajaran Pembantaian
52 Bab 52: Kepadatan Bintang dan Undangan di Atas Awan
53 Bab 53: Darah di Arena Awan
54 Bab 54: Perbendaharaan Kota
55 Bab 55: Ujung Pedang Ketiadaan
56 Bab 56: Ketakutan di Kediaman Zhao
57 Bab 57: Fajar Berdarah dan Lonceng Kematian Klan Zhao
58 Bab 58: Langit yang Terbelah
59 Bab 59: Jaring Merah Tanah Suci
60 Bab 60: Kapal Perang di Atas Awan
61 Runtuhnya Langit dan Tarian Pedang Ketiadaan
62 Kepanikan Benua Tengah dan Langkah Menuju Tanah Terbuang
63 Badai Pasir Merah dan Hukum Tanah Terbuang
64 Kota Tanpa Hukum dan Tungku Tulang Hitam
65 Umpan Satu Juta dan Kertas Perkamen Darah
66 Kepompong Darah
67 Radius Kematian dan Badai Pasir Beracun
68 Pilar Keputusasaan dan Pesan Rantai Besi
69 Tarian Pedang Merah dan Tangga Mayat Pilar Kedua
70 Konspirasi Delapan Penguasa dan Cermin Jiwa Ketiadaan
71 Langit Abu-Abu dan Tumbangnya Delapan Pilar Emas
72 Tinju Tulang Naga dan Hancurnya Sayap Iblis
73 Tahta Tulang Hitam dan Panggilan Medan Perang Kuno
74 Formasi Tanpa Langit dan Bayangan Armada Utara
75 Meriam Pemusnah Langit
76 Domain Musim Dingin
77 Guncangan Benua Tengah
78 Runtuhnya Gerbang Langit
79 Pijakan Ketiadaan dan Deklarasi Tiga Tanah Suci
80 Benturan Emas dan Ketiadaan di Lembah Pedang
81 Awan Hitam di Atas Gerbang Langit
82 Rantai Semesta dan Mata Langit yang Terbuka
83 Menelan Murka Langit
84 Tunduknya Tiga Tanah Suci
85 Aturan Baru dan Misteri Pintu Mengambang
86 Gerbang Alam Atas
87 Beratnya Langit Baru
88 Darah Pertama di Alam Atas
89 Desa Batu Hitam dan Rahasia Energi Bintang
90 Meminjam Bintang dan Hancurnya Cakar Besi
91 Penyerbuan Malam dan Kekuatan Inti Bintang
92 Harta Karun Cakar Besi dan Peta Benua Atas
93 Jalan Menuju Kota Bintang Bulan dan Pengkhianatan Karavan
94 Memasuki Gerbang Kota Bintang Bulan
95 Jalur Tikus Berdarah dan Panen di Pasar Gelap
96 Rumah Lelang Bintang Langit dan Pecahan Bintang Mati
97 Menelan Bintang Mati dan Penyergapan Awan Hitam
98 Malam Pemurnian dan Kemarahan Awan Hitam
99 Lonceng Kematian di Bukit Awan Hitam
100 Perbendaharaan Awan Hitam
101 Istana Melayang dan Tawaran Sang Tuan Kota
102 Melahap Sang Jiwa Bintang
103 Memori Sang Penguasa Lama dan Bayangan Kekaisaran
104 Kapal Udara Matahari Ungu
105 Kapal Induk Rampasan dan Peta Penaklukan Kekaisaran
106 Badai yang Tertunda
107 Runtuhnya Tembok Angin Besi
108 Pesan Keputusasaan
109 Gigitan Pertama pada Langit Kekaisaran
110 Kejatuhan Sang Kaisar dan Inti Bintang Runtuh
111 Evolusi Tahap Kedua dan Utusan dari Domain Suci
112 Penjara di Dasar Kawah dan Penguasa Pedang Iblis
113 Pasukan Iblis yang Bangkit
114 Pembantaian Emas dan Runtuhnya Langit Suci
115 Tiga Bintang yang Padam
116 Melangkah ke Alam Dewa
117 Pijakan Pertama di Surga
118 Darah Pertama di Lembah Terlarang
119 Utusan Gagak Besi dan Evolusi Sang Putri Es
120 Kemurkaan Gagak Besi
121 Penjara Salju Seribu Pedang
122 Hukuman Udara Terbakar
123 Runtuhnya Kekaisaran Gagak
124 Kapal Awan Suci
125 Armada Kaca Abyss dan Murka Sang Penguasa Awan
126 Pantulan Kehampaan dan Runtuhnya Langit Kaca
127 Puncak Langit Pertama
128 Gerbang Dewa Bintang
129 Hutan Bintang Ungu
130 Penolakan Ilahi dan Rantai Keterbatasan
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Bab 1: Hujan Darah di Awan Hijau
2
Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi
3
Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah
4
Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah
5
Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara
6
Bab 6: Teror Tangan Kosong dan Rahasia Batu Darah
7
Bab 7: Kedalaman Barat dan Tahap Baja Pembelah Urat
8
Bab 8: Lonceng Kematian di Gerbang Awan
9
Bab 9: Lautan Darah di Tangga Awan
10
Bab 10: Pengorbanan di Puncak Awan Hukuman
11
Bab 11: Runtuhnya Kesombongan
12
Bab 12: Suaka di Balik Belantara dan Taring Besi
13
Bab 13: Bayangan Pembantai
14
Bab 14: Evolusi Lengan Kanan
15
Bab 15: Pintu Berdarah
16
Bab 16: Mekarnya Teratai Darah dan Roh Pedang Kuno
17
Bab 17: Inti Kekosongan dan Penyerapan Biji Teratai
18
Bab 18: Hukum Ketiadaan dan Gerbang Istana Perunggu
19
Bab 19: Takhta Pedang Patah
20
Bab 20: Langit Hitam di Atas Musim Gugur
21
Bab 21: Harga Mutlak Sebuah Kekuatan
22
Bab 22: Kota Perbatasan Batu Darah
23
Bab 23: Penginapan Tong Hitam
24
Bab 24: Gelar Iblis Arena dan Mata Sang Penilai
25
Bab 25: Pasar Gelap
26
Bab 26: Arena Puncak Darah
27
Bab 27: Pembantaian Tanpa Suara
28
Bab 28: Kristal Tulang Naga
29
Bab 29: Menara Ilusi dan Kabut Pembusuk Jiwa
30
Bab 30: Tekanan Inti Emas
31
Bab 31: Batas Kerapuhan dan Segel Kristal Tulang Naga
32
Bab 32: Geladak Bawah dan Hukum Batu Bara
33
Bab 33: Lorong Api dan Pencuri Bayangan
34
Bab 34: Penawar Matahari
35
Bab 35: Kesepakatan dalam Debu
36
Bab 36: Jantung Tungku Api
37
Bab 37: Menembus Kanopi dan Akar Hutan Kabut
38
Bab 38: Gema dari Reruntuhan
39
Bab 39: Tarian Hantu di Balik Kabut
40
Bab 40: Zona Kematian dan Beban Tulang Naga
41
Bab 41: Batas Rimba dan Pembantaian Tanpa Suara
42
Bab 42: Transaksi Logis
43
Bab 43: Distrik Lumpur
44
Bab 44: Keganasan Presisi
45
Bab 45: Penempaan Organ Fana
46
Bab 46: Darah di Bawah Hujan
47
Bab 47: Tuan Muda Mo
48
Bab 48: Ranting Dedalu
49
Bab 49: Tekanan Tak Kasat Mata
50
Bab 50: Gemerlap Seratus Harta
51
Bab 51: Pelajaran Pembantaian
52
Bab 52: Kepadatan Bintang dan Undangan di Atas Awan
53
Bab 53: Darah di Arena Awan
54
Bab 54: Perbendaharaan Kota
55
Bab 55: Ujung Pedang Ketiadaan
56
Bab 56: Ketakutan di Kediaman Zhao
57
Bab 57: Fajar Berdarah dan Lonceng Kematian Klan Zhao
58
Bab 58: Langit yang Terbelah
59
Bab 59: Jaring Merah Tanah Suci
60
Bab 60: Kapal Perang di Atas Awan
61
Runtuhnya Langit dan Tarian Pedang Ketiadaan
62
Kepanikan Benua Tengah dan Langkah Menuju Tanah Terbuang
63
Badai Pasir Merah dan Hukum Tanah Terbuang
64
Kota Tanpa Hukum dan Tungku Tulang Hitam
65
Umpan Satu Juta dan Kertas Perkamen Darah
66
Kepompong Darah
67
Radius Kematian dan Badai Pasir Beracun
68
Pilar Keputusasaan dan Pesan Rantai Besi
69
Tarian Pedang Merah dan Tangga Mayat Pilar Kedua
70
Konspirasi Delapan Penguasa dan Cermin Jiwa Ketiadaan
71
Langit Abu-Abu dan Tumbangnya Delapan Pilar Emas
72
Tinju Tulang Naga dan Hancurnya Sayap Iblis
73
Tahta Tulang Hitam dan Panggilan Medan Perang Kuno
74
Formasi Tanpa Langit dan Bayangan Armada Utara
75
Meriam Pemusnah Langit
76
Domain Musim Dingin
77
Guncangan Benua Tengah
78
Runtuhnya Gerbang Langit
79
Pijakan Ketiadaan dan Deklarasi Tiga Tanah Suci
80
Benturan Emas dan Ketiadaan di Lembah Pedang
81
Awan Hitam di Atas Gerbang Langit
82
Rantai Semesta dan Mata Langit yang Terbuka
83
Menelan Murka Langit
84
Tunduknya Tiga Tanah Suci
85
Aturan Baru dan Misteri Pintu Mengambang
86
Gerbang Alam Atas
87
Beratnya Langit Baru
88
Darah Pertama di Alam Atas
89
Desa Batu Hitam dan Rahasia Energi Bintang
90
Meminjam Bintang dan Hancurnya Cakar Besi
91
Penyerbuan Malam dan Kekuatan Inti Bintang
92
Harta Karun Cakar Besi dan Peta Benua Atas
93
Jalan Menuju Kota Bintang Bulan dan Pengkhianatan Karavan
94
Memasuki Gerbang Kota Bintang Bulan
95
Jalur Tikus Berdarah dan Panen di Pasar Gelap
96
Rumah Lelang Bintang Langit dan Pecahan Bintang Mati
97
Menelan Bintang Mati dan Penyergapan Awan Hitam
98
Malam Pemurnian dan Kemarahan Awan Hitam
99
Lonceng Kematian di Bukit Awan Hitam
100
Perbendaharaan Awan Hitam
101
Istana Melayang dan Tawaran Sang Tuan Kota
102
Melahap Sang Jiwa Bintang
103
Memori Sang Penguasa Lama dan Bayangan Kekaisaran
104
Kapal Udara Matahari Ungu
105
Kapal Induk Rampasan dan Peta Penaklukan Kekaisaran
106
Badai yang Tertunda
107
Runtuhnya Tembok Angin Besi
108
Pesan Keputusasaan
109
Gigitan Pertama pada Langit Kekaisaran
110
Kejatuhan Sang Kaisar dan Inti Bintang Runtuh
111
Evolusi Tahap Kedua dan Utusan dari Domain Suci
112
Penjara di Dasar Kawah dan Penguasa Pedang Iblis
113
Pasukan Iblis yang Bangkit
114
Pembantaian Emas dan Runtuhnya Langit Suci
115
Tiga Bintang yang Padam
116
Melangkah ke Alam Dewa
117
Pijakan Pertama di Surga
118
Darah Pertama di Lembah Terlarang
119
Utusan Gagak Besi dan Evolusi Sang Putri Es
120
Kemurkaan Gagak Besi
121
Penjara Salju Seribu Pedang
122
Hukuman Udara Terbakar
123
Runtuhnya Kekaisaran Gagak
124
Kapal Awan Suci
125
Armada Kaca Abyss dan Murka Sang Penguasa Awan
126
Pantulan Kehampaan dan Runtuhnya Langit Kaca
127
Puncak Langit Pertama
128
Gerbang Dewa Bintang
129
Hutan Bintang Ungu
130
Penolakan Ilahi dan Rantai Keterbatasan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!