Episode 4

Bab 4: Keluarga Hartono

Empat tahun.

Keira mengulang angka itu dalam hati, tetapi kepalanya belum mampu menampung maknanya. Empat tahun seseorang mencarinya. Empat tahun ada rumah yang mungkin menyalakan lampu untuknya. Empat tahun ia hidup sebagai Anisa, menunduk di keluarga Gondokusumo, sementara di tempat lain ada orang yang memanggilnya Nona Besar.

"Mencari saya?" Suaranya keluar parau. "Kenapa?"

Om De menatapnya dengan mata yang masih basah. Ia tidak langsung menjawab. Pria tua itu seperti sedang memilih kata yang tidak akan melukai lebih dalam.

"Karena Anda hilang dari keluarga Anda, Nona Besar."

Keluarga.

Kata itu tidak lagi kosong, tetapi juga belum terasa utuh. Keira menatap wajah Om De, mencoba mencari ingatan yang lengkap. Yang muncul hanya pecahan: tangan tua menaruh selimut di bahunya, suara yang memanggilnya saat ia berlari di lorong, mobil hitam menunggu di halaman besar.

"Keluarga Hartono," bisiknya.

Om De mengangguk. "Benar. Nama Anda Keira Hartono. Cucu pertama yang paling disayang Engkong Hartono. Putri Bapak Richard dan Ibu Lina Hartono."

Nama-nama itu menghantam dadanya satu per satu.

Richard.

Lina.

Engkong.

Ada rasa hangat yang muncul, lalu langsung ditindih rasa takut. Kalau mereka benar-benar keluarganya, kenapa ia bisa hilang? Kenapa ia berakhir sebagai perempuan tanpa ingatan yang menikah dengan Galang? Kenapa selama empat tahun tidak ada yang menemukannya sampai ia hampir mati di jalan?

Keira menarik napas, tetapi rusuknya sakit. Aqil bergerak setengah langkah, refleks ingin membantu, lalu berhenti ketika Keira mengangkat tangan.

"Jangan mendekat dulu."

Aqil langsung menunduk. "Baik, Nona."

Om De juga tidak memaksa. Justru itu yang membuat Keira lebih waspada. Mereka menghormati batasnya. Tidak seperti orang-orang yang selama ini mengatur hidupnya atas nama kasihan.

"Kalau saya benar Keira Hartono," kata Keira pelan, "buktikan."

Om De tidak tersinggung. Ia malah tampak lega, seolah sikap curiga itu lebih mirip Keira yang ia kenal.

"Tentu."

Ia mengeluarkan tablet dari tas kulit yang dibawa Aqil. Dengan gerakan hati-hati, Om De membuka beberapa dokumen digital. Foto pertama muncul di layar.

Seorang gadis remaja berdiri di samping pria tua berambut putih. Gadis itu tersenyum lebar, mata berbinar, rambut panjangnya diikat sederhana. Wajahnya lebih muda, tetapi garis hidung, bentuk mata, dan lesung samar di pipi kiri tidak bisa disangkal.

Itu dirinya.

Keira menatap foto itu sampai matanya perih.

"Ini Anda saat ulang tahun ketujuh belas," kata Om De. "Engkong memaksa semua keluarga pulang. Anda marah karena acara dibuat terlalu besar, tapi diam-diam senang."

Sebuah kilatan datang.

Balon putih. Kue bertingkat. Suara Bryan tertawa. Seorang pria muda bersuara tegas berkata, `Kei, jangan lari. Mama mencarimu.`

Keira memejamkan mata. "Ko Kevin..."

Om De membeku. Lalu senyum kecil yang penuh tangis muncul di wajahnya. "Anda mengingat Tuan Kevin?"

"Tidak jelas." Keira menekan pelipis. "Hanya suara."

"Itu sudah cukup untuk hari ini." Om De menahan napas. "Dokter bilang ingatan Anda tidak boleh dipaksa."

Keira membuka mata lagi. "Anda bicara dengan dokter?"

"Saya meminta izin sebagai wali keluarga setelah identitas Anda kami verifikasi." Om De cepat menambahkan, "Tapi semua keputusan medis tetap menunggu persetujuan Anda. Kami tidak akan memindahkan Anda tanpa izin."

Kalimat itu sederhana, tetapi Keira merasakannya dalam. Persetujuan. Izin. Selama tiga tahun, dua kata itu jarang diberikan padanya. Galang memutuskan. Keluarga Gondokusumo mengatur. Sherly mengambil ruang. Bahkan perceraian pun disiapkan sebelum ia diajak bicara.

Sekarang orang yang mengaku mencarinya justru menunggu jawabannya.

"Bagaimana Anda menemukan saya?" tanya Keira.

Aqil yang menjawab kali ini, singkat. "Sistem rumah sakit mencatat pasien tanpa identitas lengkap dengan ciri luka lama di bahu kiri. Om De memasang pemantauan di beberapa rumah sakit sejak empat tahun lalu."

Keira refleks menyentuh bahu kirinya. Di bawah pakaian rumah sakit, ada bekas luka samar yang selama ini tidak pernah ia pahami.

Om De menjelaskan lebih lembut, "Sejak Anda hilang, kami tidak pernah berhenti mencari. Polisi, penyelidik swasta, rumah sakit, pelabuhan, sampai data orang tanpa identitas. Semua kami pantau."

"Tapi saya ada di Surabaya selama tiga tahun."

Rasa pahit menyelinap ke suaranya. Ia tidak ingin menyalahkan mereka, tetapi luka yang terlalu lama sendirian tidak tahu cara bersikap lembut.

Wajah Om De pucat. "Saya tahu. Itu kesalahan kami. Ada pihak yang sengaja menghapus jejak Anda. Nama Anisa tidak pernah terhubung dengan data asli Anda. Pernikahan Anda dengan Galang Gondokusumo juga dibuat tampak seperti urusan keluarga kecil yang tidak masuk radar kami."

Keira diam.

Galang.

Nama itu sudah terasa jauh, tetapi bekas lukanya masih dekat. Ia menatap cincin di jarinya. Kali ini, dengan bantuan perawat dan cairan pelicin medis yang disiapkan dokter, cincin itu akhirnya berhasil dilepas beberapa jam kemudian.

Saat lingkaran logam itu jatuh ke nampan kecil dengan bunyi tipis, Keira tidak menangis.

Ia hanya merasa jarinya akhirnya bisa bernapas.

Dokter datang lagi malam itu untuk memeriksa kondisinya. Om De menunggu di luar saat pemeriksaan berlangsung, sementara Aqil berdiri di koridor seperti tembok hidup. Dokter menjelaskan bahwa Keira butuh beberapa hari observasi, pengobatan nyeri, dan kontrol lanjutan untuk trauma kepala. Tidak ada larangan dipindahkan bila fasilitas perawatan di rumah keluarga memadai dan dokter pribadi bisa datang rutin.

"Jangan terlalu banyak tekanan emosional," pesan dokter. "Ingatan bisa kembali bertahap. Kalau dipaksa, nyeri kepala dan insomnia bisa memburuk."

Keira mengangguk.

Tekanan emosional. Ia hampir ingin bertanya bagaimana caranya menghindari itu setelah bercerai, ditabrak, lalu mengetahui dirinya ahli waris keluarga besar dalam rentang beberapa hari.

Namun, ia hanya berkata, "Saya mengerti."

Keesokan harinya, Om De membawa lebih banyak informasi, tetapi tidak menumpahkan semuanya sekaligus. Ia menunjukkan susunan keluarga inti.

Engkong Hartono, William Hartono, kepala keluarga.

Richard Hartono, ayahnya.

Lina Hartono, ibunya.

Kevin Hartono, kakaknya.

"Mereka tahu saya ditemukan?" tanya Keira.

Om De menunduk. "Engkong sudah tahu. Bapak dan Ibu juga. Mereka ingin datang saat itu juga, tetapi dokter meminta suasana tidak terlalu ramai. Engkong hampir memarahi dokter."

Untuk pertama kalinya sejak bangun, sudut bibir Keira bergerak sedikit.

Bayangan pria tua yang keras kepala muncul samar. Tongkat kayu. Tatapan tajam. Tangan yang gemetar saat mengelus kepalanya.

"Engkong..." gumamnya.

"Beliau menunggu Anda pulang," kata Om De.

Kata pulang membuat tenggorokan Keira tercekat.

Selama menjadi Anisa, ia selalu pergi ke tempat orang lain. Rumah Galang. Acara keluarga Galang. Ruang tamu yang harus ia rawat tetapi tidak boleh ia miliki. Tidak pernah ada yang berkata tempat itu menunggunya pulang.

"Hartono Group sebesar apa?" tanya Keira tiba-tiba, seolah ingin berpegangan pada fakta yang bisa dihitung.

Om De menjawab dengan hati-hati. "Cukup besar untuk membuat keluarga mana pun di Surabaya berpikir dua kali sebelum meremehkan nama Hartono. Bidang utama kami finansial, properti, teknologi, dan beberapa investasi strategis di Jakarta."

Aqil menambahkan singkat, "Keamanan keluarga juga ketat."

Keira menatapnya. "Tapi saya tetap hilang."

Aqil menunduk lebih dalam. "Itu kegagalan kami, Nona."

Keira tidak menjawab. Ia tidak ingin memberi maaf hanya karena sedang lemah. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan empat tahun pencarian yang terlihat di mata Om De.

Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Kepala Keira masih sering nyeri. Kadang ia terbangun tengah malam dengan keringat dingin, mendengar lagi suara benturan van. Kadang ia melihat kode komputer bergerak di balik kelopak mata. Kadang tangannya tanpa sadar membentuk gerakan seperti memegang alat bedah.

Om De tidak pernah memaksanya mengingat.

Ia hanya hadir.

Membawakan bubur hangat. Mengurus administrasi rumah sakit. Mengganti pelayan jaga dengan perawat pribadi perempuan. Memastikan tak ada nama Gondokusumo yang muncul di daftar pengunjung.

Pada hari ketujuh setelah kecelakaan, dokter akhirnya mengizinkan Keira keluar dengan syarat kontrol ketat.

Pagi itu, Aqil sudah menunggu di depan lobi rumah sakit. Sebuah mobil hitam mengilap berhenti tanpa suara. Bukan mobil keluarga Gondokusumo. Tidak ada aroma dingin Galang di dalamnya. Hanya jok kulit lembut, sebotol air hangat, selimut tipis, dan satu map berisi dokumen medis yang tertata rapi.

Om De membuka pintu untuknya.

"Kita ke mana?" tanya Keira, meski ia sudah tahu jawabannya.

Mata Om De melembut.

"Pulang, Nona Besar. Ke rumah Hartono."

Keira menatap jalan Surabaya yang basah sisa hujan semalam. Kota ini pernah menjadi tempat ia dibuang, ditinggalkan, dan hampir dibunuh.

Mobil bergerak pelan meninggalkan rumah sakit.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Keira tidak sedang pergi dari sesuatu.

Ia sedang menuju pintu yang mungkin sejak lama menunggu dirinya kembali.

Terpopuler

Comments

Tri Septi

Tri Septi

ada yang menutupi identitasnya selama dia hilang, apakah keluarga Gondokusumo terlibat? anehnya sama2 di Surabaya tapi tidak bisa ditemukan🤔amnesia benar2 bisa merubah identitas seseorang 😭😭😭 semangat keira dan author💪💪💪

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!