Episode 3

Bab 3: Kebangkitan

Gelap tidak menjawab pertanyaan Anisa.

Gelap hanya menelannya, lama sekali, sampai suara hujan berubah menjadi bunyi lain. Titik air menjadi tetes infus. Aspal basah menjadi seprai kasar. Bau darah dan jalanan perlahan berganti dengan bau antiseptik yang menusuk hidung.

Ketika Anisa membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukan lega.

Sakit.

Sakit itu seperti paku panas yang ditancapkan dari belakang kepalanya, lalu diputar pelan sampai seluruh tubuhnya ikut gemetar. Ia ingin mengangkat tangan, tetapi lengannya terasa berat. Ada selang infus tertempel di punggung tangan. Pergelangan kirinya dibalut. Rusuknya seperti diremas setiap kali ia bernapas.

"Nona? Anda sudah sadar?"

Suara perempuan muda terdengar dekat. Anisa mencoba menoleh, tetapi kepalanya langsung disambar nyeri.

"Jangan bergerak dulu," kata perawat itu cepat. "Anda mengalami kecelakaan. Saya panggil dokter."

Kecelakaan.

Kata itu jatuh ke dalam kepalanya seperti batu ke sumur.

Hujan. Koper. Lampu van. Benturan.

Anisa memejamkan mata. Napasnya tersengal. Potongan gambar datang terlalu cepat, membuat perutnya mual. Gerbang Gondokusumo tertutup. Surat cerai. Darah di foto pernikahan. Galang yang berkata, `Tanda tangan.`

Ia membuka mata lagi dengan susah payah.

"Saya di mana?" Suaranya serak, hampir tidak terdengar.

"Rumah sakit, Bu. Di Surabaya." Perawat mengecek monitor di samping ranjang. "Anda ditemukan di jalan tiga malam lalu. Ada warga yang memanggil ambulans."

Tiga malam.

Anisa menatap langit-langit putih. Jadi ia tidak mati. Entah siapa yang membawanya, entah siapa yang membayar perawatan awal, tubuhnya masih ada di dunia ini.

Namun, hidup terasa seperti kamar asing.

"Ada keluarga yang bisa kami hubungi?" tanya perawat itu lebih pelan. "Dari awal Anda tidak membawa identitas lengkap. Ponsel Anda rusak. Kami hanya menemukan nama Anisa di beberapa barang."

Keluarga.

Kata itu membuat dada Anisa terasa kosong.

Keluarga mana?

Gondokusumo bukan lagi keluarganya. Galang bahkan mungkin tidak tahu ia di sini. Atau tahu dan memilih diam. Ia tidak punya orang tua dalam ingatan. Tidak punya saudara. Tidak punya siapa pun yang akan panik ketika namanya dipanggil di ruang gawat darurat.

"Tidak ada," jawabnya.

Perawat itu terdiam sebentar. Wajahnya berubah iba, lalu cepat ditutup dengan profesionalitas. "Istirahat dulu. Dokter akan segera datang."

Anisa mengangguk kecil.

Begitu perawat pergi, ruangan kembali sunyi. Hanya ada suara monitor yang berdetak teratur. Di luar jendela, langit siang terlihat pucat. Tirai setengah tertutup, membiarkan garis cahaya jatuh di lantai.

Anisa menatap tangannya.

Di jari manisnya, cincin pernikahan masih ada.

Entah kenapa benda itu belum hilang saat kecelakaan. Lingkaran dingin itu menempel di kulit yang membiru, seperti ejekan terakhir dari hidup yang baru ia tinggalkan.

Ia mencoba menarik cincin itu.

Jarinya bengkak. Sakit menyengat membuat napasnya tertahan. Ia berhenti, lalu tertawa pelan tanpa suara. Bahkan setelah bercerai, ia belum bisa melepaskan benda itu.

Tiba-tiba kepalanya berdenyut lebih keras.

Anisa menutup mata. Bukan sakit biasa. Ada sesuatu yang bergerak di balik tengkoraknya, seperti pintu yang selama ini terkunci tiba-tiba dipukul dari dalam.

Sebuah suara laki-laki tua muncul dalam ingatan.

`Keira, jangan lari terlalu jauh. Engkong tidak bisa mengejarmu.`

Anisa membuka mata.

Siapa?

Suara itu hangat, serak, penuh tawa tertahan. Ia melihat kilatan halaman luas, pohon kamboja tua, tangan kecilnya menggenggam layangan berwarna biru. Lalu gambar itu pecah.

Nyeri menusuk lagi.

Ia menggigit bibir.

Gambar lain datang.

Seorang perempuan memeluknya dari belakang, aroma sabun mahal dan teh melati menempel di baju. `Keira, rambutmu basah. Nanti sakit.`

Keira.

Nama itu kembali.

Kali ini lebih jelas.

Anisa mencengkeram seprai dengan tangan yang tidak diinfus. Jantungnya berdetak liar.

Bukan Anisa.

Ada nama lain.

Keira.

Keira siapa?

Pintu kamar terbuka. Seorang dokter masuk bersama perawat tadi. Dokter itu paruh baya, berkacamata, membawa tablet medis.

"Selamat siang. Anda sudah sadar sepenuhnya?"

Anisa menatapnya. Fokusnya berusaha kembali pada ruangan nyata. "Kepala saya sakit sekali."

"Itu wajar setelah benturan keras. Ada trauma kepala, beberapa memar, dan retak ringan di tulang rusuk. Untungnya tidak perlu operasi besar." Dokter memeriksa respons pupilnya dengan senter kecil. "Anda ingat nama Anda?"

Pertanyaan sederhana itu membuat lidah Anisa kelu.

Selama tiga tahun, jawabannya selalu mudah.

Anisa.

Sekarang nama itu terasa seperti pakaian basah yang bukan miliknya.

"Saya..." Ia berhenti.

Dokter menunggu.

Di belakang matanya, potongan lain meledak.

Ruang kerja gelap dengan layar komputer berlapis kode. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Sebuah ikon burung api muncul di monitor, diikuti suara sintetis perempuan.

`Chaos, akses berhasil.`

Chaos.

Anisa terengah.

Layar komputer berganti menjadi ruang operasi terang. Sarung tangan bedah. Darah. Suara seseorang berkata panik, `Tekanan turun!` Lalu suaranya sendiri, tenang dan tegas, menjawab, `Clamp. Sekarang.`

Ia melihat tangannya sendiri memegang pisau bedah.

Tidak.

Itu mustahil.

Ia bukan dokter. Ia hanya istri yang gagal. Perempuan tanpa keluarga, tanpa uang, tanpa tempat pulang.

Namun ingatan itu tidak terasa seperti mimpi. Tubuhnya mengenali berat alat bedah. Jarinya mengenali posisi keyboard. Kepalanya mengenali pola kode yang berlarian seperti bahasa ibu.

"Bu?" Dokter memanggilnya lagi. "Nama Anda?"

Anisa menatap dokter dengan mata melebar.

"Keira," bisiknya.

Perawat saling pandang dengan dokter.

"Maaf?"

Napas Anisa bergetar. Air mata tiba-tiba mengumpul, bukan karena sedih saja, tetapi karena ada bagian dirinya yang selama ini terkubur mulai mencakar keluar.

"Nama saya..." Ia menekan pelipisnya. "Saya tidak tahu lengkapnya. Tapi saya bukan hanya Anisa."

Dokter segera memberi isyarat pada perawat. "Tenang. Jangan paksa ingatan Anda. Trauma kepala bisa memicu ingatan lama, tetapi kalau dipaksa, sakitnya bisa memburuk."

Anisa hampir tidak mendengar.

Keira.

Nama itu berputar di kepalanya, memecahkan dinding demi dinding.

Ia melihat wajah seorang pria muda berseragam gelap, memanggilnya `Kapten`. Ia melihat deretan mobil hitam di depan rumah besar. Ia mendengar suara beberapa pria memanggil serempak, `Nona Besar.`

Nona Besar.

Panggilan itu membuat seluruh tubuhnya merinding.

Siapa yang mereka panggil?

Aku?

Dokter menyuntikkan obat pereda nyeri melalui selang infus. "Anda harus istirahat. Kami akan lakukan pemeriksaan lanjutan. Kalau ada keluarga atau siapa pun yang Anda ingat, beri tahu kami."

Keluarga.

Kali ini kata itu tidak lagi kosong.

Ada bayangan meja makan panjang. Ada tawa laki-laki muda. Ada seorang anak perempuan kecil berlari melewati lorong, lalu suara tua memanggilnya dengan kesal yang penuh sayang.

`Keira Hartono!`

Anisa, atau Keira, membuka mata lebar.

Hartono.

Nama itu muncul seperti kilat membelah langit.

Ia tahu nama itu. Bukan dari koran bisnis, bukan dari pembicaraan keluarga Gondokusumo, melainkan dari tempat yang jauh lebih dalam. Nama itu seperti pintu rumah yang lama tertutup.

Keluarga Hartono.

Jantungnya berdetak begitu keras sampai monitor di samping ranjang ikut berbunyi lebih cepat. Perawat mendekat, tetapi Keira mengangkat tangan lemah.

"Saya..." Suaranya serak. "Saya harus mengingat sesuatu."

"Nanti, Bu. Jangan sekarang."

"Ada orang yang mencari saya."

Kalimat itu keluar sebelum ia sempat memikirkannya.

Perawat itu terdiam.

Keira menatap langit-langit lagi. Air mata mengalir ke pelipis. Pertanyaan terakhir sebelum pingsan kembali menghantamnya.

Apa benar tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mencariku?

Ternyata mungkin ada.

Mungkin selama ini ada seseorang. Banyak orang. Mungkin ia bukan perempuan yang jatuh dari langit tanpa asal. Mungkin namanya, keluarganya, seluruh hidupnya, menunggu di balik kabut yang sekarang mulai sobek.

Sore turun perlahan.

Obat membuat tubuhnya lemah, tetapi tidurnya tidak tenang. Ia beberapa kali terbangun oleh potongan ingatan yang saling bertabrakan. Suara Galang bercampur dengan suara seorang pria memanggil `adik`. Wajah Sherly yang manis berubah menjadi kilatan lampu van. Di sela semuanya, nama Keira terus memanggilnya dari dalam.

Menjelang malam, koridor rumah sakit mendadak lebih ramai.

Keira sedang setengah terjaga ketika ia mendengar langkah sepatu yang berbeda dari langkah perawat. Lebih teratur. Lebih berat. Lalu suara seseorang berbicara rendah di luar kamar.

"Kamar ini?"

"Iya, Pak. Tapi pasien harus banyak istirahat."

"Saya hanya perlu melihatnya."

Pintu terbuka.

Seorang pria paruh baya masuk lebih dulu. Tubuhnya tegap meski rambut di pelipisnya sudah memutih. Setelan jasnya rapi, tetapi matanya merah seperti seseorang yang menahan tangis terlalu lama. Di belakangnya berdiri pria muda bertubuh besar dengan pakaian gelap, wajah waspada, pandangan menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada Keira.

Keira menatap mereka.

Ia tidak mengenal wajah pria paruh baya itu sepenuhnya. Namun, begitu pria itu melangkah mendekat, tubuhnya bereaksi lebih dulu. Ada rasa aman yang aneh, tua, dan familiar, seperti bau rumah yang lama hilang.

Pria itu berhenti di sisi ranjang. Bibirnya bergetar.

"Nona Besar..."

Dua kata itu menghantam sisa kabut di kepala Keira.

Matanya memanas.

"Siapa..." Ia hampir tidak bisa bersuara. "Siapa Anda?"

Pria itu menunduk dalam, bukan seperti orang asing memberi hormat, tetapi seperti seseorang yang akhirnya menemukan nyawa yang hilang.

"Saya Om De." Suaranya pecah halus. "Maafkan saya terlambat."

Di belakangnya, pengawal itu menunduk. "Aqil, Nona."

Keira menggenggam seprai. Nama Om De tidak utuh di kepalanya, tetapi dadanya tahu. Ada bagian dirinya yang ingin menangis, ingin bertanya, ingin memanggil seseorang pulang.

Om De mengangkat wajah. Air matanya sudah jatuh, tetapi ia tetap berdiri dengan sikap paling hormat.

"Nona Besar," ucapnya, setiap kata seperti ditahan agar tidak hancur, "kami sudah mencari Anda selama empat tahun."

Terpopuler

Comments

Tri Septi

Tri Septi

hilangnya sudah empat tahun, jadi Anisa selama tiga tahun, ditemukan di laut 🤔 apa kemungkinan sebelumnya diculik? dari ingatan kemungkinan seorang dokter, hacker, nona besar, seorang kapten🤔🤔🤔😇😇😇

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!