Bab 4

Tubuh Kalani membeku. Pertama kalinya, Kaivan membentaknya seperti ini. Dan, itu semua gara-gara Seraphina.

"Sera, tahan sedikit."

Kaivan mulai membersihkan luka Seraphina. Dia mengoleskan obat lalu menempelkan plester luka untuk mencegah infeksi.

"Bagaimana? Sudah tidak sakit lagi, kan?" tanya Kaivan dengan senyum yang terlihat sangat manis di wajah gagahnya.

Ya, terkadang Kaivan memang bisa bertindak semanis ini. Tapi, terkadang Kaivan juga bisa bertindak begitu dingin seolah tanpa perasaan.

"Terima kasih," lirih Seraphina. Dia memandangi jarinya yang sudah ditutup plester luka.

Hatinya bertanya. Masihkah jejak rasa itu tertinggal untuk Kaivan? Dan, jawabannya tidak.

Jantungnya tak lagi berdetak kencang saat Kaivan bersikap semanis sekarang. Hatinya tak lagi menghangat saat melihat Kaivan tersenyum segagah itu.

Padahal, hal pertama yang dulu memikat Seraphina adalah senyuman pria itu.

"Sera, kamu bertindak aneh malam ini," kata Kaivan sambil duduk disamping istrinya.

Keduanya sedang berada di kamar Seraphina. Sebuah kamar yang jauh lebih kecil dibanding kamar Kalani yang letaknya persis disamping.

Jika kamar Kalani dipenuhi dengan pakaian-pakaian mahal, tas-tas bermerk, serta perhiasan-perhiasan yang berkilauan, maka kamar Seraphina justru sebaliknya.

Di kamar kecil itu berderet piagam penghargaan yang jumlahnya mungkin ada ratusan. Boneka-boneka kecil yang diambil dari mesin capit, buku-buku tebal, serta tumpukan lukisan yang terletak di sudut ruangan.

"Aneh bagaimana?" tanya Seraphina.

"Kamu tidak lagi mengupaskan udang untukku," jawab Kaivan.

"Itu karena aku lihat kamu bisa mengupas udang sendiri."

"Aku..."

Ucapan Kaivan terhenti. Dia ingat jika tadi dia mengupaskan udang untuk Kalani.

Walau sebenarnya Kaivan paling benci mengupas udang, namun dia rela melakukannya demi Kalani.

"Tadi, aku hanya membantu Kalani karena dia memohon padaku."

Dan, Seraphina hanya mengangguk. Malas membahas masalah ini lebih lanjut. Lagipula, dia tak butuh penjelasan.

"Sudah larut malam. Apa kita bisa pulang sekarang?"

"Kamu mau pulang? Tidak ingin menginap?"

Seraphina terdiam cukup lama. Dia memandangi wajah suaminya dalam-dalam.

Seraphina tahu jika suaminya ingin menginap karena Kalani juga menginap. Padahal, biasanya Kaivan paling tidak suka menginap di sana.

"Tidak."

Jawaban itu tegas.

Namun, Kaivan tak menerima penolakan.

"Kita menginap saja. Aku lelah. Rasanya tidak kuat jika harus menyetir pulang."

Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang Seraphina yang sempit. Untuk tidur berdua, ranjang itu sebenarnya tidak cukup leluasa .

"Biar aku yang menyetir."

Perkataan Seraphina membuat kening Kaivan berkerut heran.

Seraphina tidak seperti biasanya.

Seraphina terasa berbeda.

Bukankah, Seraphina paling senang jika Kaivan setuju menginap di rumah orangtuanya? Tapi, ada apa dengan hari ini?

"Sera, apa kamu marah pada Ayahmu karena tadi dia menegurmu?"

"Tidak."

"Lalu, kenapa kamu berbeda sekali hari ini? Daritadi, kamu hanya diam."

"Aku baik-baik saja."

Kaivan kembali bangkit. Dia menggenggam tangan Seraphina.

"Sayang... sebenarnya ada masalah apa? Tidak bisakah kamu cerita padaku?"

"Aku bilang, aku baik-baik saja."

"Seraphina!"

Kaivan memegang kedua pipi Seraphina. Dia tak membiarkan istrinya memalingkan wajah sedikitpun darinya.

"Apa?" tanya Seraphina.

Kaivan menelan ludah dengan susah payah. Sudah lama dirinya tergoda dengan bibir tipis berwarna merah muda itu.

Namun, selama ini Kaivan terus menahan dirinya. Dia tak mau menyentuh istrinya sendiri karena sudah terikat janji pada seseorang.

Tapi, malam ini... Bolehkah Kaivan khilaf? Seraphina terlalu cantik. Lelaki manapun tak akan sanggup menahan godaan jika berduaan saja dengan Seraphina seperti dirinya sekarang.

"Sera, bolehkah aku mencium mu?" tanya Kaivan sambil mengusap bibir Seraphina dengan ibu jarinya.

"Terserah kamu," jawab Seraphina.

Perempuan itu sedang bertaruh dengan dirinya sendiri. Dia yakin, Kaivan tak akan pernah benar-benar menciumnya.

Napas Seraphina tertahan saat wajah Kaivan semakin mendekat. Sepasang mata pria itu terlihat begitu dalam dan kelam.

Dan, tepat saat bibir Kaivan mulai menempel di bibir Seraphina, suara barang pecah tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

Lewat celah pintu yang terbuka sedikit, Kaivan bisa melihat siapa yang tadi berdiri di sana.

Kalani.

"Tunggu di sini!" titah Kaivan yang langsung buru-buru turun dari tempat tidur lalu mengejar wanita yang dia cintai.

Seraphina ikut menyusul. Tapi, dia turut membawa ponselnya. Dia yakin, bisa menemukan sesuatu yang akan membuat Kalani maupun Kaivan jadi malu.

"Kamu menciumnya, Kaivan? Serius?"

Suara Kalani yang sedang marah terdengar melengking di bawah lampu taman belakang.

"Dia istriku. Wajar, jika aku menciumnya."

Kaivan membela diri.

Membenarkan perbuatannya.

"Tapi, kamu sudah berjanji tidak akan pernah menyentuhnya."

"Aku memang pernah menjanjikan hal itu. Tapi, sekarang sudah empat tahun berlalu, Lani. Usiaku sekarang sudah 30 tahun. Kedua orangtua ku sudah ribut meminta cucu. Apa menurutmu aku akan terus seperti ini? Hidup tanpa memberikan penerus untuk keluargaku?"

Kalani merangsek maju. Dia mencengkram kerah kemeja Kaivan erat.

"Kamu bisa mengatakan jika Seraphina itu mandul." Mata Kalani memerah.

"Tidak bisa," tolak Kaivan. "Seraphina terlalu baik. Tidak pernah menyentuhnya selama empat tahun saja, sudah keterlaluan, Lani. Apalagi, jika aku harus memberinya tuduhan sekejam itu."

Plak.

Kalani yang kalap langsung menampar wajah Kaivan.

"KAIVAN!!!" Dia berteriak sekuat tenaga. "Apa kamu sudah tidak mencintai ku lagi?"

"Aku masih mencintai mu. Makanya, aku juga masih bertahan dengan Seraphina."

Embusan angin malam tampak menerbangkan anak rambut Kalani. Wajahnya yang basah oleh air mata membuat lelaki manapun akan menjadi iba.

Ya, inilah daya tarik Kalani. Dia bisa menjebak pria manapun dengan kelemahannya yang memikat.

"Kalau begitu... bercerai lah dengan Seraphina."

Deg.

Sepasang mata Kaivan tampak membesar. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Apa kamu bilang?" lirih Kaivan tak percaya.

"Ceraikan Seraphina!"

Kalani mengulang kata-katanya. Sepasang tangannya mulai mengelus lengan, leher, dan akhirnya berhenti di wajah pria tampan itu.

"Lani..."

"Aku juga akan menceraikan Arsen," potong Kalani cepat.

Tampak, Kaivan mematung. Otaknya mendadak terlalu lamban untuk memproses kata-kata Kalani.

"Kaivan..." Kalani mengusap pipi pria itu lembut. "...kamu tahu apa penyesalan terbesar dalam hidupku?"

Kaivan diam.

Dia menunggu jawaban.

"Melewatkanmu."

Dan, bibir keduanya langsung beradu dengan panas. Awalnya, Kaivan masih belum merespon.Dia bahkan berusaha mendorong Kalani beberapa kali.

Namun, lama-kelamaan pria itu akhirnya luluh juga. Dia membalas. Bahkan, mencium Kalani jauh lebih agresif.

"Kaivan, aku mencintaimu!"

Prok! Prok! Prok!

Suara tepuk tangan membuat keduanya terperanjat kaget. Disana, Seraphina muncul dari balik pohon.

Wajah perempuan itu tampak dingin, nyaris tanpa ekspresi.

"Sera..."

Kaivan buru-buru mendorong Kalani menjauh.

"... kamu salah paham," lanjutnya berbicara.

"Brengsek."

Bugh.

Kaivan terjatuh saat sebuah pukulan tepat mengenai rahangnya dengan keras.

Terpopuler

Comments

irma hidayat

irma hidayat

nah siapa tuh yg nonjok kaivan, jangan dikasih kesempatan lagi sera laki2 kaya kaivan ga layak diperjuangkan sudah terlalu merendahkn

2026-05-20

0

Diny Julianti (Dy)

Diny Julianti (Dy)

seraphina yg bodoh atau gimana, udah dsakitin sama keluarganya masih aja mau kumpul2

2026-07-12

0

Lucyana H

Lucyana H

bagus seraphine..good job..gasken pisah aja,benci liatnya

2026-08-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!