WHY I NEED YOU
“Terkadang, orang yang paling mengerti tawamu adalah dia yang telah lama ada. Namun, orang yang paling mengerti lukamu justru dia yang baru saja tiba.”
Bercerita kisah Cinta Remaja Ia selalu menganggap ungkapan cinta sahabatnya sebagai lelucon, hingga ia tak menyadari luka di balik tawa pria yang selalu ada untuknya itu. Namun, kehadiran seorang murid baru yang dingin dan menyebalkan justru mengusik hatinya. Laki-laki baru ini penuh misteri,Rahasia membuat hari-harinya penuh kekesalan sekaligus debar yang tak biasa.namun ia juga menyimpan rahasia, ia harus memilih : kembali pada sang sahabat yang setulus rumah, atau melangkah menuju sang asing yang memberinya alasan baru untuk bertahan hidup. Ini adalah tentang siapa yang sebenarnya ia butuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 1 : Tatapan Dingin Sang Pendatang
Kantin SMA Bright win mendadak terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun udara siang itu cukup terik. Kehadiran sosok jangkung dengan seragam yang masih nampak kaku itu seolah menyerap seluruh keriuhan di sana. Sandro berdiri tak jauh dari meja Geisa dan kawan-kawannya. Sebenarnya, ia sudah berdiri di sana cukup lama, cukup untuk mendengar bisikan-bisikan yang terbang di udara—bukan hanya dari meja Geisa, tapi dari hampir seluruh penjuru kantin.
Sandro bukan tipe orang yang suka memendam kekesalan. Baginya, bicara di belakang adalah tanda pengecut. Ia memutuskan untuk memberikan kesan pertama yang tegas agar semua orang tahu bahwa ia bukan objek wisata yang bisa dikomentari sesuka hati.
Dengan langkah tegap dan ekspresi datar yang menusuk, Sandro berjalan mendekat. Ia menghentikan langkah tepat di depan Geisa, menghalangi jalan gadis itu dan teman-temannya.
"Permisi," suara Sandro rendah, berat, dan penuh penekanan. "Apa ini memang kebiasaan kalian setiap kali menemukan sesuatu yang baru? Cih."
Geisa tersentak. Ia mendongak, menatap mata tajam Sandro yang terasa seperti sembilu. "Ehem... memangnya maksud pembicaraanmu apa, ya? Datang-datang langsung sinis begitu."
Sandro tersenyum sinis, sebuah lengkungan tipis yang tidak mencapai matanya. "Memang benar-benar tidak mengerti, atau hanya pura-pura bodoh? Apa manfaatnya membicarakan orang di belakang seperti itu?"
Sandro melangkah maju satu tindak, membuat Geisa refleks mundur, namun Nayla, Emy, dan Ayla segera pasang badan menghadang Sandro.
Ayla berdeham, mencoba mencairkan suasana meski hatinya berdegup kencang karena ketampanan laki-laki di depannya. "Ih, so sweet... eh, maksudku, hei anak baru! Geisa kan bertanya baik-baik, apa maumu sebenarnya? Untung kamu ganteng."
"Apa-apaan, sih? Memangnya salah kalau kami merasa aneh?" Emy menimpali dengan berani. "Masuk ke Brightwin di tengah semester seperti ini memang hal yang tidak lazim, kan?"
Sandro menatap mereka satu per satu dengan pandangan meremehkan. "Aneh? Bisa-bisanya kalian membicarakan orang lain, lalu saat orangnya muncul, kalian malah mengalihkan pembicaraan seolah tidak terjadi apa-apa. Bukankah kalian tahu itu sangat tidak sopan?"
Ia mengangkat keningnya, menatap Geisa dengan intensitas yang membuat gadis itu salah tingkah. "Kalian bicara tanpa tahu fakta yang sebenarnya. Kenapa tidak bicara langsung di depanku? Kenapa harus berbisik-bisik di belakang?"
Geisa menarik napas panjang, mencoba mengatur emosinya. "Oh, jadi karena itu... Kamu mengira kami membicarakan hal buruk tentangmu, makanya kamu marah? Tidak ada yang mengalihkan pembicaraan di sini."
Geisa melipat tangannya di dada. "Wajar saja jika seseorang tidak suka menjadi bahan tontonan. Tapi, dengar ya, Sandro—aku tahu namamu dari daftar kelas—jangan mengambil keputusan terlalu cepat hanya dari apa yang kamu dengar sekilas. Kami tidak membicarakan hal buruk. Kami hanya penasaran mengapa kamu bisa pindah ke sini di tengah semester. Itu saja. Dan bukan hanya kami, satu sekolah juga bertanya-tanya hal yang sama."
"Benar itu!" Nayla ikut bersuara. "Lihat sekelilingmu. Bukan cuma kami yang memperhatikanmu. Tapi sepertinya aku harus makan sekarang, makananku sudah dingin. Apa yang dikatakan Geisa itu benar, terserah kamu mau percaya atau tidak. Lagipula, itu bukan urusan kami lagi."
Ayla menambahkan dengan nada menggoda namun tetap sinis. "Lagi pula, kami hanya menebak-nebak. Apa kamu dipindahkan karena nakal? Atau kamu punya catatan kriminal? Wajahmu memang seperti idol K-Pop, tapi sinis sekali. Awas, gantengnya luntur kalau marah-marah terus."
Geisa menyenggol lengan Ayla, memberi kode agar temannya itu berhenti bicara. "Ayla, cukup. Maafkan sifat temanku, ya. Dan maaf juga jika sikap kami menyinggungmu. Temanku ini memang agak terlalu ingin tahu. Tolong kontrol bicaramu, Ayla."
Sandro terdiam sejenak. Ia menatap mata Geisa cukup lama, mencari kejujuran di sana. "Hmm, it’s okay," gumamnya pelan. "Dan satu hal lagi, namaku Sandro, bukan 'anak baru'."
Tiba-tiba, Sandro memutar tubuhnya. Ia menyadari bahwa banyak pasang mata dan telinga yang sedang menguping pembicaraan mereka. Dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, suara bass-nya menggema ke seluruh sudut kantin.
"Buat kalian semua yang dari tadi sibuk menguping di belakang! Apa kalian sudah puas dengarnya?" teriak Sandro tegas. "Kalian sudah besar, seharusnya punya pemikiran yang lebih baik daripada sekadar bergosip! Gunakan waktu kalian untuk hal yang berguna!"
Setelah mengucapkan itu, Sandro berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Ia meninggalkan kerumunan siswa yang terpaku karena keberaniannya. Sebenarnya, Sandro sengaja melampiaskan amarahnya kepada Geisa agar anak-anak lain yang juga menggunjingnya bisa mendengar peringatan tersebut. Di dalam hatinya, Sandro bergumam kecil bahwa gadis mungil bernama Geisa itu cukup unik karena berani menatap matanya tanpa gemetar.
"Sombong sekali anak itu," gerutu Ayla setelah Sandro menghilang di balik pintu kantin. "Tapi aku kaget mendengar suaranya tadi. Syukurlah dia ganteng, jadi dimaafkan sedikit."
Geisa mengembuskan napas lega. "Sudahlah, daripada membahas dia terus, mendingan kita habiskan makanan kita. Kasihan perut yang dari tadi sudah mengeluh lapar."
"Betul! Perutku sudah tidak bisa dikondisikan," sahut Nayla penuh semangat. "Ayo cepat makan, lalu balik ke kelas."
Sandro berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Pikirannya melayang pada kejadian di kantin tadi. Apa aku terlalu sinis? pikirnya. Namun ia segera menepis pikiran itu. Ia merasa tindakannya benar untuk menghentikan isu yang menyebar terlalu cepat.
Baginya, orang-orang di Indonesia tidak jauh berbeda dengan tempat asalnya; sama-sama suka bergosip. Namun, Sandro tidak terlalu peduli. Ia pindah ke Brightwin demi kebaikan masa depannya dan ia harus belajar menyesuaikan diri. Biarlah mereka menebak-nebak siapa dia yang sebenarnya, selama mereka tidak mengganggu privasinya.
Saat hendak memasuki ruang kelas, langkahnya terhenti oleh kehadiran wali kelasnya yang tampak sedang mencarinya.
"Sandro," panggil Pak Guru.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Sandro sopan.
"Begini, Bapak hanya ingin memastikan kembali, apakah kamu benar-benar sudah fasih berbahasa Indonesia? Bapak melihat catatanmu dari luar negeri."
Sandro mengangguk tipis. "Iya Pak, saya bisa. Apa Bapak meragukan saya?"
Pak Guru terkekeh pelan. "Bukan begitu, Nak. Bapak hanya ingin kamu bisa menyesuaikan diri dengan pembelajaran di sini. Jika ada yang ingin kamu tanyakan, jangan segan-segan menemui Bapak. Bapak akan usahakan membantu."
"Baik, Pak. Terima kasih."
"Bapak tahu kamu adalah anak yang sangat berprestasi di sekolah lamamu, meskipun sistemnya berbeda. Bapak harap kamu bisa membanggakan SMA Brightwin juga. Nanti di dalam kelas, jangan lupa perkenalkan dirimu secara resmi. Bapak sudah memberi tahu ketua kelas," jelas Pak Guru panjang lebar.
"Baik, Pak. Saya permisi dulu," ucap Sandro sambil mengangguk hormat.
Sandro melangkah masuk ke kelasnya dengan satu tujuan: melewati hari-hari di Bright win tanpa gangguan. Namun, ia tahu, sejak ia menabrak Geisa dan menantang Lars, ketenangan hanyalah sebuah mimpi belaka.
....