Amnesia: Ternyata Aku Pewaris Hartono

Amnesia: Ternyata Aku Pewaris Hartono

Episode 1

Bab 1: Surat Cerai

"Tanda tangani surat cerai itu, Anisa."

Suara Galang Gondokusumo jatuh di ruang kerja seperti pisau yang baru diasah. Tidak tinggi, tidak kasar, tetapi cukup dingin untuk membuat ujung jari Anisa membeku di atas pangkuannya.

Di hadapannya, selembar dokumen sudah terbuka rapi. Kertas putih, tinta hitam, dua kolom tanda tangan di bagian bawah. Semua tampak bersih, seolah tiga tahun pernikahan mereka memang hanya urusan administrasi yang bisa diselesaikan dalam beberapa menit.

Anisa menatap nama Galang di halaman pertama. Lalu matanya turun pada namanya sendiri.

Anisa Gondokusumo.

Nama itu bahkan terasa asing hari ini.

"Mas Galang," panggilnya pelan. "Kenapa tiba-tiba?"

Galang berdiri di dekat jendela. Kemeja putihnya licin tanpa kerut, jam tangannya berkilat mahal di bawah cahaya sore Surabaya. Di luar, halaman kediaman Gondokusumo tampak basah setelah hujan singkat. Di dalam, ruangan itu terlalu dingin, terlalu bersih, terlalu tidak seperti rumah.

"Tidak tiba-tiba," jawabnya. "Aku sudah memikirkannya lama."

Dada Anisa seperti diremas. Ia tahu rumah ini tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulangnya. Sejak tiga tahun lalu, sejak ia ditemukan tanpa ingatan dan dibawa masuk ke keluarga Gondokusumo, ia hidup seperti bayangan di sudut ruangan. Ia mengurus rumah, menemani acara keluarga, menunggu Galang pulang, menerima tatapan miring para pelayan, dan menelan setiap kalimat yang mengatakan ia tidak pantas.

Namun, ia tetap bertahan.

Karena Galang pernah menjadi orang pertama yang memberinya tempat ketika ia tidak tahu siapa dirinya.

Karena ia pernah berpikir, kalau ia cukup sabar, suatu hari pria itu akan melihatnya.

Ternyata, yang dilihat Galang hanya jalan keluar.

"Apa karena Sherly?" tanya Anisa.

Jari Galang yang semula mengetuk meja berhenti.

Satu detik itu sudah cukup menjadi jawaban.

Anisa menelan rasa pahit di tenggorokannya. "Dia kembali?"

"Ya."

Satu kata. Ringan. Seolah kepulangan perempuan itu otomatis berarti Anisa harus pergi.

"Dan karena dia kembali, aku harus menandatangani ini?" Anisa menunjuk surat cerai itu. Suaranya bergetar, tetapi ia memaksa dirinya tetap duduk tegak. "Begitu mudahnya?"

Galang menoleh. Matanya tenang, bahkan terlalu tenang untuk seorang suami yang sedang mengakhiri pernikahan.

"Sejak awal kamu tahu posisi kamu."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Anisa menatapnya lama. "Posisiku?"

"Pernikahan ini terjadi karena keadaan," kata Galang. "Kamu tidak punya ingatan, tidak punya keluarga, tidak punya tempat tujuan. Engkong kasihan padamu. Aku juga tidak menolak karena saat itu Sherly belum kembali."

Jadi begitu.

Kasihan. Bukan cinta. Bukan tanggung jawab. Hanya kasihan yang sudah habis masa berlakunya.

Anisa menunduk, menatap cincin tipis di jarinya. Cincin pernikahan itu tidak pernah terasa hangat. Galang jarang menyentuh tangannya. Mereka tidak pernah memiliki foto mesra selain satu foto formal di hari pernikahan, foto yang digantung di dinding samping rak buku, dengan senyum Anisa yang canggung dan wajah Galang yang datar.

"Tiga tahun ini aku melakukan semua yang bisa kulakukan," ucap Anisa. "Aku tidak pernah meminta apa pun. Aku tidak pernah mempermalukan keluarga ini. Saat kamu pulang larut, aku menunggu. Saat keluarga kamu merendahkanku, aku diam. Saat kamu sakit, aku yang menjaga semalaman."

"Aku tidak memintamu melakukan semua itu."

Napas Anisa terhenti.

Galang mengatakannya tanpa ragu. Seolah pengabdian tiga tahun itu memang kesalahan Anisa sendiri.

"Mas," bisiknya, "apa aku benar-benar tidak berarti apa-apa untukmu?"

Untuk pertama kalinya, Galang tampak sedikit terusik. Namun, hanya sedikit. Ia mengambil map cokelat di atas meja dan meletakkannya di depan Anisa.

"Aku sudah menyiapkan kompensasi. Jumlahnya cukup untuk hidup beberapa tahun. Kamu bisa pergi dari Surabaya, mulai hidup baru."

Anisa tidak membuka map itu. Ia merasa kalau ia menyentuhnya, seluruh harga dirinya akan ikut hancur.

"Aku bukan pegawai yang kamu PHK."

"Jangan mempersulit."

"Aku istrimu."

"Mantan istri," potong Galang. "Setelah kamu tanda tangan."

Ruangan itu mendadak sunyi. Dari luar terdengar suara roda koper pelayan yang lewat di koridor, lalu menjauh. Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang bertanya mengapa nyonya rumah mereka sedang dipaksa keluar.

Mungkin semua orang sudah tahu.

Mungkin sejak pagi, hanya Anisa yang belum diberi kabar bahwa hidupnya akan dibongkar.

Ia mengangkat wajah. "Apa Sherly tahu kamu melakukan ini hari ini?"

"Dia tidak perlu terlibat."

Anisa tertawa kecil, hampa. "Tidak perlu terlibat? Mas Galang, bahkan namanya saja cukup membuatmu membuangku."

Wajah Galang mengeras. "Jaga ucapanmu."

"Kenapa? Aku salah?" Anisa menatapnya. Air mata sudah panas di pelupuk, tetapi ia tidak membiarkannya jatuh. "Bukankah selama ini aku memang hanya pengganti? Dia pergi, aku masuk. Dia kembali, aku keluar."

Galang berjalan mendekat. "Kamu tahu aku mencintai Sherly sebelum menikah denganmu."

"Aku tahu." Suara Anisa mengecil. "Tapi aku tidak tahu bahwa selama tiga tahun, aku tidak pernah punya kesempatan sedikit pun."

Mata Galang bergerak sekilas ke arah foto pernikahan di dinding. Anisa mengikuti pandangannya.

Foto itu tampak ganjil sejak dulu. Ia mengenakan kebaya putih sederhana, wajahnya pucat karena baru beberapa bulan keluar dari perawatan setelah ditemukan di laut. Galang berdiri di sampingnya dengan jas hitam, jaraknya sopan, hampir dingin. Tidak ada tangan yang saling menggenggam. Tidak ada bahu yang bersentuhan.

Pernikahan mereka bahkan dalam foto pun tampak seperti kontrak.

"Kesempatan itu hilang sejak setahun lalu," kata Galang.

Tubuh Anisa menegang.

Ia tahu apa yang akan disebut pria itu. Malam yang selalu menjadi duri paling busuk dalam hidupnya.

"Mas, aku sudah bilang berkali-kali. Aku tidak tahu kenapa aku ada di hotel itu."

"Kamu bangun di kamar pria asing."

"Aku dibius!"

"Tidak ada bukti."

Anisa berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser. "Karena tidak ada yang mau membantuku mencari bukti. Kamu bahkan tidak bertanya siapa yang membawaku ke sana. Kamu hanya melihatku keluar dari hotel, lalu memutuskan aku kotor."

Galang menatapnya dingin. "Jangan pakai kata itu kalau kamu sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi."

Ingatannya tentang malam itu selalu patah-patah. Minuman manis di pesta amal keluarga Permata. Kepala yang berat. Lampu lift yang kabur. Bau parfum asing. Seprai putih. Pagi dengan pakaian kusut, tubuh lemah, dan Galang berdiri di depan pintu kamar dengan mata penuh jijik.

Ia tidak ingat wajah pria di kamar itu.

Ia hanya ingat rasa malu yang menempel seperti noda yang tidak bisa dicuci.

"Aku korban," ucap Anisa. Kali ini air matanya jatuh satu titik. "Tapi kamu membuatku merasa seperti pelaku."

Galang diam beberapa detik.

Untuk sesaat, Anisa berharap ada retak di wajahnya. Sedikit saja. Sebuah tanda bahwa pria itu masih manusia yang pernah duduk di samping ranjangnya ketika ia demam, walau hanya karena diminta Engkong Gondokusumo.

Namun, Galang hanya mengambil pulpen dari atas meja.

"Tanda tangan."

Harapan kecil itu mati.

Anisa memandang pulpen itu seolah benda tersebut bisa menggigit. "Kalau aku menolak?"

"Kamu tetap harus pergi." Galang meletakkan pulpen tepat di atas dokumen. "Aku tidak akan membiarkan Sherly kembali ke hidup yang penuh bayanganmu."

Bayangan.

Anisa ingin tertawa, tetapi tenggorokannya terlalu sakit.

Jadi di rumah ini, bahkan sebagai manusia pun ia tidak diakui. Ia hanya bayangan yang mengganggu cahaya perempuan lain.

"Apa dia meminta kamu menceraikanku?"

"Ini keputusanku."

"Tentu." Anisa mengangguk pelan. "Semua keputusan buruk selalu terdengar lebih bersih kalau kamu menyebutnya keputusanmu sendiri."

Mata Galang menyipit. "Anisa."

"Aku tanda tangan." Anisa mengambil pulpen. Jarinya gemetar begitu keras sampai ujung pena menyentuh kertas dengan suara kecil. "Tapi setelah ini, jangan pernah mengatakan aku yang meninggalkan pernikahan ini."

Galang tidak menjawab.

Anisa membungkuk. Nama yang selama tiga tahun ia pakai tertulis di bawah kolom pihak istri. Ia menatapnya lama. Tidak ada ingatan masa kecil di balik nama itu. Tidak ada keluarga. Tidak ada akar. Hanya hidup yang diberikan orang lain, lalu dirampas lagi.

Ia menandatangani dokumen itu.

Tinta hitam mengering cepat.

Aneh. Sesuatu yang menghancurkan hidupnya bisa selesai secepat itu.

Ketika ia mengangkat tangan, ujung jarinya terkena tepi kertas. Goresannya tipis, tetapi cukup membuat darah keluar. Setetes merah jatuh ke halaman terakhir surat cerai.

Anisa refleks menarik napas.

Galang mengambil dokumen itu, tetapi tetes darah lain sempat mengenai foto kecil yang diselipkan di map, salinan foto pernikahan mereka. Darah merambat di bagian gaun putih Anisa dalam gambar, seperti bunga merah yang salah tempat.

Anisa menatap foto itu.

Dulu ia pernah menyimpan foto yang sama di meja rias. Setiap kali Galang tidak pulang, ia menatapnya dan meyakinkan diri bahwa setidaknya mereka pernah berdiri berdampingan. Hari ini, foto itu tampak seperti bukti pembunuhan.

Foto pernikahan berdarah.

"Lukamu kecil," kata Galang setelah melihat jarinya.

Kecil.

Anisa menekan jarinya dengan tisu. Luka di kulit memang kecil. Yang lain tidak.

"Aku boleh mengambil barangku?" tanyanya.

"Pelayan sudah mengemasnya."

Anisa membeku. "Kamu bahkan sudah mengemas barangku?"

"Lebih praktis."

Jawaban itu membuat sesuatu di dalam dirinya patah dengan bunyi yang hanya ia sendiri bisa dengar.

Ia tidak lagi menangis. Tidak ada tenaga.

Di depan pintu ruang kerja, dua koper kecil sudah menunggu. Hanya dua. Tiga tahun hidupnya di rumah ini ternyata muat dalam dua koper kecil, seperti tamu yang terlalu lama menginap.

Seorang pelayan menunduk canggung saat Anisa keluar. Tidak ada yang berani menatap matanya. Anisa menarik pegangan koper sendiri. Roda kecilnya berbunyi kasar di atas lantai marmer.

Galang berjalan di belakangnya sampai foyer, tidak terlalu dekat, seperti mengantar seseorang yang tidak ingin ia sentuh.

Di pintu utama, hujan mulai turun lagi. Gerimis tipis menyapu halaman, membuat udara Surabaya lembap dan abu-abu.

Anisa berhenti sejenak. "Setelah aku pergi, kamu akan menikahi Sherly?"

Galang tidak langsung menjawab.

Itu cukup.

Anisa mengangguk. "Semoga kali ini kamu benar-benar bahagia."

Kalimat itu keluar tanpa dendam. Justru karena terlalu lelah untuk membenci.

Galang menatap punggungnya saat ia menuruni tangga. Ada sesuatu yang bergerak di matanya, cepat dan samar, tetapi ia tidak memanggil.

Anisa berjalan melewati gerbang kediaman Gondokusumo tanpa payung. Uang kompensasi dalam map ia tinggalkan di meja. Ia hanya membawa dua koper, cincin pernikahan yang terasa dingin di jari, dan luka yang tidak tahu harus dibawa ke mana.

Di lantai dua, dari balik tirai kamar tamu, seorang perempuan menurunkan ponselnya dari telinga.

Sherly Permata tersenyum tipis.

Ia baru saja mendengar kabar dari orang dalam bahwa surat cerai sudah ditandatangani. Cepat sekali. Galang memang selalu mudah diarahkan kalau menyangkut namanya.

"Dia sudah keluar?" tanya Sherly ke ponsel.

Suara pria di seberang menjawab pendek. "Sudah, Nona. Jalan kaki. Tidak bawa mobil."

Sherly memandang kuku jarinya yang dipoles merah muda lembut. Warna yang selalu Galang bilang cocok untuknya karena terlihat manis.

"Bagus."

"Perintah selanjutnya?"

Senyum Sherly tidak berubah. Di luar, Anisa tampak kecil di balik hujan, berjalan menjauh dari gerbang besar yang selama ini tidak pernah benar-benar menerimanya.

"Pastikan perempuan itu mati," ucap Sherly pelan. "Jangan sampai ada yang bisa menghubungkan ini denganku."

"Baik."

Panggilan terputus.

Sherly menyimpan ponselnya, lalu membetulkan rambut di depan cermin kecil. Wajahnya kembali lembut, matanya kembali basah seolah ia perempuan paling rapuh di dunia.

Di bawah sana, Anisa terus berjalan dalam gerimis.

Ia tidak tahu bahwa pernikahan yang baru saja berakhir bukan luka terakhir hari itu.

Ia juga tidak tahu bahwa di belakangnya, seseorang sudah memutuskan hidupnya harus ikut berakhir bersama nama Anisa Gondokusumo.

Terpopuler

Comments

Tri Septi

Tri Septi

awal yg berat 😭😭😭

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!