Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Episode 1

Bab 001

Anak Haram

Gerbang besi rumah keluarga Lim terbuka tepat ketika langit Jakarta mulai menumpahkan hujan.

Seraphina Lim berdiri di bawah payung hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya, satu tangan menggenggam gagang koper, satu tangan lagi menahan ujung jas hujan tipis yang mulai basah di bagian lengan. Di balik pagar tinggi itu, halaman rumah Lim terbentang seperti taman milik hotel bintang lima. Lampu sorot tersembunyi di antara pohon palem, memantulkan cahaya ke jalan setapak dari batu alam yang licin terkena air.

Di Surabaya, hujan biasanya membuat rumah terasa hangat. Bau tanah naik dari halaman, Mama Kartika akan berteriak dari dapur agar ia tidak lupa minum jahe, sementara Papa Budiman menutup koran dan bertanya apakah tugasnya sudah selesai.

Di sini, hujan hanya membuat dinding putih rumah besar itu tampak lebih dingin.

Seorang satpam membuka pintu pos, menatapnya dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan seperti kepada anak perempuan pemilik rumah yang baru pulang.

"Nona Seraphina?" tanyanya, lebih mirip memastikan nama di daftar tamu.

"Ya."

Satpam itu menunduk sekadarnya, lalu mengangkat tangan ke arah rumah utama. "Silakan masuk. Tuan sudah menunggu."

Tuan.

Bukan Papa.

Seraphina menelan rasa getir yang naik ke tenggorokan. Ia menyeret kopernya melewati jalan setapak, roda kecil koper beradu dengan batu basah, menghasilkan bunyi kasar yang terdengar terlalu keras di halaman seluas itu. Tidak ada seorang pun keluar menyambut. Tidak ada payung tambahan. Tidak ada tangan yang mengambil kopernya.

Di anak tangga teras, seorang pria paruh baya berdiri dengan setelan abu-abu tua. Wajahnya rapi, rambutnya disisir ke belakang, rahangnya keras seperti sudah lama terbiasa memberi perintah dan tidak menerima bantahan.

Hendrawan Lim.

Orang yang secara darah adalah ayahnya.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan dengan cheongsam modern warna krem, kalung mutiara melingkar di lehernya. Meilin Lim tampak anggun, tetapi jemarinya saling meremas di depan perut. Matanya jatuh ke wajah Seraphina, bertahan satu detik terlalu lama, lalu cepat-cepat turun ke koper.

Seraphina berhenti di anak tangga paling bawah. Hujan memukul payung di atas kepalanya.

"Selamat malam," ucapnya.

Hendrawan melihat jam di pergelangan tangannya. "Pesawatmu mendarat pukul lima. Sekarang hampir tujuh."

Tidak ada, apa kabar.

Tidak ada, perjalananmu baik-baik saja?

Seraphina melipat payungnya perlahan. Tetes air jatuh di lantai marmer teras. "Macet dari bandara."

"Jakarta memang begitu. Kalau ingin tinggal di sini, kau harus terbiasa."

Kalau ingin tinggal di sini.

Seolah ia yang meminta.

Meilin bergerak sedikit, seperti hendak maju. "Sera..."

Nama itu keluar begitu pelan, hampir tenggelam oleh hujan.

Seraphina menatapnya. Di antara semua hal asing di rumah ini, suara itu justru yang paling membuat dadanya terasa sesak. Bukan karena hangat, melainkan karena terlalu hati-hati. Seperti Meilin takut memecahkan sesuatu yang sudah retak sejak lama.

"Bu Meilin," jawab Seraphina.

Wajah Meilin berubah pucat. Tangannya yang tadi hendak terulur berhenti di udara, lalu turun kembali.

Hendrawan menoleh singkat kepada istrinya, cukup untuk membuat Meilin menutup mulut. Setelah itu ia memberi isyarat kepada pria berseragam hitam yang berdiri di dekat pintu.

"Bawa barangnya ke kamar."

Pria itu maju mengambil koper Seraphina. Seraphina tidak langsung melepas gagangnya.

"Saya bisa bawa sendiri."

Alis Hendrawan bergerak tipis. "Di rumah ini ada aturan. Staf mengurus barang tamu."

Tamu.

Kata itu akhirnya keluar juga, hanya disamarkan dengan nada sopan.

Seraphina melepaskan koper itu. "Baik."

Ia masuk melewati pintu utama. Udara dingin dari dalam rumah langsung menyentuh kulitnya. Lobi keluarga Lim terlalu luas untuk disebut rumah. Lampu kristal menggantung tinggi, cahayanya menimpa lantai marmer hitam putih. Di dinding kanan, deretan foto keluarga dipajang dalam bingkai emas. Hendrawan muda. Meilin dengan senyum yang lebih hidup. Darren dalam seragam sekolah internasional. Yolanda dengan gaun pesta ulang tahun, memegang buket mawar putih.

Tidak ada Seraphina.

Tentu saja.

Ia hanya berdiri beberapa detik di depan foto-foto itu. Cukup lama bagi Meilin untuk menyadari ke mana pandangannya pergi.

"Foto-foto lama," kata Meilin cepat. "Nanti... nanti kita bisa tambah."

Seraphina menoleh. "Tidak perlu repot."

Meilin seperti tertampar, tetapi ia tidak membalas. Bibirnya bergerak, tidak ada suara yang keluar.

Hendrawan berjalan lebih dulu menuju ruang tengah. "Darren belum pulang dari kantor. Yolanda ada di atas. Kau akan bertemu mereka nanti."

"Saya sudah pernah bertemu Yolanda," kata Seraphina.

Langkah Hendrawan berhenti setengah detik.

Empat tahun lalu, di pesta ulang tahun ke delapan belas Yolanda, Seraphina pernah berdiri di teras rumah ini dengan gaun biru muda yang dipilihkan Meilin melalui asisten. Saat itu semua orang menatapnya seperti noda pada kain mahal. Yolanda menangis di tengah pesta, mengatakan kepalanya pusing, lalu menolak turun kalau Seraphina masih berada di sana.

Malam itu juga Seraphina dikirim kembali ke Surabaya.

Tidak ada yang mengatakan ia harus pulang. Mereka hanya mengatur mobil, memasukkan kopernya, dan menutup pintu.

Hendrawan berbalik. "Empat tahun lalu situasinya berbeda."

"Sekarang juga tidak terlihat jauh berbeda."

Keheningan turun.

Seorang pelayan perempuan yang sedang membawa nampan teh berhenti di ambang pintu. Matanya membesar sedikit, lalu cepat-cepat menunduk.

Meilin berbisik, "Sera..."

Hendrawan tidak menaikkan suara. Justru karena itu, kalimatnya terdengar lebih tajam. "Kau baru sampai. Jangan mulai dengan sikap keras kepala."

Seraphina menatap pria itu. Ada banyak kalimat yang bisa ia ucapkan. Tentang dua puluh tahun lebih hidupnya yang tidak pernah benar-benar dicari. Tentang bagaimana ia menerima panggilan mendadak dari Jakarta, diminta pulang seolah ia koper lama yang akhirnya dibutuhkan. Tentang Mama Kartika yang menatapnya lama di bandara Juanda, lalu hanya berkata, "Kalau mereka menyakitimu, pulang."

Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Di rumah ini, setiap kata pasti ditimbang bukan sebagai perasaan, melainkan sebagai kelemahan.

"Saya mengerti," jawabnya.

Ruang tengah sudah disiapkan seperti panggung. Sofa kulit warna gading, meja kopi dari batu onyx, aroma teh oolong hangat, dan vas tinggi berisi anggrek putih. Semua terlalu bersih. Terlalu sempurna. Terlalu tidak hidup.

Meilin duduk lebih dulu, lalu memberi isyarat kepada Seraphina untuk duduk di sampingnya. Hendrawan memilih kursi tunggal di seberang, posisi yang membuatnya tampak seperti hakim.

Seraphina duduk dengan punggung tegak. Ia meletakkan tas kecilnya di pangkuan.

"Mulai hari ini," kata Hendrawan, "kau tinggal di sini sebagai bagian dari keluarga Lim. Tapi kau harus paham, nama Lim bukan sesuatu yang bisa dipakai sembarangan. Ada reputasi, ada lingkaran sosial, ada aturan."

Seraphina memandang cangkir teh di depannya. Permukaan teh tenang, tidak terganggu sedikit pun oleh suara hujan di luar.

"Aturan seperti apa?"

"Jangan membuat keributan. Jangan bicara pada media. Jangan membahas masa lalumu dengan orang luar. Kalau ada undangan sosial, kau datang sesuai arahan Papa."

Papa.

Ia mengucapkannya dengan mudah, seakan satu kata cukup untuk menutup semua jarak.

"Dan," Hendrawan melanjutkan, "kau tidak perlu membawa kebiasaan lama dari Surabaya ke sini. Jakarta berbeda. Orang menilai dari cara berjalan, cara bicara, cara memilih teman."

Seraphina tersenyum tipis. "Saya kira orang dinilai dari apa yang dia lakukan."

Tatapan Hendrawan mengeras. "Itu pikiran idealis. Di keluarga seperti kita, persepsi sering lebih penting daripada kebenaran."

Meilin menunduk. Jari-jarinya kembali saling meremas.

Seraphina melihat gerakan itu. Aneh, bagian paling rapuh dari ruangan ini justru perempuan yang seharusnya paling berhak memeluknya. Namun Meilin duduk hanya beberapa jengkal darinya, kaku seperti tamu yang salah masuk acara.

"Kamar Sera sudah disiapkan?" tanya Meilin kepada pelayan, mungkin karena tidak tahan pada percakapan itu.

"Sudah, Nyonya."

"Di sayap timur," kata Hendrawan. "Dekat kamar tamu. Lebih tenang."

Dekat kamar tamu.

Seraphina hampir tertawa.

Dari lantai dua terdengar bunyi hak sepatu mengetuk tangga. Pelan, terukur, sengaja dibuat terdengar. Semua kepala di ruang tengah menoleh.

Yolanda Lim turun dengan gaun rumah warna putih susu, rambutnya jatuh rapi melewati bahu. Di tangannya ada ponsel. Wajahnya cantik dengan cara yang biasa dipuji orang di pesta, lembut, mahal, dan tahu bahwa ia sedang diperhatikan.

"Papa, Mama," sapanya manis.

Lalu matanya berhenti pada Seraphina.

Senyum Yolanda tidak hilang. Hanya berubah bentuk.

"Oh," katanya, seolah baru melihat sesuatu yang tidak sengaja tertinggal di ruang tamu. "Dia sudah datang."

Meilin berdiri. "Yolanda, ini Sera. Kakakmu."

Kakak.

Kata itu menggantung di udara, canggung dan asing.

Yolanda turun satu anak tangga lagi, lalu tertawa kecil. "Kakak? Mama bercanda?"

"Yolanda," tegur Hendrawan.

Nada itu bukan teguran sungguhan. Lebih mirip peringatan agar ia tidak terlalu kasar di depan staf.

Yolanda mengabaikannya. Ia berjalan ke ruang tengah, berhenti di depan Seraphina, lalu menatap pakaian Seraphina dari atas sampai bawah. Blus putih sederhana. Celana panjang hitam. Jam tangan tanpa logo besar. Sepatu datar yang bersih tapi jelas bukan keluaran butik yang biasa dipakai Yolanda.

"Aku pikir orang Surabaya setidaknya akan berdandan kalau pertama kali datang ke rumah keluarga Lim," ucap Yolanda pelan, tetapi cukup keras untuk didengar pelayan di dekat pintu.

Seraphina mengangkat wajah. "Aku pikir keluarga Lim setidaknya akan mengajarkan sopan santun kepada anak yang dibesarkan di rumah ini."

Pelayan itu menahan napas.

Senyum Yolanda membeku.

Meilin memegang lengan sofa. "Sudah, kalian berdua..."

"Tidak apa-apa, Mama." Yolanda menoleh kepada Meilin dengan wajah terluka yang terlalu cepat muncul. "Aku hanya menyapa. Mungkin dia belum terbiasa dengan cara bicara keluarga."

"Aku cukup terbiasa dengan cara bicara orang yang tidak menyukaiku," jawab Seraphina.

Mata Yolanda berkilat. Sesuatu yang manis di wajahnya retak, memperlihatkan rasa benci yang lebih tua dari pertemuan malam ini.

"Kalau begitu kau harusnya juga terbiasa sadar diri," kata Yolanda. "Rumah ini punya sejarah. Punya nama. Tidak semua orang bisa tiba-tiba masuk hanya karena Papa kasihan."

Seraphina tidak bergerak.

Hendrawan meletakkan cangkirnya sedikit lebih keras di meja. "Cukup."

Namun Yolanda sudah terlalu jauh untuk berhenti. Mungkin ia merasa aman karena selama ini setiap air matanya selalu lebih dipercaya daripada diam Seraphina. Mungkin ia ingin memastikan sejak malam pertama siapa yang berhak berdiri di bawah lampu kristal rumah ini.

Yolanda mendekat setengah langkah.

"Jangan salah paham, Seraphina. Kau boleh memakai nama Lim sekarang. Tapi semua orang tahu kau siapa." Senyumnya kembali, lebih kejam. "Anak haram tetap anak haram."

Ruang tengah menjadi sangat sunyi.

Hujan di luar terdengar lebih keras daripada napas orang-orang di dalam.

Meilin menutup mulutnya. Matanya basah, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Hendrawan menatap Yolanda, lalu menatap Seraphina, seakan sedang menghitung kerugian sosial dari kalimat itu. Pelayan di pintu menunduk sangat dalam. Di ujung tangga, seorang pria muda yang baru tiba berdiri membeku dengan jas kerja masih melekat di tubuhnya.

Darren Lim.

Seraphina mengenalinya dari foto keluarga.

Ia baru saja mendengar semuanya.

Selama beberapa detik, Seraphina merasakan tubuhnya seperti kembali menjadi gadis dua puluh dua tahun di pesta ulang tahun empat tahun lalu, berdiri sendirian di teras dengan gaun biru muda, mendengar bisik-bisik orang yang tidak tahu apa-apa tetapi merasa berhak menghakimi.

Bedanya, malam ini ia tidak akan masuk mobil dan pergi sebelum pesta selesai.

Seraphina berdiri.

Gerakannya pelan, tanpa bunyi. Ia menatap Yolanda, lalu melihat satu per satu wajah di ruangan itu. Meilin yang gemetar. Hendrawan yang diam. Darren yang terlambat datang. Staf yang pura-pura tidak mendengar.

Terakhir, pandangannya kembali ke Yolanda.

"Aku tidak meminta dilahirkan di keluarga ini," ucap Seraphina. Suaranya tenang, lebih tenang daripada hujan di luar. "Tapi aku juga tidak akan meminta maaf karena aku ada."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
Episodes

Updated 136 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!