Episode 3

Bab 003

Empat Tahun yang Lalu

Sore itu, Seraphina pindah sebelum hujan sempat turun lagi.

Sopir keluarga Lim mengantarnya ke sebuah apartemen tinggi di kawasan SCBD. Tidak banyak bicara sepanjang perjalanan. Ia hanya menyerahkan kartu akses, kunci cadangan, dan sebuah amplop berisi nomor kontak pengelola gedung. Semuanya sudah diatur rapi, terlalu rapi, seolah Hendrawan memang sejak awal menyiapkan tempat untuk menaruhnya jauh dari rumah, tetapi tetap cukup dekat untuk dipanggil kapan saja.

Unit itu berada di lantai tiga puluh dua. Dari ruang tamu, kaca besar menghadap gedung-gedung Jakarta yang berkilau menjelang malam. Lampu kota menyala satu per satu, membentuk garis emas di antara jalanan yang mulai padat. Di bawah sana, mobil bergerak seperti aliran cahaya yang tidak pernah berhenti.

Seraphina berdiri di depan jendela dengan koper di samping kaki.

Tempat ini lebih tenang daripada rumah Lim.

Namun ketenangan yang dibeli dengan syarat tetap terasa seperti kurungan.

Ia membuka koper di kamar utama. Pakaian kerja diletakkan di lemari, laptop di meja, obat-obatan kecil dari Mama Kartika di laci paling atas. Ketika menarik satu lapis kain pelindung di bagian bawah koper, sebuah foto jatuh ke lantai.

Seraphina membungkuk mengambilnya.

Foto itu sudah sedikit melengkung di sudut, warnanya tidak lagi setajam dulu. Di sana, ia berdiri di sebuah teras luas, memakai gaun biru muda dengan rambut tergerai. Cahaya bulan jatuh di pagar batu. Di belakangnya, bayangan pesta tampak buram dari pintu kaca.

Empat tahun lalu.

Yolanda berusia delapan belas tahun malam itu.

Untuk pertama kalinya, Seraphina datang ke Jakarta bukan sebagai tamu Tjiandra, melainkan sebagai anak yang diam-diam diminta hadir oleh keluarga Lim. Meilin mengirimkan gaun melalui kurir, lengkap dengan sepatu dan kartu kecil bertuliskan, Pakailah ini kalau Sera berkenan. Tidak ada tanda tangan, tetapi Seraphina tahu tulisan itu milik Meilin.

Saat itu ia masih cukup muda untuk percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, sebuah undangan ulang tahun bisa menjadi awal dari sesuatu.

Mobil berhenti di halaman rumah Lim yang penuh lampu. Musik lembut mengalun dari dalam ballroom. Para tamu datang dengan gaun mahal, jas hitam, parfum tajam, dan tawa yang terdengar dibuat-buat. Mereka memandang Seraphina seperti membaca berita yang belum lengkap.

"Itu siapa?"

"Katanya anak Pak Hendrawan juga."

"Dari luar nikah?"

"Sst, jangan keras-keras."

Bisik-bisik itu mengikuti langkahnya seperti bayangan.

Meilin menyambutnya di dekat pintu samping. Malam itu wajah Meilin lebih muda, tetapi matanya sama gugupnya seperti semalam.

"Sera, kamu cantik sekali," katanya.

Seraphina memegang clutch kecil dengan kedua tangan. "Terima kasih, Bu Meilin."

Meilin tersenyum kaku. "Jangan terlalu formal. Di sini... kamu boleh panggil Mama."

Seraphina ingin mencoba. Satu kata itu sudah berada di ujung lidahnya.

Namun sebelum ia mengucapkannya, suara piring pecah terdengar dari dalam ballroom.

Yolanda berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat. Gaun putihnya menjuntai indah, tetapi matanya merah. Ia menunjuk ke arah Seraphina.

"Kenapa dia di sini?"

Semua percakapan berhenti.

Hendrawan mendekat cepat, wajahnya menegang. "Yolanda, jangan buat keributan."

"Ini pestaku, Papa." Suara Yolanda bergetar, tetapi cukup keras untuk seluruh ruangan. "Kenapa Papa bawa dia? Papa mau semua orang tahu?"

Meilin memegang lengan Seraphina. Pegangannya dingin.

Seraphina tidak tahu harus maju atau mundur. Ia hanya berdiri di tepi ruangan, dalam gaun biru yang tiba-tiba terasa seperti kostum salah acara.

Seorang tante yang tidak ia kenal berbisik kepada temannya, "Kasihan Yolanda. Anak itu pasti malu."

Anak itu.

Maksudnya bukan Seraphina.

Dalam beberapa menit, seseorang menyarankan agar Seraphina keluar dulu untuk menenangkan suasana. Tidak ada yang berkata terus terang ia diusir. Mereka hanya memakai kata yang lebih halus, udara luar, istirahat sebentar, jangan memperkeruh.

Seraphina keluar ke teras.

Jakarta malam itu panas, tetapi angin di teras membawa bau bunga sedap malam dari taman. Dari balik pintu kaca, musik kembali diputar. Pesta berjalan lagi, seakan kepergiannya cukup untuk menambal suasana.

Ia berdiri di dekat pagar batu, menatap bulan yang tampak jauh di antara awan tipis.

"Kau tidak suka pesta?"

Suara laki-laki itu datang dari sisi kiri.

Seraphina menoleh.

Seorang pria muda berdiri beberapa langkah darinya. Ia memakai setelan hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya, satu tangan memegang gelas red wine, tangan lainnya masuk ke saku celana. Wajahnya dingin, terlalu tenang untuk seseorang seusianya. Matanya gelap, tajam, seperti terbiasa melihat kebohongan orang sebelum mereka sempat bicara.

Seraphina tidak mengenalnya.

Namun anehnya, di antara semua tatapan malam itu, tatapan pria ini tidak membuatnya merasa kotor.

Ia hanya merasa dilihat.

"Aku tidak suka menjadi alasan pesta orang lain rusak," jawab Seraphina.

Pria itu menatap pintu kaca di belakangnya. Di dalam, Yolanda sudah kembali tersenyum di antara teman-temannya. "Kalau satu orang bisa merusak pesta sebesar ini hanya dengan berdiri, berarti pestanya memang rapuh."

Seraphina menoleh kepadanya, sedikit terkejut.

Ujung bibir pria itu tidak tersenyum. Ia mengatakan kalimat itu seolah menyebut fakta sederhana, seperti cuaca atau harga saham.

"Kau tamu keluarga Lim?" tanya Seraphina.

"Kurang lebih."

"Nama?"

Pria itu menatapnya lagi. Kali ini pandangannya berhenti sedikit lebih lama pada gaun biru muda yang ia kenakan, lalu naik ke wajahnya.

Sebelum ia menjawab, seorang pria berjas mendekat dari pintu samping.

"Tuan muda, Pak Gunawan mencari Anda."

Tuan muda.

Seraphina menangkap sebutan itu, tetapi tidak tahu keluarga mana yang dimaksud. Di lingkaran seperti ini, terlalu banyak pria dipanggil tuan muda hanya karena lahir dari rumah yang benar.

Pria itu meletakkan gelasnya di meja kecil dekat pilar.

"Kalau tidak ingin didorong keluar lagi," katanya kepada Seraphina, "jangan berdiri terlalu dekat pintu."

Setelah itu ia masuk kembali ke dalam, meninggalkan aroma tipis cedar dan wine di udara.

Seraphina berdiri lama di tempatnya.

Tidak lama kemudian, mobil dari keluarga Lim mengantarnya kembali ke hotel, lalu ke bandara keesokan paginya. Meilin tidak sempat menemuinya. Hendrawan hanya mengirim pesan singkat melalui asisten. Yolanda mengunggah foto pesta di Instagram, penuh tawa dan ucapan selamat, tanpa satu pun jejak gaun biru muda di teras.

Sejak itu, Seraphina menyimpan foto tersebut di dasar koper.

Bukan karena ia ingin mengingat rasa malu.

Melainkan karena di foto itu, ia melihat dirinya masih berdiri tegak.

Seraphina kembali ke masa kini ketika suara televisi di ruang tamu tiba-tiba terdengar. Ia baru sadar remote tersenggol saat ia menaruh tas di sofa. Layar besar menampilkan siaran berita bisnis malam. Gedung konferensi megah, lampu kamera, para wartawan, dan logo Hartono Group berputar di belakang podium.

Ia hendak mematikan televisi, tetapi nama yang disebut pembawa berita membuat jarinya berhenti.

"Hartono Group malam ini menggelar konferensi tahunan di Jakarta. Perhatian publik tertuju pada Reynard Hartono, pewaris tunggal Hartono Group, yang untuk pertama kalinya memimpin pemaparan strategi ekspansi sektor teknologi dan infrastruktur pertahanan."

Kamera bergerak ke podium.

Seorang pria dalam setelan hitam berdiri di bawah cahaya putih. Wajahnya lebih matang daripada ingatan Seraphina, garis rahangnya lebih tegas, matanya tetap sama dinginnya. Ia menerima mikrofon dari seorang staf, lalu menatap barisan wartawan tanpa sedikit pun gugup.

Jantung Seraphina berhenti satu ketukan.

Gelas red wine. Setelan hitam. Tatapan yang berhenti padanya di teras.

Empat tahun lalu, ia tidak sempat mengetahui namanya.

Malam ini, seluruh Jakarta menyebutnya.

Reynard Hartono.

Pria di layar televisi itu adalah pria yang pernah berdiri bersamanya di bawah cahaya bulan.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!