Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

"Terima kasih, Victoria. Aku sungguh tidak tahu bagaimana harus menjalani semua ini tanpamu," desah Amanda, menyandarkan tubuh lelahnya di ambang pintu apartemen. Aroma kopi pekat yang menguar dari dapur Victoria memberikan sedikit ilusi kehangatan setelah hari yang panjang dan menguras kewarasannya di kantor.

​Victoria menyodorkan secangkir teh chamomile, menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh simpati. "Santai saja, Am. Kau ini seperti bicara dengan siapa saja. Lagipula, Lily itu sudah kuanggap seperti keponakanku sendiri." Victoria menjeda kalimatnya sejenak, menggigit bibir bawahnya ragu. "Ngomong-ngomong... sampai kapan kau akan terus begini? Kapan kau akan memberi Lily seorang ayah?"

​Langkah Amanda terhenti. Teh di dalam cangkirnya beriak kecil seiring dengan gemetar di tangannya.

​"Aku kasihan pada anak itu, Am," lanjut Victoria dengan nada lebih lembut, penuh kehati-hatian. "Setiap kali aku mengajaknya bermain ke taman kota, dia selalu duduk terdiam di ayunan. Matanya tidak pernah lepas menatap iri pada anak-anak lain yang digendong, dicium, atau dikejar oleh ayah mereka. Jangan terus menutup dirimu. Bukalah hatimu, setidaknya demi dia."

​Amanda menundukkan kepala, membiarkan poni panjangnya menutupi raut wajahnya yang perlahan memucat. Trauma itu masih mengakar, menjalar bagai racun yang menyumbat aliran darahnya setiap kali kata 'pria' dan 'komitmen' berdengung di telinga. "Entahlah, Vic. Tubuhku masih bergetar ketakutan jika mengingat pengkhianatan Felix. Dan soal ayah biologis Lily..." Suaranya tercekat, berubah menjadi bisikan parau. "Aku bahkan tidak yakin siapa monster yang telah merenggut malam itu. Aku terlalu takut."

​"Bunda! Ayo kita pulang!"

​Jeritan riang dari arah ruang tengah seketika memecah awan kelabu di antara mereka. Lily kecil, dengan rambut pirang kecokelatan yang bergelombang dan sepasang mata kelam yang begitu asing namun memesona, berlari menubruk kaki Amanda. Senyum tanpa dosa bocah itu adalah satu-satunya pelita di dunia Amanda yang gelap gulita.

​"Ayo, Tuan Putri," bisik Amanda, mengecup puncak kepala putrinya dengan sayang, menghirup aroma bedak bayi yang selalu berhasil menenangkannya.

​Sore itu, langit diwarnai semburat jingga kemerahan saat Amanda menggenggam tangan mungil Lily, berjalan menyusuri trotoar berdaun kering menuju kawasan perumahan elite. Jantung Amanda berdebar tak karuan, meronta di dalam rongga dadanya. Ini adalah keputusannya yang paling nekat setelah lima tahun mengasingkan diri. Ia hanya ingin Lily mengenal darah dagingnya—Oma dan Opanya.

​Setibanya di depan pintu kayu mahoni besar bernuansa klasik, Amanda menarik napas panjang. Jemarinya yang terasa sedingin es mengetuk permukaan pintu tiga kali.

​Pintu terbuka. Wajah paruh baya Sofie, ibunya, muncul dari balik celah. Namun, detik ketika mata wanita itu menangkap sosok Amanda, garis wajahnya langsung mengeras. Gurat kerinduan yang Amanda harapkan sama sekali tidak ada, digantikan oleh tatapan merendahkan yang menyayat hati.

​"Ada apa kalian ke mari lagi?!" desis Sofie tajam, suaranya menyerupai bilah pisau yang menggores keheningan sore. "Pergi! Jangan pernah menginjakkan kaki kotor kalian di rumah ini lagi. Dasar anak memalukan!"

​"Ibu..." Amanda menelan ludah, susah payah menahan bendungan air mata agar tidak pecah di depan sang anak. "Aku dan Lily... kami sangat merindukan Ibu dan Ayah. Tolong, biarkan kami masuk sebentar saja, Bu."

​"Aku tidak punya putri!" bentak Sofie, suaranya kini menggelegar ke seluruh penjuru teras. Urat-urat di lehernya menonjol kemerahan. "Putriku sudah mati lima tahun yang lalu saat dia memilih melahirkan anak haram itu!"

​"Bu, kumohon berhentilah bersikap seperti ini!" Pertahanan Amanda akhirnya runtuh. Suaranya bergetar hebat menumpahkan kekecewaan yang telah mengendap dan membusuk selama bertahun-tahun. "Aku ini darah dagingmu, Bu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kalian! Pernikahanku dengan Felix hancur bukan karena salahku dan Lily. Dia yang berkhianat! Dia yang brengsek! Kenapa Ibu terus menghukum kami atas kesalahan yang tidak kami buat?"

​"Aku tidak peduli!" Sofie menatap benci pada gadis kecil yang kini menyembunyikan wajahnya di balik kaki Amanda. "Bawa anak sialan itu pergi dari hadapanku. Sekarang!"

​Brak!

​Pintu ditutup dengan bantingan yang teramat keras. Angin dari hempasan kayu itu menerpa wajah Amanda, meninggalkan keheningan yang mematikan dan sisa debu di udara. Bahu Amanda merosot jatuh. Ia terlonjak pelan saat merasakan tarikan kecil di ujung mantelnya. Lily, di usianya yang baru menginjak empat tahun, menatap ibunya dengan sorot mata yang terlalu dewasa untuk usianya. Tidak ada air mata di wajah bocah itu, hanya genggaman tangan mungil yang berusaha mentransfer kekuatan untuk ibunya yang hancur.

​Mereka berjalan pulang dengan gontai. Angin malam mulai berembus liar, menusuk hingga ke tulang sumsum. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, menerangi trotoar panjang yang sepi.

​"Bunda," panggil Lily tiba-tiba, memecah ritme langkah kaki mereka. Suara kecilnya terdengar bergetar hebat. "Anak haram itu apa?"

​Langkah Amanda terhenti seketika. Jantungnya seolah diremas kasar oleh tangan tak kasat mata hingga hancur tak bersisa. Napasnya tercekat di tenggorokan. Dengan tubuh gemetar, ia berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan putri kecilnya di bawah pendar lampu jalan yang temaram.

​"Lily sayang... jangan pernah bicara seperti itu lagi, Nak," bisik Amanda lembut, merapikan anak rambut yang tertiup angin dari dahi putrinya. "Siapa yang mengajarimu kata-kata kasar itu? Tidak baik anak sekecil Lily membicarakan hal seperti itu."

​Pertahanan Lily runtuh. Mata kelam bocah itu seketika berkaca-kaca, memantulkan kesedihan yang tak seharusnya ditanggung anak seusianya. "Guru dan teman-teman di sekolah... mereka sering berbisik. Mereka bilang Lily anak haram karena Lily tidak punya ayah. Mereka juga bilang kalau Bunda itu... pelacur jalang." Air mata akhirnya menetes deras membasahi pipi gembulnya. "Lily selalu menutup telinga, Bunda. Lily tidak mau mendengar mereka bicara jahat tentang Bunda. Lily tidak mau!" isaknya memilukan, mencengkeram erat kerah mantel Amanda.

​Bagaikan disambar petir di malam tanpa hujan, dunia Amanda runtuh seutuhnya. Dengan air mata yang akhirnya tumpah deras membasahi wajahnya, ia merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, mendekapnya sangat erat seolah ingin melindungi Lily dari seluruh kekejaman dunia yang tak berujung.

​"Ssst... Sayang, dengarkan Bunda," Amanda mengecup puncak kepala Lily berkali-kali dengan putus asa, suaranya serak oleh isak tangis. "Lihat Bunda. Bunda ada di sini bersama Lily. Biarkan orang-orang jahat itu bicara sesuka hati mereka, karena mereka tidak tahu kebenarannya. Lily adalah putri Bunda. Lily adalah napas dan seluruh hidup Bunda. Jangan takut, ya? Besok Bunda akan datang ke sekolah dan bicara dengan guru serta teman-teman Lily. Bunda janji."

​Jauh dari dinginnya jalanan kota dan tangisan pilu seorang ibu, atmosfer di markas besar The Iron Crown terasa mematikan, absolut, dan tak tersentuh.

​Di dalam ruangan kerja berdesain gotik yang didominasi warna hitam, emas, dan marmer gelap, Aldebaran Hendrick duduk pongah di kursi kebesarannya. Aroma cerutu Kuba yang mahal bercampur dengan pekatnya wiski menguar kental di udara. Jemari kokohnya yang dihiasi cincin tengkorak perak—pasangan dari cincin yang tertinggal lima tahun lalu—mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja kaca, menelusuri tumpukan laporan bisnis kotor dan rute penyelundupan senjata yang baru saja diserahkan anak buahnya.

​Pintu ganda berukir naga itu terbuka. Dante, sang asisten pribadi sekaligus eksekutor kepercayaannya, melangkah masuk dengan postur tegap dan kaku.

​"Tuan," lapor Dante, menunduk hormat dengan suara baritonnya yang datar. "Nyonya Besar baru saja menelepon. Beliau menegaskan bahwa Anda harus pulang malam ini juga. Ada jamuan makan malam yang telah disiapkan, khusus untuk mempertemukan Anda dengan Nona Anastasya."

​Rahang Aldebaran menegang. Mata elangnya yang setajam pisau bedah menatap Dante dengan kilat amarah yang dingin. "Tolak," titahnya tajam, suaranya berat dan tidak menerima bantahan sekecil apa pun. "Aku tidak punya waktu satu detik pun untuk mengurusi wanita gila yang haus perhatian dan penuh drama murahan seperti dia."

​"Baik, Tuan. Akan segera saya sampaikan." Dante mencatatnya di dalam kepala tanpa perubahan ekspresi.

​Aldebaran mencondongkan tubuhnya ke depan, menautkan jemarinya di atas meja. Tatapannya kini berubah gelap, menyimpan rasa lapar dan kefrustrasian yang belum terpuaskan selama lima tahun terakhir. "Lalu, bagaimana dengan wanita itu? Apa sampai detik ini kalian para keparat bodoh masih belum menemukan keberadaannya?"

​Dante menelan ludah, sedikit gentar menghadapi aura membunuh yang menguar dari bosnya. "Masih belum, Tuan. Kami telah menyisir seluruh sudut kota, memeriksa data rumah sakit, hingga meretas sistem perbankan untuk melacak kartu kredit platinum yang Anda tinggalkan. Sayangnya... wanita itu seolah lenyap ditelan bumi. Dia sama sekali tidak pernah memakai atau menggesek kartu itu, Tuan."

​Aldebaran mendecak sinis, bersandar kembali ke kursinya dengan seringai tipis yang berbahaya. Gadis yang keras kepala. "Cari terus sampai dapat! Kerahkan seluruh anjing pelacak yang kita miliki, balikkan setiap batu di kota ini jika perlu!" geramnya rendah, sarat akan obsesi yang kian gila.

​Bayangan malam liar itu kembali berkelebat di benaknya layaknya kaset rusak—desahan putus asa wanita itu, kulitnya yang selembut pualam, dan satu detail fisik yang terus menghantuinya setiap malam.

​"Aku hanya memiliki satu petunjuk," desis Aldebaran, menyentuh bibirnya sendiri yang seolah masih bisa merasakan sisa rasa manis dari bibir sang wanita. "Ada sebuah tanda lahir berwarna merah yang membekas di belakang telinga kirinya. Temukan dia, Dante. Dia milikku."

1
kholifah Montes
happy Reading guys
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
kholifah Montes: kak sebenarnya aku juga nggak tega tapi gimana ya🤭
total 1 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!