Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Bab 1. Planet yang Hancur

Panas api membakar bulu-bulu di ujung sayap Alan, tetapi bocah berusia tujuh tahun itu terlalu takut untuk menangis. Bau hangus dari daging yang terbakar dan belerang menyengat hidungnya yang mungil, memicu rasa mual yang hebat.

Di atas langit Planet Diamond yang dulunya sewarna permata berkilauan, sesosok bayangan raksasa bertubuh ular raksasa dengan belasan kepala meliuk-liuk di antara kepulan asap hitam.

Typhon. Monster legendaris yang dalam buku sejarah klan mereka digambarkan sebagai pembawa kiamat, kini nyata berada di depan matanya.

Monster itu sedang berpesta, memuntahkan lautan api dari moncong-moncongnya yang mengerikan, melelehkan arsitektur megah dari kristal padat dan menara-menara putih peradaban Pegasus hingga menjadi puing-puing tak berbentuk.

Setiap beberapa detik, tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Ledakan demi ledakan menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga. Langit timur yang biasanya menampakkan aurora ungu yang indah, kini sepenuhnya tertutup jelaga merah darah.

"Cepat, Alan! Jangan menoleh ke belakang! Kepakkan sayapmu!"

Tangan kekar Edmond, sahabat karib ayahnya, menyentak lengan Alan dengan kasar. Sentakan itu begitu kuat hingga membuat Alan nyaris terjungkal, memaksanya terus berlari menembus sisa-sisa Hutan Suci yang meranggas.

Pohon-pohon purba yang biasanya memancarkan cahaya keemasan kini meranggas, terbakar dari dalam karena hawa panas yang dibawa oleh Typhon.

Di belakang mereka, di batas luar hutan, sang ayah—Leonard, pemimpin klan mereka—berdiri tegak. Sepasang sayap seputih salju milik ayahnya terkepak lebar, menciptakan gelombang angin untuk menghalau badai api. Mata ungu sang ayah, ciri khas murni bangsa Pegasus, memancarkan kepasrahan yang mengerikan.

"Ayah! Aku tidak mau meninggalkan Ayah!" teriak Alan. Suaranya parau, langsung tertelan oleh gemuruh ledakan di langit. Air mata akhirnya luruh, membasahi pipinya yang coreng-moreng oleh abu.

"Dengarkan Ayah, Nak," Leonard berlutut sejenak di atas tanah yang retak, mencengkeram kedua pundak Alan dengan erat. Begitu erat hingga Alan bisa merasakan gemetar di tangan ayahnya.

Manik mata ungu mereka beradu dalam keheningan yang singkat di tengah kekacauan.

"Kau adalah masa depan bangsa kita. Hanya kau yang tersisa. Patuhi Paman Edmond. Ayah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kamu."

"Tapi Ayah berjanji akan selalu bersamaku!" isak Alan, jemari kecilnya mencengkeram zirah perang ayahnya yang sudah retak-retak.

"Ayah tidak akan pergi ke mana-mana. Ayah akan selalu ada di sini," Leonard menyentuh dada kiri Alan, tepat di mana jantung dan kristal magisnya berada. "Sekarang, pergi!"

Sebelum Alan sempat meraih ujung jubah ayahnya, Leonard sudah melesat ke angkasa. Kecepatan terbangnya menciptakan dentuman udara.

Dengan pedang elemen yang menyala, sang pemimpin klan menantang maut yang meraung di atas sana, menabrakkan diri ke arah salah satu kepala Typhon demi mengulihkan waktu bagi mereka.

"Ayah...!" lolongan Alan diputus paksa oleh Edmond yang kembali menariknya.

Namun, pelarian mereka tidak berjalan mulus. Baru beberapa ratus meter memasuki kegelapan hutan, sebuah erangan kesakitan yang menyayat hati membuat langkah mereka terhenti.

"Edmond... perlambat... perutku... sakit sekali..."

Lucia, istri Edmond, ambruk di atas tanah berlumut yang kering. Wajah wanita itu sepucat salju, tangannya mencengkeram perutnya yang membuncit besar.

Keringat dingin bercampur darah mengalir di pelipisnya. Sisa-sisa zirah ringannya tampak rusak, membuktikan bahwa dia juga telah bertarung habis-habisan sebelum ini.

Kepanikan total melanda wajah Edmond. Pria bertubuh tegap itu langsung berlutut, menyangga kepala istrinya. "Bertahanlah, Lucia! Kita belum sampai di jantung hutan. Barier pelindung belum diaktifkan!"

"Aku... aku tidak bisa menahannya lagi, Edmond. Bayinya... bayinya memaksa keluar sekarang..."

Lucia merintih, tubuhnya mengejang hebat saat gelombang rasa sakit kembali menyerang.

Edmond menatap langit dengan frustrasi. Raungan Typhon terdengar semakin dekat, menandakan pertahanan Leonard mulai melemah. Tanpa berpikir panjang, Edmond segera menggendong tubuh istrinya dengan sigap, mengabaikan rasa lelah yang menggelayuti otot-ototnya.

"Alan, terbang di dekatku! Jangan menjauh sedikit pun!" perintah Edmond dengan nada yang tak membantah.

Alan mengangguk cepat sambil menghapus air matanya dengan kasar. Sayap kecil di punggungnya mengepak sekuat tenaga. Rasanya sangat perih karena udara di sekitar mereka dipenuhi abu vulkanik yang tajam, tetapi rasa takut akan tertinggal membuat Alan melupakan rasa sakit fisiknya.

Mereka terbang rendah di antara dahan-dahan pohon purba yang tumbang, membelah kegelapan Hutan Suci yang melegenda—tempat di mana konon para leluhur Pegasus pertama kali diciptakan dari elemen murni semesta.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, mereka mendarat di sebuah altar batu besar yang rata di jantung hutan. Tempat itu adalah satu-satunya area yang belum tersentuh api.

Edmond membaringkan Lucia dengan hati-hati di atas batu tersebut. Dengan sisa sihirnya, Edmond menghentakkan kakinya ke tanah, mengaktifkan barier pelindung kuno yang langsung membentuk kubah transparan tipis di atas mereka.

Kubah itu menyamarkan keberadaan mereka, tetapi Edmond tahu, barier ini tidak akan bertahan lama jika Typhon mengarahkan pandangannya langsung ke tempat ini.

"Sekarang, Lucia! Kerahkan seluruh sisa kekuatanmu!" seru Edmond, menggenggam erat tangan istrinya.

Lucia menjerit, suaranya membelah kesunyian hutan yang mencekam. Dia mulai mengerahkan seluruh sisa energi dari Kristal Merah yang bersemayam di dalam jantungnya.

Bagi bangsa Pegasus, Kristal Merah bukan sekadar sumber kekuatan, melainkan nyawa itu sendiri. Setiap bayi Pegasus yang lahir akan menggenggam kristal magis tersebut sejak dalam kandungan, lalu menelannya sesaat setelah lahir agar menyatu dengan organ vital mereka.

Dan kristal itulah yang membuat mereka menjadi buruan utama. Typhon dan pasukannya memburu bangsa Pegasus bukan untuk wilayah, melainkan untuk merobek dada mereka dan memangsa Kristal Merah tersebut demi mendapatkan keabadian.

"Aaaarrrghhh!"

Satu jeritan terakhir yang melengking tinggi mengguncang altar batu, disusul oleh suara tangisan bayi yang jernih dan nyaring.

Seorang bayi perempuan telah lahir ke dunia yang sedang hancur. Kulitnya seputih pualam, bersih tanpa noda, dan parasnya begitu cantik layaknya dewi kecil.

Edmond mengembuskan napas lega yang luar biasa, air mata haru menetes di pipinya. "Dia perempuan, Lucia. Anak kita perempuan..."

Namun, saat Edmond membungkus tubuh mungil itu dengan selembar kain sutra putih, jemarinya mendadak bergetar hebat. Matanya membelalak lebar, menatap punggung sang bayi dengan tatapan tidak percaya.

Wajah Edmond mendadak pias, kehilangan seluruh rona darah seolah-olah dia baru saja melihat hantu.

"Edmond? Ada apa? Berikan bayinya padaku," ucap Lucia dengan suara yang teramat lemah, memaksakan diri untuk duduk bersandar pada batu.

"Ini... ini tidak mungkin," bisik Edmond dengan suara tercekat di tenggorokan. Dengan tangan yang masih bergetar, dia menyerahkan bayi itu ke pelukan istrinya.

Lucia menunduk, dan seketika itu juga, napasnya tertahan. Di punggung bayi perempuan itu, tidak ada apa-apa. Kulitnya mulus. Tidak ada tanda-tanda sayap tersembunyi yang biasanya dimiliki oleh setiap bayi Pegasus sejak menit pertama mereka lahir. Bangsa mereka terlahir untuk mengangkasa, namun anak ini tidak memiliki sarana untuk itu.

"Di mana sayapnya, Edmond? Kenapa... kenapa dia tidak punya sayap?" Isak tangis Lucia pecah, bukan karena bahagia, melainkan karena ketakutan yang mendalam.

"Bukan hanya itu, Lucia," Edmond membuka perlahan telapak tangan kecil sang bayi yang masih mengepal. Di dalam kepalan mungil itu, terdapat sebongkah kristal berbentuk elips.

Namun, kristal itu tidak memancarkan cahaya merah membara seperti milik mereka. Kristal itu berwarna putih pekat, jernih, dan memancarkan hawa dingin yang asing.

"Mengapa warnanya putih? Apakah ini kutukan dari para leluhur karena kita gagal menjaga planet ini?"

Alan melangkah mendekat dengan dahi berkerut polos. Rasa takutnya sejenak terusir oleh rasa penasaran seorang anak kecil. "Paman, Bibi, kenapa kalian menangis? Bukankah adik bayi sangat lucu dan cantik? Kenapa suasananya jadi menyeramkan?"

Episodes
1 Bab 1. Planet yang Hancur
2 Bab 2. Pengorbanan Terakhir Sang Pegasus
3 Bab 3. Ledakan Misterius di Tengah Hutan
4 Bab 4. Bayi di Dalam Batu Kristal
5 Bab 5. Kristal Merah yang Jatuh di Danau
6 Bab 6. Keberanian Bocah Bernama Alan
7 Bab 7. Bocah Pegasus Dari Planet Diamond
8 Bab 8. Tinggal di Kastil Raja Vampir
9 Bab 9. Teman Baru
10 Bab 10. Misteri Air Dalam Bak Mandi
11 Bab 11. Bayi Ajaib
12 Bab 12. Pagi Yang Sangat Dingin
13 Bab 13. Kepanikan Sarah dan Lucas
14 Bab 14. Menyembunyikan Monster Kecil
15 Bab 15. Terbang Bersama Alan
16 Bab 16. Terbang Bersama Alan Part 2
17 Bab 17. Melawan Sekawanan Rogue
18 Bab 18. Munculnya Monster Nessie
19 Bab 19. Justin Dalam Bahaya
20 Bab 20. Gadis Kecil Berambut Pink
21 Bab 21. Moana’s Treasures: Souvenir dari Perut Laut.
22 Bab 22. Anak Raja Vampir
23 Bab 23. Cerita Justin
24 Bab 24. Cerita Justin Part 2
25 Bab 25. Peringatan Nerissa
26 Bab 26. Melodi Misterius
27 Bab 27. Nyanyian Siren
28 Bab 28. Transformasi Alan
29 Bab 29. Alan Dalam Bahaya
30 Bab 30. Kekuatan Dahsyat Milik Alan
31 Bab 31. Kepanikan Seorang Ibu
32 Bab 32. Pegasus Dari Planet Diamond
33 Bab 33. Bocah Pegasus
34 Bab 34. Kedatangan Jacob ke Moon Island
35 Bab 35. Mencari Sang Archmage
36 Bab 36. Mencari Archmage dan Alan yang masih belum sadarkan diri
37 Bab 37. Alan Tersadar
38 Bab 38. Refleksi Sihir dibalik Kaca
39 Bab 39. BAYANG-BAYANG KASTIL OBSIDIAN
40 Bab 40. BUTIRAN PASIR DI ATAS BELUDRU HITAM
41 Bab 41. Kecurigaan Sang Raja Vampir
42 Bab 42. Kecurigaan Sang Raja Vampir Part 2
43 Bab 43. Kekejaman Damian Sang Raja Demon
44 Bab 44. Damian Yang Murka
45 Bab 45. Justin Mengamuk
46 Bab 46. Sihir Pemulihan
47 Bab 47. Sihir Pemulihan Part 2
48 Bab 48. Mengejar Peri Hutan
49 Bab 49. Tersesat di hutan alfheim
50 Bab 50. REKAYASA TAKDIR DI RUMAH POHON
51 Bab 51. Rumah Stefany Elves
52 Bab 52. Sarapan Pagi Di Alfheim
53 Bab 53. Taman Gravitasi Nol
54 Bab 54. Kutukan Tinkerland
55 Bab 55. Mengendap-endap
56 Bab 56. TRAKTAT YANG RETAK DAN RAUNGAN PREDATOR
57 Bab 57. Rapat Para Petinggi
58 Bab 58. Ramalan Orakel Bintang
59 Bab 59. Rapat dan Kelanjutan Ramalan Bintang
60 Bab 60. Diantar Jacob
61 Bab 61. ANOMALI DI BALIK KABUT KASTIL OBSIDIAN
62 Bab 62. Bocah Werewolf
63 Bab 63. Teman Baru
64 Bab 64. Mengantar Ethan Pulang
65 Bab 65. Salah Jalur
66 Bab 66. Terjatuh Ke Dalam Kubangan
67 Bab 67. PENYAMARAN GRIFFIN DAN BUAH APEL HITAM
68 Bab 68. Penyamaran Griffin Part 2
69 Bab 69. Apel Hitam Beracun
70 Bab 70. PELANGI RACUN DAN ANOMALI TUBUH SUCI
71 Bab 71. PELANGI RACUN DAN ANOMALI TUBUH SUCI Part 2
72 Bab 72. PELANGI RACUN DAN ANOMALI TUBUH SUCI Part 3
73 Bab 73. Rencana Jahat Lunox
74 Bab 74. Rencana Jahat Lunox Part 2
75 Bab 75. Anomali Suci
76 Bab 76. Habisnya Kesabaran Lunox
77 Bab 77. AMUKAN GRIFFIN DAN AMARAH PENYIHIR NAGA
78 Bab 78. PERTEMPURAN ANGKASA ANTARA SANG NAGA BENJAMIN VS LUNOX SANG GRIFFIN
79 Bab 79. Benjamin Vs Lunox
80 Bab 80. Sihir Pemurnian dan Perlindungan Penyihir Mage
81 Bab 81. Perlindungan Vespera
82 Bab 82. Hitungan Apel Iblis
83 Bab 83. JAHITAN CELANA DAN TINGKAH KERA DI HUTAN VESPERA
84 Bab 84. DONGENG IKAN MAS KOKI
85 Bab 85. Memetik Tanaman Herba
86 Bab 86. Bocah Cerewet dan Penyihir Galak
87 Bab 87. Air Suci Methuselah
88 Bab 88. LABIRIN TIGA LUBANG
89 Bab 89. Kejaran Para Gnome dan Pria Tahanan Berambut Putih
90 Bab 90. Sadarnya Sang Tahanan
91 Bab 91. Penolakan Sang Tahanan
92 Bab 92. Pengusiran Raja Demon
93 Bab 93. ENSIKLOPEDIA NYMPHA
94 Bab 94. Terbangun di Rumah Asing
95 Bab 95. Rumah Orang Asing
96 Bab 96. Mencari Alan
97 Bab 97. JEBAKAN POTAMEIDES
98 Bab 98. SIAGA TEMPUR DI TEPI SUNGAI VESPERA
99 Bab 99. KUTUKAN KODOK PENGHISAP ENERGI
100 Bab 100. Murka Sang Monster Naiad
101 Bab 101. SISIK KOSMIS ORAKEL
102 Bab 102. Pulang Ke Rumah Sang Mage
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab 1. Planet yang Hancur
2
Bab 2. Pengorbanan Terakhir Sang Pegasus
3
Bab 3. Ledakan Misterius di Tengah Hutan
4
Bab 4. Bayi di Dalam Batu Kristal
5
Bab 5. Kristal Merah yang Jatuh di Danau
6
Bab 6. Keberanian Bocah Bernama Alan
7
Bab 7. Bocah Pegasus Dari Planet Diamond
8
Bab 8. Tinggal di Kastil Raja Vampir
9
Bab 9. Teman Baru
10
Bab 10. Misteri Air Dalam Bak Mandi
11
Bab 11. Bayi Ajaib
12
Bab 12. Pagi Yang Sangat Dingin
13
Bab 13. Kepanikan Sarah dan Lucas
14
Bab 14. Menyembunyikan Monster Kecil
15
Bab 15. Terbang Bersama Alan
16
Bab 16. Terbang Bersama Alan Part 2
17
Bab 17. Melawan Sekawanan Rogue
18
Bab 18. Munculnya Monster Nessie
19
Bab 19. Justin Dalam Bahaya
20
Bab 20. Gadis Kecil Berambut Pink
21
Bab 21. Moana’s Treasures: Souvenir dari Perut Laut.
22
Bab 22. Anak Raja Vampir
23
Bab 23. Cerita Justin
24
Bab 24. Cerita Justin Part 2
25
Bab 25. Peringatan Nerissa
26
Bab 26. Melodi Misterius
27
Bab 27. Nyanyian Siren
28
Bab 28. Transformasi Alan
29
Bab 29. Alan Dalam Bahaya
30
Bab 30. Kekuatan Dahsyat Milik Alan
31
Bab 31. Kepanikan Seorang Ibu
32
Bab 32. Pegasus Dari Planet Diamond
33
Bab 33. Bocah Pegasus
34
Bab 34. Kedatangan Jacob ke Moon Island
35
Bab 35. Mencari Sang Archmage
36
Bab 36. Mencari Archmage dan Alan yang masih belum sadarkan diri
37
Bab 37. Alan Tersadar
38
Bab 38. Refleksi Sihir dibalik Kaca
39
Bab 39. BAYANG-BAYANG KASTIL OBSIDIAN
40
Bab 40. BUTIRAN PASIR DI ATAS BELUDRU HITAM
41
Bab 41. Kecurigaan Sang Raja Vampir
42
Bab 42. Kecurigaan Sang Raja Vampir Part 2
43
Bab 43. Kekejaman Damian Sang Raja Demon
44
Bab 44. Damian Yang Murka
45
Bab 45. Justin Mengamuk
46
Bab 46. Sihir Pemulihan
47
Bab 47. Sihir Pemulihan Part 2
48
Bab 48. Mengejar Peri Hutan
49
Bab 49. Tersesat di hutan alfheim
50
Bab 50. REKAYASA TAKDIR DI RUMAH POHON
51
Bab 51. Rumah Stefany Elves
52
Bab 52. Sarapan Pagi Di Alfheim
53
Bab 53. Taman Gravitasi Nol
54
Bab 54. Kutukan Tinkerland
55
Bab 55. Mengendap-endap
56
Bab 56. TRAKTAT YANG RETAK DAN RAUNGAN PREDATOR
57
Bab 57. Rapat Para Petinggi
58
Bab 58. Ramalan Orakel Bintang
59
Bab 59. Rapat dan Kelanjutan Ramalan Bintang
60
Bab 60. Diantar Jacob
61
Bab 61. ANOMALI DI BALIK KABUT KASTIL OBSIDIAN
62
Bab 62. Bocah Werewolf
63
Bab 63. Teman Baru
64
Bab 64. Mengantar Ethan Pulang
65
Bab 65. Salah Jalur
66
Bab 66. Terjatuh Ke Dalam Kubangan
67
Bab 67. PENYAMARAN GRIFFIN DAN BUAH APEL HITAM
68
Bab 68. Penyamaran Griffin Part 2
69
Bab 69. Apel Hitam Beracun
70
Bab 70. PELANGI RACUN DAN ANOMALI TUBUH SUCI
71
Bab 71. PELANGI RACUN DAN ANOMALI TUBUH SUCI Part 2
72
Bab 72. PELANGI RACUN DAN ANOMALI TUBUH SUCI Part 3
73
Bab 73. Rencana Jahat Lunox
74
Bab 74. Rencana Jahat Lunox Part 2
75
Bab 75. Anomali Suci
76
Bab 76. Habisnya Kesabaran Lunox
77
Bab 77. AMUKAN GRIFFIN DAN AMARAH PENYIHIR NAGA
78
Bab 78. PERTEMPURAN ANGKASA ANTARA SANG NAGA BENJAMIN VS LUNOX SANG GRIFFIN
79
Bab 79. Benjamin Vs Lunox
80
Bab 80. Sihir Pemurnian dan Perlindungan Penyihir Mage
81
Bab 81. Perlindungan Vespera
82
Bab 82. Hitungan Apel Iblis
83
Bab 83. JAHITAN CELANA DAN TINGKAH KERA DI HUTAN VESPERA
84
Bab 84. DONGENG IKAN MAS KOKI
85
Bab 85. Memetik Tanaman Herba
86
Bab 86. Bocah Cerewet dan Penyihir Galak
87
Bab 87. Air Suci Methuselah
88
Bab 88. LABIRIN TIGA LUBANG
89
Bab 89. Kejaran Para Gnome dan Pria Tahanan Berambut Putih
90
Bab 90. Sadarnya Sang Tahanan
91
Bab 91. Penolakan Sang Tahanan
92
Bab 92. Pengusiran Raja Demon
93
Bab 93. ENSIKLOPEDIA NYMPHA
94
Bab 94. Terbangun di Rumah Asing
95
Bab 95. Rumah Orang Asing
96
Bab 96. Mencari Alan
97
Bab 97. JEBAKAN POTAMEIDES
98
Bab 98. SIAGA TEMPUR DI TEPI SUNGAI VESPERA
99
Bab 99. KUTUKAN KODOK PENGHISAP ENERGI
100
Bab 100. Murka Sang Monster Naiad
101
Bab 101. SISIK KOSMIS ORAKEL
102
Bab 102. Pulang Ke Rumah Sang Mage

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!