Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Puteri

Rahasia Puteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Anak Genius / CEO / Mafia
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: SangMoon88

Seorang wanita bernama Puteri mempunyai masa lalu yang kelam, membuatnya berubah semenjak kematian sang ayah, membuat dirinya berkamuflase. Seperti seseorang yang mempunyai dua kepribadian, plot twist dalam setiap kehidupannya membuat kisah yang semakin seru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SangMoon88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilema

        Bulan berganti bulan, setelah kejadian itu, aku menjadi lebih pemurung, dan tidak seceria biasanya. Wulan yang menyadari perubahan sikapku, mengajakku untuk berbicara, berbasa basi walapun ia tahu apa yang sedang aku rasakan. Kemudian aku pun menceritakan segala unek-unekku kepadanya, aku juga mengatakan jika aku kesal akan sikap ayahku yang selalu menganggapku seperti anak kecil.

        Dengan dewasa Wulan menasehatiku, bahwa seharusnya aku bersyukur memiliki ayah yang begitu perhatian dan penyayang seperti beliau, aku salah satu anak yang beruntung memiliki ayah seperti itu, diluar sana banyak anak perempuan yang tidak bisa merasakan perhatian dan kehadiran dari sosok ayah, bahkan tidak sedikit yang memiliki ayah namun tidak merasakan perhatiannya.

Wulan : “Put, ayah melakukan itu karena beliau sayang sama kamu, ayahku saja tidak pernah melakukan itu, padahal aku menginginkannya, akupun merasa iri kepadamu, kamu begitu beruntung loh, kalau kamu gak mau, ayahnya buat aku saja ya hehehe.” (Candanya menggodaku) .

Puteri : “Iih teteh mah..” (jawabku dengan aksen sunda sambil sedikit manyun (memajukan bibir), namun diakhiri tawa kecil) .

Wulan : “Nah gitu dong senyum, jelek loh manyun terus, sudahlah gak usah dipikirin omongan mereka kala itu, anggap saja mereka melakukan itu karena mereka iri padamu.”

Puteri : “Hemm, iya teh. Teteh benar, seharusnya aku gak boleh bersikap begitu pada ayah, bagaimanapun juga itu kali pertama aku pergi, pasti beliau khawatir. Dan soal statusku yang masih jomblo, sepertinya aku akan mencari pacar.”

Wulan : “Hah, pacar? Mau pacaran sama siapa? Cari dimana? Jangan terburu-buru Put, ngalir saja. Memang kamu sudah ada calonnya? Setau aku kamu gak ada pernah dekat sama cowok manapun, kok sekarang tiba-tiba mau cari pacar?”

Puteri : “Ya belum ada sih makanya mau nyari, heheh”

Wulan : “Aya-aya wae kamu mah, nyari pacar yang bener teh tidak semudah nyari baju diskonan, tong buru-buru gara-gara ledekan mereka kala itu yang ngatain kamu jomblo, kata aku juga gak ulah dipikiran, anggap weh radio butut, dah ah yuk kita pulang.” (Wulan mengomeliku dengan aksen sundanya yang khas bawel emak-emak.)

Puteri : “Hehe iya sok teteh duluan saja, aku mau beresin kerjaan dikit lagi.”

Wulan : “Ya sudah, aku duluan ya, bye."

        30 menit kemudian pekerjaanku selesai, dan saat berjalan keluar toko, aku bertemu salah satu teman lamaku bernama Deni. Ia sedang berjalan menuju sebuah cafe yang berada tidak jauh dari tempatku bekerja bersama temannya, dan ia mengajaku ikut untuk sekedar berbincang-bincang, dikarenakan hari itu aku tidak dijemput oleh ayah, maka aku memutuskan ikut bersama mereka.

        Deni adalah seorang IT Profesional yang pernah bekerja di tempatku dulu, namun ia resign karena mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, sedangkan temannya yang bernama Rahman sedang mencari pekerjaan karena baru saja habis kontrak kerja.

        Setelah cukup lama kami berbincang, akhirnya aku memutuskan pulang lebih dulu, karena tidak ingin membuat orang rumah khawatir, sebab aku belum memberi kabar akan pulang terlambat. Kala itu belum ada ojek online sehingga kemana-mana masih menggunakan transportasi umum seperti angkot, atau ojek, sedangkan angkot yang biasa aku tumpangi, hanya beroperasi sampai jam 21.00 malam saja atau paling telat pukul 21.30 itupun dengan sedikit penumpang.

        Akhirnya aku tiba di rumah, setelah mengganti pakaian dan bersih-bersih, aku kemudian menuju kamarku untuk beristirahat, namun tiba-tiba ponselku berdering, dan memunculkan nomor yang tidak ku kenal, awalnya aku abaikan saja, tapi telepon itu kemudian berdering lagi dari nomor yang sama.

        Aku mengangkat panggilan dari nomor asing itu, ternyata yang menghubungiku adalah Rahman, temannya Deni yang tadi di cafe. Kami pun berbincang cukup lama, ia mengatakan jika ia menyukaiku saat kami pertama bertemu tadi, makanya ia meminta nomorku kepada Deni. Hahaha lucu rasanya, aku sudah lama tidak pernah merasakan digombalin oleh seorang pria, setelah terakhir saat aku SMP dulu.

        Singkat cerita lagi, kami pun semakin intens berkomunikasi dan bertemu, hingga akhirnya 2 bulan kemudian Rahman menyatakan cintanya, dan akupun menerimanya sebagai kekasihku. Aku juga menceritakan kepada Wulan perihal hubunganku dengan Rahman, dan apa kalian tahu bagaimana responnya saat mendengar hal itu? Benar! Responnya sama seperti orang tuaku saat mendengarnya, yaitu TIDAK SUKA dan TIDAK SETUJU!

        Wulan tidak menyukainya, karena Wulan tahu sedari awal kita dekat, akulah yang selalu mengeluarkan uang walau hanya sekedar untuk makan atau ngopi. Namun aku memberi mereka pengertian jika kondisi Rahman kala itu sedang menganggur dan mungkin seiring berjalannya waktu ia akan segera menemukan pekerjaan baru.

        Hubunganku dengan Rahman sudah memasuki bulan ke 3, seharusya sedang hangat-hangatnya bukan? Tapi tidak bagiku, aku justru merasa sudah lelah dengan hubungan ini. Dari awal intens sampai akhirnya berpacaran akulah donatur terbesar dalam hubungan ini, bukan aku itungan hanya saja ini sudah sangat keterlaluan. Mengapa aku berkata begitu? Karena semenjak ia menjadi ojek pribadiku, pengeluaranku membengkak berkali-kali lipat, contoh hal kecil saja, ia menjemputku setiap hari, maka setiap hari pula aku harus mengeluarkan dana untuk makannya, ngopinya, rokoknya, belum lagi bensinnya.

        Namun bukan hal itu saja, pernah suatu hari ia mengajaku pergi ke acara ulang tahun saudaranya yang bernama Ima, aku dan Ima memang pernah beberapa kali bertemu sebelumnya, sehingga kamipun saling mengenal satu sama lain. Rahman memintaku membelikan hadiah ulang tahun untuk Ima, dan ia tidak peduli apakah saat itu aku mempunyai uang atau tidak untuk membeli hadiah. Yang Rahman pedulikan adalah kita harus datang dengan membawa hadiah itu, karena jika tidak maka ia akan sangat malu.

        Karena saat itu aku begitu bucin, maka aku pun menuruti keinginannya tanpa berpikir panjang, aku membelikan sepasang kaos couple hitam untuk Ima dan kekasihnya sesuai permintaan Rahman. Dan ia pun mengatakan akan menjemputku setelah pulang kerja. Aku lalu menghubungi ayah dan memberi tahu beliau jika aku akan pulang telat karena akan menghadiri acara ulang tahun Ima terlebih dahulu. Ayah mengizinkan dengan syarat pukul 22.00 sudah berada di rumah.

        Akhirnya kami tiba di acara Ima, pestanya sangat meriah, ada banyak pasangan muda mudi disana sedang menikmati pesta itu. Ada yang sibuk berbincang sambil memegang minuman ringan ditangannya, ada pula yang sibuk memakan makanan yang sudah disediakan.

        Setelah megucapkan selamat kepada Ima dan memberikan hadiah, Rahman mengajaku ke ayunan yang berada di sisi taman, ia membawakan 2 minuman ringan dan beberapa makanan yang terlihat begitu enak. Aku duduk di ayunan sambil menikmati makanan. “Acaranya begitu meriah, aku tidak pernah merayakan ulang tahun seperti ini.” lirihku dalam hati.

        Rahman lalu duduk disampingku, namun tiba-tiba saja ia memalingkan wajahku kearahnya, dan Cuuuuuup, ia mengecup bibirku. Tubuhku langsung tidak bereaksi apapun, otakku bertanya-tanya, apa itu barusan? Kejadiannya begitu cepat dan singkat. Rahman tersenyum kepadaku dan mengucapkan terima kasih karena sudah mau menemaninya datang ke acara.

        Aku hanya tersenyum tersipu malu, masih terkejut dengan yang terjadi barusan, Rahman menciumku, ciuman pertamaku, “Aaaaah jadi malu” ucapku dalam hati, sepertinya pipiku merah padam, jantungku berdebar begitu kencang, dan entah mengapa suasana outdoor malam itu jadi terasa panas.

        Saking asiknya menikmati pesta aku sampai lupa waktu, ternyata sudah pukul 21.45. Ya Tuhan, aku terlambat pulang, aku berjanji kepada ayah akan tiba di rumah pukul 22.00. aku pun segera mengajak Rahman untuk pulang, dan kami langsung berpamitan kepada si pemilik acara.

        Rahman melajukan kendaraanya dengan cepat, namun kala itu malam minggu, dijalanan begitu ramai banyak muda mudi yang sedang nongkrong, aku begitu panik, aku terus memperhatikan jam yang berada di sebelah kiri tanganku. “Ya Tuhan, aku pasti dimarahi ayah karena aku terlambat, bagaimana ini, sudah pukul 21.58.” aku terus bergumam dalam hati dan berharap agar jalanan ini segera sepi supaya aku bisa cepat pulang.

        Dan benar saja seperti dugaanku, tepat pukul 22.20 aku baru sampai di rumah, dan ayah sudah menungguku di depan pintu. Setelah berpamitan dengan ayah, Rahman lalu melajukan motornya lagi, sementara aku menunggu aba-aba dari ayah untuk masuk rumah. Ayah terus memandangiku dengan sorot mata tajamnya, tidak banyak kata yang terucap dari mulutnya, hanya pandangannya saja terlihat begitu dalam, bukan marah, namun lebih ke rasa kecewa sepertinya yang ayah rasakan.

    “Ayo masuk, gak baik anak perawan masih diluar malam-malam begini, kamu sudah makan?” ucap ayah sambil menutup pintu,

    “Teteh sudah makan disana kok, (ucapku, namun ayah lalu berjalan menjauhiku menuju kamarnya ) yah maaf teteh sudah pulang telat dari yang tadi teteh janjikan kepada ayah, tadi disana..( belum selesai aku berbicara ayah lalu memotong perkataanku ).”

    “Jangan diulangi ya teh, gak baik anak perawan keluyuran malam-malam begitu, apalagi diantar pulang oleh pria, apa kata orang-orang yang melihat? Teteh masih punya orang tua kan? Tolong dijaga nama baikmu, itupun jika kamu sayang pada keluargamu. Sekarang kamu ganti baju, lalu istirahat, ayah tidur duluan ya.” Jawab ayahku dengan lirih sambil masuk kedalam kamarnya.

    “Iya yah.” Ucapku yang kemudian menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih.

        Malam itu aku merasa sangat tidak karuan, bukan karena mengingat ciuman pertamaku tadi, melainkan mengingat ucapan dan sorot mata ayah yang penuh kecewa kepadaku. Cara ayah marah kepada kami anak-anaknya, dengan cara mamah berbeda, ayah lebih banyak diam dan menatap dengan sorot mata tajam namun begitu mengena, sedangkan mamah justru sebaliknya, beliau akan lebih banyak mengomel khas ibu-ibu tapi anak-anaknya justru tidak terlalu menanggapinya sampai ujung-ujungnya mamah mengadu juga kepada ayah.

        Aku merasa sangat bersalah sekali, aku tahu ayah kecewa atas perbuatanku, jika beliau tidak peduli dan menyayangiku, beliau tidak akan menungguku didepan pintu rumah seperti itu, sementara udara malam begitu dingin, aku tahu beliau begitu karena mengkhawatirkanku, beliau begitu peduli kepadaku, bukan karena aku anak perawan saja, melainkan karena aku adalah anaknya, perlakuan sama yang beliau tunjukan kepada adikku yang seorang lelaki.

        Akupun terpejam dengan tangis yang masih membasahi pipi, dalam lelapnya tidur, aku bisa merasakan ayah masuk kekamar, menghampiri dan mengecup keningku, membentulkan selimutku sambil berkata ayah sangat menyayangi kalian, kemudian beliau keluar kamar dan menutup pintu dengan perlahan agar aku tidak terbangun.

1
Cevineine
Semangat Thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!