Indonesia
NovelToon NovelToon
Bulan Untuk Bintang

Bulan Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.

Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.

"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."

"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."




Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suasana di ruang rawat menjadi tegang, ketika Mentari menumpuk dua telapak tangan Bulan dan Bintang di atas perutnya. Bermaksud menyatukan suami dengan sahabatnya untuk mengarungi hidup berumah rumah tangga.

Dada Rembulan berdebar kencang bukan karena jatuh cinta kepada Bintang, tapi kejadian ini tidak masuk logikanya. Di luar sana seorang istri melihat suaminya melirik wanita lain pun marah, bahkan bisa mendiamkan selama berhari-hari, tapi Mentari sanggup melakukan semacam ini sungguh tidak masuk di akal. Menyadari hal itu, ia menarik telapak tangannya cepat.

Mentari menatap Bulan putus asa, tangisnya seketika pecah. Reaksi Bulan seperti itu jelas menandakan penolakan.

"Mentari, jangan berpikir yang tidak-tidak," tegas Rembulan, minta sahabatnya untuk tenang agar penyakitnya cepat sembuh. Ia ingin meninggalkan tempat itu, tapi Mentari mencegah di sela-sela isak tangis hingga membuat Bulan berhenti.

"Sayang... jangan ngelantur. Ayolah, lawan penyakitmu agar cepat sembuh," Sela Bintang yang selalu mencintai istrinya dalam kondisi apapun, mana mungkin ia mau menikah dengan wanita lain.

Namun, Mentari menatap suaminya redup, seolah memberi signal bahwa ia tidak akan lama lagi hidup, beberapa detik kemudian, ia beralih ke wajah Bulan.

"Bulan... jawab iya, demi keluarga kami," Mentari memandang Rembulan dengan air mata berderai. Ia yakin waktunya tidak banyak lagi, dan satu-satunya beban yang tidak sanggup ia tinggalkan adalah Talita buah hatinya.

Rembulan menunduk, tidak kuasa membalas tatapan sahabatnya.

"Rembulan, kamu mau kan?" Tanyanya serak, menatap penuh permohonan. "Saya tahu ini permintaan yang sangat keterlaluan," imbuh Mentari, menyadari bahwa Rembulan seorang dokter yang hebat, sungguh tidak pantas baginya meminta hal ini, tapi hanya Rembulan yang ia yakini mampu untuk menjadi penggantinya.

Rembulan tercekat, di dalam hatinya jelas menolak tegas, tapi tidak terburu-buru menjawab karena kondisi sahabatnya tidak memungkinkan untuk mendengar.

"Tolong Bulan... jagalah Lita, jadilah ibu untuk anakku."

Dokter Rembulan mengusap keringat dingin di pelipis Mentari. Ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya. Mana ada wanita yang rela berbagi suami? Ia pikir permintaan sahabatnya hanya kata-kata kacau selayaknya orang yang sedang sakit parah dan tidak paham apa makna dari permintaan itu.

Untuk menjadi sosok ibu bagi Talita tentu saja ia sangat setuju, tapi jika harus masuk ke dalam keluarga sahabatnya dan menjadi wanita kedua sungguh tidak mudah baginya. Namun, beberapa saat kemudian, ia tidak tahan lagi mendengar permintaan Mentari yang seperti anak balita minta permen. Bulan akhirnya mencoba untuk jujur.

"Maaf Mentari, aku tidak bisa," tegas nya. Walau hatinya teriris melihat tatapan sahabatnya memohon dengan sangat.

"Aku Yakin, kamu tidak akan tega membiarkan Talita hidup dalam pengasuhan ibu tiri yang kejam, Bulan..."

"Sayang... sudah, aku mohon. Tidak akan ada ibu tiri, tidak akan ada pernikahan kedua, siapapun itu. Aku yakin, kamu akan sembuh, dan kita akan besarkan Talita bersama-sama."

Mentari menggeleng lemah, air matanya menetes membasahi bantal. Ia menatap suaminya dengan pandangan buram karena terhalang butiran air. Suaminya masih sangat muda dan tampan, secara biologis masih sangat membutuhkan wanita yang bisa melayani di ranjang yang selama satu tahun ini tidak bisa ia berikan. Bukan hanya itu saja, Bintang juga membutuhkan wanita yang mendukung di setiap langkahnya. Dan semua itu ada di diri Rembulan.

Suasana di tempat itu semakin menyayat hati. Bintang yang berdiri di sudut ranjang, diam membisu menatap kosong ke arah lain entah bagaimana perasaannya saat ini.

Sementara Rembulan hanya diam termangu. Di dadanya berkecamuk antara rasa iba, janji profesi untuk menolong, tapi harus berpikir ribuan kali untuk melangkah ke masa depan yang belum tentu bisa menjalani peran seperti yang Mentari pinta.

"Mentari, cepat sembuh ya... aku janji akan selalu ada untuk Talita. Tapi soal menjadi ibu seutuhnya, dan menyatukan hidup aku dengan Bintang suami kamu... izinkan saya berpikir. Ini keputusan yang tidak boleh salah. Demi kamu, demi aku, Pak Bintang, Talita, dan juga demi keluarga kita semua." pungkas Rembulan lalu meninggalkan tempat itu diikuti perawat.

Langkah kaki Dokter Rembulan terasa berat saat keluar dari ruang rawat Mentari. Berkali-kali menarik napas panjang, mengusap sekilas sudut matanya yang sempat meneteskan air mata. Rasa sesak di dada dan permohonan menyentuh hati Mentari masih bergema di telinga. Namun, ia harus tetap fokus pada tugasnya, di luar sana masih banyak orang lain yang menunggu harapan darinya.

Perawat yang mendampingi dokter Rembulan pun tidak berani bersuara, berjalan seirama mengimbangi langkah kaki sang dokter, dia juga merasa aneh mendengar permintaan Mentari di ruang rawat tadi.

Hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu, Bulan masuk ke ruang rawat berikutnya dengan senyuman ramah, berusaha untuk tidak lagi menampakkan kesedihan.

"Selamat siang Ibu..." ucapnya kepada pasien yang sudah tua terdengar lembut seperti biasanya saat ia menyapa pasien.

"Belum siang Dokter... masih jam 10 pagi," ucap wanita muda yang menjaga neneknya di tempat itu.

"Oh iya," ucap Bulan tersenyum kikuk. Walau sudah berusaha untuk tetap tenang justru malah ling lung. Namun, kali ini ia benar-benar fokus tidak ingin tugasnya sebagai dokter salah sedikitpun.

"Bagaimana Bu? Sudah lebih baik?" Tanyanya sambil memeriksa seorang nenek.

"Kepala saya sakit sekali Dok," lirih wanita tua itu.

Suster Dewi seketika izin tensi tangan nenek, ternyata tekanan darah tinggi sekali.

"Mbak, tolong jaga makanan Nenek ya..." Bulan menjelaskan beberapa makanan yang tidak boleh dikonsumsi.

"Baik, Dok."

Satu per satu pasien Bulan tangani dengan teliti, mendengarkan keluhan dengan sabar, menjelaskan hasil pemeriksaan dengan bahasa yang mudah dimengerti, menulis resep obat yang tepat, dan menenangkan kekhawatiran mereka. Memastikan permintaan Mentari tidak membuatnya lalai.

Selesai memeriksa beberapa pasien, Dokter Rembulan duduk di kursi kerjanya.

"Ini semua catatan hasil pemeriksaan dan rekam medis pasien hari ini, Dok," ujar Dewi, meletakkan tumpukan berkas dan tablet di meja kerja Bulan.

Rembulan mengangguk singkat, lalu mulai menelusuri satu per satu berkas di antara baris tulisan dan grafik hasil laboratorium, tangannya mencatat hal penting serta memberi keterangan tambahan dengan teliti. Meski wajahnya tampak tenang dan fokus, kadang ia berhenti sejenak, menatap kosong ke arah jendela. Bayangan wajah Mentari dan permohonan terakhir sahabatnya itu sempat menyelinap kembali. Namun, ia harus fokus tidak boleh salah diagnosa.

"Nilai tekanan darah pasien ibu Emi sangat tinggi, Wi," ujarnya cemas khawatir stroke.

"Benar Dok."

"Pastikan jadwal kontrolnya tidak terlambat," ucapnya sambil menyerahkan satu berkas.

"Baik, Dok," Dewi mencatat setiap instruksi dengan teliti.

Setelah semua berkas pasien lain selesai diperiksa, tangan Rembulan terhenti ketika memegang sampul tebal bertuliskan nama Mentari.

Mata Rembulan meneliti lembar hasil pemindaian terbaru, grafik laboratorium, dan catatan perkembangan penyakit baris demi baris dengan saksama. Wajahnya seketika berubah sedih. Angka penanda sel kanker melonjak jauh lebih tinggi dari bulan lalu. Pemindaian memperlihatkan jaringan kanker ganas itu kini sudah menyebar lebih luas, menekan organ vital satu per satu.

"Ya Allah... angkat lah penyakit sahabatku," ucapnya lirih, rasanya tidak sanggup melihat kenyataan pahit Mentari yang mengidap penyakit kanker stadium empat. Bukan hanya tidak ada kemajuan, tapi kondisinya semakin memburuk.

Bulan menutup berkas itu, menyandarkan punggungnya di kursi sambil memijat pelipis yang tiba-tiba terasa berat. Sebagai dokter, ia berusaha sebaik mungkin untuk menjadi perantara kesembuhan pasien di samping obat. Namun, mengapa segala upaya pengobatan untuk sahabatnya sendiri justru gagal? Air matanya lagi-lagi menetes dan jatuh di atas kertas.

"Dokter kenapa?" Tanya perawat melihat dokter Bulan tiba-tiba menangis, ia sebenarnya tahu apa yang Rembulan pikirkan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghibur. Selama mendampingi dokter Rembulan beberapa tahun, perawat Dewi tidak pernah melihat Bulan sedih seperti itu.

"Tidak," Rembulan mengusap wajahnya kasar, lalu menatap berkas itu kembali dengan pandangan sayu. Ia menutup berkas, lalu pamit perawat meninggalkan ruangan. Sebaiknya pulang untuk menenangkan diri terlebih dahulu.

Rembulan melangkah dengan hati gundah hendak masuk ke dalam lift.

"Dokter Rembulan..." panggil seorang pria melangkah ke arahnya dengan wajah tak kalah sedih.

...~Bersambung~...

1
Teh Yen
harus bagaimana memberitahu ibu mertuamu yg ngeyel itu yah ,, suruh aj mentari yg cerita semuanya bintang coba percaya engg tuh ibu mertuamu tp aku yakin mereka pasti akan menghasut mentari agar membenci rembulan
Eka ELissa
ksian Talita jadi korban... khilngan mama nya kan....
Eka ELissa
nah kan....
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Eka ELissa
mknya kmu yg tegas jgn mbut mbut aj...dong....klau gini ribett kan..🤦🤦🤦
falea sezi
kapok makanya bulan ngapain sok baik ma sahabat 🤣🤣 mau mati aja nyusain lu mentari sahabat prettt bkin bulan di hujat sana sini 😒😒 mati aja lu mentari gk tau diri amat lu
mery harwati
Belum lagi kenyataan yang harus Bulan hadapi di tempat kerja, pasti lah video itu udah viral & sebagian orang di tempat kerja Bulan udah nonton termasuk ibu kandung Bintang sendiri, di tempat kerja tekanan psikologis Bulan makin berat gegara video viral itu 🥴
Setyowati Setyowati
karakter bintang kurang tegas , terlalu plin-plan ...dan Bulan harusnya dlm perdebatan jangan mau kalah SM Serly dan ibunya ..mereka cuma mau depak kamu dan Serly yg bakal menggantikan posisi mentari ..karena jiwa pelakornya meronta "
tiara
kasihan Bulan udah nikah ga sesuai keinginan eh malah dibuat sakit hati sama mertua ibu dan adiknya mentari,udah usir aja tuh orang ga punya hati mah mereka cuma pengen harta aja tuh
Agunk Setyawan
Uda tau mertua sama ipar gitu tp gak ada tegas" nya malah lembek kaya kangkung
Teh Yen
huuh kenapa bukan dari siang blng begitu nya bintang huuh bikin kesel.dulu deh baru tegas hadeuuh 🙈
mery harwati
Noh Bintang liat di dunia nyata bagaimana kekuatan nitezen mengorek abis kisah asmara CEO & artis yang diberitakan dapat uang dari mantan suami ratusan juta tiap bulannya
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Buna Seta: 🤣🤣🤣🤣❤❤❤
total 1 replies
mery harwati
Emang semudah itu menghapis jejak digital di medsos? Mimpi Bintang ketinggian dalam menghadapi netizen di jagat maya 🤣
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
tiara
bagus Bintang usir saja mertua sama ipar yang ga ada akhlak,bikin rusuh aja
Perempuan
lelet kamu Bintang. Kamu sudah melukai bahkan mendzolimi Bulan. Bulan rugi banget nikah sama kamu, masih ditambah dgn sikap kamu yg gak jelas, lambat ngambil keputusan
Eka ELissa
Halah telat basi...ktika bulan mju baru kmu nongol bintang ⭐⭐⭐⭐😡😡😡😡😡gaje lu....🤦🤦🤦
Eka ELissa
huuu....nah kan yg jadi korban mlhn bulan... mikirin perasaan orang Mulu cih..... prasaan orang yg terdekat GK di pikirin kmu kurang tegas bintang 😏😡
Agunk Setyawan
telat
mery harwati
Sosok Bintang dibuat BODOH di novel ini
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷‍♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
Teh Yen
duh gemes deh smaa bintang malah pergi ke rmh sakit harusnya jelasin dulu sama ibu mertua mu itu biar tidak nyebar jg gosipnya skrng nama baik rembulan d RS d pertaruhkan loh dengan menyebarnya vidio itu hadeeuh
Rohmi Yatun
disini posisi bulan sangat tdk menguntungkan.. tapi itu juga salahnya sendiri sih gak dipikirkan akibatnya wktu dia menerima permintaan mentari... dia yg menjerumuskan dirinya sendiri dlm situasi yg rumit..
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!