Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara

​Berita tentang kejatuhan Mandor Tie menyebar lebih cepat daripada miasma beracun di Lembah Kematian. Esok paginya, atmosfer di Tambang Batu Hitam terasa berbeda. Para budak yang biasanya menatap kosong, kini mencuri pandang penuh ketakutan bercampur kekaguman ke arah Lin Tian yang tengah membelah sepotong roti keras untuk dibagi dengan Lin Chen.

​Mandor Tie duduk jauh di kursinya, tatapannya berkilat antara kebencian dan keengganan. Bekas luka di wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Sejak malam itu, ia memutuskan untuk bermain aman: Lin Tian mendapat keistimewaan tak tertulis, asalkan kuota batu mewah itu terus mengalir. Bagi Mandor Tie, selama ia bisa menyuap para tetua dengan batu berkualitas tinggi, nasib satu atau dua budak bukanlah urusannya.

​Lin Tian menyadari keseimbangan rapuh ini. Ini adalah masa inkubasinya.

​Tiga bulan berlalu di kedalaman lembah yang sunyi.

​Setiap pagi, Lin Tian dan Lin Chen akan memasuki terowongan lama yang kini ditandai oleh budak lain sebagai "wilayah mematikan yang selalu longsor". Di kedalaman gua tanpa cahaya itu, Lin Tian kembali duduk bersila di depan kerangka Senior Gu Chen.

​Bulan pertama adalah neraka. Setiap penyerapan Niat Pedang dari sisa-sisa Gu Chen memotong kulitnya dari dalam. Rasa sakit itu membuat Lin Tian memuntahkan darah berkali-kali. Namun, seiring berjalannya waktu, siksaan itu mulai terasa tumpul.

​Bulan kedua, kulit Lin Tian memancarkan kilau keperakan halus saat tersorot cahaya. Otot-ototnya memadat seperti urat kawat, dan tulang-tulangnya mengeluarkan suara dentingan tajam saat bergerak, bagai pedang yang diasah batu.

​Di bulan ketiga, keajaiban aneh terjadi. Dantiannya yang hancur—lubang menganga yang dulunya menyiksa jiwanya—mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak masuk akal. Serpihan Niat Pedang yang liar tidak lagi sekadar berkeliaran di pembuluh darahnya; mereka perlahan berkumpul, memadat, dan membentuk sebuah titik cahaya mungil, tajam bak ujung jarum, tepat di tengah puing-puing Dantiannya.

​"Seni Pedang Sembilan Kematian... tidak sekadar menghancurkan tubuh," gumam Lin Tian pada hari ke-90. "Ia memusnahkan wadah lama, untuk menempa sebuah inti pedang baru dari sari pati kematian itu sendiri."

​Kekuatan Lin Tian melonjak pesat. Meskipun ia tidak memancarkan fluktuasi Qi seperti kultivator biasa, tenaga fisik murninya kini setara dengan seorang kultivator Pengumpulan Qi Tingkat 7. Ia bisa menghancurkan batu sebesar gubuk hanya dengan satu pukulan ringan.

​Sambil Lin Tian berkultivasi, Lin Chen bertugas memilah Batu Hitam yang terus berjatuhan akibat latihan kakaknya. Awalnya, tubuh kurus Lin Chen tampak tak bisa bertahan lama. Namun, kedekatan dengan Lin Tian yang terus memancarkan aura tajam secara perlahan memengaruhi Lin Chen. Tanpa disadari, aura pedang yang melimpah dari latihan Lin Tian mulai mengikis sebagian miasma di paru-paru Lin Chen, membuat napas remajanya berangsur normal.

​Hari ini, seperti biasa, Lin Tian membuka mata. Latihan Besi Penempa Daging tahap pertama telah mencapai kesempurnaan. Ia merasakan dorongan kuat untuk menembus ke tahap kedua: Baja Pembelah Urat.

​Namun, sebelum ia bisa memusatkan pikirannya lagi, sayup-sayup terdengar suara gema langkah kaki tergesa-gesa dari lorong terowongan luar, diikuti dentang logam dan teriakan marah.

​Lin Tian menyipitkan mata, bangkit berdiri. Kilatan perak di kulitnya meredup, kembali ke warna kulit manusia normal, meski dipenuhi debu tambang.

​"Tunggu di sini, Chen," bisiknya, melangkah keluar menembus lubang kecil yang ia buat untuk keluar masuk gua rahasia tersebut.

​Di terowongan persimpangan, situasinya kacau. Sejumlah budak veteran, termasuk Ma San, mundur dengan wajah penuh teror, meninggalkan beberapa keranjang batu yang isinya berserakan.

​Di hadapan mereka, berdiri tiga sosok yang sama sekali tidak terlihat seperti penghuni Tambang Batu Hitam. Mereka mengenakan seragam sutra rapi bercorak awan perak di lengan baju mereka—seragam murid dalam Sekte Awan Hijau!

​Yang memimpin mereka adalah seorang pemuda tampan dengan rambut diikat rapi, raut wajahnya pongah. Sebuah liontin batu giok berbentuk naga kecil menggantung di pinggangnya. Di tangannya, sebilah pedang panjang bersinar dengan cahaya spiritual yang menakutkan, sesekali melepaskan percikan api biru.

​"Kalian budak menjijikkan! Aku tanya sekali lagi!" pemuda tampan itu membentak, suaranya mengandung tekanan Qi Tingkat 8 yang membuat para budak terjatuh merintih. "Di mana terowongan barat?! Di mana batu-batu dengan corak darah itu disembunyikan?!"

​Ma San merangkak maju, gemetar hebat. "Tuan Muda Su... A-Ampun! Terowongan barat sudah runtuh minggu lalu! T-Tidak ada yang berani masuk ke sana, banyak yang mati tergencet bebatuan!"

​Tuan Muda Su mendengus. "Runtuh? Kebetulan sekali, saat rumor beredar bahwa Batu Darah Yin—harta langka yang kubutuhkan untuk menembus Pembangunan Pondasi—ditemukan di sana, terowongannya runtuh? Kalian babi tanah pasti menyembunyikannya untuk dijual ke sekte luar!"

​SRAK!

​Sebuah kilatan api biru melesat. Lengan kiri Ma San putus seketika, terlempar ke dinding dengan suara basah.

​Ma San menjerit melengking, darah menyembur, berguling-guling di tanah memegangi pangkal lengannya yang buntung.

​"Ini peringatan terakhir," desis Su, mengarahkan pedangnya yang masih meneteskan darah ke leher budak lain. "Bawa aku ke terowongan barat, atau aku akan membantai kalian semua dan mencarinya sendiri."

​Dua murid pengikut Su tertawa sinis, menikmati tontonan brutal tersebut. Mereka adalah elit, dan di mata mereka, nyawa budak tambang lebih rendah dari serangga.

​Lin Tian mengawasi dari balik bayangan stalaktit. Matanya tertuju pada liontin batu giok di pinggang Tuan Muda Su.

​Su Ming, batin Lin Tian dingin. Ia tahu siapa pemuda itu. Su Ming adalah salah satu kaki tangan terdekat Zhao Feng—pria yang telah menghancurkan Dantiannya dan membawa lari adiknya. Fakta bahwa Su Ming turun langsung ke lembah kotor ini berarti Batu Darah Yin itu sangat penting, mungkin bahkan berhubungan dengan Zhao Feng.

​Saat Su Ming hendak memenggal kepala budak kedua, sebuah batu seukuran kepalan tangan melesat dari kegelapan dengan kecepatan mengerikan, membelah udara dengan suara siulan tajam.

​BANG!

​Batu itu menghantam bilah pedang Su Ming tepat sebelum menyentuh leher si budak. Benturan itu sangat kuat hingga pedang berlapis spiritual tersebut memantul keras, menggetarkan pergelangan tangan Su Ming hingga mati rasa.

​"Siapa yang berani bersembunyi?!" Su Ming berteriak murka, matanya liar mencari ke arah kegelapan. Dua pengikutnya serempak mencabut senjata.

​Dari bayang-bayang pekat, langkah kaki pelan bergema. Lin Tian melangkah keluar, sosoknya dibalut jubah abu-abu kusam yang lusuh. Debu batu hitam menutupi sebagian wajahnya, namun sepasang matanya menatap ketiga murid dalam itu seperti dewa kematian yang menatap sekumpulan anak ayam.

​Su Ming menyipitkan mata, mencoba mengenali aura pemuda di depannya. Kosong. Tidak ada fluktuasi Qi sama sekali.

​Tiba-tiba, ia tertawa terbahak-bahak. "Oh! Lihat siapa pahlawan kita! Lin Tian si Sampah! Aku sempat berpikir kau sudah membusuk di sudut lembah ini. Ternyata, kau hanya sibuk menjadi pelindung para babi tanah?"

​Dua pengikut Su Ming ikut tertawa mencemooh. "Hanya manusia cacat. Beraninya melempar batu ke arah Tuan Muda Su. Dia pasti sudah bosan hidup!"

​Lin Tian tidak berekspresi. Pandangannya tetap terkunci pada Su Ming, teringat wajah adiknya yang menangis ditarik paksa.

​"Kau mencari Batu Darah Yin, Su Ming?" suara Lin Tian datar, mengabaikan cemoohan mereka. "Aku tahu di mana tempatnya."

​Tawa Su Ming berhenti. Matanya menyipit penuh kecurigaan. "Kau tahu? Tunjukkan padaku."

​"Tapi," Lin Tian melanjutkan perlahan, nadanya berubah lebih rendah, mengandung tekanan yang membuat udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa jauh lebih dingin. "Terowongan itu sangat dalam. Jika kau masuk, aku tidak bisa menjamin kau akan pernah keluar lagi."

​Wajah Su Ming memerah karena marah. Sebagai elit tahap 8, diancam oleh seorang budak tak ber-Dantian adalah penghinaan tertinggi.

​"Bunuh dia! Cincang dagingnya menjadi potongan kecil!" perintah Su Ming pada kedua pengikutnya. "Kita cari batunya sendiri dari mayat-mayat kotor mereka!"

​Kedua murid sekte itu, masing-masing berada di Pengumpulan Qi Tingkat 4, melesat maju. Pedang mereka memancarkan cahaya spiritual kuning, menebas dari sisi kiri dan kanan, mengincar leher dan dada Lin Tian. Kecepatan mereka, didorong oleh Qi, jauh melebihi manusia biasa.

​Namun di mata Lin Tian, gerakan mereka terasa selambat daun yang gugur ditiup angin.

​Lin Tian tidak mundur. Ia bahkan tidak berkedip. Saat pedang-pedang itu nyaris mengiris kulitnya, ia melangkah maju setengah langkah.

​Tangan kanannya melesat seperti kilat. Jari telunjuk dan tengahnya mencapit bilah pedang di sisi kiri.

​KRAK!

​Dengan satu jentikan sederhana, pedang spiritual tingkat rendah itu patah menjadi dua. Murid itu terbelalak tak percaya.

​Sebelum ia bisa bereaksi, Lin Tian meninju dada murid tersebut. Bukan tinju penuh, hanya sentuhan pelan yang memadatkan tenaga murni dari Besi Penempa Daging.

​DUM!

​Tubuh murid itu terpental sejauh sepuluh meter, menabrak dinding gua dengan kekuatan hantaman gajah berlari. Tulang rusuknya remuk berantakan. Ia mati sebelum menyentuh tanah.

​Murid di sisi kanan memucat melihat rekannya tewas dalam sekejap. Ia mencoba menarik pedangnya mundur, namun sebuah tangan sekeras baja telah mencengkeram tenggorokannya, mengangkat tubuhnya ke udara seolah ia seringan boneka jerami.

​"Ka-Kau bukan manusia..." murid itu tersedak, kakinya menendang-nendang udara.

​"Aku adalah penguasa kuburan ini," bisik Lin Tian. Ia meremas tangannya.

​KRETAK.

​Terdengar suara tulang leher yang patah menyedihkan. Lin Tian melemparkan mayat kedua ke samping seperti membuang sampah.

​Hanya dalam tiga tarikan napas, dua murid dalam tewas di tangan manusia cacat.

​Su Ming mundur selangkah, keringat dingin membasahi punggungnya. Kesombongannya hancur berkeping-keping. Pemuda di depannya ini tidak menggunakan sihir. Tidak ada ledakan energi Qi. Ini hanyalah pembantaian fisik murni yang mengerikan.

​"I-Ini tidak mungkin... Dantianmu hancur!" Su Ming tergagap, pedang spiritualnya kini bergetar hebat di tangannya.

​Lin Tian menoleh ke arah Su Ming, menyeka noda darah dari punggung tangannya. Ia mulai melangkah maju, sangat lambat, namun setiap langkahnya seolah menghunjamkan ribuan pedang tak kasat mata ke benak Su Ming.

​"Dantianku memang hancur," ucap Lin Tian pelan. Matanya menyala dengan kebencian yang telah ditekan selama berbulan-bulan. "Itulah sebabnya aku harus mematahkan tulangmu untuk memastikan kau tidak bisa menggunakan milikmu lagi."

Terpopuler

Comments

𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠

𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠

ninggalin jejak 🫆😀

2026-07-04

0

Aman Wijaya

Aman Wijaya

jooooz kotos kotos lanjut

2026-06-17

1

Nanik S

Nanik S

Maaantaaap

2026-06-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Hujan Darah di Awan Hijau
2 Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi
3 Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah
4 Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah
5 Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara
6 Bab 6: Teror Tangan Kosong dan Rahasia Batu Darah
7 Bab 7: Kedalaman Barat dan Tahap Baja Pembelah Urat
8 Bab 8: Lonceng Kematian di Gerbang Awan
9 Bab 9: Lautan Darah di Tangga Awan
10 Bab 10: Pengorbanan di Puncak Awan Hukuman
11 Bab 11: Runtuhnya Kesombongan
12 Bab 12: Suaka di Balik Belantara dan Taring Besi
13 Bab 13: Bayangan Pembantai
14 Bab 14: Evolusi Lengan Kanan
15 Bab 15: Pintu Berdarah
16 Bab 16: Mekarnya Teratai Darah dan Roh Pedang Kuno
17 Bab 17: Inti Kekosongan dan Penyerapan Biji Teratai
18 Bab 18: Hukum Ketiadaan dan Gerbang Istana Perunggu
19 Bab 19: Takhta Pedang Patah
20 Bab 20: Langit Hitam di Atas Musim Gugur
21 Bab 21: Harga Mutlak Sebuah Kekuatan
22 Bab 22: Kota Perbatasan Batu Darah
23 Bab 23: Penginapan Tong Hitam
24 Bab 24: Gelar Iblis Arena dan Mata Sang Penilai
25 Bab 25: Pasar Gelap
26 Bab 26: Arena Puncak Darah
27 Bab 27: Pembantaian Tanpa Suara
28 Bab 28: Kristal Tulang Naga
29 Bab 29: Menara Ilusi dan Kabut Pembusuk Jiwa
30 Bab 30: Tekanan Inti Emas
31 Bab 31: Batas Kerapuhan dan Segel Kristal Tulang Naga
32 Bab 32: Geladak Bawah dan Hukum Batu Bara
33 Bab 33: Lorong Api dan Pencuri Bayangan
34 Bab 34: Penawar Matahari
35 Bab 35: Kesepakatan dalam Debu
36 Bab 36: Jantung Tungku Api
37 Bab 37: Menembus Kanopi dan Akar Hutan Kabut
38 Bab 38: Gema dari Reruntuhan
39 Bab 39: Tarian Hantu di Balik Kabut
40 Bab 40: Zona Kematian dan Beban Tulang Naga
41 Bab 41: Batas Rimba dan Pembantaian Tanpa Suara
42 Bab 42: Transaksi Logis
43 Bab 43: Distrik Lumpur
44 Bab 44: Keganasan Presisi
45 Bab 45: Penempaan Organ Fana
46 Bab 46: Darah di Bawah Hujan
47 Bab 47: Tuan Muda Mo
48 Bab 48: Ranting Dedalu
49 Bab 49: Tekanan Tak Kasat Mata
50 Bab 50: Gemerlap Seratus Harta
51 Bab 51: Pelajaran Pembantaian
52 Bab 52: Kepadatan Bintang dan Undangan di Atas Awan
53 Bab 53: Darah di Arena Awan
54 Bab 54: Perbendaharaan Kota
55 Bab 55: Ujung Pedang Ketiadaan
56 Bab 56: Ketakutan di Kediaman Zhao
57 Bab 57: Fajar Berdarah dan Lonceng Kematian Klan Zhao
58 Bab 58: Langit yang Terbelah
59 Bab 59: Jaring Merah Tanah Suci
60 Bab 60: Kapal Perang di Atas Awan
61 Runtuhnya Langit dan Tarian Pedang Ketiadaan
62 Kepanikan Benua Tengah dan Langkah Menuju Tanah Terbuang
63 Badai Pasir Merah dan Hukum Tanah Terbuang
64 Kota Tanpa Hukum dan Tungku Tulang Hitam
65 Umpan Satu Juta dan Kertas Perkamen Darah
66 Kepompong Darah
67 Radius Kematian dan Badai Pasir Beracun
68 Pilar Keputusasaan dan Pesan Rantai Besi
69 Tarian Pedang Merah dan Tangga Mayat Pilar Kedua
70 Konspirasi Delapan Penguasa dan Cermin Jiwa Ketiadaan
71 Langit Abu-Abu dan Tumbangnya Delapan Pilar Emas
72 Tinju Tulang Naga dan Hancurnya Sayap Iblis
73 Tahta Tulang Hitam dan Panggilan Medan Perang Kuno
74 Formasi Tanpa Langit dan Bayangan Armada Utara
75 Meriam Pemusnah Langit
76 Domain Musim Dingin
77 Guncangan Benua Tengah
78 Runtuhnya Gerbang Langit
79 Pijakan Ketiadaan dan Deklarasi Tiga Tanah Suci
80 Benturan Emas dan Ketiadaan di Lembah Pedang
81 Awan Hitam di Atas Gerbang Langit
82 Rantai Semesta dan Mata Langit yang Terbuka
83 Menelan Murka Langit
84 Tunduknya Tiga Tanah Suci
85 Aturan Baru dan Misteri Pintu Mengambang
86 Gerbang Alam Atas
87 Beratnya Langit Baru
88 Darah Pertama di Alam Atas
89 Desa Batu Hitam dan Rahasia Energi Bintang
90 Meminjam Bintang dan Hancurnya Cakar Besi
91 Penyerbuan Malam dan Kekuatan Inti Bintang
92 Harta Karun Cakar Besi dan Peta Benua Atas
93 Jalan Menuju Kota Bintang Bulan dan Pengkhianatan Karavan
94 Memasuki Gerbang Kota Bintang Bulan
95 Jalur Tikus Berdarah dan Panen di Pasar Gelap
96 Rumah Lelang Bintang Langit dan Pecahan Bintang Mati
97 Menelan Bintang Mati dan Penyergapan Awan Hitam
98 Malam Pemurnian dan Kemarahan Awan Hitam
99 Lonceng Kematian di Bukit Awan Hitam
100 Perbendaharaan Awan Hitam
101 Istana Melayang dan Tawaran Sang Tuan Kota
102 Melahap Sang Jiwa Bintang
103 Memori Sang Penguasa Lama dan Bayangan Kekaisaran
104 Kapal Udara Matahari Ungu
105 Kapal Induk Rampasan dan Peta Penaklukan Kekaisaran
106 Badai yang Tertunda
107 Runtuhnya Tembok Angin Besi
108 Pesan Keputusasaan
109 Gigitan Pertama pada Langit Kekaisaran
110 Kejatuhan Sang Kaisar dan Inti Bintang Runtuh
111 Evolusi Tahap Kedua dan Utusan dari Domain Suci
112 Penjara di Dasar Kawah dan Penguasa Pedang Iblis
113 Pasukan Iblis yang Bangkit
114 Pembantaian Emas dan Runtuhnya Langit Suci
115 Tiga Bintang yang Padam
116 Melangkah ke Alam Dewa
117 Pijakan Pertama di Surga
118 Darah Pertama di Lembah Terlarang
119 Utusan Gagak Besi dan Evolusi Sang Putri Es
120 Kemurkaan Gagak Besi
121 Penjara Salju Seribu Pedang
122 Hukuman Udara Terbakar
123 Runtuhnya Kekaisaran Gagak
124 Kapal Awan Suci
125 Armada Kaca Abyss dan Murka Sang Penguasa Awan
126 Pantulan Kehampaan dan Runtuhnya Langit Kaca
127 Puncak Langit Pertama
128 Gerbang Dewa Bintang
129 Hutan Bintang Ungu
130 Penolakan Ilahi dan Rantai Keterbatasan
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Bab 1: Hujan Darah di Awan Hijau
2
Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi
3
Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah
4
Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah
5
Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara
6
Bab 6: Teror Tangan Kosong dan Rahasia Batu Darah
7
Bab 7: Kedalaman Barat dan Tahap Baja Pembelah Urat
8
Bab 8: Lonceng Kematian di Gerbang Awan
9
Bab 9: Lautan Darah di Tangga Awan
10
Bab 10: Pengorbanan di Puncak Awan Hukuman
11
Bab 11: Runtuhnya Kesombongan
12
Bab 12: Suaka di Balik Belantara dan Taring Besi
13
Bab 13: Bayangan Pembantai
14
Bab 14: Evolusi Lengan Kanan
15
Bab 15: Pintu Berdarah
16
Bab 16: Mekarnya Teratai Darah dan Roh Pedang Kuno
17
Bab 17: Inti Kekosongan dan Penyerapan Biji Teratai
18
Bab 18: Hukum Ketiadaan dan Gerbang Istana Perunggu
19
Bab 19: Takhta Pedang Patah
20
Bab 20: Langit Hitam di Atas Musim Gugur
21
Bab 21: Harga Mutlak Sebuah Kekuatan
22
Bab 22: Kota Perbatasan Batu Darah
23
Bab 23: Penginapan Tong Hitam
24
Bab 24: Gelar Iblis Arena dan Mata Sang Penilai
25
Bab 25: Pasar Gelap
26
Bab 26: Arena Puncak Darah
27
Bab 27: Pembantaian Tanpa Suara
28
Bab 28: Kristal Tulang Naga
29
Bab 29: Menara Ilusi dan Kabut Pembusuk Jiwa
30
Bab 30: Tekanan Inti Emas
31
Bab 31: Batas Kerapuhan dan Segel Kristal Tulang Naga
32
Bab 32: Geladak Bawah dan Hukum Batu Bara
33
Bab 33: Lorong Api dan Pencuri Bayangan
34
Bab 34: Penawar Matahari
35
Bab 35: Kesepakatan dalam Debu
36
Bab 36: Jantung Tungku Api
37
Bab 37: Menembus Kanopi dan Akar Hutan Kabut
38
Bab 38: Gema dari Reruntuhan
39
Bab 39: Tarian Hantu di Balik Kabut
40
Bab 40: Zona Kematian dan Beban Tulang Naga
41
Bab 41: Batas Rimba dan Pembantaian Tanpa Suara
42
Bab 42: Transaksi Logis
43
Bab 43: Distrik Lumpur
44
Bab 44: Keganasan Presisi
45
Bab 45: Penempaan Organ Fana
46
Bab 46: Darah di Bawah Hujan
47
Bab 47: Tuan Muda Mo
48
Bab 48: Ranting Dedalu
49
Bab 49: Tekanan Tak Kasat Mata
50
Bab 50: Gemerlap Seratus Harta
51
Bab 51: Pelajaran Pembantaian
52
Bab 52: Kepadatan Bintang dan Undangan di Atas Awan
53
Bab 53: Darah di Arena Awan
54
Bab 54: Perbendaharaan Kota
55
Bab 55: Ujung Pedang Ketiadaan
56
Bab 56: Ketakutan di Kediaman Zhao
57
Bab 57: Fajar Berdarah dan Lonceng Kematian Klan Zhao
58
Bab 58: Langit yang Terbelah
59
Bab 59: Jaring Merah Tanah Suci
60
Bab 60: Kapal Perang di Atas Awan
61
Runtuhnya Langit dan Tarian Pedang Ketiadaan
62
Kepanikan Benua Tengah dan Langkah Menuju Tanah Terbuang
63
Badai Pasir Merah dan Hukum Tanah Terbuang
64
Kota Tanpa Hukum dan Tungku Tulang Hitam
65
Umpan Satu Juta dan Kertas Perkamen Darah
66
Kepompong Darah
67
Radius Kematian dan Badai Pasir Beracun
68
Pilar Keputusasaan dan Pesan Rantai Besi
69
Tarian Pedang Merah dan Tangga Mayat Pilar Kedua
70
Konspirasi Delapan Penguasa dan Cermin Jiwa Ketiadaan
71
Langit Abu-Abu dan Tumbangnya Delapan Pilar Emas
72
Tinju Tulang Naga dan Hancurnya Sayap Iblis
73
Tahta Tulang Hitam dan Panggilan Medan Perang Kuno
74
Formasi Tanpa Langit dan Bayangan Armada Utara
75
Meriam Pemusnah Langit
76
Domain Musim Dingin
77
Guncangan Benua Tengah
78
Runtuhnya Gerbang Langit
79
Pijakan Ketiadaan dan Deklarasi Tiga Tanah Suci
80
Benturan Emas dan Ketiadaan di Lembah Pedang
81
Awan Hitam di Atas Gerbang Langit
82
Rantai Semesta dan Mata Langit yang Terbuka
83
Menelan Murka Langit
84
Tunduknya Tiga Tanah Suci
85
Aturan Baru dan Misteri Pintu Mengambang
86
Gerbang Alam Atas
87
Beratnya Langit Baru
88
Darah Pertama di Alam Atas
89
Desa Batu Hitam dan Rahasia Energi Bintang
90
Meminjam Bintang dan Hancurnya Cakar Besi
91
Penyerbuan Malam dan Kekuatan Inti Bintang
92
Harta Karun Cakar Besi dan Peta Benua Atas
93
Jalan Menuju Kota Bintang Bulan dan Pengkhianatan Karavan
94
Memasuki Gerbang Kota Bintang Bulan
95
Jalur Tikus Berdarah dan Panen di Pasar Gelap
96
Rumah Lelang Bintang Langit dan Pecahan Bintang Mati
97
Menelan Bintang Mati dan Penyergapan Awan Hitam
98
Malam Pemurnian dan Kemarahan Awan Hitam
99
Lonceng Kematian di Bukit Awan Hitam
100
Perbendaharaan Awan Hitam
101
Istana Melayang dan Tawaran Sang Tuan Kota
102
Melahap Sang Jiwa Bintang
103
Memori Sang Penguasa Lama dan Bayangan Kekaisaran
104
Kapal Udara Matahari Ungu
105
Kapal Induk Rampasan dan Peta Penaklukan Kekaisaran
106
Badai yang Tertunda
107
Runtuhnya Tembok Angin Besi
108
Pesan Keputusasaan
109
Gigitan Pertama pada Langit Kekaisaran
110
Kejatuhan Sang Kaisar dan Inti Bintang Runtuh
111
Evolusi Tahap Kedua dan Utusan dari Domain Suci
112
Penjara di Dasar Kawah dan Penguasa Pedang Iblis
113
Pasukan Iblis yang Bangkit
114
Pembantaian Emas dan Runtuhnya Langit Suci
115
Tiga Bintang yang Padam
116
Melangkah ke Alam Dewa
117
Pijakan Pertama di Surga
118
Darah Pertama di Lembah Terlarang
119
Utusan Gagak Besi dan Evolusi Sang Putri Es
120
Kemurkaan Gagak Besi
121
Penjara Salju Seribu Pedang
122
Hukuman Udara Terbakar
123
Runtuhnya Kekaisaran Gagak
124
Kapal Awan Suci
125
Armada Kaca Abyss dan Murka Sang Penguasa Awan
126
Pantulan Kehampaan dan Runtuhnya Langit Kaca
127
Puncak Langit Pertama
128
Gerbang Dewa Bintang
129
Hutan Bintang Ungu
130
Penolakan Ilahi dan Rantai Keterbatasan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!