Bab 2

"Tehmu."

Seraphina meletakkan teh pesanan suaminya diatas nakas. Kemudian, dia naik ke tempat tidur, menarik selimut lalu berusaha tidur dengan posisi menyamping membelakangi Kaivan.

"Sera... kamu sudah tidur?" tanya Kaivan beberapa saat kemudian.

"Belum," jawab Seraphina. Dia tetap pada posisinya.

"Maaf."

Satu kata itu sudah tak berarti lagi bagi Seraphina. Dia tak lagi marah seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia tak lagi menangis. Dia hanya diam.

"Seharusnya, aku tidak melupakan hari anniversary pernikahan kita. Aku memang pria yang tidak bisa diandalkan."

Kaivan tertawa kering. Dan , Seraphina tetap diam. Jiwanya sudah hampa. Dia sendiri tidak tahu sejak kapan perasaannya kepada Kaivan perlahan memudar.

"Malam ini... apa kamu menyiapkan acara makan malam lagi? Kalau begitu, ayo kita turun makan. Walaupun makanannya sudah dingin, tapi aku yakin rasanya masih nikmat."

Kaivan turun dari ranjang. Dia tampak bersemangat untuk turun ke bawah.

"Aku tidak memasak apa-apa."

Suara Seraphina membuat tangan Kaivan membeku di pintu. Pria itu pun menoleh ke arah tempat tidur.

Istrinya bergeming. Tak bergerak sedikitpun dari posisi berbaringnya.

"Seraphina... Kamu kenapa? Apa kamu sakit?"

Kaivan melangkah mendekati sang istri. Punggung tangannya ia tempelkan ke dahi wanita itu.

"Suhu tubuhmu normal. Apa jangan-jangan, kamu mengalami nyeri haid lagi?"

Tangan Kaivan kini berpindah ke perut Seraphina. Dia mengusap perut rata itu dengan penuh kasih sayang.

"Aku baik-baik saja," kata Seraphina. Dia meraih telapak tangan Kaivan kemudian memindahkannya dari atas perutnya.

"Seraphina..."

"Aku mengantuk. Bolehkah aku istirahat sekarang?"

"Baiklah. Selamat tidur."

Kaivan mengecup dahi istrinya. Dia mengusap pipi halus Seraphina sambil berbisik pelan, "aku mencintaimu."

Sayangnya... Seraphina tahu jika semua itu palsu.

*******

"Selamat pagi, Seraphina!"

Suara ceria Kalani terdengar dari arah luar. Seperti biasa, kakak kandungnya itu akan datang ke rumahnya untuk sarapan bersama.

"Apa sarapan kita pagi ini?" tanya Kalani sambil menarik satu kursi dan duduk layaknya sang pemilik rumah.

Seraphina mengeluarkan roti tawar dari dalam kulkas. Dia meletakkan makanan itu diatas meja, tepat didepan Kalani.

"Hanya ini?" tanya Kalani. Sebelah alisnya terangkat tinggi.

"Hanya ada itu. Kalau kamu mau, silakan dimakan. Kalau tidak, silakan pulang!" jawab Seraphina.

"Kamu tidak boleh mengusir Kakak kandungmu seperti itu, Sayang!"

Kaivan hadir sebagai penengah diantara keduanya. Namun, di mata Seraphina, Kaivan datang hanya untuk membela satu orang.

"Selamat pagi, Kaivan," sapa Kalani.

"Selamat pagi, Lani," balas Kaivan dengan senyuman penuh arti.

Dia ikut bergabung di meja makan. Duduk di kursi yang berada tepat di samping Kalani. Sementara, Seraphina memilih duduk di kursi yang bersebrangan dengan keduanya.

"Sayang, kamu tidak masak sarapan?" tanya Kaivan lembut pada istrinya.

"Tidak," jawab Seraphina singkat. Dia mengambil satu roti, mengolesinya dengan selai blueberry, lalu mulai memakannya sedikit demi sedikit meski tidak terlalu lapar.

"Kenapa? Bukannya, kamu tahu kalau Kalani wajib sarapan sebelum berangkat bekerja?"

Dahi Seraphina mengernyit. "Sejak kapan, menu sarapannya harus menjadi tanggung jawab ku?"

Kaivan menegang sementara Kalani menggeram kesal.

"Sera, apa kamu marah karena aku terus sarapan di rumah mu? Apa menurut mu aku ini merepotkan?"

"Bagus jika akhirnya kamu sadar diri."

"Seraphina!" Kaivan membentak istrinya. Yang dia pedulikan hanya perubahan ekspresi wajah Kalani dari yang awalnya tersenyum kini berubah jadi sedih.

"Kalani ini kakakmu. Apa pantas kamu berkata sekasar itu padanya, hah?"

Seraphina diam. Dia malas menyanggah. Mau sekeras apapun dia bersuara, Kaivan tak akan pernah mendengarkan pembelaan darinya.

"Sekarang, minta maaf pada Kalani!" titah Kaivan.

"Kaivan..." Kalani mengusap pelan lengan Kaivan. Ia seolah sengaja mempertontonkan adegan mesra itu dihadapan Seraphina.

"... Seraphina tidak bersalah. Aku yang bersalah. Tidak seharusnya aku terus merepotkan kalian. Mulai besok, aku akan sarapan di rumah ku sendiri. Aku tidak akan sarapan di sini lagi."

"Apa kamu sudah puas, Seraphina?"

Nada suara Kaivan masih terdengar marah. "Padahal, hanya masalah sepele. Apa salahnya jika menambah seporsi sarapan lagi untuk Kakak kandungmu sendiri?"

"Mungkin, Seraphina lelah," celetuk Kalani. "Maklumlah. Walaupun pekerjaan rumah tidak selelah pekerjaan kantor, tapi tetap saja Seraphina sudah bekerja keras mengurus rumah dengan baik. Iya kan, Seraphina?"

Kalani memiringkan kepalanya. Tatapannya jelas mengejek, menantang. Namun, Seraphina tak semudah itu untuk terprovokasi.

"Jangan membela dia terus, Lani. Dia jadi keras kepala seperti ini karena kamu yang terlalu memanjakannya."

Kaivan mendengkus kasar. Dia mengambil satu roti lalu mengolesinya dengan selai cokelat. Kemudian, roti itu ia berikan kepada Kalani.

"Makan yang ini dulu, tidak apa-apa, kan?"

"Terima kasih, Kaivan."

Kalani tersenyum lebar.

"Besok, kamu mau sarapan apa?"

"Aku ingin sandwich dengan isian smoked beef."

"Seraphina, kamu dengar, kan?"

Seraphina lagi-lagi tak menjawab. Setelah rotinya habis, dia memilih untuk meninggalkan meja makan.

Perempuan itu masuk ke sebuah ruangan yang terletak disamping gudang. Ruangan kedap suara itu ia kunci rapat-rapat dari dalam.

Seraphina menyalakan dua buah televisi yang tergantung didalam ruangan. Dia duduk di kursi lalu mengambil headphone untuk mendengarkan suara dari video yang sedang dia lihat.

Sebuah video yang menampilkan suaminya bersama kakak kandungnya yang masih duduk di meja makan dengan posisi yang begitu dekat dan intim.

CCTV.

"Lani, apa kamu bahagia menikah dengan Arsenio?"

Kaivan memegang kedua tangan Kalani. Tatapannya lembut, penuh cinta.

"Kalau aku bilang tidak, kamu mau bagaimana?"

Kalani menjawab dengan suara sendu.

"Kenapa kamu tidak bahagia?"

Suara Kaivan terdengar begitu putus asa.

"Bukankah... Kamu sudah berjanji akan bahagia setelah menikah dengannya? Aku bahkan sudah mengorbankan diri demi kebahagiaanmu. Aku rela menikahi Seraphina, hanya demi memastikan agar dia tidak mengganggu hubungan mu dengan Arsenio."

"Kaivan, ternyata menikah dengan Arsenio tidak sebahagia yang aku bayangkan. Awalnya, semua memang terasa sempurna. Tapi, lama-kelamaan, Arsenio mulai memperlihatkan tabiat aslinya. Dia terlalu banyak mengatur. Dia terlalu membatasi ruang gerakku. Bahkan, aku dipaksa bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Padahal, impianku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga seperti Seraphina. Aku ingin menyambut suamiku setiap kali dia pulang bekerja. Aku ingin memasak untuknya. Aku ingin seluruh waktuku hanya untuk keluarga."

Kalani tersenyum. Kelicikannya perlahan mulai bekerja kembali.

Awalnya, Kaivan memang sangat mencintainya. Namun, karena Kalani lebih memilih Arsenio, maka dia memilih untuk menolak perasaan Kaivan.

Tapi, sekarang Kalani sudah bosan dengan Arsenio. Dia tidak suka dengan lelaki yang menyuruhnya untuk bekerja.

Dia ingin pria seperti Kaivan. Dia ingin pria yang memintanya hanya duduk manis di rumah tanpa perlu merasakan lelahnya mencari uang.

"Kaivan..." Kalani menyentuh wajah Kaivan. "... andai dulu aku menikah denganmu, apakah hidupku akan sebahagia Seraphina?"

Dan, Seraphina yang melihat semua itu hanya menatap datar. Perasaannya kepada Kaivan mungkin benar-benar sudah selesai.

Terpopuler

Comments

❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🇮🇩

❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🇮🇩

lah semua yang deket sama seravina diambil kakak nya.. dasar jalang ngga tau diri banget.. lagian kaivan ngga bisa ngeliat batu kerikil sama berlian.. udh pergi seravina biar kaivan menyesal telah selingkuh😎

2026-08-26

0

Nabila hasir

Nabila hasir

wahhhh menyala otaknya nabila baca saudaranya sera nih tak berotak.kedua prianya pun juga tak berotak

2026-08-04

0

Ira Rachmad

Ira Rachmad

aku baca dr awal sudah esmosian.

2026-08-02

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!