[Location of origin: Yamada's grave. Behind the house, under the old maple tree.]
Yamada menatap bunga putih di tangannya. Bunga dengan lima kelopak yang berkilauan seperti terbuat dari embun beku dan cahaya bulan, yang tadi tiba-tiba ada di ambang jendela setelah perempuan rambut putih itu menghilang.
Untuk beberapa saat, dia tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada komentar malas, tidak ada keluhan "repot". Hanya diam. Diam yang panjang dan berat.
Bunga itu terasa dingin di telapak tangannya. Terlalu dingin untuk sebuah bunga yang baru dipetik. Dinginnya bukan dingin es biasa, tapi dingin yang meresap ke tulang, dingin seperti memegang sesuatu yang sudah lama berada di dalam tanah yang lembab dan gelap.
"Jadi ini berasal dari makamku." Gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun. Suaranya serak karena malam yang panjang dan penuh teriakan.
Bukan makamku. Makam kita. Atau... makam tubuh ini.
Suara kesadaran kedua, Yamada yang asli, terdengar pelan, sangat pelan, hampir tidak berani. Suara itu terdengar sedih, bukan takut lagi.
"Ya." Yamada mengangguk pelan, menatap kelopak bunga yang hampir transparan itu. "Makammu. Makam anak 10 tahun yang meninggal lima tahun lalu. Yang ayah gali sendiri dengan tangannya."
Kalau begitu kenapa bunga itu bisa berada di tanganmu sekarang? Kenapa bunga yang tumbuh di atas makamku yang kosong bisa muncul di jendela kamar kita malam ini, setelah perempuan itu datang?
"Itulah yang harus kita cari tahu." Jawab Yamada, matanya tidak lepas dari bunga itu. "Kenapa makam yang seharusnya berisi tulang, kosong, dan malah menumbuhkan bunga yang bisa muncul tiba-tiba di jendela."
Yamada memutar bunga tersebut perlahan di antara jari-jarinya. Tidak ada duri di tangkainya. Tidak ada daun. Hanya satu tangkai putih pucat, lurus, dengan lima kelopak di ujungnya yang terbuka sempurna. Kelopaknya tipis, hampir transparan, dengan urat-urat halus berwarna perak yang berkilauan saat terkena cahaya bulan dari jendela. Tidak ada serbuk sar…
THE LAZY GENIUS
BAB 10: Reinkarnasi Menjadi Usia 15 Tahun — Part 9
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 234 Episodes
Comments