Cara Berpikir

Tiga divisi sudah menyerah sebelum masalah gudang regional itu sampai ke meja Gwen.

Dia tahu itu bukan karena angkanya rumit—dia sudah lihat datanya sejak semalam, dan masalahnya sebenarnya sederhana kalau dilihat dari sudut yang benar. Yang rumit adalah kenyataan bahwa tiga tim berbeda sudah mencoba menyelesaikannya dengan solusi yang sama, gagal dengan cara yang sama, lalu menyerah dengan alasan yang sama pula: distribusi antar-gudang terlalu kompleks buat dioptimalkan tanpa nambah biaya operasional.

Gwen tidak percaya itu. Bukan karena dia sok tahu, tapi karena dari data yang dia baca, tidak ada yang benar-benar mencoba melihat masalahnya dari arah berlawanan.

"Jadi," kata Reza, membuka rapat lintas divisi pagi itu, "sebelum kita bahas Meridian, saya mau bawa satu isu lama dulu. Efisiensi distribusi gudang regional. Sudah tiga bulan mandek, dan biayanya makin numpuk tiap minggu."

Kepala divisi logistik, seorang pria berusia lima puluhan bernama Pak Hardi, menghela napas panjang. "Sudah kita coba dari berbagai sisi, Pak Reza. Rute udah dioptimasi, jadwal pengiriman udah disesuain, tapi tetep aja biaya bengkak karena volume tiap gudang gak seimbang."

"Gwen," kata Reza, menoleh ke arahnya. "Kamu sempat lihat datanya, kan?"

Semua mata di ruangan itu berpindah padanya. Gwen menutup laptopnya sebentar, menariknya lagi dengan gerakan yang sudah dia siapkan sejak subuh tadi.

"Sempat," katanya. "Dan menurut saya masalahnya bukan di rute atau jadwalnya."

Pak Hardi mengangkat alis, setengah menantang setengah penasaran. "Terus di mana?"

"Di cara kita ngitung volume." Gwen membalik laptopnya, menampilkan grafik yang sudah dia susun semalam. "Selama ini distribusi dihitung berdasarkan kapasitas gudang tetap—berapa banyak yang bisa ditampung tiap lokasi. Tapi kapasitas tetap itu gak relevan lagi kalau permintaan tiap kota berubah-ubah tiap musim."

Dia menunjuk satu titik di grafiknya. "Contoh, gudang di kota tiga ini kapasitasnya paling gede, tapi permintaan riilnya cuma naik signifikan pas musim liburan. Delapan bulan sisanya, gudang itu setengah kosong tapi tetep bayar biaya penuh buat operasional dan sewa."

"Terus solusinya apa?" tanya seseorang dari divisi finance, nadanya masih skeptis.

"Distribusi dinamis." Gwen mengganti slide, menunjukkan model baru yang dia buat—garis-garis yang bergerak antara titik gudang, berubah ketebalan sesuai musim. "Bukan alokasi tetap, tapi alokasi yang nyesuain sama pola permintaan riil tiap bulan. Kita gak perlu nambah kapasitas atau ubah rute total—cuma perlu ubah cara kita mikirin 'gudang mana yang nampung berapa' jadi fleksibel, bukan statis."

Dia melanjutkan, menjelaskan angka-angka proyeksi penghematan yang sudah dia hitung berdasarkan data tiga tahun terakhir, sambil sesekali berhenti untuk menjawab pertanyaan yang muncul di tengah jalan. Tidak ada yang dia sampaikan dengan nada meyakinkan berlebihan—semuanya disampaikan datar, seolah dia sekadar membaca fakta yang kebetulan sudah ada di depan mata semua orang, hanya belum ada yang sempat melihatnya dari sudut itu.

Ketika dia selesai, ruangan diam sebentar—jenis diam yang berbeda dari diam karena bosan.

"Ini," kata Pak Hardi akhirnya, menggeleng pelan, "kenapa gak kepikiran dari awal, ya."

---

Madoc duduk di ujung meja, tempat yang biasa dia pilih kalau dia ikut rapat lintas divisi tanpa memimpin langsung—posisi yang memungkinkan dia mengawasi seluruh ruangan tanpa harus jadi pusat perhatian.

Dia sudah baca laporan performa Gwen sejak dua minggu lalu, sudah tahu angka-angkanya, sudah tahu dia orang yang teliti. Tapi angka di kertas tidak pernah menunjukkan bagaimana seseorang benar-benar berpikir.

Yang barusan dia lihat berbeda.

Bukan solusinya yang membuatnya diam sejenak—walau solusi itu sendiri cukup elegan, cukup sederhana sampai terasa memalukan kenapa tidak ada yang menemukannya lebih dulu. Yang membuatnya diam adalah caranya sampai ke sana. Gwen tidak mencoba mencari cara baru untuk menyelesaikan masalah yang sama seperti tiga tim sebelumnya. Dia mempertanyakan asumsi dasarnya dulu—kenapa kapasitas dianggap tetap, kenapa semua orang setuju begitu saja tanpa bertanya lagi.

Madoc pernah bekerja dengan banyak orang pintar. Perusahaan ini penuh orang pintar; itu syarat minimum untuk bertahan di level manajemen Kane Group. Tapi kebanyakan orang pintar yang dia temui menyelesaikan masalah dengan bekerja lebih keras di jalur yang sama. Jarang ada yang berhenti dulu untuk bertanya apakah jalurnya sendiri yang salah.

Dia memperhatikan cara Gwen menjawab pertanyaan Pak Hardi tadi—tidak defensif, tidak juga terlalu percaya diri sampai terkesan meremehkan orang yang sudah gagal sebelumnya. Dia hanya menjelaskan, sabar, seolah tidak ada ego yang perlu dijaga dalam prosesnya.

Ada sesuatu tentang itu yang membuat Madoc menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, sampai dia sadar sendiri dan buru-buru mengalihkan pandangan ke laporan di depannya.

---

"Itu tadi gila banget, Gwen."

Bas—rekan kerja Gwen dari divisi yang sama, satu-satunya orang di tim operasional yang sejak hari pertama sudah bersikap ramah tanpa embel-embel apapun—menghampirinya begitu rapat bubar, masih memegang notesnya sendiri yang penuh coretan.

"Serius," lanjutnya, "gue udah dua tahun di sini, dan belum pernah liat orang bisa bikin Pak Hardi yang keras kepala itu langsung ngangguk-ngangguk kayak tadi. Biasanya dia butuh waktu berminggu-minggu buat setuju sama ide baru."

Gwen mengemas laptopnya, ekspresinya tetap datar. "Ya kan emang tugas gue nyari solusi. Kalau gak bisa nyelesain masalah kayak gitu, ngapain juga gue dipercaya pegang proyek."

"Tapi tetep aja," Bas bersikeras, "cara lo mikirnya beda. Orang lain nyoba fix masalahnya langsung, lo malah mempertanyakan dulu kenapa masalahnya ada. Itu bukan skill yang biasa, itu—"

"Bas." Gwen memotong, bukan karena tersinggung, tapi karena dia genuinely tidak tahu harus merespons pujian macam apa lagi selain "terima kasih" yang sudah dia ucapkan tiga kali dalam lima menit terakhir. "Makasih, tapi ini emang kerjaan gue."

Dia tidak sadar Madoc masih ada di ruangan itu, berdiri di dekat pintu sambil pura-pura membaca sesuatu di ponselnya, sampai Bas—dengan nada yang masih penuh semangat, tidak menyadari siapa yang berdiri beberapa meter dari mereka—melanjutkan.

"Gue serius, deh. Kalau semua orang di tim mikir kayak lo, kita udah lama kelar sama masalah-masalah receh yang stuck bertahun-tahun. Untung banget Pak Kane naruh lo di Meridian."

Madoc, yang sedang tidak benar-benar membaca apapun di layar ponselnya, merasakan sesuatu yang asing menjalar di dadanya—semacam ketidaknyamanan kecil yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata yang tepat, terlalu ringan untuk disebut marah, terlalu aneh untuk sekadar diabaikan.

Dia tidak suka mendengar orang lain memuji Gwen sedekat itu, dengan nada seantusias itu, sambil berdiri sedekat itu juga darinya.

Dia tidak tahu kenapa dia harus peduli soal jarak berdiri dua rekan kerja yang sedang mengobrol biasa.

Madoc mengunci ponselnya, memasukkannya ke saku jas, dan keluar dari ruangan tanpa menyapa siapa pun—langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah dia sedang buru-buru menuju sesuatu yang sebenarnya tidak dia kejar.

Elias, yang berdiri di lorong menunggunya, langsung memperhatikan sesuatu berbeda dari cara bosnya berjalan.

"Rapatnya gimana, Pak?"

"Bagus," jawab Madoc singkat, tidak menoleh. "Solusinya solid."

"Ekspresi Bapak kayak abis liat sesuatu yang bikin kesel."

Madoc berhenti sebentar di depan lift, menekan tombol naik dengan lebih keras dari yang seharusnya perlu.

"Gak ada apa-apa," katanya, dan itu adalah kalimat paling tidak meyakinkan yang pernah Elias dengar keluar dari mulut bosnya sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!