Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi malang
Nek Lasmi melangkah gontai menyusuri jalan setapak berlumpur, keranjang bambu kosong tersampir di punggungnya. Hujan baru saja reda, menyisakan genangan-genangan kecil yang memantulkan cahaya bulan yang samar-samar mengintip dari balik awan. Sendal jepitnya yang sudah tipis basah kuyup, namun langkahnya tetap ringan. Hari ini pesanan peyek juragan Karta laku semua, dan itu artinya ia bisa membeli beras untuk beberapa hari ke depan.
"Alhamdulillah, rezeki hari ini lumayan," gumamnya sambil meraba kantong kain yang terselip di pinggangnya, memastikan uang seratus lima puluh ribu hasil jualannya masih ada di sana.
Ia melewati deretan rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya sejak banjir besar dua tahun lalu. Rumah-rumah itu kini hanya jadi kerangka sunyi, temboknya ditumbuhi lumut, jendelanya menganga tanpa kaca. Nek Lasmi biasa melewati jalan ini setiap pulang dari desa sebelah, sudah hafal betul setiap sudutnya yang gelap dan sepi.
Namun malam ini berbeda.
Di tengah suara jangkrik dan gemericik air dari atap-atap yang masih menetes, telinganya menangkap sesuatu... suara tangisan. Kecil, lemah, tapi jelas terdengar.
Nek Lasmi berhenti melangkah. Jantungnya berdegup kencang. "Suara apa itu?"
Ia menajamkan pendengaran, mengikuti arah suara yang datang dari salah satu rumah kosong paling ujung. Dengan langkah hati-hati, ditopang tongkat kayu yang selalu dibawanya, ia mendekat.
"Ya Allah..." Nek Lasmi tertegun begitu matanya menangkap sosok mungil di atas teras yang basah.
Seorang bayi, terbungkus kain yang sudah lembap oleh air hujan, menangis sekuat tenaga sementara beberapa ekor semut merah mulai merayapi kulitnya yang lembut.
Tanpa pikir panjang, Nek Lasmi berjongkok, menyingkirkan semut-semut itu dengan tangannya yang keriput, lalu mengangkat bayi itu ke dalam pelukannya. Tubuh mungil itu dingin sekali.
"Astaghfirullah, siapa yang tega membuang bayi sekecil ini..." bisiknya, suaranya bergetar antara marah dan iba. Ia mendekap bayi itu erat-erat ke dadanya, mencoba menghangatkannya dengan selendang lusuh yang ia kenakan. "Sudah, sudah, jangan menangis lagi, Nak. Nenek di sini."
Bayi itu perlahan berhenti menangis, seolah merasakan kehangatan yang menenangkan. Nek Lasmi menatap wajah mungil itu dalam gelap, lalu bergegas berjalan secepat kakinya yang tua bisa membawanya, menuju gubuknya yang tak seberapa jauh dari sana.
Gubuk reyot itu berdiri di ujung desa, dindingnya dari anyaman bambu yang mulai lapuk, atapnya berlubang di beberapa titik sehingga cahaya bulan bisa menerobos masuk. Namun malam itu, tempat sederhana itu terasa seperti tempat paling aman di dunia bagi bayi yang baru saja diselamatkan.
Belum sempat Nek Lasmi meletakkan bayi itu di atas dipan kayu, terdengar suara ketukan pintu yang tergesa.
"Nek Lasmi! Nek Lasmi, itu suara bayi menangis dari sini, ya?" Bu Inah, tetangga sebelah rumah, muncul dengan wajah penasaran, disusul dua ibu-ibu lain yang juga ikut penasaran mendengar keributan malam itu.
"Masuk, masuk," kata Nek Lasmi sambil membukakan pintu lebar-lebar.
Ketiga ibu itu mengerumuni dipan, matanya membelalak begitu melihat bayi yang tergolek lemah di sana. "Ya ampun, bayi siapa ini, Nek? Dari mana?" tanya Bu Inah, tak sabar.
"Nenek temukan di teras rumah kosong, di ujung sana," jawab Nek Lasmi sambil membuka bungkusan kain yang menyelimuti tubuh mungil itu, hendak memeriksa kondisinya lebih jelas di bawah cahaya lampu minyak.
Namun begitu kain itu tersingkap, ketiga ibu itu serentak menahan napas.
"Innalillahi... kakinya, Nek," bisik salah satu dari mereka, menunjuk kaki bayi itu yang tampak tidak terbentuk sempurna, lebih kecil dan bengkok dari seharusnya.
"Astaga," Bu Inah menutup mulutnya. "Kasihan sekali. Pantas saja dibuang begitu saja sama orangtuanya. Zaman sekarang, mana ada yang mau repot punya anak cacat."
Nek Lasmi mengelus lembut kaki mungil itu, matanya berkaca-kaca. "Bukan salah dia dilahirkan begini. Yang salah itu orangtuanya yang tega buang anak sendiri kayak buang sampah."
Ruangan sempat hening sesaat, hanya suara napas bayi yang mulai tenang terdengar di antara mereka.
"Begini saja," Nek Lasmi akhirnya bersuara, menatap Bu Inah dan dua ibu lainnya bergantian. "Nenek mau ke toko sebentar, beli susu sama perlengkapan buat dia. Kalian bisa jagain dulu di sini? Nenek nggak lama, kok."
"Iya, Nek, sini biar saya gendong," sahut Bu Inah sambil mengulurkan tangan, menerima bayi itu dengan hati-hati.
Nek Lasmi mengambil kantong kainnya yang berisi uang seratus lima puluh ribu, satu-satunya hasil kerja kerasnya hari itu, lalu bergegas keluar menembus malam yang masih basah menuju toserba satu-satunya di desa itu.
Toko kelontong milik Koh Aliong itu masih buka, lampunya remang-remang menerangi rak-rak yang tidak terlalu penuh. Nek Lasmi masuk terengah, langsung menuju rak kecil berisi kebutuhan bayi yang jarang sekali laku di desa itu.
"Nek Lasmi? Malam-malam begini beli apa?" Koh Aliong keluar dari balik meja kasir, heran melihat pelanggan lamanya itu sibuk memilih-milih popok dan susu formula. "Bukannya Nek Lasmi tinggal sendiri di gubuk? Buat siapa ini semua?"
Nek Lasmi menghela napas, lalu menjelaskan apa yang baru saja terjadi, bagaimana ia menemukan bayi itu menangis sendirian, dikerubungi semut, di teras rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan penghuninya.
Koh Aliong terdiam mendengar cerita itu, wajahnya yang biasanya datar kini menyiratkan iba. "Astaga, tega sekali orangtuanya. Ya sudah, sini saya bantu."
Ia mulai mengumpulkan susu formula, popok, dan beberapa helai baju bayi kecil, lalu menghitungnya di kasir. "Seratus tujuh puluh ribu, Nek."
Wajah Nek Lasmi sedikit memucat, uangnya hanya seratus lima puluh ribu. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Koh Aliong sudah menekan tombol kasirnya lagi.
"Saya kasih diskon dua puluh ribu, jadi seratus lima puluh ribu saja. Kasihan bayinya," katanya sambil tersenyum tipis. "Anggap saja bantuan dari saya."
"Terima kasih banyak, Koh. Semoga rezekinya lancar terus," ucap Nek Lasmi tulus, matanya berkaca-kaca lagi, kali ini karena haru pada kebaikan yang tak disangka-sangka.
Sesampainya di gubuk, Nek Lasmi mendapati bayi itu sudah tertidur pulas dalam gendongan Bu Inah, wajah mungilnya tampak damai seolah tak pernah merasakan kekejaman yang baru saja menimpanya.
"Gimana, Nek? Sudah dapat semuanya?" tanya Bu Inah pelan, tak ingin membangunkan si bayi.
"Sudah, Alhamdulillah, Koh Aliong baik banget kasih diskon," jawab Nek Lasmi sambil meletakkan kantong belanjaannya.
Bu Inah menatap Nek Lasmi serius. "Nek, saya mau kasih saran. Ini bukan perkara kecil. Bayi ini kan nggak jelas dari mana asalnya, kondisinya juga begini. Menurut saya, sebaiknya diserahkan saja ke Pak Kades besok pagi. Biar beliau yang urus, dicarikan orangtua asuh yang mampu ngerawat dia dengan baik. Nenek kan juga sudah tua, hidup sendirian pula."
Nek Lasmi terdiam, menatap wajah mungil bayi yang tertidur lelap itu dalam pelukan Bu Inah. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya mendengar saran itu, sesuatu yang belum bisa ia pahami sepenuhnya, namun terasa begitu berat untuk disetujui begitu saja.
"Nanti Nenek pikirkan," jawabnya pelan, sambil mengambil alih bayi itu dari gendongan Bu Inah, mendekapnya erat-erat seolah tak rela melepaskannya barang sedetik pun.
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,
semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,