Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 : Aku hakimnya
Mendengar penjelasan itu, Blair tertegun. "Dari kasus apa?"
Lucas kembali menghela napas, kali ini lebih kasar.
“Jangan bilang kau juga tidak ingat yang ini,” katanya, jelas kehilangan kesabaran. “Hari ini kau menangani persidangan gugatan perdata. Kasus dugaan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat.”
Ia meraih sebuah berkas dari meja lain dan meletakkannya di hadapan Blair. Namun baru beberapa detik, alis Lucas mengerut. Tangannya menarik kembali map itu, tatapannya berubah ragu.
“Tunggu,” katanya pelan. “Kenapa kau bertanya soal kasus ini?”
Ia terdiam sejenak, lalu ekspresinya berubah seolah baru menemukan jawabannya sendiri. Jari telunjuknya terangkat, menunjuk ke arah Blair.
“Jangan bilang kau berniat tetap memimpin sidang,” ucapnya cepat. “Setelah otakmu kambuh dan kau melupakan semuanya?”
Lucas menggeleng kuat sambil mengayunkan telunjuknya.
“Tidak. Tidak. Tidak. Tidak ada persidangan untuk hakim yang sedang bermasalah.”
Alis Blair terangkat sekilas sebelum kembali mengerut. Ia menatap Lucas tajam, lalu berdiri mendadak. Tangannya merebut berkas itu dari genggaman Lucas dengan kasar.
“Siapa yang memberimu keberanian untuk mengatakan hal itu padaku?” katanya dingin.
Lucas terdiam.
Blair melangkah mendekat, suaranya tegas dan tajam.
“Jika masalah pribadiku dijadikan alasan untuk menunda sidang,” lanjutnya, “lalu apa aku masih pantas disebut hakim?”
Nada itu membuat Lucas menegang. Namun alih-alih menunduk, ia justru menatap Blair dengan ekspresi protes. Ia memalingkan wajah, bibirnya mengerucut.
“Berubah lagi,” gumamnya. “Sifatmu benar-benar tidak pernah konsisten. Otak kambuhmu itu bukan membuatmu dapat masalah, tapi kau sendiri yang jadi masalah.”
Blair menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi. Mendengar gumaman itu, tatapan tajamnya langsung tertuju pada Lucas. Tangannya menghantam meja dengan suara keras.
“Aku mendengarnya,” katanya dingin.
Lucas tersentak. Ia menoleh cepat, lalu tersenyum sambil tertawa kaku.
“Mendengar apa?” tanyanya. “Aku tidak mengatakan apa-apa.”
Senyum itu jelas dipaksakan, berusaha meredam kekesalan gadis di hadapannya. Namun tatapan Blair tidak melemah sedikit pun.
“Keluar,” katanya singkat. “Sekarang. Sebelum aku menendangmu keluar lewat jendela.”
Senyum Lucas langsung menghilang, berganti cemberut. Ia berbalik, mengambil gelas kopinya dari atas meja Blair, lalu melangkah pergi sambil bergumam kesal.
“Biasanya juga kau bisa reda,” katanya setengah berbisik. “Kenapa sekarang malah makin meledak-ledak? Otak kambuhmu benar-benar bikin temperamen.”
Blair menghela napas panjang, menggigit bibirnya untuk menahan emosi. Begitu pintu tertutup, ia melirik ke arah sana dan bergumam lirih.
“Beruntung kau tidak punya dosa yang cukup berat untuk memberiku alasan melakukannya.”
Pandangan Blair kemudian turun ke berkas di tangannya. Ia membacanya dalam keheningan. Beberapa saat berlalu hingga ia menutup map itu dan meletakkannya di atas meja.
Blair menyandarkan tubuh ke kursi, satu alisnya terangkat. Ujung bibirnya melengkung samar.
“Jadi sekarang…” gumamnya pelan, “aku hakimnya?”
...
Malam terkunci rapat oleh hujan gerimis yang membasahi jalanan, meresap ke aspal dan menyelimuti kota dalam keheningan basah. Gang-gang sempit terbentang gelap, hanya diterangi beberapa lampu redup yang menggantung malas, cukup untuk menyoroti sudut tertentu namun tak pernah benar-benar mengusir bayangan.
Jalan berlubang membentuk genangan air. Sebuah langkah menghantamnya keras, membuat air muncrat ke udara dan pecah di dinding gang. Langkah itu disusul injakan lain, lebih cepat, lebih panik, berlari tanpa menoleh.
Napas terengah terdengar jelas.
Seorang pria melesat di lorong sempit, jaket kulitnya basah dan berat. Di belakangnya, suara langkah kaki lain mengejar lebih teratur, lebih pasti. Ketika pria itu berbelok tajam di tikungan gang, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram lengannya.
Dengan satu gerakan cepat, tubuhnya diputar. Punggungnya menghantam dinding dingin. Lengannya ditarik ke belakang, ditekan keras.
“Berhenti,” perintah polisi itu tegas. “Kau tertangkap.”
Namun pria itu tidak menyerah.
Ia meronta, memutar tubuhnya dengan kasar, lalu menyiku wajah polisi. Benturan itu cukup untuk membuat cengkeraman terlepas sesaat. Kesempatan itu ia gunakan untuk merogoh saku jaketnya.
Sebilah pisau muncul di tangannya.
Cahaya lampu gang memantul di mata pisau yang basah. Ia menodongkannya ke arah polisi, lalu mengayun tanpa ragu.
Polisi itu mundur dua langkah, menghindari sabetan yang nyaris mengenai wajahnya. Begitu pisau meleset, ia kembali maju. Tangannya mencengkeram pergelangan pria itu, memutar dengan keras.
Siku menghantam lengan.
Terdengar bunyi retakan yang jelas.
Pisau terlepas, jatuh dan berdering di aspal basah. Pria itu menjerit, tubuhnya terkulai, lengannya tak lagi mampu digerakkan.
"eughh, Sial-!!"