Episode 4

Bab 004

Tuan Muda Hartono

Pria di layar televisi itu baru saja menutup pemaparan ketika lampu di luar jendela apartemen Seraphina berkedip.

Hujan turun tanpa aba-aba.

Awalnya hanya garis tipis di kaca, lalu berubah menjadi tirai air yang memantulkan lampu gedung SCBD menjadi goresan panjang. Jakarta yang tadi tampak berkilau mendadak kabur. Suara petir terdengar jauh, disusul getaran ponsel di meja.

Nomor resepsionis lobi.

"Selamat malam, Bu Seraphina. Ada paket makanan atas nama Ibu. Kurir tidak bisa naik karena sistem akses penghuni baru belum aktif penuh. Apakah Ibu berkenan mengambil di lobi?"

Seraphina menatap layar televisi yang masih menampilkan wajah Reynard Hartono dalam siaran ulang pendek. Ia belum memesan makanan. Sejak pindah sore tadi, ia bahkan belum sempat membuka aplikasi apa pun.

"Siapa pengirimnya?"

"Tidak tertulis, Bu. Hanya nama Ibu dan nomor unit."

Seraphina diam sejenak. "Baik. Saya turun."

Ia mengambil cardigan tipis dan kartu akses. Di lift, pantulan wajahnya di dinding logam tampak lebih pucat daripada biasanya. Mungkin karena lelah. Mungkin karena nama Reynard Hartono masih berputar di kepalanya seperti kalimat yang belum selesai.

Lobi apartemen lantai dasar terang dan wangi. Marmer putih, sofa abu-abu, tanaman besar di sudut, petugas keamanan berdiri di dekat pintu kaca otomatis. Di luar, hujan memukul kanopi dengan keras. Kurir sudah pergi. Di meja resepsionis ada kantong kertas cokelat berisi kotak makanan hangat.

Resepsionis perempuan itu tersenyum sopan. "Ini paketnya, Bu."

Seraphina mengambilnya. Aroma bubur ayam dengan jahe tipis keluar dari celah tutup kotak.

Ia menatap label.

Tidak ada nama pengirim.

"Ada yang meninggalkan langsung?"

"Kurir, Bu. Tapi..." Resepsionis ragu, lalu melirik ke arah pintu kaca. "Tadi ada tamu menunggu di luar cukup lama. Kami pikir beliau menunggu jemputan."

Seraphina mengikuti arah pandangannya.

Di bawah kanopi, seorang pria berdiri membelakangi lobi. Setelan hitamnya basah di bagian bahu dan lengan. Rambutnya yang biasanya rapi tampak sedikit jatuh ke dahi. Di satu tangannya ada payung tertutup yang jelas tidak ia gunakan. Mobil hitam berhenti beberapa meter di depan, lampu hazard menyala pelan menembus hujan.

Seraphina tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu.

Tubuhnya sudah mengenali cara pria itu berdiri.

Ia melangkah keluar dari pintu kaca. Udara basah langsung menyentuh pipinya.

"Tuan Muda Hartono."

Pria itu menoleh.

Dari dekat, Reynard Hartono tampak lebih nyata daripada di layar televisi. Matanya tetap gelap, tetapi tidak sedingin ketika ia berdiri di podium. Di wajahnya ada jejak hujan, dan entah kenapa itu membuatnya terlihat kurang seperti pewaris konglomerat, lebih seperti seseorang yang datang terlalu cepat atau menunggu terlalu lama.

"Kau akhirnya tahu namaku," katanya.

Suara itu rendah. Sama dengan suara empat tahun lalu, hanya lebih berat.

Seraphina mengencangkan pegangan pada kantong makanan. "Kau yang mengirim ini?"

"Kau belum makan."

"Kau tidak menjawab pertanyaanku."

"Aku menjawab alasan yang lebih penting."

Seraphina menatapnya. "Bagaimana kau tahu aku belum makan?"

Reynard memasukkan satu tangan ke saku. "Orang yang baru pindah ke apartemen baru biasanya lupa makan. Orang yang baru keluar dari rumah keluarga Lim, lebih mungkin lagi."

Kalimat itu terlalu tepat.

Seraphina menurunkan suara. "Kau mengawasiku?"

"Tidak malam ini."

"Berarti pernah."

Reynard tidak menyangkal. Hujan turun di belakangnya seperti dinding yang menutup dunia luar.

"Empat tahun lalu," kata Seraphina, "kau juga ada di rumah Lim."

"Aku ingat."

"Kenapa tidak bilang siapa namamu?"

"Kau tidak benar-benar ingin tahu malam itu." Reynard menatap kantong makanan di tangannya. "Kau hanya ingin bertahan sampai pesta selesai."

Seraphina terdiam.

Tidak ada orang lain yang tahu itu. Bahkan Meilin dan Hendrawan hanya melihat ia keluar dari ballroom. Mereka tidak tahu bagaimana ia menghitung napas di teras agar tidak menangis. Mereka tidak tahu betapa keras ia menggenggam clutch kecil supaya tangannya tidak gemetar.

Pria ini tahu.

"Dan malam ini?" tanya Seraphina. "Kenapa kau di sini?"

Reynard melangkah satu langkah mendekat. Jarak mereka masih sopan, tetapi udara di antara mereka mendadak sempit.

"Aku ingin melihat apakah kau masih berdiri terlalu dekat pintu."

Kalimat dari empat tahun lalu kembali ke ingatan Seraphina. Kalau tidak ingin didorong keluar lagi, jangan berdiri terlalu dekat pintu.

Ia hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya napas pendek.

"Aku sudah keluar dari rumah itu."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kau basah kuyup di lobi apartemenku?"

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mirip senyum muncul di sudut bibir Reynard. Sangat tipis, nyaris tidak terlihat.

"Karena kau tidak turun selama dua puluh menit setelah makanan sampai."

"Jadi kau memang menunggu."

"Ya."

Kejujurannya membuat Seraphina kehilangan satu lapis pertahanan.

Resepsionis di dalam lobi pura-pura sibuk dengan komputer. Petugas keamanan menatap lurus ke depan, terlalu lurus untuk disebut alami. Seraphina sadar mereka sedang menjadi pemandangan yang tidak biasa: penghuni baru dengan kantong bubur, dan pewaris Hartono Group basah kuyup di bawah kanopi apartemen.

"Masuklah," kata Seraphina akhirnya.

Mata Reynard berhenti di wajahnya. "Kau yakin?"

"Kau basah. Aku tidak sekejam itu."

"Aku tidak bertanya soal hujan."

Kalimat itu jatuh pelan, tetapi Seraphina merasakannya sampai ke ujung jari.

Ia bisa mundur. Bisa menyerahkan handuk lewat staf. Bisa menjaga malam ini tetap rapi, masuk akal, aman. Hidupnya baru saja dikacaukan oleh keluarga Lim, dan pria di depannya adalah pewaris keluarga yang lebih besar, lebih berbahaya, lebih tidak terjangkau.

Namun sejak kapan hal aman pernah membuatnya bebas?

Seraphina membuka pintu kaca dengan kartu akses. "Aku yakin."

Reynard mengikutinya masuk.

Mereka naik lift privat tanpa banyak bicara. Pantulan mereka berdiri berdampingan di dinding lift, Seraphina dengan cardigan tipis dan kantong makanan, Reynard dengan setelan basah dan wajah yang terlalu tenang. Aroma hujan bercampur dengan cologne mahal dari tubuhnya, cedar, amber, dan sesuatu yang bersih seperti udara setelah badai.

Di lantai tiga puluh dua, koridor apartemen sunyi.

Seraphina membuka pintu unitnya. "Handuk ada di kamar mandi tamu. Kau bisa keringkan rambut dulu."

Reynard masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia tidak langsung bergerak menuju kamar mandi. Pandangannya menyapu ruang tamu yang masih setengah kosong, koper belum seluruhnya dibongkar, foto lama tergeletak di meja, televisi masih menyala tanpa suara menampilkan logo Hartono Group.

Matanya berhenti pada foto itu.

Seraphina cepat mengambilnya. "Jangan sentuh barangku."

"Aku tidak menyentuh."

"Tapi kau melihat."

"Sulit tidak melihat sesuatu yang selama empat tahun juga ada di kepalaku."

Seraphina mematung.

Reynard menatapnya. Kali ini tidak ada podium, tidak ada wartawan, tidak ada nama keluarga besar di belakangnya. Hanya hujan di kaca dan napas mereka yang terlalu terdengar.

"Kau ingat gaunku," kata Seraphina.

"Biru muda."

"Kau ingat terasnya."

"Pagar batu. Bunga sedap malam. Kau berdiri di sisi kiri, dekat pilar."

"Kenapa?"

Reynard tidak menjawab cepat. Ia melepas jas basahnya, meletakkannya di sandaran kursi, lalu menggulung lengan kemeja putihnya yang juga lembap. Gerakan itu sederhana, tetapi Seraphina mendadak sadar betapa dekat jarak mereka.

"Karena malam itu semua orang memandangmu seperti masalah," katanya. "Kau satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak menunduk."

Jari Seraphina menegang pada pinggir foto.

Tidak ada yang pernah mengatakan itu kepadanya.

Di ingatan semua orang, mungkin ia hanyalah gadis yang membuat pesta Yolanda kacau. Di ingatannya sendiri, ia adalah seseorang yang hampir hancur tetapi memaksa diri pulang dengan tenang.

Dalam ingatan Reynard, ia tidak menunduk.

Seraphina meletakkan foto itu di meja.

"Kau tidak mengenalku."

"Aku ingin."

Jawaban itu terlalu langsung.

Seraphina menatapnya, mencari tanda permainan, kesombongan laki-laki kaya, rasa ingin memiliki karena ia terlihat rapuh. Namun yang ia lihat hanya keseriusan yang membuat udara terasa berat.

"Kalau aku bilang jangan?" tanyanya.

"Aku berhenti."

"Kalau aku bilang pergi?"

"Aku pergi."

"Kalau aku bilang tetap di sini?"

Mata Reynard menggelap.

Beberapa detik berlalu. Hujan memukul kaca seperti ribuan jari.

"Sera," katanya pelan, pertama kali menyebut namanya seperti itu. "Pikirkan baik-baik."

Nama itu di mulutnya tidak terdengar seperti panggilan keluarga Lim. Tidak seperti aset. Tidak seperti kesalahan. Hanya nama, utuh, tanpa hinaan di belakangnya.

Seraphina melangkah lebih dekat.

"Aku lelah dipindahkan orang lain," ucapnya. "Malam ini, aku ingin memilih sendiri."

Reynard menahan napas.

Seraphina mengangkat tangan, menyentuh ujung lengan kemejanya yang basah. Dingin. Nyata.

"Tetap di sini," katanya.

Reynard tidak langsung menyentuhnya. Ia menunggu satu detik lagi, seolah masih memberi ruang terakhir untuk mundur. Ketika Seraphina tidak bergerak menjauh, barulah tangannya naik, menyentuh sisi wajahnya dengan sangat hati-hati.

Sentuhan itu justru membuat dada Seraphina sesak.

Di rumah Lim, semua orang seperti takut menyentuhnya karena ia membawa aib. Di sini, pria yang seharusnya paling berbahaya justru menyentuhnya seakan ia sesuatu yang mudah retak.

"Kalau kau menyesal besok pagi," bisik Reynard, "salahkan aku."

Seraphina menatap bibirnya. "Aku tidak suka menyalahkan orang atas pilihanku sendiri."

Lalu ia yang lebih dulu mencium Reynard.

Setelah itu malam kehilangan urutan yang jelas.

Ada kantong bubur yang terlupakan di meja. Ada jas basah di kursi. Ada suara hujan yang semakin deras, lalu samar, lalu tinggal menjadi latar jauh. Ada tangan Reynard yang selalu berhenti setiap kali napas Seraphina berubah, seolah menanyakan izin tanpa kata. Ada Seraphina yang menjawab dengan menariknya lebih dekat.

Ketika pintu kamar tertutup, Jakarta di balik kaca masih basah oleh hujan.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia datang ke kota ini, Seraphina tidak merasa seperti seseorang yang sedang menunggu diusir.

Pagi datang dengan cahaya pucat.

Seraphina terbangun oleh suara AC yang lembut dan rasa hangat yang masih tertinggal di seprai. Beberapa detik pertama, ia tidak langsung ingat di mana dirinya. Lalu matanya menangkap jas hitam yang sudah tidak ada di kursi, kantong makanan yang telah dibuang rapi, dan sisi tempat tidur di sebelahnya yang kosong.

Reynard pergi.

Anehnya, kamar itu tidak terasa ditinggalkan.

Di atas bantal sebelahnya ada selembar kertas putih dan sebuah kunci logam kecil. Bukan kartu akses apartemen. Kunci itu baru, mengilap, diikat dengan gantungan kulit hitam tanpa logo.

Seraphina mengambil kertasnya.

Tulisan Reynard rapi, tegas, seperti dirinya.

Kuncinya untukmu. Aku sudah lama menunggumu.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!