Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: KONTRAK PERNIKAHAN DARI SANG IBLIS
Hawa dingin dari pendingin ruangan di ruang tunggu VVIP itu kini bukan lagi sekadar rasa dingin.
Ia menusuk tulang. Menusuk jantung.
Gaun pengantin putih yang membalut tubuh Alesha, yang tadi pagi terasa seperti mimpi terindah, kini terasa seperti belenggu besi yang menjeratnya. Berat, pengap, dan memalukan.
Di depan cermin besar berbingkai emas itu, Alesha menatap bayangannya sendiri. Wajahnya pucat. Lipstiknya sedikit luntur karena air mata yang tumpah tadi. Namun matanya sudah berbeda.
Tidak ada lagi mata sembab seorang wanita yang ditinggalkan. Yang tersisa kini adalah mata kosong yang di dalamnya menyala bara api kebencian yang begitu pekat dan dalam, hingga membuat siapa pun yang menatapnya akan merinding.
Lima tahun.
Lima tahun ia menyerahkan hidupnya untuk Rian Mahardika. Dari garasi kontrakan sempit yang bocor saat hujan, tempat mereka berdua makan mi instan bagi dua. Dari laptop butut tempat Alesha begadang menulis ribuan baris kode paten untuk startup Vantec yang bahkan belum punya nama. Dari semua presentasi, semua investor yang ia yakinkan dengan suaranya yang hampir hilang.
Dan hari ini, semua itu dibayar Rian dengan sebuah pengkhianatan paling keji di hadapan ratusan orang.
Pintu kayu mahoni ruang rias itu kembali terdorong terbuka dengan kasar. Shinta masuk dengan napas memburu, hampir tersandung ujung karpet. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata.
"Les! Ya Tuhan, Les, kamu masih di sini! Kamu tidak boleh keluar sekarang, aku mohon!" Shinta setengah berlari menghampiri Alesha, mencengkeram lengan sahabatnya itu dengan erat. "Di luar itu neraka, Les! Wartawan ada di mana-mana, mereka memotret semuanya. Keluarga Rian dan Nyonya Listia menertawakanmu di atas panggung! Mereka bilang kamu wanita tidak tahu malu!"
Alesha tidak menjawab. Ia hanya menatap pantulan diri dan Shinta di cermin. Perlahan, ia melepaskan cengkeraman Shinta. Gerakannya begitu tenang dan terkontrol, hingga Shinta justru semakin takut.
Alesha melangkah ke meja rias marmer. Ia mengambil tas tangan kecil berwarna putih mutiara, membukanya, lalu mengeluarkan sehelai tisu. Dengan gerakan yang sangat pelan, ia menghapus sisa air mata di pipinya yang telah mengering dan meninggalkan rasa perih.
"Justru karena mereka mengira aku akan bersembunyi di sini," ucap Alesha akhirnya. Suaranya pelan, tapi dinginnya menusuk hingga ke tulang sumsum Shinta. "Justru karena mereka semua di luar sana berpikir Alesha akan meringkuk di pojokan ruangan ini sambil menangis histeris seperti wanita bodoh yang kalah... karena itulah aku harus keluar, Ta."
Shinta tertegun. Ini bukan Alesha yang ia kenal. Alesha yang ia kenal adalah wanita lembut yang akan menangis jika melihat kucing terluka. Wanita di depannya ini adalah orang lain.
"Setiap tetes air mata yang jatuh di ruangan ini," lanjut Alesha, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang mengerikan. "Setiap penghinaan yang mereka lontarkan hari ini akan mereka bayar lunas. Bukan dengan permintaan maaf, tapi dengan kehormatan mereka sendiri dan seluruh perusahaan mereka."
Tanpa menunggu jawaban Shinta, Alesha mengangkat sedikit bagian bawah gaun pengantinnya yang panjang dan sedikit ternoda debu. Punggungnya tegak dan dagunya terangkat tinggi. Ia melangkah keluar dari ruang VVIP.
Lorong hotel menuju Grand Ballroom itu terasa seperti lorong tanpa ujung. Lampu kristal di langit-langit berkilauan menyilaukan. Karpet merah tebal meredam suara langkahnya. Namun di dalam kepalanya, suara musik orkestra dari aula utama kini telah hilang, digantikan oleh dentuman jantungnya sendiri yang berdegup keras dan penuh amarah.
Semakin dekat ia dengan pintu ganda emas yang terbuka lebar itu, semakin jelas suara gelak tawa dan bisik-bisik itu terdengar. Dan saat siluet Alesha akhirnya muncul di ambang pintu dengan gaun putihnya yang berkibar, seluruh Grand Ballroom yang tadinya riuh mendadak sunyi. Senyap total.
Ratusan pasang mata tertuju padanya. Pengusaha kakap dengan jas miliaran, ibu-ibu sosialita dengan berlian di leher, serta para jurnalis dengan kamera besar yang lampunya berkedip, semua menoleh bersamaan.
Di atas panggung utama yang dihiasi ribuan mawar merah dan putih, Rian Mahardika berdiri kaku. Jas putihnya yang tadi terlihat gagah kini terlihat kusut. Di sampingnya, Clarissa Mahardika dalam gaun merah menyala yang seksi merangkul lengannya dengan posesif, menampilkan senyuman kemenangan yang menjijikkan.
Rian menelan ludah dengan susah payah saat melihat Alesha. Wajahnya yang tadi merah karena marah kini pucat pasi.
"Lihat siapa yang datang," bisik seorang wanita sosialita di barisan depan, suaranya cukup keras hingga terdengar jelas. "Wanita malang itu benar-benar tidak punya urat malu. Sudah dicampakkan di altar, masih saja berani menampakkan diri ke sini. Kalau aku, sudah bunuh diri."
"Dia pasti ingin membuat keributan dan meminta belas kasihan dari keluarga Mahardika. Dasar perempuan miskin yang haus harta," sahut temannya di sebelah sambil tertawa kecil yang kejam.
Setiap kata itu menghujam telinga Alesha seperti sembilu. Tapi Alesha tidak menunduk. Tidak lagi. Ia justru menegakkan punggungnya lebih tinggi dan melangkah masuk menyusuri karpet merah itu dengan postur seorang ratu yang akan menghukum pengkhianatnya. Setiap langkahnya anggun, terkontrol, dan penuh wibawa.
Ia berhenti tepat di bawah panggung utama. Mendongak. Menatap langsung ke mata Rian. Tatapan itu membuat Rian merasa seolah seluruh pakaiannya dilucuti di depan umum.
"Rian," panggil Alesha. Suaranya tidak berteriak dan tidak histeris. Namun karena ruangan itu begitu sunyi, suara itu merayap jelas ke setiap sudut, masuk ke telinga setiap tamu. "Kau pikir dengan berdiri di sana bersama wanita pilihan ibumu, kau bisa menghapus semua sejarah kita?"
Rian mengepalkan tinjunya di samping mikrofon.
"Kau pikir keringat, ide-ide, dan darah yang kucucurkan untuk membangun Vantec dari sebuah garasi sempit yang bau apek bisa kau bayar lunas hanya dengan sebuah pengkhianatan murahan di hari pernikahan kita?"
Wajah Rian berubah merah padam menahan malu yang luar biasa di depan para investor Grup Mahardika.
"Jaga mulutmu, Alesha!" bentak Rian akhirnya melalui mikrofon, suaranya pecah karena menahan amarah dan panik. "Jangan membuat dirimu semakin terlihat menyedihkan di sini! Hubungan kita sudah berakhir sejak tadi pagi! Kau hanya masa lalu! Masa lalu yang tidak berguna! Kau bukan siapa-siapa tanpa aku!"
"Masa lalu yang tidak berguna?" Alesha tertawa. Tawa itu hambar dan dingin, membuat bulu kuduk semua orang berdiri. "Jika aku tidak berguna, Rian..."
Ia melangkah satu langkah maju ke atas anak tangga panggung pertama.
"Lalu kenapa seluruh portofolio proyek awal Vantec menggunakan paten kode sumber milikku? Paten yang sah atas namaku?"
Satu kalimat itu seperti bom yang meledak di tengah ballroom.
"Dan kenapa laporan keuangan triwulanan yang kau pamerkan kepada Presdir Mahardika hari ini penuh dengan hasil kerja kerasku selama tiga tahun terakhir? Kerja keras yang bahkan tidak pernah kau bayar sepeser pun?"
Gelombang bisik-bisik yang jauh lebih riuh dan penuh kecurigaan langsung meledak. Para investor senior di barisan depan mulai mengerutkan kening, saling berbisik, dan menatap Rian dengan tatapan menyelidik.
Di kursi kehormatan, Presdir Mahardika—ayah Clarissa—yang tadinya tersenyum bangga, kini wajahnya mengeras. Ia melirik tajam ke arah Rian dengan tatapan yang menuntut penjelasan.
Clarissa yang merasa posisinya sebagai pengantin baru terancam, maju selangkah ke bibir panggung dengan ekspresi angkuh dan marah.
"Hei, perempuan jalanan! Beraninya kau memfitnah suamiku di hari pernikahan kami! Kau cemburu karena Rian memilihku yang jauh lebih kaya dan berkelas daripada kamu!" teriak Clarissa dengan suara melengking. "Security! Kenapa kalian diam saja?! Seret wanita gila ini keluar dari hotel sekarang juga! Usir dia!"
Dua petugas keamanan berbadan besar mulai bergerak dari sisi ruangan, berjalan mendekati Alesha. Alesha tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming. Namun, sebelum tangan kekar para security itu sempat menyentuh ujung gaun putihnya, udara di dalam Grand Ballroom yang mewah itu mendadak membeku. Suhu ruangan seolah turun sepuluh derajat dalam satu detik. Semua orang merasakan hawa dingin yang aneh menjalari tengkuk mereka.
Bersamaan dengan itu, suara derap langkah sepatu kulit mahal yang berat dan teratur terdengar dari arah pintu masuk utama, tepat di belakang Alesha.
Setiap derapnya membuat jantung orang-orang berdegup lebih kencang. Semua kepala yang tadinya tertuju pada Alesha dan Rian kini serentak bergeser ke belakang.
Di sana, di bawah cahaya lampu kristal raksasa, berdiri sesosok pria. Tinggi tegap. Setelan jas hitam legam berpotongan sempurna yang harganya mungkin setara dengan satu unit apartemen di pusat kota. Rambutnya tertata rapi. Wajahnya tampan, tapi dinginnya seperti bongkahan es abadi di kutub utara.
Aura dominan yang mengelilinginya begitu pekat dan mencekam, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa mutlak yang tidak tersentuh. Seorang raja.
Pria itu adalah Vion.
Di belakangnya, empat pengawal pribadi berjas hitam berjalan siaga, membuat para tamu undangan yang tadinya berdiri menghalangi jalan secara otomatis membungkukkan badan dan membuka jalan selebar-lebarnya tanpa diperintah.
Vion tidak memedulikan siapa pun. Tatapannya hanya lurus ke depan, ke arah panggung. Ia berjalan dengan tenang, melewati Alesha, lalu berhenti tepat di sisi kiri wanita itu. Begitu dekat hingga Alesha bisa mencium aroma parfum mahalnya yang maskulin dan menenangkan.
Vion menoleh sejenak, menatap manik mata Alesha yang masih berkaca-kaca namun penuh api. Untuk sepersekian detik, ada ketertarikan mendalam yang melintas di mata dinginnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya. Tatapan setajam silet itu kini menghujam lurus ke arah panggung utama, ke arah Rian dan Clarissa.
"Mengusir wanita yang memegang masa depan korporasi ini?" suara bariton Vion yang berat dan dingin itu akhirnya menggema, memecah kesunyian ruangan dengan otoritas yang membuat nyali siapa pun ciut seketika. "Kalian benar-benar segerombolan tikus got yang tidak tahu di daratan mana kalian berpijak."