Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah

​Waktu seakan kehilangan maknanya di dalam gua tanpa cahaya itu. Entah sudah berapa jam atau berapa hari berlalu sejak Lin Tian memulai tahap pertama Seni Pedang Sembilan Kematian.

​Di atas lantai batu yang dingin, tubuh pemuda itu tergeletak tak bergerak, diselimuti lapisan tebal kerak berwarna merah kehitaman—campuran dari darah kering, keringat, dan kotoran sumsum tulang yang dipaksa keluar oleh Niat Pedang murni milik Gu Chen.

​Krak... krak...

​Sebuah suara retakan pelan memecah keheningan. Lapisan kerak di lengan Lin Tian mulai retak dan berjatuhan, memperlihatkan kulit baru yang tidak lagi pucat dan rapuh, melainkan berwarna sedikit keperakan di bawah pendaran redup batu pendar.

​Lin Tian membuka matanya. Tidak ada lagi kekeruhan di sana; yang tersisa hanyalah tatapan sedingin mata pedang yang baru diasah. Ia perlahan bangkit dan duduk. Setiap kali persendiannya bergerak, terdengar suara gesekan halus yang anehnya menyerupai bunyi pedang yang ditarik dari sarungnya.

​"Sakitnya sudah hilang..." gumam Lin Tian serak. Ia menatap telapak tangannya sendiri.

​Dantiannya masih berupa lubang hitam yang hancur, tidak bisa menampung walau setetes pun energi Qi langit dan bumi. Namun, sebagai gantinya, ia bisa merasakan untaian energi yang tajam dan padat mengalir di dalam otot, pembuluh darah, dan sumsum tulangnya. Dagingnya telah menjadi cawan, dan Niat Pedang adalah airnya.

​Ia mengepalkan tinjunya dan meninjunya ke udara kosong.

​Wush! PAAT!

​Udara meledak dengan suara retakan keras. Gelombang kejut kecil tercipta hanya dari kekuatan fisik murni. Lin Tian terkesiap. Tanpa menggunakan setetes Qi pun, kekuatan pukulan ini setara dengan seorang kultivator tahap Pengumpulan Qi Tingkat 2!

​"Ini baru tahap awal Besi Penempa Daging... Sungguh seni terlarang yang mengerikan, namun ini adalah satu-satunya jalan bagiku," bisik Lin Tian sambil menatap kerangka Senior Gu Chen dengan penuh rasa hormat.

​Ia tahu, perjalanan ini masih sangat panjang. Kekuatannya saat ini tidak ada artinya di mata para tetua Sekte Awan Hijau, apalagi untuk menembus Tanah Suci dan menyelamatkan adiknya, Lin Xue. Ia harus menahan diri, menyembunyikan kekuatannya, dan menggunakan Tambang Batu Hitam ini sebagai tungku tempa pribadinya. Niat pedang di gua ini masih sangat berlimpah, cukup untuk menopang kultivasinya selama beberapa waktu ke depan.

​Lin Tian mengumpulkan sisa-sisa kain jubahnya yang robek, membersihkan diri seadanya, lalu menutupi lorong runtuh yang membawanya ke gua rahasia ini dengan tumpukan batu besar. Kekuatan fisiknya yang baru membuatnya bisa mengangkat bongkahan batu seberat ratusan kati dengan mudah.

​Setelah memastikan pintu masuknya tersembunyi sempurna, Lin Tian melangkah kembali ke terowongan tambang utama. Ia harus mengumpulkan kuota Batu Hitam sebelum matahari terbenam, atau Mandor Tie akan mulai curiga.

​Saat ia menyusuri lorong yang lembap dan dipenuhi miasma beracun, indranya yang kini jauh lebih tajam menangkap suara rintihan tertahan dan suara pukulan keras dari belokan di depan.

​Lin Tian mengintip dari balik bayangan. Di sana, seorang pria dewasa bertubuh kurus namun berotot kawat—salah satu budak veteran—sedang menginjak dada seorang remaja laki-laki yang meringkuk di tanah. Di samping mereka, keranjang bambu milik si remaja telah terguling, memuntahkan beberapa bongkah Batu Hitam.

​"Serahkan batu-batu itu, bocah cacat! Jika aku tidak memenuhi kuota hari ini, aku akan mati di luar barak!" bentak pria veteran itu, mengangkat beliungnya tinggi-tinggi, bersiap menghantamkannya ke kaki si remaja.

​Remaja itu batuk darah, namun tangannya masih berusaha melindungi sisa batu di dekatnya. Wajahnya dipenuhi debu hitam, tetapi kilat keras kepala di matanya terasa sangat familiar bagi Lin Tian.

​Lin Tian memicingkan mata. Lin Chen?

​Ingatan lama perlahan muncul. Lin Chen adalah sepupu jauh dari cabang keluarga Lin yang miskin. Berbeda dengan Lin Tian yang berhasil masuk ke Sekte Awan Hijau sebagai Murid Luar, Lin Chen hanyalah pelayan sekte. Setahun yang lalu, Lin Chen dituduh mencuri pil spiritual milik seorang Tetua dan dibuang ke Tambang Batu Hitam. Tidak heran ia terlihat sangat kurus dan nyaris seperti mayat hidup; racun miasma telah menggerogotinya selama setahun penuh.

​Melihat beliung itu meluncur turun menuju kaki Lin Chen, mata Lin Tian berkilat dingin. Tubuhnya melesat maju seperti bayangan hantu.

​BAM!

​Sebelum beliung itu menyentuh Lin Chen, tangan Lin Tian telah mencengkeram gagang kayunya dengan erat. Pria veteran itu terbelalak, berusaha menarik senjatanya, namun gagang beliung itu terasa seolah tertanam di dalam bongkahan besi padat. Tak bergeming sedikit pun.

​"Kau..." pria itu mendongak, menatap wajah dingin Lin Tian. "Anak baru! Jangan ikut campur urusan—"

​KRAK!

​Lin Tian meremas tangannya. Gagang beliung yang terbuat dari kayu ulin keras itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu di dalam genggamannya.

​Mata pria veteran itu nyaris melompat keluar dari rongganya. Menghancurkan kayu ulin tebal hanya dengan cengkeraman tangan kosong? Tanpa fluktuasi Qi? Monster macam apa ini?!

​"Pergi," kata Lin Tian, suaranya datar namun membawa tekanan berat yang membuat dada pria itu sesak.

​Tanpa membuang waktu, pria itu melepaskan sisa gagang beliungnya, berbalik, dan lari terbirit-birit menghilang ke dalam kegelapan terowongan.

​Lin Tian menghela napas, menetralkan niat membunuh yang sempat melonjak di darahnya, lalu berjongkok. Ia mengulurkan tangan dan menarik Lin Chen hingga duduk.

​Lin Chen terbatuk hebat, memegangi dadanya yang memar. Saat ia mendongak dan menatap wajah penolongnya, matanya terbelalak tak percaya.

​"Kakak... Kakak Tian? Kenapa kau bisa ada di tempat neraka ini?!" suara Lin Chen serak dan bergetar. Pandangannya turun ke arah perut Lin Tian yang dibalut kain bernoda darah kering. "Dantianmu... mereka menghancurkannya?"

​"Ceritanya panjang, Chen," sahut Lin Tian tenang. Ia memunguti bongkahan Batu Hitam yang berserakan dan memasukkannya kembali ke keranjang bambu milik Lin Chen. "Mulai sekarang, kita bertahan hidup bersama di dasar lubang ini."

​Lin Chen menundukkan wajahnya, air mata bercampur debu hitam mengalir di pipinya yang cekung. "Tidak ada harapan di sini, Kak Tian. Miasma ini... meridianku sudah tertutup sepenuhnya. Aku bahkan tidak kuat mengayunkan beliung lebih dari sepuluh kali sehari. Aku hanya menjadi beban."

​Lin Tian menatap adik sepupunya itu dalam-dalam. Di dunia kultivasi yang kejam ini, ikatan darah adalah hal yang langka dan rapuh, namun Lin Tian tahu betul rasa sakit kehilangan keluarga. Ia tidak akan membiarkan Lin Chen mati membusuk di sini, persis seperti ia menolak membiarkan Lin Xue berakhir menjadi kuali kultivasi di Tanah Suci.

​"Duduklah. Serahkan urusan batu kepadaku," ucap Lin Tian tegas. Ia mengambil beliung karatan miliknya sendiri.

​Lin Tian berjalan ke arah dinding batu terdekat. Ia menarik napas dalam-dalam. Otot-otot di lengannya menegang, memancarkan kilau keperakan samar di bawah debu. Ia mengayunkan beliung itu bukan dengan teknik, melainkan dengan kebrutalan murni yang didukung oleh otot tempaan Niat Pedang.

​DUAAR!

​Batu tambang yang terkenal luar biasa keras itu hancur berantakan dalam satu ayunan, meruntuhkan setengah dinding terowongan dan memunculkan lusinan bongkahan Batu Hitam berkualitas tinggi.

​Mulut Lin Chen ternganga lebar. Bahkan Mandor Tie yang berada di Pengumpulan Qi Tingkat 5 tidak bisa menghancurkan batu tambang sebrutal itu!

​"Kak... Kak Tian, kekuatan fisik apa ini...?"

​Lin Tian menoleh ke belakang, menyeka keringat di dahinya, dan memberikan senyum tipis yang memendam tekad ribuan tahun.

​"Ini adalah kekuatan orang cacat yang menolak untuk mati, Chen. Ayo, kumpulkan batunya. Sebentar lagi matahari terbenam. Kita harus memberikan 'salam' yang pantas untuk Mandor Tie."

Terpopuler

Comments

aleena

aleena

Lin chen kamu juga hrus kuat sama seperti lin tian

2026-07-03

3

Nanik S

Nanik S

Kasihan nasib budak tambang

2026-06-02

1

yos helmi

yos helmi

🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍

2026-05-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Hujan Darah di Awan Hijau
2 Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi
3 Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah
4 Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah
5 Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara
6 Bab 6: Teror Tangan Kosong dan Rahasia Batu Darah
7 Bab 7: Kedalaman Barat dan Tahap Baja Pembelah Urat
8 Bab 8: Lonceng Kematian di Gerbang Awan
9 Bab 9: Lautan Darah di Tangga Awan
10 Bab 10: Pengorbanan di Puncak Awan Hukuman
11 Bab 11: Runtuhnya Kesombongan
12 Bab 12: Suaka di Balik Belantara dan Taring Besi
13 Bab 13: Bayangan Pembantai
14 Bab 14: Evolusi Lengan Kanan
15 Bab 15: Pintu Berdarah
16 Bab 16: Mekarnya Teratai Darah dan Roh Pedang Kuno
17 Bab 17: Inti Kekosongan dan Penyerapan Biji Teratai
18 Bab 18: Hukum Ketiadaan dan Gerbang Istana Perunggu
19 Bab 19: Takhta Pedang Patah
20 Bab 20: Langit Hitam di Atas Musim Gugur
21 Bab 21: Harga Mutlak Sebuah Kekuatan
22 Bab 22: Kota Perbatasan Batu Darah
23 Bab 23: Penginapan Tong Hitam
24 Bab 24: Gelar Iblis Arena dan Mata Sang Penilai
25 Bab 25: Pasar Gelap
26 Bab 26: Arena Puncak Darah
27 Bab 27: Pembantaian Tanpa Suara
28 Bab 28: Kristal Tulang Naga
29 Bab 29: Menara Ilusi dan Kabut Pembusuk Jiwa
30 Bab 30: Tekanan Inti Emas
31 Bab 31: Batas Kerapuhan dan Segel Kristal Tulang Naga
32 Bab 32: Geladak Bawah dan Hukum Batu Bara
33 Bab 33: Lorong Api dan Pencuri Bayangan
34 Bab 34: Penawar Matahari
35 Bab 35: Kesepakatan dalam Debu
36 Bab 36: Jantung Tungku Api
37 Bab 37: Menembus Kanopi dan Akar Hutan Kabut
38 Bab 38: Gema dari Reruntuhan
39 Bab 39: Tarian Hantu di Balik Kabut
40 Bab 40: Zona Kematian dan Beban Tulang Naga
41 Bab 41: Batas Rimba dan Pembantaian Tanpa Suara
42 Bab 42: Transaksi Logis
43 Bab 43: Distrik Lumpur
44 Bab 44: Keganasan Presisi
45 Bab 45: Penempaan Organ Fana
46 Bab 46: Darah di Bawah Hujan
47 Bab 47: Tuan Muda Mo
48 Bab 48: Ranting Dedalu
49 Bab 49: Tekanan Tak Kasat Mata
50 Bab 50: Gemerlap Seratus Harta
51 Bab 51: Pelajaran Pembantaian
52 Bab 52: Kepadatan Bintang dan Undangan di Atas Awan
53 Bab 53: Darah di Arena Awan
54 Bab 54: Perbendaharaan Kota
55 Bab 55: Ujung Pedang Ketiadaan
56 Bab 56: Ketakutan di Kediaman Zhao
57 Bab 57: Fajar Berdarah dan Lonceng Kematian Klan Zhao
58 Bab 58: Langit yang Terbelah
59 Bab 59: Jaring Merah Tanah Suci
60 Bab 60: Kapal Perang di Atas Awan
61 Runtuhnya Langit dan Tarian Pedang Ketiadaan
62 Kepanikan Benua Tengah dan Langkah Menuju Tanah Terbuang
63 Badai Pasir Merah dan Hukum Tanah Terbuang
64 Kota Tanpa Hukum dan Tungku Tulang Hitam
65 Umpan Satu Juta dan Kertas Perkamen Darah
66 Kepompong Darah
67 Radius Kematian dan Badai Pasir Beracun
68 Pilar Keputusasaan dan Pesan Rantai Besi
69 Tarian Pedang Merah dan Tangga Mayat Pilar Kedua
70 Konspirasi Delapan Penguasa dan Cermin Jiwa Ketiadaan
71 Langit Abu-Abu dan Tumbangnya Delapan Pilar Emas
72 Tinju Tulang Naga dan Hancurnya Sayap Iblis
73 Tahta Tulang Hitam dan Panggilan Medan Perang Kuno
74 Formasi Tanpa Langit dan Bayangan Armada Utara
75 Meriam Pemusnah Langit
76 Domain Musim Dingin
77 Guncangan Benua Tengah
78 Runtuhnya Gerbang Langit
79 Pijakan Ketiadaan dan Deklarasi Tiga Tanah Suci
80 Benturan Emas dan Ketiadaan di Lembah Pedang
81 Awan Hitam di Atas Gerbang Langit
82 Rantai Semesta dan Mata Langit yang Terbuka
83 Menelan Murka Langit
84 Tunduknya Tiga Tanah Suci
85 Aturan Baru dan Misteri Pintu Mengambang
86 Gerbang Alam Atas
87 Beratnya Langit Baru
88 Darah Pertama di Alam Atas
89 Desa Batu Hitam dan Rahasia Energi Bintang
90 Meminjam Bintang dan Hancurnya Cakar Besi
91 Penyerbuan Malam dan Kekuatan Inti Bintang
92 Harta Karun Cakar Besi dan Peta Benua Atas
93 Jalan Menuju Kota Bintang Bulan dan Pengkhianatan Karavan
94 Memasuki Gerbang Kota Bintang Bulan
95 Jalur Tikus Berdarah dan Panen di Pasar Gelap
96 Rumah Lelang Bintang Langit dan Pecahan Bintang Mati
97 Menelan Bintang Mati dan Penyergapan Awan Hitam
98 Malam Pemurnian dan Kemarahan Awan Hitam
99 Lonceng Kematian di Bukit Awan Hitam
100 Perbendaharaan Awan Hitam
101 Istana Melayang dan Tawaran Sang Tuan Kota
102 Melahap Sang Jiwa Bintang
103 Memori Sang Penguasa Lama dan Bayangan Kekaisaran
104 Kapal Udara Matahari Ungu
105 Kapal Induk Rampasan dan Peta Penaklukan Kekaisaran
106 Badai yang Tertunda
107 Runtuhnya Tembok Angin Besi
108 Pesan Keputusasaan
109 Gigitan Pertama pada Langit Kekaisaran
110 Kejatuhan Sang Kaisar dan Inti Bintang Runtuh
111 Evolusi Tahap Kedua dan Utusan dari Domain Suci
112 Penjara di Dasar Kawah dan Penguasa Pedang Iblis
113 Pasukan Iblis yang Bangkit
114 Pembantaian Emas dan Runtuhnya Langit Suci
115 Tiga Bintang yang Padam
116 Melangkah ke Alam Dewa
117 Pijakan Pertama di Surga
118 Darah Pertama di Lembah Terlarang
119 Utusan Gagak Besi dan Evolusi Sang Putri Es
120 Kemurkaan Gagak Besi
121 Penjara Salju Seribu Pedang
122 Hukuman Udara Terbakar
123 Runtuhnya Kekaisaran Gagak
124 Kapal Awan Suci
125 Armada Kaca Abyss dan Murka Sang Penguasa Awan
126 Pantulan Kehampaan dan Runtuhnya Langit Kaca
127 Puncak Langit Pertama
128 Gerbang Dewa Bintang
129 Hutan Bintang Ungu
130 Penolakan Ilahi dan Rantai Keterbatasan
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Bab 1: Hujan Darah di Awan Hijau
2
Bab 2: Gua Tanpa Cahaya dan Tulang Besi
3
Bab 3: Kelahiran Kembali dari Darah
4
Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah
5
Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara
6
Bab 6: Teror Tangan Kosong dan Rahasia Batu Darah
7
Bab 7: Kedalaman Barat dan Tahap Baja Pembelah Urat
8
Bab 8: Lonceng Kematian di Gerbang Awan
9
Bab 9: Lautan Darah di Tangga Awan
10
Bab 10: Pengorbanan di Puncak Awan Hukuman
11
Bab 11: Runtuhnya Kesombongan
12
Bab 12: Suaka di Balik Belantara dan Taring Besi
13
Bab 13: Bayangan Pembantai
14
Bab 14: Evolusi Lengan Kanan
15
Bab 15: Pintu Berdarah
16
Bab 16: Mekarnya Teratai Darah dan Roh Pedang Kuno
17
Bab 17: Inti Kekosongan dan Penyerapan Biji Teratai
18
Bab 18: Hukum Ketiadaan dan Gerbang Istana Perunggu
19
Bab 19: Takhta Pedang Patah
20
Bab 20: Langit Hitam di Atas Musim Gugur
21
Bab 21: Harga Mutlak Sebuah Kekuatan
22
Bab 22: Kota Perbatasan Batu Darah
23
Bab 23: Penginapan Tong Hitam
24
Bab 24: Gelar Iblis Arena dan Mata Sang Penilai
25
Bab 25: Pasar Gelap
26
Bab 26: Arena Puncak Darah
27
Bab 27: Pembantaian Tanpa Suara
28
Bab 28: Kristal Tulang Naga
29
Bab 29: Menara Ilusi dan Kabut Pembusuk Jiwa
30
Bab 30: Tekanan Inti Emas
31
Bab 31: Batas Kerapuhan dan Segel Kristal Tulang Naga
32
Bab 32: Geladak Bawah dan Hukum Batu Bara
33
Bab 33: Lorong Api dan Pencuri Bayangan
34
Bab 34: Penawar Matahari
35
Bab 35: Kesepakatan dalam Debu
36
Bab 36: Jantung Tungku Api
37
Bab 37: Menembus Kanopi dan Akar Hutan Kabut
38
Bab 38: Gema dari Reruntuhan
39
Bab 39: Tarian Hantu di Balik Kabut
40
Bab 40: Zona Kematian dan Beban Tulang Naga
41
Bab 41: Batas Rimba dan Pembantaian Tanpa Suara
42
Bab 42: Transaksi Logis
43
Bab 43: Distrik Lumpur
44
Bab 44: Keganasan Presisi
45
Bab 45: Penempaan Organ Fana
46
Bab 46: Darah di Bawah Hujan
47
Bab 47: Tuan Muda Mo
48
Bab 48: Ranting Dedalu
49
Bab 49: Tekanan Tak Kasat Mata
50
Bab 50: Gemerlap Seratus Harta
51
Bab 51: Pelajaran Pembantaian
52
Bab 52: Kepadatan Bintang dan Undangan di Atas Awan
53
Bab 53: Darah di Arena Awan
54
Bab 54: Perbendaharaan Kota
55
Bab 55: Ujung Pedang Ketiadaan
56
Bab 56: Ketakutan di Kediaman Zhao
57
Bab 57: Fajar Berdarah dan Lonceng Kematian Klan Zhao
58
Bab 58: Langit yang Terbelah
59
Bab 59: Jaring Merah Tanah Suci
60
Bab 60: Kapal Perang di Atas Awan
61
Runtuhnya Langit dan Tarian Pedang Ketiadaan
62
Kepanikan Benua Tengah dan Langkah Menuju Tanah Terbuang
63
Badai Pasir Merah dan Hukum Tanah Terbuang
64
Kota Tanpa Hukum dan Tungku Tulang Hitam
65
Umpan Satu Juta dan Kertas Perkamen Darah
66
Kepompong Darah
67
Radius Kematian dan Badai Pasir Beracun
68
Pilar Keputusasaan dan Pesan Rantai Besi
69
Tarian Pedang Merah dan Tangga Mayat Pilar Kedua
70
Konspirasi Delapan Penguasa dan Cermin Jiwa Ketiadaan
71
Langit Abu-Abu dan Tumbangnya Delapan Pilar Emas
72
Tinju Tulang Naga dan Hancurnya Sayap Iblis
73
Tahta Tulang Hitam dan Panggilan Medan Perang Kuno
74
Formasi Tanpa Langit dan Bayangan Armada Utara
75
Meriam Pemusnah Langit
76
Domain Musim Dingin
77
Guncangan Benua Tengah
78
Runtuhnya Gerbang Langit
79
Pijakan Ketiadaan dan Deklarasi Tiga Tanah Suci
80
Benturan Emas dan Ketiadaan di Lembah Pedang
81
Awan Hitam di Atas Gerbang Langit
82
Rantai Semesta dan Mata Langit yang Terbuka
83
Menelan Murka Langit
84
Tunduknya Tiga Tanah Suci
85
Aturan Baru dan Misteri Pintu Mengambang
86
Gerbang Alam Atas
87
Beratnya Langit Baru
88
Darah Pertama di Alam Atas
89
Desa Batu Hitam dan Rahasia Energi Bintang
90
Meminjam Bintang dan Hancurnya Cakar Besi
91
Penyerbuan Malam dan Kekuatan Inti Bintang
92
Harta Karun Cakar Besi dan Peta Benua Atas
93
Jalan Menuju Kota Bintang Bulan dan Pengkhianatan Karavan
94
Memasuki Gerbang Kota Bintang Bulan
95
Jalur Tikus Berdarah dan Panen di Pasar Gelap
96
Rumah Lelang Bintang Langit dan Pecahan Bintang Mati
97
Menelan Bintang Mati dan Penyergapan Awan Hitam
98
Malam Pemurnian dan Kemarahan Awan Hitam
99
Lonceng Kematian di Bukit Awan Hitam
100
Perbendaharaan Awan Hitam
101
Istana Melayang dan Tawaran Sang Tuan Kota
102
Melahap Sang Jiwa Bintang
103
Memori Sang Penguasa Lama dan Bayangan Kekaisaran
104
Kapal Udara Matahari Ungu
105
Kapal Induk Rampasan dan Peta Penaklukan Kekaisaran
106
Badai yang Tertunda
107
Runtuhnya Tembok Angin Besi
108
Pesan Keputusasaan
109
Gigitan Pertama pada Langit Kekaisaran
110
Kejatuhan Sang Kaisar dan Inti Bintang Runtuh
111
Evolusi Tahap Kedua dan Utusan dari Domain Suci
112
Penjara di Dasar Kawah dan Penguasa Pedang Iblis
113
Pasukan Iblis yang Bangkit
114
Pembantaian Emas dan Runtuhnya Langit Suci
115
Tiga Bintang yang Padam
116
Melangkah ke Alam Dewa
117
Pijakan Pertama di Surga
118
Darah Pertama di Lembah Terlarang
119
Utusan Gagak Besi dan Evolusi Sang Putri Es
120
Kemurkaan Gagak Besi
121
Penjara Salju Seribu Pedang
122
Hukuman Udara Terbakar
123
Runtuhnya Kekaisaran Gagak
124
Kapal Awan Suci
125
Armada Kaca Abyss dan Murka Sang Penguasa Awan
126
Pantulan Kehampaan dan Runtuhnya Langit Kaca
127
Puncak Langit Pertama
128
Gerbang Dewa Bintang
129
Hutan Bintang Ungu
130
Penolakan Ilahi dan Rantai Keterbatasan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!