Malam itu berlalu dengan tergesa gesa. Menjelang pagi, Bagaga Alam sudah rapi dan duduk menikmati poci bersama ki Ageng.
Aroma teh yang segar dilapisi oleh aroma bunga melur. Menyusup dan memenuhi lobang hidung Bagaga Alam. Namun dia kaget ketika menyesap teh poci pertama. Rasanya sangat pahit.
Ki Ageng lalu menjelaskan kenapa dia mengundang Bagaga dengan cara unik begitu. Bagaga hanya diam mendengar penuturan dari ki Ageng.
"Jadi ki Ageng memang telah menunggu kedatangan ku ke Jawa Dwipa ini ?"
"Begitulah. Maha Resi Pawitra memang meminta aku mengatur perjalanan Pandeka ke wilayah timur. Tentunya ke candi Kendalisono di bukit Bekel Penanggungan tempat Maha Resi Pawitra."
Bagaga Alam mengangguk. Dia kembali menuang teh poci ke cangkir tembikar. Matanya membulat penuh keheranan. Ki Ageng tersenyum melihat tingkah Bagaga.
"Kau kaget dengan teh poci ini Pandeka ?". Palimo Alam tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa rasa teh ini awalnya begitu pahit. Namun tuangan terakhir terasa manis. Bahkan sangat manis."
"He he hee... Pandeka, karena itulah minum teh poci ini harus sedikit demi sedikit."
"Kenapa begitu ? Apakah aku...?"
"Itu mestinya karena engkau tidak tahu dan belum mengerti dengan filosofi teh poci."
"Heee...,? Apakah minum teh poci ini ada filosofi nya juga ?"
Ki Ageng tersenyum penuh kearifan. Memang, suatu tradisi atau budaya dari satu daerah tidak akan diketahui kalau tidak dipelajari dan dilihat langsung. Pria tengah baya yang tenang itu mengangguk.
"Aku akan menjelaskan tentang filosofi teh poci ini Pandeka."
Pandeka Pedang Suling Kumala yang diberi gelar baru selesai Pendekar Suling Perak oleh Ni Kirana mengangguk dan terlihat lebih serius. Ki Ageng tersenyum dan menghela nafas panjang lebih dulu. Ni Kirana dan Danang Wesi memperbaiki posisi duduk mereka.
"Menikmati teh poci kenapa harus sedikit demi sedikit supaya terasa nikmat...?
Itu karena menyesap teh poci adalah cerminan kehidupan kita di dunia ini. Seperti bentuk jalan hidup seorang pendekar.
Awalnya b…
Pendekar Pedang Langitan
Bab 11. Meninggalkan Sunda Kelapa
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 34 Episodes
Comments