Episode 2

Bab 002

Keluarga yang Dingin

Tidak ada yang langsung menjawab.

Yolanda berdiri dengan dagu terangkat, tetapi ujung jarinya mencengkeram ponsel terlalu kuat. Meilin masih menutup mulut, matanya basah. Hendrawan menatap Seraphina seolah baru pertama kali menyadari bahwa gadis yang ia panggil pulang dari Surabaya itu tidak akan mudah dilipat.

Di ujung tangga, Darren Lim akhirnya bergerak.

"Yolanda," katanya pelan.

Satu kata saja. Tidak keras. Tidak cukup untuk disebut pembelaan.

Namun bagi Yolanda, satu kata itu cukup untuk membuat wajahnya berubah. Ia menoleh kepada Darren dengan mata melebar, seperti anak kecil yang baru saja dikhianati.

"Ko Darren juga mau menyalahkan aku?"

Darren turun dua anak tangga, lalu berhenti. Jas kerjanya masih basah sedikit di bagian bahu. Ia melihat Seraphina, ada sesuatu yang rumit di matanya. Rasa bersalah, mungkin. Atau rasa ingin tahu. Atau ketidakberanian yang sudah terlalu lama menjadi kebiasaan.

"Aku hanya bilang, sudah malam."

Seraphina hampir tersenyum.

Sudah malam.

Itu cara keluarga Lim menghentikan luka, bukan dengan meminta maaf, melainkan dengan memindahkan jam.

Hendrawan berdiri. "Cukup. Semua orang kembali ke kamar masing-masing."

Yolanda membuka mulut, hendak protes, tetapi tatapan Hendrawan membuatnya menelan kata-kata. Ia berbalik dengan gerakan tajam. Saat melewati Seraphina, bahunya sengaja menyenggol lengan Seraphina.

Tidak keras, tetapi cukup untuk menunjukkan niat.

Seraphina tidak bergeser.

Yolanda berhenti setengah detik karena tubuh Seraphina tidak memberi ruang. Senyumnya kembali tipis, lalu ia melangkah ke tangga.

"Selamat malam, Kakak," ucapnya manis.

Kata itu terdengar lebih tajam daripada hinaan.

Seraphina menatap punggungnya. "Selamat malam, Yolanda."

Darren masih berdiri di tangga. Ketika mata mereka bertemu, ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak sedikit, tetapi akhirnya hanya mengangguk kaku.

"Sera," panggilnya.

Seraphina menunggu.

Darren menelan ludah. "Koper kamu sudah dibawa ke kamar. Kalau butuh sesuatu..."

"Saya akan minta ke staf."

Kalimat itu memotong ruang di antara mereka.

Darren terdiam. Lalu, pelan-pelan, ia mengangguk lagi.

Meilin berdiri dari sofa. "Mama antar ke kamar."

Seraphina menoleh. "Bu Meilin tidak perlu repot."

Kata `Bu Meilin` membuat napas Meilin tertahan. Seraphina melihat luka itu muncul di wajahnya, tetapi ia tidak bisa memaksa diri untuk melembut. Ada jarak yang tidak bisa ditutup hanya karena seseorang tiba-tiba ingin memakai kata Mama.

Hendrawan memberi isyarat kepada pelayan. "Antar Nona Seraphina."

Pelayan perempuan itu menunduk. "Baik, Tuan."

Kamar yang disiapkan untuk Seraphina berada di sayap timur lantai dua, setelah melewati lorong panjang yang lampunya menyala otomatis saat orang melangkah. Di satu sisi lorong ada jendela tinggi menghadap taman belakang. Di sisi lain, beberapa pintu kamar tertutup rapat. Tidak ada suara keluarga. Tidak ada tawa. Rumah sebesar itu ternyata bisa terasa lebih sepi daripada kamar kos mahasiswa.

Pelayan membuka pintu terakhir.

"Ini kamar Nona."

Seraphina masuk. Ruangan itu luas, bersih, dan dingin. Seprai putih tanpa lipatan, meja rias tanpa barang pribadi, lemari kosong yang sudah diberi pewangi, bunga segar di vas kaca. Semua tampak mahal, tetapi tidak ada satu pun yang terasa disiapkan untuk dirinya.

Lebih mirip kamar hotel.

Atau kamar tamu yang diberi nama baru.

"Kalau Nona butuh sesuatu, tekan bel di samping tempat tidur," kata pelayan.

"Terima kasih."

Pelayan itu ragu sebentar. Matanya bergerak ke wajah Seraphina, lalu cepat menunduk lagi. "Selamat beristirahat, Nona."

Pintu tertutup.

Seraphina berdiri di tengah kamar cukup lama. Setelah itu ia membuka koper, mengeluarkan beberapa pakaian, lalu berhenti ketika melihat sebuah pouch kecil warna biru tua di antara tumpukan baju. Mama Kartika yang memasukkannya diam-diam sebelum ia berangkat. Di dalamnya ada obat flu, minyak kayu putih, plester, dan selembar kertas kecil.

Kalau sakit, jangan sok kuat.

Tulisan Mama Kartika besar dan miring, sama persis seperti orangnya.

Seraphina menekan kertas itu dengan ibu jari. Dadanya yang sejak tadi keras perlahan terasa nyeri.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Mama Kartika.

Sudah sampai? Jangan lupa makan. Kalau rumah itu terlalu dingin, pakai jaket. Mama tahu kamu suka pura-pura kuat.

Seraphina membaca pesan itu dua kali.

Ia ingin membalas, rumah ini tidak hanya dingin. Rumah ini seperti tidak pernah menunggu siapa pun pulang.

Namun yang ia ketik hanya:

Sudah sampai, Ma. Aku baik-baik saja.

Kebohongan kecil terkirim, lalu layar menjadi gelap.

Malam semakin larut. Setelah mandi, Seraphina duduk di tepi tempat tidur, rambutnya masih lembap. Dari luar kamar terdengar langkah kaki pelan. Seseorang berhenti di depan pintunya.

Seraphina mengangkat kepala.

Tidak ada ketukan.

Hanya keheningan.

Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi porselen diletakkan di lantai. Langkah itu belum pergi. Orang di luar masih berdiri, terlalu lama untuk sekadar mengantar makanan.

Seraphina tidak bergerak.

Di balik pintu, suara Meilin terdengar sangat pelan.

"Sera... Mama taruh sup di depan pintu. Kamu belum makan dari sore."

Seraphina memejamkan mata.

Mama.

Kata itu datang terlambat, mengetuk pintu yang sudah ia kunci dari dalam.

Meilin menunggu lagi. Mungkin berharap pintu terbuka. Mungkin berharap Seraphina menjawab. Setelah hampir satu menit, langkahnya akhirnya menjauh.

Seraphina tetap duduk sampai suara itu benar-benar hilang.

Baru setelah itu ia berdiri dan membuka pintu.

Di lantai depan kamar ada nampan kecil. Semangkuk sup ayam kampung dengan irisan jahe dan angco, tutup porselennya masih berembun. Di sampingnya ada sendok perak dan segelas air hangat. Seraphina menyentuh sisi mangkuk. Masih hangat.

Bukan hangat karena baru selesai dimasak.

Hangat karena seseorang menunggu di depan pintu cukup lama sambil memastikan sup itu tidak keburu dingin.

Rasa sakit itu datang tanpa suara.

Kalau Meilin hanya dingin, Seraphina mungkin bisa membencinya lebih mudah. Namun perempuan itu tidak sepenuhnya dingin. Ia memberi sup, tetapi tidak berani membela. Ia memanggil Mama, tetapi tidak berani meraih. Ia berdiri di depan pintu, tetapi tidak mengetuk.

Seraphina mengangkat nampan itu, membawanya ke kamar mandi, lalu menuang sup ke wastafel.

Aroma jahe naik bersama uap tipis.

Ia melihat kuah bening itu menghilang ke lubang pembuangan sampai tidak tersisa apa pun selain beberapa potong angco yang tertahan di saringan.

"Aku tidak lapar," bisiknya.

Entah untuk siapa.

Pagi berikutnya, keluarga Lim sarapan di ruang makan panjang yang bisa menampung dua puluh orang, meski hanya lima kursi yang terisi. Hendrawan duduk di kepala meja. Meilin di sisi kanan. Yolanda di sampingnya, segar dengan riasan tipis, seperti semalam tidak pernah terjadi. Darren duduk di seberang, lebih banyak menatap kopinya daripada orang-orang di meja.

Seraphina datang tepat pukul tujuh.

Yolanda menatapnya dari balik cangkir teh. "Kau tidur nyenyak? Kamar tamu kami cukup nyaman, kan?"

Darren mengangkat wajah. "Yolanda."

Kali ini nadanya sedikit lebih tegas.

Yolanda mengerucutkan bibir. "Aku cuma bertanya."

Seraphina menarik kursi dan duduk. "Nyaman. Terlalu nyaman untuk orang yang tidak berniat tinggal lama."

Pisau di tangan Meilin berhenti.

Hendrawan menatapnya. "Apa maksudmu?"

"Saya ingin pindah."

Yolanda tertawa kecil. "Baru satu malam sudah tidak kuat?"

Seraphina tidak menoleh. "Saya punya pekerjaan. Akan lebih praktis kalau tinggal dekat pusat kota."

"Pekerjaan?" Yolanda menyandarkan punggung. "Bisnis kecil dari Surabaya itu?"

"Cukup kecil untuk tidak mengganggu siapa pun," jawab Seraphina. "Tapi cukup serius untuk membuat saya tidak punya waktu bermain drama keluarga setiap pagi."

Wajah Yolanda memerah.

Darren menutup mulutnya dengan punggung tangan, entah batuk atau menahan sesuatu.

Hendrawan meletakkan garpu. "Kau baru pulang. Orang akan bertanya kalau kau langsung keluar dari rumah ini."

"Orang juga akan bertanya kalau setiap malam ada yang memanggil saya anak haram di ruang keluarga."

Keheningan turun lagi.

Meilin menunduk. Darren menatap Seraphina lebih lama, kali ini tanpa menghindar. Ada penyesalan di sana, tetapi penyesalan tidak mengubah apa pun.

Hendrawan akhirnya berkata, "Papa punya unit apartemen di SCBD. Aman, dekat kantor, dan cukup pantas untuk nama Lim."

Seraphina mengangkat alis. Ia tidak menyangka persetujuan datang secepat itu.

Hendrawan menyeka bibir dengan serbet. "Kau boleh pindah sore ini. Sopir akan mengantar. Tapi ingat, Seraphina, tinggal di luar bukan berarti kau bebas dari keluarga ini."

Tentu saja.

Tidak ada pemberian gratis dari Hendrawan Lim.

"Apa syaratnya?"

Hendrawan menatapnya dengan senyum yang terlalu tipis untuk disebut hangat. "Kau pintar. Bagus."

Yolanda memandang ayahnya, mulai gelisah. "Papa..."

Hendrawan mengabaikannya. "Jakarta punya banyak teman yang ingin mengenalmu. Beberapa dari mereka penting untuk masa depan keluarga Lim. Kalau Papa memintamu hadir di sebuah acara, kau datang."

Seraphina menatap pria di ujung meja itu.

Baru semalam ia diperlakukan seperti tamu yang memalukan. Pagi ini, ia sudah dipindahkan seperti aset yang akan dipakai pada waktu yang tepat.

Di bawah meja, jari Seraphina mengepal di atas pangkuan.

"Jadi itu alasan Papa memanggil saya pulang?"

Hendrawan tidak menjawab langsung. Ia hanya mengambil cangkir tehnya, seolah pertanyaan itu tidak pantas mengganggu sarapan.

"Selesaikan sarapanmu," katanya tenang. "Sore ini kau pindah ke SCBD."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!