Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah

​Debu pekat beraroma belerang perlahan mengendap seiring berhentinya ayunan beliung Lin Tian. Di hadapannya, dinding batu tambang yang terkenal sekeras baja biasa telah runtuh, menyisakan lubang menganga yang dipenuhi bongkahan Batu Hitam berkualitas tinggi.

​Lin Chen masih duduk mematung di tanah. Mulutnya terbuka setengah, matanya menatap bergantian antara bongkahan batu yang berserakan dan beliung karatan di tangan kakak sepupunya.

​"Kak Tian... ini... bagaimana mungkin?" suara Lin Chen bergetar. "Tanpa menggunakan energi Qi sedikit pun, kau menghancurkan urat batu utama? Bahkan Mandor Tie membutuhkan Seni Peledak Batu tingkat dasar untuk melakukan ini!"

​Lin Tian mengusap debu dari wajahnya, menyembunyikan kilau keperakan samar yang sempat memancar dari kulitnya sesaat setelah benturan terjadi. Seni Pedang Sembilan Kematian memang mengerikan. Hanya menembus ambang batas tahap pertama, Besi Penempa Daging, otot dan tulang fana miliknya kini memadatkan kekuatan yang setara dengan monster buas tingkat rendah.

​"Jangan banyak bertanya untuk saat ini, Chen," potong Lin Tian dengan nada tenang namun tegas. "Kekuatan ini adalah rahasia kita. Di tempat di mana nyawa lebih murah dari lumpur, kartu truf yang tersembunyi adalah satu-satunya jaminan kita untuk melihat matahari terbit esok hari."

​Lin Chen menelan ludah dan mengangguk cepat. Ia bergegas memunguti bongkahan Batu Hitam yang hitam mengkilap itu, memasukkannya ke dalam dua keranjang bambu hingga penuh. Sepuluh bongkah untuk satu orang adalah kuota harian. Saat ini, mereka memiliki lebih dari tiga puluh bongkah batu berkualitas tinggi.

​TENG! TENG! TENG!

​Suara gong tembaga bergema dari mulut terowongan utama, menembus lorong-lorong sempit dan menggema di dinding-dinding gua. Itu adalah panggilan matahari terbenam. Waktu penyerahan kuota telah tiba.

​Lin Tian memanggul keranjangnya yang berat seolah-olah benda itu seringan kapas, sementara Lin Chen berjalan tertatih di belakangnya dengan keranjangnya sendiri. Semakin dekat mereka ke mulut tambang, udara menjadi semakin dingin dan miasma beracun perlahan menebal.

​Di luar terowongan, sisa-sisa cahaya merah fajar menyinari pelataran gersang yang dikelilingi pagar kayu berduri. Puluhan budak tambang berjalan terseok-seok, berbaris dengan wajah putus asa, batuk-batuk mengeluarkan darah kehitaman.

​Di ujung barisan, duduk di atas kursi batu yang dilapisi kulit harimau, adalah Mandor Tie. Pria gempal bermuka codet itu sedang menenggak arak murahan dari kendi tanah liat. Di tangan kirinya, cambuk kulit berduri sepanjang dua meter melingkar seperti ular yang siap menerkam. Di sebelahnya berdiri dua penjaga bersenjata golok besar.

​"Maju! Letakkan batu kalian di timbangan!" teriak salah satu penjaga.

​Satu per satu budak maju. Mayoritas berhasil memenuhi kuota dengan batu-batu kecil yang kotor. Namun, bau darah segera menguar ketika budak ketiga gagal memenuhi kuota.

​"Hanya tujuh batu?!" Mandor Tie mendengus, meletakkan kendinya.

​CTAR!

​Cambuk berdurinya melesat membelah udara, menghantam dada budak kurus itu. Pria itu menjerit histeris, kulit dan dagingnya robek, darah memuncrat mewarnai tanah berdebu.

​"Kurang tiga batu! Malam ini kau tidur di luar barak. Biarkan kabut beracun membersihkan paru-parumu yang malas itu!" geram Mandor Tie. Budak malang itu diseret menjauh oleh penjaga, tangisannya perlahan tenggelam oleh deru angin lembah.

​Lin Tian mengamati pemandangan itu dengan mata dingin. Di dunia kultivator, kelemahan adalah dosa terbesar.

​Saat giliran Lin Tian dan Lin Chen tinggal beberapa orang lagi, seorang pria melangkah maju dari barisan samping dan berlutut di depan Mandor Tie. Itu adalah Ma San, pria veteran yang tadi mencoba merampas batu Lin Chen di dalam terowongan.

​"Mandor Tie! Lapor, Mandor!" Ma San bersujud, keranjangnya kosong melompong. Beliungnya yang patah diletakkan di tanah.

​"Ma San? Mana kuotamu, anjing pemalas?!" Mandor Tie mengangkat cambuknya, matanya berkilat marah.

​"Ampun, Mandor! Saya sudah mengumpulkan lima belas batu hari ini, tetapi... tetapi batu saya dirampas!" Ma San menunjuk dengan jari gemetar ke arah barisan belakang, tepat ke wajah Lin Tian. "Anak baru itu! Lin Tian! Dia menggunakan semacam sihir licik untuk mematahkan beliung saya dan merampas semua hasil kerja keras saya!"

​Semua mata di pelataran seketika tertuju pada Lin Tian. Bisik-bisik mulai terdengar.

​Mandor Tie menyipitkan matanya yang seperti babi. Ia mengenali Lin Tian. Pemuda itu adalah mantan Murid Luar sekte yang Dantiannya dihancurkan pagi tadi. Seorang manusia cacat. Tidak mungkin manusia cacat bisa merampas batu dari Ma San, seorang preman tambang yang kuat.

​Namun, saat pandangan Mandor Tie jatuh pada dua keranjang bambu yang dibawa Lin Tian dan Lin Chen—yang dipenuhi oleh Batu Hitam berukuran besar dan mengkilat indah—keserakahan melintas di matanya. Batu berkualitas tinggi ini bisa ia jual secara diam-diam di pasar gelap untuk menukar pil kultivasi tingkat rendah.

​Mandor Tie tersenyum miring. Ia tidak peduli siapa yang mencuri atau siapa yang benar. Ia hanya melihat keuntungan.

​"Begitu ya..." Mandor Tie bangkit dari kursi batunya, menyeret cambuknya di tanah. Ia berjalan mendekati Lin Tian. "Anak baru, berani sekali kau membuat onar di hari pertamamu. Merampas hasil kerja sesama penambang adalah pelanggaran berat."

​"Dia berbohong!" Lin Chen berseru dari belakang punggung Lin Tian, wajahnya pucat pasi. "Ma San yang mencoba merampokku, lalu Kak Tian—"

​"Diam, sampah!" bentak Mandor Tie. Energi spiritual Pengumpulan Qi Tingkat 5 meledak dari tubuhnya, menekan Lin Chen hingga remaja itu jatuh berlutut, batuk darah akibat tekanan tak kasat mata itu.

​Lin Tian tetap berdiri tegak bak pohon pinus kuno yang tak goyah diterpa badai. Ekspresinya datar.

​"Sebagai hukuman," Mandor Tie menyeringai, memamerkan giginya yang kuning, "Semua batu di keranjangmu akan disita. Dan kau, Lin Tian, akan menerima sepuluh cambukan sebagai peringatan agar kau tahu siapa penguasa di neraka ini."

​Tanpa peringatan, lengan gempal Mandor Tie berayun. Energi Qi tingkat rendah melapisi cambuk berduri itu, membuatnya melesat dengan kecepatan kilat, membidik langsung ke arah wajah Lin Tian. Jika cambuk itu mengenai sasaran, wajah manusia fana biasa akan hancur lebur!

​WUSH!

​Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat napas semua orang di pelataran terhenti.

​PAAT!

​Bukan suara daging yang robek, melainkan suara hantaman benda tumpul yang keras.

​Lin Tian mengangkat tangan kirinya ke depan wajahnya. Jari-jarinya yang dipenuhi bekas luka dan debu mencengkeram erat ekor cambuk yang berlapis energi Qi tersebut. Duri-duri besi pada cambuk itu menembus kulit telapak tangannya, meneteskan darah merah segar ke tanah.

​Namun, tangan itu tidak bergeser satu inci pun.

​Mata Mandor Tie terbelalak. Ia mencoba menarik cambuknya kembali, namun rasanya seperti ia sedang berusaha mencabut pohon berumur ribuan tahun dengan tangan kosong. "Apa... bagaimana mungkin?!" batinnya berteriak kaget.

​"Sepuluh cambukan?" suara Lin Tian memecah keheningan. Suaranya rendah, serak, nyaris seperti geraman binatang buas yang tertidur.

​Lin Tian mengangkat kepalanya. Tatapan matanya yang sedingin es menusuk langsung ke mata Mandor Tie. Niat membunuh yang selama ini ia tekan meluap sekilas, bercampur dengan aura Niat Pedang purba dari tulang belulangnya.

​Mandor Tie merasakan hawa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya. Selama sedetik, ia merasa tidak sedang menatap seorang budak tambang yang cacat, melainkan seekor dewa iblis pembantai yang baru merangkak keluar dari tumpukan mayat.

​Lin Tian menarik cambuk itu ke arahnya dengan satu hentakan kasar. Kekuatan fisik murni yang mengerikan mengalir melaluinya.

​Gubrak!

​Mandor Tie, seorang kultivator tingkat 5, kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas lumpur, tepat di depan ujung kaki Lin Tian.

​Pelataran itu mendadak sunyi senyap. Kengerian yang mencekam merayapi hati setiap budak dan penjaga yang melihat kejadian tersebut.

​Lin Tian menunduk, melepaskan cengkeramannya dari cambuk yang kini ternoda darahnya sendiri. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Mandor Tie yang masih terpaku dalam ketakutan, dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh pria gempal itu.

​"Ini kuota kami hari ini, tiga puluh batu kualitas tinggi. Cukup untuk jatah kami berdua selama tiga hari," bisik Lin Tian perlahan. "Jangan menggangguku, dan kau akan mendapatkan setoran terbaik di tambang ini setiap minggunya. Tetapi jika kau berani menyentuh sehelai rambut saja dari adik sepupuku... malam ini, aku akan merobek lehermu saat kau tidur, dan tidak ada tetua sekte yang akan peduli pada anjing penjaga tambang sepertimu yang mati."

​Lin Tian menegakkan tubuhnya, kembali ke ekspresi datarnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia melangkah melewati tubuh Mandor Tie yang masih gemetar, menarik lengan Lin Chen untuk berdiri, dan berjalan menuju barak kotor yang disediakan untuk para budak.

​Malam itu, di Tambang Batu Hitam yang dipenuhi penderitaan dan keputusasaan, tidak ada satu orang pun yang berani mengucapkan sepatah kata pun saat Lin Tian merebahkan dirinya di ranjang jerami.

Terpopuler

Comments

Nanik S

Nanik S

Harusnya bunuh saja si Mandor Tie dan bebaskan para budak

2026-06-02

4

yos helmi

yos helmi

💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪

2026-05-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Hujan Darah di Awan Hijau
2 Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi
3 Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah
4 Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah
5 Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara
6 Bab 6: Teror Tangan Kosong dan Rahasia Batu Darah
7 Bab 7: Kedalaman Barat dan Tahap Baja Pembelah Urat
8 Bab 8: Lonceng Kematian di Gerbang Awan
9 Bab 9: Lautan Darah di Tangga Awan
10 Bab 10: Pengorbanan di Puncak Awan Hukuman
11 Bab 11: Runtuhnya Kesombongan
12 Bab 12: Suaka di Balik Belantara dan Taring Besi
13 Bab 13: Bayangan Pembantai
14 Bab 14: Evolusi Lengan Kanan
15 Bab 15: Pintu Berdarah
16 Bab 16: Mekarnya Teratai Darah dan Roh Pedang Kuno
17 Bab 17: Inti Kekosongan dan Penyerapan Biji Teratai
18 Bab 18: Hukum Ketiadaan dan Gerbang Istana Perunggu
19 Bab 19: Takhta Pedang Patah
20 Bab 20: Langit Hitam di Atas Musim Gugur
21 Bab 21: Harga Mutlak Sebuah Kekuatan
22 Bab 22: Kota Perbatasan Batu Darah
23 Bab 23: Penginapan Tong Hitam
24 Bab 24: Gelar Iblis Arena dan Mata Sang Penilai
25 Bab 25: Pasar Gelap
26 Bab 26: Arena Puncak Darah
27 Bab 27: Pembantaian Tanpa Suara
28 Bab 28: Kristal Tulang Naga
29 Bab 29: Menara Ilusi dan Kabut Pembusuk Jiwa
30 Bab 30: Tekanan Inti Emas
31 Bab 31: Batas Kerapuhan dan Segel Kristal Tulang Naga
32 Bab 32: Geladak Bawah dan Hukum Batu Bara
33 Bab 33: Lorong Api dan Pencuri Bayangan
34 Bab 34: Penawar Matahari
35 Bab 35: Kesepakatan dalam Debu
36 Bab 36: Jantung Tungku Api
37 Bab 37: Menembus Kanopi dan Akar Hutan Kabut
38 Bab 38: Gema dari Reruntuhan
39 Bab 39: Tarian Hantu di Balik Kabut
40 Bab 40: Zona Kematian dan Beban Tulang Naga
41 Bab 41: Batas Rimba dan Pembantaian Tanpa Suara
42 Bab 42: Transaksi Logis
43 Bab 43: Distrik Lumpur
44 Bab 44: Keganasan Presisi
45 Bab 45: Penempaan Organ Fana
46 Bab 46: Darah di Bawah Hujan
47 Bab 47: Tuan Muda Mo
48 Bab 48: Ranting Dedalu
49 Bab 49: Tekanan Tak Kasat Mata
50 Bab 50: Gemerlap Seratus Harta
51 Bab 51: Pelajaran Pembantaian
52 Bab 52: Kepadatan Bintang dan Undangan di Atas Awan
53 Bab 53: Darah di Arena Awan
54 Bab 54: Perbendaharaan Kota
55 Bab 55: Ujung Pedang Ketiadaan
56 Bab 56: Ketakutan di Kediaman Zhao
57 Bab 57: Fajar Berdarah dan Lonceng Kematian Klan Zhao
58 Bab 58: Langit yang Terbelah
59 Bab 59: Jaring Merah Tanah Suci
60 Bab 60: Kapal Perang di Atas Awan
61 Runtuhnya Langit dan Tarian Pedang Ketiadaan
62 Kepanikan Benua Tengah dan Langkah Menuju Tanah Terbuang
63 Badai Pasir Merah dan Hukum Tanah Terbuang
64 Kota Tanpa Hukum dan Tungku Tulang Hitam
65 Umpan Satu Juta dan Kertas Perkamen Darah
66 Kepompong Darah
67 Radius Kematian dan Badai Pasir Beracun
68 Pilar Keputusasaan dan Pesan Rantai Besi
69 Tarian Pedang Merah dan Tangga Mayat Pilar Kedua
70 Konspirasi Delapan Penguasa dan Cermin Jiwa Ketiadaan
71 Langit Abu-Abu dan Tumbangnya Delapan Pilar Emas
72 Tinju Tulang Naga dan Hancurnya Sayap Iblis
73 Tahta Tulang Hitam dan Panggilan Medan Perang Kuno
74 Formasi Tanpa Langit dan Bayangan Armada Utara
75 Meriam Pemusnah Langit
76 Domain Musim Dingin
77 Guncangan Benua Tengah
78 Runtuhnya Gerbang Langit
79 Pijakan Ketiadaan dan Deklarasi Tiga Tanah Suci
80 Benturan Emas dan Ketiadaan di Lembah Pedang
81 Awan Hitam di Atas Gerbang Langit
82 Rantai Semesta dan Mata Langit yang Terbuka
83 Menelan Murka Langit
84 Tunduknya Tiga Tanah Suci
85 Aturan Baru dan Misteri Pintu Mengambang
86 Gerbang Alam Atas
87 Beratnya Langit Baru
88 Darah Pertama di Alam Atas
89 Desa Batu Hitam dan Rahasia Energi Bintang
90 Meminjam Bintang dan Hancurnya Cakar Besi
91 Penyerbuan Malam dan Kekuatan Inti Bintang
92 Harta Karun Cakar Besi dan Peta Benua Atas
93 Jalan Menuju Kota Bintang Bulan dan Pengkhianatan Karavan
94 Memasuki Gerbang Kota Bintang Bulan
95 Jalur Tikus Berdarah dan Panen di Pasar Gelap
96 Rumah Lelang Bintang Langit dan Pecahan Bintang Mati
97 Menelan Bintang Mati dan Penyergapan Awan Hitam
98 Malam Pemurnian dan Kemarahan Awan Hitam
99 Lonceng Kematian di Bukit Awan Hitam
100 Perbendaharaan Awan Hitam
101 Istana Melayang dan Tawaran Sang Tuan Kota
102 Melahap Sang Jiwa Bintang
103 Memori Sang Penguasa Lama dan Bayangan Kekaisaran
104 Kapal Udara Matahari Ungu
105 Kapal Induk Rampasan dan Peta Penaklukan Kekaisaran
106 Badai yang Tertunda
107 Runtuhnya Tembok Angin Besi
108 Pesan Keputusasaan
109 Gigitan Pertama pada Langit Kekaisaran
110 Kejatuhan Sang Kaisar dan Inti Bintang Runtuh
111 Evolusi Tahap Kedua dan Utusan dari Domain Suci
112 Penjara di Dasar Kawah dan Penguasa Pedang Iblis
113 Pasukan Iblis yang Bangkit
114 Pembantaian Emas dan Runtuhnya Langit Suci
115 Tiga Bintang yang Padam
116 Melangkah ke Alam Dewa
117 Pijakan Pertama di Surga
118 Darah Pertama di Lembah Terlarang
119 Utusan Gagak Besi dan Evolusi Sang Putri Es
120 Kemurkaan Gagak Besi
121 Penjara Salju Seribu Pedang
122 Hukuman Udara Terbakar
123 Runtuhnya Kekaisaran Gagak
124 Kapal Awan Suci
125 Armada Kaca Abyss dan Murka Sang Penguasa Awan
126 Pantulan Kehampaan dan Runtuhnya Langit Kaca
127 Puncak Langit Pertama
128 Gerbang Dewa Bintang
129 Hutan Bintang Ungu
130 Penolakan Ilahi dan Rantai Keterbatasan
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Bab 1: Hujan Darah di Awan Hijau
2
Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi
3
Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah
4
Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah
5
Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara
6
Bab 6: Teror Tangan Kosong dan Rahasia Batu Darah
7
Bab 7: Kedalaman Barat dan Tahap Baja Pembelah Urat
8
Bab 8: Lonceng Kematian di Gerbang Awan
9
Bab 9: Lautan Darah di Tangga Awan
10
Bab 10: Pengorbanan di Puncak Awan Hukuman
11
Bab 11: Runtuhnya Kesombongan
12
Bab 12: Suaka di Balik Belantara dan Taring Besi
13
Bab 13: Bayangan Pembantai
14
Bab 14: Evolusi Lengan Kanan
15
Bab 15: Pintu Berdarah
16
Bab 16: Mekarnya Teratai Darah dan Roh Pedang Kuno
17
Bab 17: Inti Kekosongan dan Penyerapan Biji Teratai
18
Bab 18: Hukum Ketiadaan dan Gerbang Istana Perunggu
19
Bab 19: Takhta Pedang Patah
20
Bab 20: Langit Hitam di Atas Musim Gugur
21
Bab 21: Harga Mutlak Sebuah Kekuatan
22
Bab 22: Kota Perbatasan Batu Darah
23
Bab 23: Penginapan Tong Hitam
24
Bab 24: Gelar Iblis Arena dan Mata Sang Penilai
25
Bab 25: Pasar Gelap
26
Bab 26: Arena Puncak Darah
27
Bab 27: Pembantaian Tanpa Suara
28
Bab 28: Kristal Tulang Naga
29
Bab 29: Menara Ilusi dan Kabut Pembusuk Jiwa
30
Bab 30: Tekanan Inti Emas
31
Bab 31: Batas Kerapuhan dan Segel Kristal Tulang Naga
32
Bab 32: Geladak Bawah dan Hukum Batu Bara
33
Bab 33: Lorong Api dan Pencuri Bayangan
34
Bab 34: Penawar Matahari
35
Bab 35: Kesepakatan dalam Debu
36
Bab 36: Jantung Tungku Api
37
Bab 37: Menembus Kanopi dan Akar Hutan Kabut
38
Bab 38: Gema dari Reruntuhan
39
Bab 39: Tarian Hantu di Balik Kabut
40
Bab 40: Zona Kematian dan Beban Tulang Naga
41
Bab 41: Batas Rimba dan Pembantaian Tanpa Suara
42
Bab 42: Transaksi Logis
43
Bab 43: Distrik Lumpur
44
Bab 44: Keganasan Presisi
45
Bab 45: Penempaan Organ Fana
46
Bab 46: Darah di Bawah Hujan
47
Bab 47: Tuan Muda Mo
48
Bab 48: Ranting Dedalu
49
Bab 49: Tekanan Tak Kasat Mata
50
Bab 50: Gemerlap Seratus Harta
51
Bab 51: Pelajaran Pembantaian
52
Bab 52: Kepadatan Bintang dan Undangan di Atas Awan
53
Bab 53: Darah di Arena Awan
54
Bab 54: Perbendaharaan Kota
55
Bab 55: Ujung Pedang Ketiadaan
56
Bab 56: Ketakutan di Kediaman Zhao
57
Bab 57: Fajar Berdarah dan Lonceng Kematian Klan Zhao
58
Bab 58: Langit yang Terbelah
59
Bab 59: Jaring Merah Tanah Suci
60
Bab 60: Kapal Perang di Atas Awan
61
Runtuhnya Langit dan Tarian Pedang Ketiadaan
62
Kepanikan Benua Tengah dan Langkah Menuju Tanah Terbuang
63
Badai Pasir Merah dan Hukum Tanah Terbuang
64
Kota Tanpa Hukum dan Tungku Tulang Hitam
65
Umpan Satu Juta dan Kertas Perkamen Darah
66
Kepompong Darah
67
Radius Kematian dan Badai Pasir Beracun
68
Pilar Keputusasaan dan Pesan Rantai Besi
69
Tarian Pedang Merah dan Tangga Mayat Pilar Kedua
70
Konspirasi Delapan Penguasa dan Cermin Jiwa Ketiadaan
71
Langit Abu-Abu dan Tumbangnya Delapan Pilar Emas
72
Tinju Tulang Naga dan Hancurnya Sayap Iblis
73
Tahta Tulang Hitam dan Panggilan Medan Perang Kuno
74
Formasi Tanpa Langit dan Bayangan Armada Utara
75
Meriam Pemusnah Langit
76
Domain Musim Dingin
77
Guncangan Benua Tengah
78
Runtuhnya Gerbang Langit
79
Pijakan Ketiadaan dan Deklarasi Tiga Tanah Suci
80
Benturan Emas dan Ketiadaan di Lembah Pedang
81
Awan Hitam di Atas Gerbang Langit
82
Rantai Semesta dan Mata Langit yang Terbuka
83
Menelan Murka Langit
84
Tunduknya Tiga Tanah Suci
85
Aturan Baru dan Misteri Pintu Mengambang
86
Gerbang Alam Atas
87
Beratnya Langit Baru
88
Darah Pertama di Alam Atas
89
Desa Batu Hitam dan Rahasia Energi Bintang
90
Meminjam Bintang dan Hancurnya Cakar Besi
91
Penyerbuan Malam dan Kekuatan Inti Bintang
92
Harta Karun Cakar Besi dan Peta Benua Atas
93
Jalan Menuju Kota Bintang Bulan dan Pengkhianatan Karavan
94
Memasuki Gerbang Kota Bintang Bulan
95
Jalur Tikus Berdarah dan Panen di Pasar Gelap
96
Rumah Lelang Bintang Langit dan Pecahan Bintang Mati
97
Menelan Bintang Mati dan Penyergapan Awan Hitam
98
Malam Pemurnian dan Kemarahan Awan Hitam
99
Lonceng Kematian di Bukit Awan Hitam
100
Perbendaharaan Awan Hitam
101
Istana Melayang dan Tawaran Sang Tuan Kota
102
Melahap Sang Jiwa Bintang
103
Memori Sang Penguasa Lama dan Bayangan Kekaisaran
104
Kapal Udara Matahari Ungu
105
Kapal Induk Rampasan dan Peta Penaklukan Kekaisaran
106
Badai yang Tertunda
107
Runtuhnya Tembok Angin Besi
108
Pesan Keputusasaan
109
Gigitan Pertama pada Langit Kekaisaran
110
Kejatuhan Sang Kaisar dan Inti Bintang Runtuh
111
Evolusi Tahap Kedua dan Utusan dari Domain Suci
112
Penjara di Dasar Kawah dan Penguasa Pedang Iblis
113
Pasukan Iblis yang Bangkit
114
Pembantaian Emas dan Runtuhnya Langit Suci
115
Tiga Bintang yang Padam
116
Melangkah ke Alam Dewa
117
Pijakan Pertama di Surga
118
Darah Pertama di Lembah Terlarang
119
Utusan Gagak Besi dan Evolusi Sang Putri Es
120
Kemurkaan Gagak Besi
121
Penjara Salju Seribu Pedang
122
Hukuman Udara Terbakar
123
Runtuhnya Kekaisaran Gagak
124
Kapal Awan Suci
125
Armada Kaca Abyss dan Murka Sang Penguasa Awan
126
Pantulan Kehampaan dan Runtuhnya Langit Kaca
127
Puncak Langit Pertama
128
Gerbang Dewa Bintang
129
Hutan Bintang Ungu
130
Penolakan Ilahi dan Rantai Keterbatasan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!