Episode 2

Bab 2: Hujan dan Darah

Hujan di Surabaya turun makin rapat ketika Anisa meninggalkan gerbang Kediaman Gondokusumo.

Koper di tangan kanannya terseret pincang karena salah satu rodanya tersangkut celah paving. Koper di tangan kiri lebih ringan, tetapi pegangannya melukai telapak yang masih basah. Ia tidak punya payung. Tidak punya mobil. Tidak punya alamat yang bisa ia tuju dengan yakin.

Di belakangnya, gerbang besi besar tertutup perlahan.

Bunyi klik dari sistem otomatis itu terdengar terlalu final.

Anisa berhenti di tepi jalan, menoleh sekali. Rumah besar itu berdiri angkuh di balik pagar tinggi, lampu-lampunya menyala hangat seperti tidak baru saja mengusir seseorang. Selama tiga tahun, ia bangun sebelum matahari untuk memastikan rumah itu punya sarapan hangat. Ia mengingat obat Galang saat pria itu sakit maag. Ia menyiapkan jasnya sebelum rapat penting. Ia menunggu di ruang makan sampai nasi dingin, lalu memanaskannya lagi kalau Galang pulang larut.

Sekarang, bahkan pos satpam pun tidak menawarkan tempat berteduh.

"Bu, hujan deras," suara seorang penjaga terdengar dari balik kaca pos. Nadanya canggung, bukan iba. "Mungkin bisa pesan taksi online."

Anisa menatap ponsel di genggamannya. Layarnya retak tipis di sudut, baterai tersisa tujuh persen. Akun transportasi online masih memakai kartu pembayaran Galang. Ia menatap ikon aplikasi itu beberapa detik, lalu mematikan layar.

Ia tidak mau membawa apa pun yang terhubung dengan pria itu.

"Terima kasih," jawabnya pendek.

Penjaga itu membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun, matanya bergerak ke kamera CCTV di atas gerbang, lalu ia diam.

Anisa mengerti. Di rumah itu, bahkan kebaikan kecil pun harus meminta izin.

Ia menarik kedua koper dan mulai berjalan.

Air hujan menempel di rambutnya, turun ke leher, menyusup ke balik kerah blus tipis yang tadi pagi ia pilih dengan hati-hati. Tadi pagi ia masih berpikir mungkin Galang akan makan malam di rumah. Ia bahkan sempat meminta dapur menyiapkan sup kesukaannya.

Lucu.

Hari ini ia menyiapkan makanan untuk suami yang sudah menyiapkan perceraian.

Di persimpangan depan kompleks, jalan mulai ramai. Motor melaju cepat, ban menyibak genangan. Sebuah mobil hitam melewati lubang dan air kotor menyiprat ke ujung rok Anisa. Ia menunduk. Noda cokelat menyebar di kain krem itu, tetapi ia tidak punya tenaga untuk marah.

Ia hanya terus berjalan.

Rasa lapar datang pelan. Sejak pagi ia belum makan. Dalam ruang kerja Galang, perutnya terlalu tegang untuk mengingat makanan. Sekarang, setelah tubuhnya diguyur hujan, lututnya mulai lemas.

Di depan minimarket kecil, Anisa berhenti. Lampunya terang. Orang-orang masuk keluar membawa kantong plastik, tertawa, mengeluh soal hujan, menelepon keluarga agar dijemput. Hal-hal biasa yang tiba-tiba terasa mewah.

Ia merogoh tas kecilnya.

Dompetnya ada, tetapi isinya hanya beberapa lembar uang tunai. Kartu yang selama ini ia pakai adalah kartu rumah tangga Gondokusumo. Galang bisa memblokirnya kapan saja. Mungkin sudah.

Anisa membeli sebotol air mineral paling murah. Kasir muda menatap koper dan rambut basahnya dengan rasa ingin tahu yang disembunyikan.

"Mau sekalian plastik besar, Bu? Biar barangnya tidak basah."

Anisa hampir menggeleng, lalu melihat map kecil berisi beberapa dokumen pribadi di tasnya. "Satu saja."

Saat menerima kembalian, jarinya kembali terasa perih. Luka kecil dari kertas surat cerai terbuka karena air hujan. Darah tipis bercampur air di ujung jarinya.

Ia menekan luka itu dengan tisu dari minimarket.

Luka kecil.

Kata Galang.

Anisa tersenyum tanpa suara. Kalau Galang melihat tubuhnya hancur sekalipun, mungkin pria itu tetap akan menyebutnya kecil selama Sherly tidak terganggu.

Ponselnya bergetar.

Tidak ada nama Galang di layar. Tidak ada pesan apa pun. Hanya notifikasi baterai lemah.

Anisa menelan kecewa yang seharusnya tidak lagi ia miliki. Untuk apa ia menunggu pesan dari pria yang bahkan sudah mengemas barangnya sebelum bicara?

Ia mematikan ponsel agar baterainya bertahan, lalu keluar dari minimarket.

Langit makin gelap. Hujan turun miring diterpa angin. Jalan raya di depan kompleks berkilau oleh lampu kendaraan. Trotoar tidak rata, beberapa bagian tertutup genangan. Anisa menyeret koper lebih dekat ke tubuhnya, mencoba melindungi tas dari hujan.

Di seberang jalan, sebuah van abu-abu terparkir dengan mesin menyala.

Di dalam van itu, seorang pria memegang setir sambil menatap Anisa dari kaca depan. Ponselnya tergeletak di paha, layar masih menampilkan pesan singkat.

Target keluar. Sendiri. Jangan gagal.

Pria itu mengusap wajah. "Nona kaya memang gila," gumamnya. "Masalah cinta saja sampai begini."

Ia menyalakan wiper. Karet wiper menyapu kaca, memperjelas sosok Anisa yang berjalan pelan di bawah hujan. Tidak ada pengawal. Tidak ada saksi yang benar-benar memperhatikan. Hujan selalu membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri.

Ponsel pria itu bergetar lagi.

Nomor tanpa nama.

Ia menjawab dengan earphone kecil. "Saya lihat dia."

Suara Sherly masuk, lembut tetapi dingin. "Jangan terlalu dekat dengan gerbang. Cari titik yang sepi."

"Di jalan depan sudah ramai."

"Makanya tunggu."

Pria itu menatap spion. "Kalau ada CCTV?"

"Aku tidak membayarmu untuk bertanya."

Diam sebentar.

"Baik," jawab pria itu akhirnya.

Panggilan terputus. Tangannya mengencang di setir.

Di luar, Anisa berbelok ke jalan yang lebih kecil, berharap menemukan halte atau tempat berteduh. Ia tidak mengenal kawasan itu dengan baik. Selama menjadi istri Galang, ia jarang pergi sendiri. Kalau keluar, selalu ada sopir keluarga. Kalau ingin mengunjungi pasar atau toko bunga, pelayan akan bertanya dulu untuk apa.

Hidupnya selama tiga tahun ternyata tidak hanya miskin kasih sayang. Ia juga miskin kebebasan.

Sebuah suara klakson membuatnya tersentak.

Motor lewat terlalu dekat. Anisa mundur, tumitnya menginjak genangan, tubuhnya oleng. Koper kecil jatuh ke samping. Beberapa pakaian keluar karena resletingnya tidak tertutup sempurna.

Ia berjongkok di bawah hujan, memungut pakaian satu per satu.

Blus sederhana. Cardigan lama. Satu kotak kecil berisi obat sakit kepala. Foto pernikahan salinan yang entah kenapa masih diselipkan pelayan di antara barangnya.

Anisa memegang foto itu.

Darah di salinan lain tadi mungkin sudah mengering. Foto di tangannya masih bersih, tetapi wajah di dalamnya terasa mati. Ia hampir merobeknya. Hampir.

Lalu ia berhenti.

Entah kenapa, ia memasukkan foto itu kembali ke koper. Bukan karena ia ingin menyimpannya sebagai kenangan. Mungkin karena suatu hari ia perlu mengingat bahwa ada masa ketika ia pernah serendah ini.

Saat ia berdiri, kepalanya berputar.

Jalan di depannya kabur. Lampu kendaraan memanjang seperti garis-garis kuning. Ia memegang tiang rambu di dekatnya, menarik napas pelan.

"Kenapa..." bisiknya.

Pertanyaan itu bukan hanya untuk Galang. Bukan hanya untuk Sherly yang ia belum tahu wajah aslinya malam ini. Pertanyaan itu untuk langit, untuk tubuhnya yang lelah, untuk hidup yang memberinya nama tanpa akar dan rumah tanpa pintu pulang.

Kenapa aku?

Apa salahku?

Dari ujung jalan, van abu-abu mulai bergerak.

Pelan pada awalnya. Lalu makin cepat.

Anisa mendengar suara mesin menembus hujan. Ia menoleh, tetapi cahaya lampu depan langsung menusuk matanya. Terlalu dekat. Terlalu cepat.

Tangannya masih memegang pegangan koper.

Tubuhnya membeku satu detik, hanya satu detik, tetapi satu detik itu cukup untuk membuat dunia berubah.

Klakson panjang membelah jalan.

Benturan itu datang seperti ledakan.

Anisa merasa tubuhnya terangkat dari tanah. Koper terlepas. Botol air mental ke selokan. Payung seseorang di kejauhan jatuh. Hujan, lampu, aspal, semuanya berputar tanpa bentuk.

Lalu ia menghantam jalan.

Sakit datang terlambat, kemudian menyapu semuanya.

Ia tidak bisa berteriak. Udara seperti hilang dari paru-parunya. Pipinya menempel pada aspal basah. Ada rasa besi di mulut. Di dekat wajahnya, air hujan berubah warna, membawa merah tipis mengalir ke garis putih jalan.

Van itu tidak berhenti lama. Pintu samping sempat terbuka sedikit, sepasang mata memastikan tubuhnya tidak bergerak. Lalu kendaraan itu melaju pergi, menelan diri ke balik hujan dan deretan lampu.

Beberapa orang mulai berteriak.

"Astaga! Ada yang ketabrak!"

"Panggil ambulans!"

"Plat nomornya kelihatan?"

Suara-suara itu terdengar jauh, seperti berasal dari dasar air. Anisa mencoba menggerakkan jari. Tidak bisa. Kelopak matanya berat, tetapi ia memaksa tetap terbuka.

Di jalan utama yang berjarak beberapa meter, sebuah mobil hitam mewah melambat karena kemacetan kecil akibat kecelakaan.

Di kursi belakang, Galang menatap layar ponselnya. Sherly baru saja mengirim pesan.

Kamu sudah makan? Jangan lupa istirahat. Aku khawatir.

Galang membaca pesan itu, lalu mengetik balasan singkat. Sopir di depan melirik kerumunan di pinggir jalan.

"Pak, sepertinya ada kecelakaan."

Galang mengangkat wajah sekilas. Dari balik kaca mobil yang basah, ia melihat orang-orang berkumpul, lampu motor berhenti, seseorang berjongkok di jalan. Namun, hujan menutup semuanya. Ia tidak bisa melihat wajah perempuan yang tergeletak di sana.

"Jalan saja kalau bisa lewat," katanya.

"Baik, Pak."

Mobil itu bergerak pelan melewati lokasi kecelakaan.

Saat ban mobil Galang melewati genangan di dekat tubuhnya, percikan air dingin mengenai tangan Anisa yang terentang di aspal. Cincin pernikahan di jarinya memantulkan cahaya lampu mobil sebentar, lalu redup lagi tertutup darah dan hujan.

Anisa tidak tahu mobil siapa yang baru saja lewat.

Mungkin lebih baik begitu.

Matanya menatap samar ke arah lampu belakang yang menjauh. Dalam kabur kesadaran, ia hanya melihat warna merah, merah yang sama dengan darah di foto pernikahan tadi.

Kenapa...

Aku sudah pergi...

Kenapa masih tidak boleh hidup?

Suara sirene belum terdengar. Hujan jatuh di wajahnya, membasuh air mata yang bahkan tidak ia sadari keluar.

Napasnya tersendat. Dunia mengecil menjadi suara air, bau aspal basah, dan sakit yang perlahan berubah menjadi dingin.

Pikiran terakhir Anisa sebelum gelap menelannya hanya satu.

Apa benar tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mencariku?

Terpopuler

Comments

Tri Septi

Tri Septi

kan tahu kalau dia amnesia dan tidak ingat apapun dan keluarganya, kok tega mengusirnya begitu saja....dholim itu 😡😠

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!