"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Perpindahan
Hari ini adalah hari kepindahanku ke pondok yang baru.
Aneh rasanya melihat barang-barangku mulai dikemas dengan tergesa-gesa, seolah aku sedang berpacu dengan waktu untuk meninggalkan tempat yang sebenarnya masih ingin kutinggali. Bukan karena pondok yang baru buruk. Bukan pula karena tempat ini akan benar-benar asing bagiku. Kami masih berada di bawah yayasan yang sama, dan mungkin suasananya pun tidak akan jauh berbeda.
Tapi tetap saja, ada sesuatu dalam diriku yang terasa berat.
Aku sudah terlalu nyaman di sini. Terlalu terbiasa dengan suasana, dengan orang-orang yang setiap hari kutemui, dengan rutinitas yang tanpa kusadari telah menjadi bagian dari hidupku. Dan sekarang, aku harus meninggalkan semua kenyamanan itu untuk memulai lagi di tempat yang baru.
Mungkin yang paling membuatku takut bukanlah tempatnya, melainkan orang-orangnya. Aku harus bertemu dengan wajah-wajah yang belum kukenal, berusaha menyesuaikan diri, dan kembali melewati fase canggung yang paling tidak kusukai. Aku memang bukan seseorang yang mudah beradaptasi. Bagiku, mengenal lingkungan baru bukan perkara sehari atau dua hari. Aku membutuhkan waktu untuk merasa bahwa sebuah tempat benar-benar bisa kusebut rumah.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku harus belajar meninggalkan sesuatu yang sudah membuatku nyaman... lalu memaksa diriku percaya bahwa mungkin, di tempat yang baru nanti, Allah juga sedang menyiapkan cerita yang belum pernah kubayangkan.
Aku sudah memesan Grab untuk mengantarkanku ke pondok yang baru. Sengaja kupesan lebih awal karena aku ingin berpamitan dengan teman-temanku secepat mungkin. Bukan karena aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal, tetapi justru karena aku tahu diriku sendiri.
Aku tidak mau ada drama tangisan lagi.
Cukup sekali. Aku tidak yakin sanggup melihat mereka menangis tanpa ikut menangis juga.
“Lho, Aisy, dah siap aja? Kok cepat banget?” Suara Nada tiba-tiba mengagetkanku.
“Eh! Ngagetin aja!” protesku sambil menoleh.
Nada hanya terkekeh.
“Iya, barangku kan nggak banyak,” jawabku asal, berusaha terdengar santai meskipun sebenarnya ada rasa sesak yang mulai mengganjal di dada.
“Oh, sini, aku bantu nurunin, ya.”
Tanpa menunggu jawabanku, Nada langsung mengambil salah satu kardus yang berisi buku-bukuku.
Aku hanya membalasnya dengan acungan jempol.
Kulihat ia berjalan membawa kardus itu menuju pintu. Entah kenapa, pemandangan sederhana itu tiba-tiba membuatku terdiam.
Mungkin karena aku sadar, setelah hari ini, belum tentu aku akan kembali melihat hal-hal kecil seperti ini setiap hari.
Grab-ku ternyata sudah datang. Namun, saat aku melangkah menuju gerbang, ternyata teman-temanku sudah berdiri di sana. Rupanya mereka ingin mengantarku dan mengucapkan perpisahan untuk terakhir kalinya.
Padahal, ini bukan benar-benar perpisahan selamanya. Sesekali kami masih mungkin bertemu, terutama jika ada acara besar di yayasan. Tapi tetap saja, rasanya berbeda ketika harus meninggalkan tempat yang selama ini menjadi bagian dari keseharianku.
Aku memeluk mereka satu per satu. Tidak lama, karena Grab-ku sudah menunggu di depan gerbang.
Hingga akhirnya, tinggal Nada.
Teman dekatku.
Dan benar saja, seperti yang sudah kuduga...
Kami menangis lagi.
Aku berusaha tersenyum di sela-sela air mata yang mulai menggenang. Rasanya ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi semuanya seperti tertahan di tenggorokan. Pada akhirnya, hanya satu kalimat yang mampu keluar.
“Dah... ilalliqa’. Semoga kita bertemu lagi.”
Nada tidak menjawab banyak. Ia hanya tersenyum sambil mengusap air matanya.
Aku pun segera melepaskan pelukannya.
Teman-temanku melambaikan tangan ketika aku mulai berjalan menuju mobil. Aku hanya menoleh sekilas. Tidak berani terlalu lama memandang mereka.
Kalau aku terus melihat wajah-wajah itu, mungkin aku benar-benar tidak akan sanggup menahan tangis.
Aku segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.
Kutarik napas dalam-dalam, lalu mengusap sudut mataku dengan cepat.
Jangan menangis.
Jangan sampai air mata ini jatuh.
Aku bahkan malu kalau sampai menangis di depan sopir Grab.
Jadi, sepanjang perjalanan itu, aku hanya diam menatap ke luar jendela, berusaha menyembunyikan air mata yang sejak tadi memaksa untuk jatuh.
Hari ini, untuk pertama kalinya, aku benar-benar meninggalkan tempat yang sudah terasa seperti rumah.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏