Episode 5

Bab 5: Pesta Kemenangan

Saat Keira sedang menuju rumah yang selama ini mencarinya, Sherly Permata sedang memilih gaun untuk merayakan kemenangan.

Di depan cermin tinggi kamar apartemennya, Sherly memutar tubuh perlahan. Gaun satin warna sampanye melekat lembut di kulitnya, cukup anggun untuk makan malam keluarga, cukup manis untuk membuat Galang merasa ia perlu dilindungi.

Ia tersenyum pada bayangannya sendiri.

Tidak ada lagi Anisa.

Nama itu terasa ringan sekarang. Seperti debu yang akhirnya berhasil disapu dari sudut ruangan. Tiga tahun perempuan itu hidup di rumah Galang, memakai status istri, menempati posisi yang seharusnya menjadi milik Sherly. Namun pada akhirnya, status hanyalah kertas. Sekali Galang menandatangani cerai, perempuan itu kembali menjadi bukan siapa-siapa.

Dan setelah van abu-abu menyelesaikan tugasnya, bahkan bukan siapa-siapa pun tidak akan tersisa.

Ponsel di meja rias bergetar.

Sherly mengambilnya cepat. Nomor tanpa nama. Ia berjalan ke balkon sebelum menjawab, memastikan pintu kamar tertutup.

"Bagaimana?"

Suara pria di seberang terdengar tegang. "Kena. Dia jatuh. Banyak darah."

Sherly memejamkan mata sebentar, menikmati kalimat itu seperti menikmati aroma parfum mahal. "Mati?"

"Saya tidak menunggu ambulans. Terlalu berisiko."

Senyumnya menipis. "Aku bertanya, mati atau tidak?"

"Dengan benturan seperti itu, kecil kemungkinan selamat."

Sherly menatap langit Surabaya yang mulai gelap. Ia tidak suka jawaban yang mengandung kemungkinan. Namun, ia juga tahu kepanikan akan membuat pekerjaan kotor menjadi berantakan.

"Hilangkan kendaraan itu. Jangan hubungi aku lagi dari nomor ini."

"Pembayaran?"

"Akan masuk malam ini."

Ia memutus panggilan.

Beberapa detik Sherly hanya berdiri di balkon, membiarkan angin menyentuh wajahnya. Lalu ia kembali ke dalam, menatap cermin, dan melatih ekspresi sedih yang cukup lembut.

Galang tidak boleh melihat kegembiraannya.

Galang harus melihat perempuan yang terluka karena cinta, bukan perempuan yang baru saja memesan kematian.

Ketika Galang datang satu jam kemudian, Sherly sudah mengganti gaun dengan blouse putih dan rok panjang warna pastel. Rambutnya dibiarkan jatuh natural. Di meja, ia menyiapkan teh hangat dan bubur ayam, makanan sederhana yang sengaja ia pilih agar terlihat penuh perhatian, bukan merayakan.

"Kamu datang," ucap Sherly pelan saat membuka pintu.

Galang berdiri di luar dengan wajah lelah. Kemejanya masih sama dengan yang ia pakai saat menceraikan Anisa. Hanya dasinya sudah longgar, dan matanya tampak lebih kosong daripada biasanya.

"Kamu bilang tidak enak badan."

Sherly menunduk. "Aku cuma... kepikiran. Hari ini berat buat kamu."

Kalimat itu bekerja. Rahang Galang yang semula tegang sedikit mengendur.

Ia masuk, tetapi langkahnya tidak sepenuhnya tenang. Sherly memperhatikan semuanya. Cara Galang melepas jam tangan lebih lambat. Cara ia menatap teh tanpa langsung minum. Cara matanya kadang bergerak ke arah hujan di luar jendela.

Ada sesuatu.

Rasa tidak nyaman kecil yang harus segera ia tutup.

"Kamu menyesal?" tanya Sherly lembut.

Galang mengangkat wajah. "Apa?"

"Menceraikan Anisa." Sherly menggigit bibir bawah, mata dibuat sedikit basah. "Kalau kamu menyesal, aku tidak mau memaksa. Aku tahu aku pergi terlalu lama. Mungkin selama tiga tahun itu, dia..."

"Jangan lanjutkan."

Sherly menunduk lebih dalam, menyembunyikan senyum singkat.

Galang duduk di sofa. "Aku tidak menyesal."

Namun, suaranya tidak sekuat yang Sherly inginkan.

Ia duduk di sebelah Galang, menjaga jarak satu telapak tangan. Dekat, tetapi tidak agresif. "Aku hanya takut kamu membenciku karena semua ini."

"Ini bukan salahmu."

Tentu saja bukan, pikir Sherly.

Di wajahnya, yang muncul adalah rasa bersalah yang halus. "Tapi kalau aku tidak kembali, kalian mungkin masih..."

"Pernikahan itu dari awal memang salah."

Kali ini Galang mengucapkannya lebih tegas, seolah sedang meyakinkan Sherly sekaligus dirinya sendiri.

Sherly menyentuh punggung tangannya sebentar. "Aku tidak pernah ingin merebut apa pun."

Galang tidak menarik tangan.

Itu cukup membuat Sherly tahu ia masih memegang kendali.

Mereka makan malam dalam suasana tenang. Sherly memilih topik yang aman: kondisi Engkong Gondokusumo, rencana kerja Galang, satu dua kenangan lama saat mereka masih muda. Sesekali ia tertawa kecil, lalu segera menahan diri, seolah takut terlalu bahagia di hari perceraian pria itu.

Galang menjawab seperlunya.

Di tengah makan, ponselnya menyala.

Sherly melirik cepat. Tidak ada nama Anisa. Hanya pesan dari sopir.

Pak, jalan depan kompleks tadi macet karena kecelakaan. Sekarang sudah lancar.

Galang membaca pesan itu, lalu meletakkan ponsel lagi.

"Ada apa?" tanya Sherly.

"Tidak penting. Sopir bilang tadi ada kecelakaan."

Sendok Sherly berhenti sepersekian detik, lalu bergerak lagi dengan tenang. "Di dekat rumahmu?"

"Sepertinya."

"Ya ampun." Sherly menutup mulut dengan tangan. "Semoga orangnya selamat."

Galang menatapnya. Ada kelembutan di mata pria itu, kelembutan yang selalu membuat Sherly ingin tertawa. Galang begitu mudah percaya pada wajah yang tepat.

"Kamu masih sama," katanya.

"Apa?"

"Terlalu mudah kasihan pada orang lain."

Sherly menunduk malu. "Aku hanya tidak suka mendengar ada orang terluka."

Di dalam hatinya, ia menghitung kemungkinan. Kalau kecelakaan itu sudah masuk percakapan sopir, berarti tempatnya memang cukup dekat. Apakah Galang sempat melihat? Tidak. Kalau ia melihat wajah Anisa, pria itu tidak akan duduk di sini setenang ini.

Aman.

Untuk sementara.

Setelah makan, mereka pindah ke ruang tengah. Hujan di luar turun tipis. Sherly sengaja mengambil selimut kecil dan meletakkannya di pangkuan, membuat dirinya tampak rapuh.

"Galang," panggilnya.

"Hm?"

"Sekarang kamu sudah bebas." Ia mengucapkannya seperti kalimat yang berat, padahal dadanya ringan sekali. "Tapi aku tidak mau orang-orang berpikir buruk tentangmu. Mereka mungkin akan bilang kamu menceraikan istri karena aku."

Galang terdiam.

Sherly membiarkan jeda itu bekerja.

"Aku bisa menunggu," lanjutnya. "Aku tidak harus langsung menjadi siapa-siapa. Asal aku tahu... ada masa depan untuk kita."

Galang menatapnya lama.

Itu bagian yang paling Sherly sukai dari pria itu. Galang merasa dirinya rasional, tetapi ketika menyangkut Sherly, ia selalu ingin menjadi penyelamat.

"Ada," kata Galang akhirnya.

Sherly menahan napas, membuat matanya tampak berkilau. "Benarkah?"

"Aku perlu bicara dengan Engkong dulu. Perceraian ini juga harus diproses resmi. Setelah itu..."

Ia berhenti, tetapi Sherly sudah mendapatkan yang ia inginkan.

Setelah itu.

Pernikahan.

Kediaman Gondokusumo.

Nama Sherly Gondokusumo.

Ia menunduk agar Galang tidak melihat kilatan puas di matanya. "Aku tidak mau terburu-buru."

"Aku tahu."

"Aku cuma ingin kita tidak kehilangan satu sama lain lagi."

Kalimat itu membuat Galang mengulurkan tangan dan menggenggam jarinya.

Hangat. Penuh rasa bersalah. Mudah diarahkan.

Sherly membalas genggaman itu dengan lembut. "Terima kasih sudah memilihku."

Galang tidak menjawab. Matanya kembali ke jendela, ke hujan yang menempel di kaca.

Entah kenapa, bayangan Anisa sempat lewat di kepalanya. Bukan Anisa yang menangis di ruang kerja, melainkan Anisa yang dulu menaruh semangkuk bubur di meja saat ia demam, lalu pergi tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Galang mengerutkan dahi.

Ia mengusir bayangan itu.

Anisa sudah pergi. Itu yang terbaik.

Sherly memperhatikan perubahan kecil di wajahnya. Tangannya mengencang sedikit, lalu ia bersandar ke bahu Galang.

"Jangan pikirkan masa lalu," bisiknya. "Mulai sekarang, kita lihat ke depan saja."

Galang mengangguk, meski dadanya tidak sepenuhnya lega.

Malam itu, Sherly tidur dengan senyum tipis. Ia membayangkan dirinya masuk ke Kediaman Gondokusumo sebagai calon nyonya baru, membayangkan semua orang yang dulu membandingkannya dengan Anisa akan menunduk.

Ia tidak tahu bahwa di sisi lain Surabaya, perempuan yang ia kira sudah mati sedang dibawa pulang oleh keluarga yang namanya cukup besar untuk membuat Gondokusumo terlihat kecil.

Dan ia lebih tidak tahu lagi, kemenangan yang ia rayakan malam itu hanyalah awal dari kehancurannya sendiri.

Terpopuler

Comments

Tri Septi

Tri Septi

ada tabur tuai, tunggu saja 😠 lanjut Thor, makasih 😆🙏🙏

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!