Bab 3

"Masih belum berangkat?"

Baik Kaivan maupun Kalani tampak terperanjat kaget saat suara Seraphina yang tak sehangat biasanya terdengar dari belakang mereka.

Keduanya reflek mengikis jarak. Tangan Kaivan yang semula menggenggam erat tangan Kalani juga ikut ditarik secara paksa.

"I-ini baru mau berangkat," balas Kaivan sambil berdiri dari kursinya.

"Kaivan, apa aku boleh menumpang mobilmu?" tanya Kalani. "Mobilku sedang mogok."

"Tentu saja boleh," angguk Kaivan senang.

Baginya, waktu berduaan dengan Kalani adalah momen terindah dalam hidupnya. Walau hanya bisa menjaga Kalani sebagai ipar, namun Kaivan sudah cukup puas.

Setidaknya, dia bisa melihat Kalani. Setidaknya, dia masih bisa memastikan jika Kalani tak kekurangan apapun.

"Sera, kamu tidak keberatan, kan?" tanya Kalani kepada sang adik.

Dia menyentuh pelan lengan Seraphina. Wajahnya mendekat, kemudian bibirnya berbisik pelan di telinga sang adik.

"Aku akan merebut Kaivan kembali."

Seraphina tidak mengamuk seperti biasa. Seraphina hanya diam. Hening.

Hal itu membuat Kalani jadi tidak nyaman.

"Sera, kenapa hanya diam saja? Apa kamu keberatan jika aku menumpang mobil suamimu?"

Wajah Kalani memelas. Berpura-pura sedih.

"Sera..."

"Tidak."

Ucapan Kaivan terpotong saat suara Seraphina terdengar tegas.

"Aku tidak keberatan sama sekali. Kamu kakak iparnya. Wajar, jika suamiku membantumu, kan? Lagipula..."

Seraphina sengaja melilitkan lengannya di lengan sang suami.

"... Aku tahu benar jika suami Kakak memang tidak sehebat suamiku. Arsenio itu, dari dulu memang egois. Dia hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pandai memanjakan wanita."

Sudut bibir Seraphina sedikit terangkat. Dia tersenyum mengejek. Tipis sekali.

"Untung Kakak mengambilnya dariku. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa bertemu dengan pria sehebat Kaivan."

Telapak tangan Seraphina mengepal kuat. Cemburu membakar seluruh akal sehatnya.

Kenapa?

Kenapa Seraphina selalu mendapatkan yang terbaik sementara dirinya tidak?

"Sera, apa yang kamu bicarakan?" protes Kaivan. Pria itu resah melihat perubahan ekspresi wajah Kalani.

Pasti, wanita yang dia cintai itu terluka akibat kata-kata Seraphina.

"Lihat, kamu membuat kakakmu sendiri jadi sedih," lanjut Kaivan.

"Oh, maaf!"

Seraphina memasang tampang berpura-pura peduli.

"Aku benar-benar tidak peka. Kak, maaf!" ucapnya dengan sorot mata penuh dengan ejekan.

Sebisa mungkin, Kalani tetap berusaha mengontrol emosinya. Dia tak boleh meledak didepan Kaivan. Hal itu hanya akan menghancurkan citra baiknya didepan lelaki itu.

"Tidak apa-apa," sahut Kalani. "Aku mengerti. Kamu hanya terlalu membanggakan Kaivan. Tapi, Seraphina..."

Kalani tersenyum sinis. "... hati-hati!" lanjutnya. "Jangan terlalu sering mengatakan kelebihan Kaivan didepan wanita lain. Takutnya, ada yang tertarik dan malah merebut Kaivan darimu."

Seraphina tertawa.

"Aku hanya mengatakan soal kelebihan Kaivan didepan Kakak saja. Karena, aku percaya... Kakak tidak mungkin tega merebut lelaki ku untuk yang kedua kalinya, kan?"

Udara mendadak terasa panas. Ruangan itu seketika hening.

Kalani mengepalkan kedua tangannya. Kuku-kukunya yang panjang terawat menusuk telapak tangannya sendiri hingga memerah.

********

Malam harinya, Seraphina dan Kaivan diundang ke rumah orangtua Seraphina untuk makan malam. Tak hanya mereka berdua. Kalani, Arsenio, dan Meysha, putri kecil mereka juga ikut diundang.

"Halo, Sayang!"

Begitu sampai, Kaivan langsung menggendong Meysha. Gadis kecil berusia empat setengah tahun itu memang sangat akrab dengan Kaivan.

"Uncle Kai," sapa Meysha riang.

"Kai, lihat! Meysha memang sangat menyukai mu. Dia bahkan terus menanyakan tentangmu saat di rumah tadi. Dia bilang, kapan aku bisa bertemu Uncle Kai?"

Keduanya tertawa.

Kalani dan Kaivan.

Mereka mengobrol dalam posisi yang sangat dekat.

Kaivan duduk memangku Meysha sementara Kalani berada disampingnya sambil memegang bahunya mesra.

Lalu, dimana Seraphina?

Seraphina duduk didepan mereka. Cosplay menjadi pajangan keramik mahal yang tak dipedulikan keberadaannya.

"Sera..."

Arsenio mendekat. Pria itu duduk di sebelah Seraphina.

"... Apa kamu tidak cemburu dengan kedekatan mereka?"

"Untuk apa? Kedekatan mereka wajar-wajar saja. Kakak dan adik ipar, kan?"

Seraphina menyesap wine-nya dengan anggun. Disampingnya, Arsenio tampak begitu frustasi.

"Sera, apa kamu tidak sadar jika mereka saling menyukai?"

Tatapan Seraphina tertuju pada Arsenio. Sisa wine miliknya dia siramkan ke wajah pria itu.

Nada suaranya terdengar meninggi. "Jangan suka menebar fitnah, Arsen. Apalagi, tentang hubungan suami dan kakak kandung ku."

Percakapan di sofa seberang mendadak terhenti. Jarak yang semula begitu dekat, kini reflek terpisah saat suara Seraphina terdengar lantang.

"Arsen, jangan asal bicara!" kata Kaivan sambil menurunkan Meysha dari pangkuannya. "Apalagi, jika berani menghasut istriku agar salah paham dengan hubungan antara aku dan Kalani."

"Iya, Arsen," Kalani ikut menambahkan.

"Aku dan Kaivan sudah kenal lama. Bahkan, jauh sebelum Sera dan Kaivan menikah. Jadi, wajar jika kami sangat akrab, kan? Kalau kamu cemburu, datang saja padaku! Jangan lampiaskan kecemburuan itu dengan cara menghancurkan hubungan rumah tangga antara Sera dan Kaivan."

Arsenio merasa terpojok. Dia marah pada semuanya.

Marah pada Kalani yang ternyata tidak sebaik kelihatannya.

Marah pada Kaivan yang sangat jelas menginginkan istrinya.

Dan, marah pada Seraphina yang jelas-jelas sedang diselingkuhi tapi masih saja membela Kaivan dan juga Kalani.

"Sera, lihat saja nanti! Kaivan dan Kalani tidak sebaik yang kamu pikirkan."

Arsenio memilih pergi. Dia tak peduli lagi dengan agenda makan malam yang lima menit lagi akan diadakan.

Yang dia pedulikan hanya satu. Dia ingin melampiaskan amarahnya tapi tidak ditempat itu.

Makan malam akhirnya dimulai. Untuk pertama kalinya, Seraphina benar-benar makan dengan lahap.

Dia tidak mengupaskan kulit udang lagi untuk suaminya. Dia tidak berusaha mendinginkan sup daging lagi untuk suaminya.

Dia hanya benar-benar makan tanpa berusaha terlibat dalam pembicaraan seru antara kedua orangtuanya, kakaknya, dan juga suaminya.

"Kalian berdua ini memang benar-benar cocok," seru Romi dengan sisa tawa yang masih terdengar dari mulutnya.

"Kamu dengar itu, Kaivan?" Kalani yang duduk disamping Kaivan menepuk pelan lengan pria itu.

"Ayah saja setuju kalau kita berdua ini memang sangat cocok," lanjut Kalani.

Prang.

Seraphina menarik perhatian saat dia tak sengaja menyenggol gelas yang diletakkan pelayan tepat disamping kirinya.

Tawa langsung terhenti. Berganti tatapan penuh kekesalan dari kedua orangtuanya.

"Maaf," ucap Seraphina. "Aku tidak sengaja. Akan ku bereskan."

Dia lekas berjongkok. Memungut pecahan beling itu satu persatu.

"Biar saya bantu, Nona," kata seorang pelayan.

"Tidak usah dibantu!" seru Romi menghentikan gerakan pelayan itu.

"Sejak kecil, dia memang sangat ceroboh. Berbeda sekali dengan Lani. Jadi, biarkan dia membereskan kekacauan yang dia buat sendiri."

Seraphina tersenyum getir. Dia memang sedikit ceroboh sejak kecil. Tapi, setidaknya dia tidak pernah mempermalukan nama keluarga seperti yang dilakukan oleh Kalani.

Tapi, mau seperti apapun dirinya... bagi kedua orangtuanya hanya ada Kalani di mata mereka.

"Argh!"

Seraphina memekik kecil. Salah satu beling menusuk jari telunjuknya hingga berdarah.

Akhirnya, dia punya alasan untuk menangis.

"Sera, kamu tidak apa-apa?"

Kaivan lekas berjongkok. Dia memeriksa luka istrinya lalu tanpa pikir panjang langsung menghi sap telunjuk Seraphina yang berdarah.

"Jangan menangis!" hibur Kaivan. "Walaupun sakit, tapi pasti akan cepat sembuh."

"Tolong ambilkan kotak obat! Lukanya perlu dibersihkan," titah Kaivan pada pelayan.

"Kaivan," panggil Kalani. "Seraphina hanya sedang cari perhatian. Jangan terlalu ditanggapi."

Namun, Kaivan justru menatap Kalani dengan tatapan yang terlihat asing. Seperti ada kemarahan yang tersembunyi.

"Dia benar-benar kesakitan. Bagaimana mungkin kamu menganggapnya hanya cari perhatian?"

Terpopuler

Comments

Nabila hasir

Nabila hasir

Sera mending kamu harus punya perhitungan pergi dari rumah tanggamu dan menjauh dari keluarga toxic mu

2026-08-04

0

Ayuk Witanto

Ayuk Witanto

kalaupun cari perhatian kenapa...dia kan suaminya

2026-08-17

0

Sisca Raharjo

Sisca Raharjo

seru ceritanya, aku suka 😍

2026-08-26

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!